CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 108


__ADS_3

“Sebenarnya kau kemari untuk menemui siapa? Dan tas ini milik siapa?” tanya Tama yang penasaran. Karena sedari tadi dia mengikuti Kania dan memaksa mengantar perempuan itu dan kini mereka sampai di bandara membuatnya bingung sendiri soal Kania yang datang ke bandara.


“Bukannya tadi sudah aku jawab ya kak, ini tas pacarku puas. Kakak sana pulang, ngaain lagi sih ngikutin aku. bukannya nggak suka ya kalau aku ikutin, hussh sana pergi. Dan terima kasi sudah mengantarku kesini” ucap Kania dan mengambil alih kedua tasnya dari Tama.


“Aku saja yang bawa, kalau memang ini punya pacarmu. aku ingin lihat sepert apa pacarmu itu. lebih tampan dariku atau tidak,” ucap Tama yang mengambil paksa tas yang sudah berada di tangan Kania. Dia langsung berjalan masuk kedalam bandara.


“Sok egantengan banget, memang situ dongan yang ganteng.” Seru Kania kesal saat Tama sudah berjalan pergi lebih dulu.


“Tapi memang ganteng sih kak Tama, tapi slow Kania begini saja terus biar dia yang mengejarmu” lirih Kania sambil melihat Tama yang berjalan sedikit lebih jauh.


Kania ke bandara karena ingin memberikan tas Ransel milik Xavier yang tertinggal, kakaknya itu akan pergi ke Bali untuk menemui Mamanya yang sedang ada di sana. Sedangkan Papanya sudah terbang ke Singapura kemarin.


.............................................


“Rafka ke kamar Rafka yang dulu saja ya, atau berenang di kolam renang. Papa sama Mama mau bicara sebentar sama Oma dan Opa” pinta Rnedra pada anaknya yang berdiri disebelahnya saat ini.


Mereka bertiga baru saja sampai dirumah orang tua Rendra setelah dari mall dan menjemput Rafka dari sekolah.


“Siap Pa,” jawab Rafka.


“Mama, aku mau berenang ya” tanya bocah enam tahun itu pada sang mama.


“Iya sayang,” jawab Adiba sambil mengusap kepala anaknya, bocah itu langsung berlari ke arah kolam renang saat ini.


Bertepatan dengan itu kedua orang tua Rendra jug barusan datang, entah mereka berdua darimana yang jelas keduanya terlihat rapi.


“Kalian sudah datang?” tanya Frans saat dia melihat anak dan menantunya yang sudah berada dirumahnya saat ini.


“Iya Pa barusan” jawab kedua orang itu.


Rendra dan Adiba langsung berjalan mendekati sepasang suami istri paruh baya itu, mereka mencium tangan keduanya bergantian.


“Cucu Mama mana?” tanya Citra.


“Dia katanya mau berenang ma” jawab Adiba.


“Oh” tukas Citra menanggapinya.

__ADS_1


“Ayo kita duduk dulu, Ma tolong suruh bibi di dapur untuk buatin minum Rendra sama Adiba” pungkas Frans pada istriya setelah mengajak anak dan meanntunya duduk.


“Iya pa” Citra langsung mematuhi apa yang di perintahkan suaminya, dia langsung melenggang pergi ke dapur untuk memberitahu salah satu asisten rumah tangga mereka untuk membuatkan minuman bagi mereka.


“Papa sama Mama darimana? Tumben bareng-bareng perginya?” tanya Rendra pada Papanya.


“Bagaimana kandungan kamu Adiba baik-baik saja kan?” bukannya menjawab pertanyaan anaknya Farans malah bertanya soal kondisi kandungan menantunya.


“Allhamdulilah baik Pa” jawab Adiba.


“Ya anak Papa siapa? Aku tanya sama Papa, Papa malah mengabaikanku” rotes Rendra tak terima.


“Lagi pula kenapa kau ingin tahu Papa sama Mama pergi kemana”


“terserahlah, kalau Papa tidak ingin aku tahu. bukan urusanku juga kalian pergi kemana” ucap Rendra berbicara dengan ketus.


“Mas,.” Tegur Adiba smabil memegang tangan suaminya.


“Aku nggak marah kok sayang” jawab Rendra sambil memegang balik tangan Adiba yang masih berada di atas tangannya.


Melihat itu Frans hanya tersenyum saja, tetapi wajahnya sekilas langsung berubah saat melihat wajah Rendra. Dia terus menatap anaknya dan sesekali juga menatap Adiba.


“Iya kalian kesini ingin bertemu Papa sama Mama ada erlu apa memangnya, kenapa seperti penting sekali?” tanya Citra yang baru saja bergabung bersama mereka.


“Aku kesini ingin bilang pada kalian soal Jeremy, dia mau melamar kekasihnya dan kemungkinan sebentar lagi dia akan mengajak ke kasihnya kesini. Jadi aku minta tolong kalian berdua mau menerima calon dari Jeremy” tukas Rendra mengutarakan maksud kedatangannya kermah orang tuanya saat ini.


“APA?” Citra tampeka kaget mendengar hal itu.


“Jeremy mau melamar tunangannya tapi kenapa dia tidak bilang sama Mama Papa” lanjut Citra yang cukup terkejut.


“Aku tidak tahu, nanti kalau dia pulang tanyakan saja sendiri Ma. Aku kesini hanya diminta dia untuk memberitahu kalian berdua”


“Kenapa adikmu tidak memberithau kita langsung padahal serumah” heran Frans.


“Dia tidak berani bilang pada kalian” jawab Rendra singkat.


“Anak itu, kenapa masih saja melanjutkan keinginannya. Bikin kepala mama pusing saja, urusan kamu saja belum selesai eh sekaran anak itu yang buat kepala mama pusing” keluh Citra yang langsung memegangi kepalanya.

__ADS_1


Frans mendengar itu langsung melihat kearah sang istri dengan tatapan seakan menyuruh istrinya untuk diam.


“masalahku Ma? Memang aku buat masalah apa?” tanya Rendra saat emanngkap hal tidak beres ketika mamanya berbicara.


“Tidak ada mamamu salah bicara,” sela Frans sebelum istrinya berbicara.


Adiba yang berada disitu merasakan keganjilan tersebut, dia melihat suaminya yang juga melihatnya. Rendra tampak bingung dan tak tahu apa-apa, sebenanrya apa yang membuat mertuanya pusing dengan yang di lakukan Rendra sedangkan Rendra sendiri seakan tak merasa membuat masalah.


“Nggak mungkin Mama salah bicara, ada apa ma? Aku tidak buat masalah kenapa membuat Mama pusing” tukas Rendra yang ingin tahu sekali.


“Ti..tidak ada” jawab Citra sambil melihat terlebih dahulu pada Frans yang menggeleng memintanya untuk tak berbicara aneh-aneh pada Rendra.


“Soal Jeremy Papa nanti yang akan bilang padanya. Dan untukmu ma, tolong jangan mencampuri urusan asmara anakmu. Terima saja colon anakmu seperti apa yang penting dia orang bai-baik” ucap Frans dengan cukup bijak.


“Tapi..” Citra tidak setuju dengan ucapan Frans tetapi belum sempat dia berbicara cukup banyak Frans sudah memotongnya dulu.


“Papa bilang sudah Ma,” sela Frans.


“Kalian berdua disini saja dulu, Papa mau meeting di ruang kerja dulu, nanti kita bicara lagi” ucap Frans pada anak dan menantunya. Dia langsung pergi meninggalkan ketiganya disitu tapi sbeelum pergi dia memberikan isyarat pada istrinya untuk mengikutinya saat ini.


................................................


“Hiiih, Kak Tama apaan sih dari tadi ngikutin...terus” kesal Kania berbalik arah melihat Tama yang sedari tadi berjalan dibelakangnya.


“Kamu masih hutang penjelasan dariku, siapa pria bule tadi hah? Xavier siapa? Tanya Tama menuntut penjelasan dari Kania yang menatapnya kesal.


Bukan urusan kak Tama, sudahlah jangan ikuti aku. aku hari ini ingin free you know. Besok aku aka bekerja dan melihatmu jadi toong hari ini menjauhlah sedikit dariku” kesal Kania meluapkan semuanya didepan Tama.


Tama hanya diam melihat kekesalan perempuan itu, Kania sendiri langsung berjalan pergi emninggalkan Tama.


“Oke jika itu maumu, teruslah begini padaku. Maka kau akan menyesal sendiri,” seru Tama tak terima.


Kania berhenti melangkah dan melihat lagi kearah Tama sekarang,


“Siapa yang menyesal, kau sendiri kan yang menyesal. Dulu kau menolakku berkali-kali dan apa sekarang kau yang mengejar-ngejarku, puas..karma berlaku padamu kan” sungut Kania tak kalah dari Tama. Dia langsung berjalan pergi,


Tama sendiri ak mati kutu dengan ucapan Kania barusan, dia kalah telak dengan ucapan itu membuatnya hanya bisa terdiam saja.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2