CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 151


__ADS_3

Hari ini Rendra menambah satu orang suter yang akan mengawasi Rafka, karena Adiba kewalahan mengurus anak-anaknya.


“Rafka nanti kamu berangkat sekolah dengan sus vera ya, mama kamu nanti mau mengantar adik-adik ke dokter. Terus papa nggak bisa ngater kamu, papa ada rapat hari ini” ucap Rendra pada anaknya yang habis meminum susu.


“Iya, tapi nanti Mama jemput aku ke sekolahkan?” tanya bocah itu.


“Iya sayang nanti mama jemput kamu ke sekolah” adiba muncul sambil membawakan bekal anaknya. Dia lalu memasukkan bekal tersebut kedalam tas Rafka.


“bener ya ma”


“Iya, sayang. Sekarang abang makan dulu. Itu mang ujang sudah nunggu di depan” jawab Adiba sambil mencium anaknya dan dia langsung duduk di sebelah Rafka.


“Sayang nanti aku pulang agak malem mungkin, karena nanti aku mau ada rapat dengan Jeremy” pungkas Rendra pada sang istri.


“Iya mas,”


“Aku berangkat dulu ya,” ucap Rendra dan langsung berdiri setelah menyelesaikan makannya. Dia menngecup kening sang istri, dan dia langsung beralih pada sang anak.


“Papa bernagkat dulu ya bang, kamu jadi anak yang pinter di sekolah. Baik-baik sama temen” ucap Rendra dan juga mengecup kening sang anak.


“Oke papa”


“Oh iya, besok bang rafka ada les tambahan ya. Les piano, papa sudah bilang sama temen papa yang bakal ngajarin kamu main piano” ucap Rendra sebelum berjalan pergi. Dia kembali melihat kearah anaknya.


Adiba yang mendengar itu tentu saja cukup terkejut, karena sang suami tidak bilang sebelumnya kalau akan menambah les untuk Rafka.


“Kok kamu nggak bilang sama aku kalau mau nambah les Rafka mas, kan kemarin Rafka baru masuk les renang kenapa kok di tambah les lagi” tanya Adiba pada sang suami.


“Maaf aku lupa sayang” jawab Rendra.


“aku berangkat kerja dulu” lanjut Rendra dan akan berjalan pergi.


“Bentar mas, ayo bicara di dulu di luar” Adiba langsung berdiri dari duduknya mengajak sang suami untuk berbicara berdua.

__ADS_1


“Bicara apa sih sayang, aku ada rapat?” ucap Rendra sambil berjalan di sebelah sang istri.


“Mas, kamu apa nggak kasihan sama Rafka. Dia masih kecil loh mas masih ke satu SD tapi kamu sudah kasih jadwal les banyak begitu” Adiba berhenti didepan suaminya menatap manik mata sang suami.


“Ya justru itu, karena dia masih SD jadi malah lebih banyak yang dia pelajari.”


“Tapi kasihan mas, banyak banget soalnya. Kamu les in dia ke bahasa asing, les renang, sekarang les piano”


“Itu juga untuk masa depan dia nanti sayang, aku nggak pernah nuntut kedepannya dia pengen jadi apa. aku hanya mau dia bisa semua, meskipun dia nggak jadi apa-apa tapi setidaknya dia punya kelebihan yang dia bisa” jelas Rendra menjelaskan maskudnya menambah jadwal les Rafka. Dia tak pernah menuntut anaknya kedepannya mau jadi apa, dia membebaskan sang anak memilik apa yang dia sukai. Tapi setidaknya anak-anaknya nanti punya kelebihan yang mereka miliki.


“Tapi mas,” ucapan Adiba terpotong karena Rendra langsung mengecup keningnya dan berpamitan pergi.


“Aku pergi dulu ya, aku sudah terlambat sayang” ucap Rendra langsung pamit pergi meninggalkan sang istri yang hanya bisa menghela saja dengan keputusan suaminya.


....................................


Rafka ada di sekolahnya, dia sedang memakan bekal yang di bawakan mamanya tadi pagi, ia duduk sendiri di bangkunya. Sedangkan teman-teman yang lain tampak saling bercanda dan bermain.


“Rafka main yuk” ajak seorang bocah laki-laki yang menghampiri Rafka saat ini.


“Boleh aku makan?’


“Boleh Dav, kalau mau ambil aja”


“Enak ya mama kamu masih sering bawain bekal, mamaku nggak pernah buatin aku bekal semenjak adak adik aku”


“Kok gitu?” tanya bocah itu yang mulai penasaran.


“Iya mama sekarang sibuk sama adik aku. jadi aku jarang dibuatin bekal, cuman dibelikan makanan yanga da di kantin itu” ucap Dava sambil menyendok makanan di kotak bekal Rafka. Cathring sekola memang sudah menyiapkan makanan untuk Dava ketika bocah itu meminta dan tak perlu membayar karena sudah di bayar semua oleh orang tua Dava.


“Mama kamu nggak sibuk ya, kan sudah ada adik kamu” lanjut bocah tersebut.


“Nggak, eh kadang” jawab Rafka saat mengingat mama juga sering sibuk mengurus adik-adiknya ketimbang diinya.

__ADS_1


“Aku dulu pengen punya adik, sekarang aku nggak pengen lagi. Mama sama papa aku jarang main sama aku lagi sekarang. Mama sama papa kamu kayak gitu juga nggak?”


Rafka menggeleng pelan, dia tak berani bicara. Kalau boleh mengatakan smeuanya orang tuanya juga hampir sama jarang bermain dengannya. Tapi ia masih beruntung kadang mama dan Papanya menyempatkan untuk mengajaknya bermain atau berbicara.


“Kamu enak, mama sama papa kamu masih perduli. Adik kamu tiga tapi mama sama papa kamu masih main sama kamu. aku nggak,” Dava terlihat sedih saat mengatakannya.


“kamu nggak boleh bandingin begitu, mama sama papa kamu mugkin beneran sibuk. Bukan karena ada adik kamu” ucap Rafka.


“enak ya masakan mama kamu” ucap Dava malah membahas masakan mama Rafka.


“Iya dong, mamanya aku” shaut Rafka bangga saat masakan mamanya di puji oleh temannya.


........................................


Rafka baru pulang sekolah, dia menggendong tas sekolahnya dengan lesu. Ia merasa capek saat ini. ia baru saja pulang dari les, sehabis sekolah tadi ia langsung berangkat ke tempat les pianonya. Dan dia sedikit kesal hari ini, karena mamanya bohong, padahal tadi pagi sang mama bilang mau menjemputnya tapi malah orang lain yang datang untuk menjemput dirinya.


“Anak mama sudah pulang, maaf ya sayang mama nggak bisa jemput kamu. habisnya dokter yang mau imunisasi adik-adik kamu nggak bisa pagi bisanya siang ini” Adiba memegang wajah anaknya sambil mengusap rambut anaknya.


“Hemm”


“Ya sudah, kamu naik keatas ya ganti baju terus makan. Sus Vera nanti mama suruh buatin kamu roti keju”


“Iya, tapi aku nanti boleh main sama Nanda” ucap Rafka meminta ijin padanya untuk bermain bersama tetangganya yang sering bermain dengannya.


“Iya boleh, tapi tidur siang dulu. habis tidur siang baru boleh main oke”


“Kok harus tidur siang, kenapa nggak habis makan aku terus main.”


“Kan ini sudah siang sayang, nanda pasti juga tidur disuruh mamanya. kamu juga harus tidur” Adiba berusaha membuat anaknya mengerti.


“Yaudah aku nggak jadi main, aku mau nonton aja di kamar” ucap Bocah itu dan langsung pergi.


Adiba melihat anaknya yang terlihat kecewa membuat dirinya merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini sudah siang jadi tak mungkin ia mengijinkan sang anak siang-siang bermain kerumah orang.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2