
Rendra berjalan masuk kedalam kamar anaknya, bocah enam tahun itu terlihat tidur membelakangi dirinya saat ini tapi Rendra tahu kalau anaknya itu belum tidur, karena terlihat dari tangannya yang masih tampak bergerak menarik selimut.
“Rafka papa masuk ya,” ucap Rendra sambil menutup pintu kamar anaknya perlahan dan ia langsung berjalan mendekati sang anak.
Perlahan Rendra menyibak selimut di ranjang anaknya itu dan dia naik keatas tempat tidur sambil sesekali melihat Rafka yang tak bergerak ataupun merespon dirinya bocah itu hanya diam saja.
“abang marah sama papa sama mama?” tanya Rendra yang sudah berbaring disebelah sang anak.
“bang..” panggil Rendra karena Rafka tak menggubris dirinya, dia memegang pelan bahu sang anak agar menatapnya.
“Apa?” akhirnya Rafka menjawab dan melihat papanya.
“marah sama papa?” tanya Rendra saat anaknya itu sudah melihat kearahnya saat ini.
“nggak,” jawab bocah itu singkat sambil menggeleng. Tapi wajahnya tak menunjukkan hal yang sama.
“marah deng,.. Papa sama mama minta maaf ya sama abang” Rendra mendekatkan dirinya ke sang anak dan langsung menggelitiki bocah itu
Rafka tentu saja kegelian, dia sesekali tertawa karena gelitikan sang papa.
“Papa udah, udah pa” ucapnya pada papanya.
“Papa bakal udah kalau abang nggak marah lagi oke,” pungkas Rendra.
“Oke, oke”
Rendra langsung berhenti menggelitiki sang anak, dan dia mendekap putra sulungnya itu.
“Mama sama Papa tadi bukannya ngelarang abang tapi itu demi kamu sayang. Adek bayi sering nangis nanti kalau kamu kebangun terus gimana sekolahnya bisa kesiangan”
“Papa sama mama nggak sayang Rafka lagi sekarang, apa-apa dedek bayi. Rafka dilupain”
“Papa sama mama sayang kok sama Rafka, kata siapa kita ngeluapain abang. Nggak bang, papa sama mama nggak pernah lupain abang. Kan mama sama papa ngurus adek bayi kasihan nggak ada yang urus papa belum cari babysitter yang bantuain mama. Kan kasihan mama bang harus ngurus adek-adek sendiri. rafka nggak kasihan sama mama” Rendra berusaha menjelaskan sebisanya agar sang anak tak lagi merasa dilupakan.
“Jangan marah ya, jangan mikir aneh-aneh lagi. Mama sama Papa sayang juga sama abang, besok kalau adek bayi ada yang jagain mama sama papa tidur sama abang gimana. Oke” lanjut Rendra.
“Papa janji?” tanya Rafka setelah dia mencerna apa yang dikatakan papanya itu. dia memang tipikal anak yang pintar dan memikirkan dulu sebelum mengiyakannya.
“Iya papa janji sama kamu”
“Nanti kalau bohong Rafka marah sama papa sama mama” ancam Rafka sambil memeluk sang papa yang ada disebelahnya.
“Papa nggak bohong kok, sekarang kita tidur besok kekamar adek-adek rafka ya. Adek-adek abang sudah punya nama loh” ucap Rendra, karena dia tahu anaknya itu belum tahu nama adik-adiknya.
“Apa iya, siapa pa. Siapa?” ucapnya langsung antusias.
__ADS_1
“Rahasia, besok papa kasih tahu. sekarang abang tidur dulu sama papa. Cium papa dulu sayang” ucap Rendra sambil memberi isyarat pada Rafka agar mencium pipinya. Rafka langsung mencium sang papa sesuai keinginan dari papanya itu.
.........................................
Pagi hari keluarga kecil Rendra sedang sarapan pagi sedangkan si kembar sedang di jemur oleh Citra dan juga Frans di taman belakang rumah Rendra. Frans dan Citra memang sengaja menginap dirumah anak mereka karena ingin bersama cucu-cucu mereka yang baru lahir beberapa hari itu.
“Bang Rafka makan yang banyak ya biar sehat,” ucap Adiba sambil mengambilkan nasi untuk anaknya.
“Mau ayam goreng atau telur sayang?” tanya Adiba pada anaknya, disitu ada ikan tetapi untuk ia makan sedangkan Rendra dan juga Rafka tidak bisa makan ikan.
“Telur aja ma, mama hari ini beneran buatin aku bento kan?” tanya Rafka pada sang mama.
“buatin dong sayang, itu sudah mama taruh ditas kamu. nanti istirahat dimakan sama temannya ya. Bilang sama bu guru juga kalau mau di kasih bu gurunya”
“Oke mama, makasih ma” seru Rafka begitu girang. Dia sudah tak marah soal semalam. Dia akan berusaha mengerti karena dirinya seorang abang.
“Nanti mau papa anter sekolah?” tanya Rendra yang duduk didepan anaknya.
“Nggak, aku dianter mang udin aja.” Tolak Rafka
“kamu serius sayang, papa nggak sibuk. Papa aja yang anter ya,” ucap Rendra
“Iya papa kamu aja yang anter sayang”
“Nggak pa, papa bantuin mama aja. Aku sama mang udin”
Adiba dan Rendra hanya melihatnya saja, mereka heran tak biasanya Rafka tidak mau diantar oleh sang papa.
..............................................
Rendra dan Adiba saat ini sedang berada di dalam kamar hanya berdua saja, Adiba membereskan barang-barang anaknya da juga membereskan beberapa kado yang dibawa oleh orang-orang yang datang untuk melihat anaknya. Rendra yang sedari tadi duduk di sofa sambil memainkan ponsel Adiba tak sengaja melihat chat dari Risa istri Jeremy.
“sayang,” panggil Rendra sambil berdiri dari duduknya.
“Apa ams, aku lagi sibuk”
“bentar aku mau ngomong sama kamu”
“Mau ngomong apa sih mas, apa?” ucap Adiba pada suaminya, dia menatap sang suami saat ini yang berjalan kearahnya.
“Kamu kenapa tanya-tanya soal aku ke Jeremy ataupun Risa?” tukas Rendra
“ya nggak pa-pa aku pengen tahu aja soal kamu di luar gimana?”
“maksud kamu apaan sih, aku memang ngapain. Kalau kamu pengen tahu aku ngapain aja tanya sama aku jangan sama orang lain”
__ADS_1
“Kalau aku tanya sama mas Rendra, pasti nggak pernah jawab jujur. Kamu sering bohong sih jadi jujur aku kurang percaya mas sama kamu” Adiba mengatakannya dengan gamblang.
“Astaga aku bohong kenapa sih, nggak usah mulai masalah lagi deh sayang. Kita lagi bahagia-bahagiaya ini jangan ada konflik atau apalah” pungkas Rendra yang sedikit frustasi.
“Tiga kali loh mas kamu bohong sama aku, pertama soal Gwen, kedua soal sekertari baru yang ternyata perempuan itu kamu nggak bilang sama aku, ketiga soal kamu gendong perempuan di Cafe tempat Risa kerja. Kamu nggak bilang kan sama aku yang terakhir, dua hal yang aku tahu tapi aku cuman diem aja mas. Karena aku mikir ah itu masalah sepele , kamu pasti bilang tapi nggak” jelas Adiba menatap suaminya yang diam seribu bahasa.
“Sayang, soal itu..”
“aku nggak marah kok mas cuman kecewa aja sama kamu. apa salahnya kamu bilang ke aku, aku nggak bakal marah atau apa. yang terakhir tapi buat aku marah mas. Dan itu yang bikin aku sedikit stres hamil kemarin, kamu tahu kan ibu hamil gimana kalau ada kabar buruk. Dan waktu aku sbeelum lahiran itu yang ingin aku tanya ke kamu, kenapa kamu gendong perempuan itu kemobil”
“Kamu siapa yang bilang, Risa yang bilang?”
“Aku bisa jelasin kenapa aku gendong perempuan itu, itu anak SMA sayang. Dia adeknya Davin, di pingsan didepan aku masa aku diem aja. Apalagi itu adiknya sahabat aku” jelas Rendra berusaha membela diri.
“Terus kenapa kamu nggak bilang sama aku, aku tahunya dari orang lain loh mas” pungkas Adiba pada suaminya.
“Aku takut kalau kamu marah, kamu tahu sendiri aku nggak bisa lihat kamu marah sayang”
“Terus dnegan cara nggak bilang begini, kamu pikir aku nggak marah” ucap Adiba dan dia langsung melenggang pergi.
“Sayang aku minta maaf, aku tahu aku salah sayang. Please, jangan marah ya” Rendra menghampiri istrinya yang duduk di tepi ranjang. Ia memeluk pinggang sang istri agar tidak pergi lagi.
“aku minta maaf, maafin aku ya. Aku janji bakal bilang sama kamu kalau aku ngelakuin hal aneh lain. please maafin aku,” Rendra memohon-mohon pada istrinya
“hmm,.” Adiba hanya berdehem saja menanggapinya
“Sayang,..” rengek Rendra karena hanya mendapat jawaban itu dia memeluk erat sang istri menciumi wajah istrinya.
“Apaan sih mas, udah ah”
“Maafin aku,”
“Hemm, minggir mas aku rapiin baju anak-anak”
“Nggak, sebelum kamu bilang. Iya aku maafin kamu mas gitu, kalau kamu nggak bilang itu aku nggak bakal lepasin kamu”
“mas malu dilihat mama nanti, nanti di...”
“Yaampun kalian anak belum ada satu minggu sudah mau bikin anak lagi?” benar saja Citra yang baru saja masuk sambil menggendong salah satu dari bayi mereka terkejut melihat Rendra yang begitu menempel dengan Adiba bahkan pria itu menciumi Adiba berkali-kali.
“Mama nih ganggu aja, ngapain sih udah masuk aja” kesal Rendra melihat sang mama yang mengganggu dirinya. Adiba melepaskan pelukan Rendra dan langsung berjalan kearah mama mertuanya.
“Raihan berjemurnya sudah ma?” tanya Adiba pada mertuanya.
“Sudah, ini tolong pegang dulu mama mau ke kamar mandi sebentar” ucap Citra dan langsung menyerahkan bayi merah itu pada ibunya.
__ADS_1
°°°
T.B.C