CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 76


__ADS_3

“Rafka buruan nak sini, bajunya di pakai dulu nontonnya nanti lagi” panggil Adiba pada anaknya yang berdiri hanya mengenakan pakaian dalam saja didepan Tv yang berada di dalam kamar bocah enam tahun itu.


“Iya ma,” jawab Rafka dan langsung berlari kearah mamanya yang duduk di tepi tempat tidur sambil memegang seragam sekolahnya.


“besok-besok pakai baju dulu sayang baru nonton tv ya, jangan di ulangi lagi” ucap Adiba menasehati sang anak.


“Oke Mama, Rafka minta maaf kalau gitu” jawab bocah tersebut.


Adiba dnegan telaten memakaikan baju pada anaknya, yang menuruti setiap ucapannya saat ini.


“Mama nanti serius di rumah kan? mama nggak kerjakan?” taya Rafka menatap Mamanya yang sedang memakaikan celananya.


“Nggak sayang, mama sekarang di rumah aja sama Rafka” jawab Adiba sambil tersenyum kecil.


“Yey, Rafka ada temen main sekarang. Mama mau kan nemenin Rafka main?”


“Mau dong masa nggak mau, sudah selesai . sekarang kamu ambil tas kamu sayang itu sudah mama siapkan juga bukunya di dalam tas” perintah Adiba pada anaknya.


Adiba sendiri langsung berdiri, tetapi saat dia kaan berdiri tiba-tiba kepalanya sedikit berdenyut membuatnya refleks langsung memegangi nakas meja yang tidak jauh darinya.


“kenapa kepalaku tiba-tiba pusing begini,” lirihnya dan memutuskan untuk duduk sebentar di tempat tidur anaknya.


“Mama ayok,” ajak Rafka setelah mengambil tas miliknya.


Adiba yang tengah memikirkan keadaannya saat ini langsung teralihkan pada sang anak yang memanggilnya.


“Iya sayang sebentar ya mama duduk sebentar” ucapnya lirih. Dia lalu kembali kedalam pikirannya sendiri,


“Apa jangan-jangan memang benar aku hamil sekarang,” batinnya berbicara sendiri.


“Mama ayok, Papa pasti nunggu dibawah” rengek Rafka mengajak Mamanya untuk segera turun.


“Iya sayang,” dengan perlahan dia berdiri dari duduknya saat ini meskipun terasa sedikit pusing tapi dia berusaha untuk menahannya. Karena ia tidak ingin anaknya itu mencemaskan kondisinya saat ini dan bilang pada Rendra soal dirinya.


Bukannya apa kalau Rendra bertanya tapi dia bingung mau jawab apa, bagaimana tidka bingung karena belum tentu dia hamil. Tapi jadwal datang bulannya sudah lewat dan dia belum juga datang bulan, apa mungkin dugaannya saat ini. nanti saja dia akan mengeceknya, makanya tadi saat Rendra meminta kewajibannya dia tidak memberikan karena ia takut kalau dirinya tengah hamil muda.


.....................................................


Rendra baru saja berangkat ke kantor sekaligus mengantarkan Rafka pergi ke sekolah kini dia di rumah bersama dengan Jeremy dan para pekerja rumah tangga mertuanya. Adiba yang masih berada di depan rumah langsung masuk kedalam, dia harus mengambil tasnya dan pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Dia ingin memastikan apa benar dia tengah berbadan dua saat ini.


Saat dia akan berjalan menaiki tangga, tanpa kebetulan dia berpapasan dnegan adik iparnya yang akan turun.


“Kakak ipar, aku keluar sebentar ya?” ucap Jeremy berpamitan pada Adiba.


“kamu mau kemana?” tanya Adiba, sebagai kakak ipar dia harus tahu kemana adiknya itu pergi dia tidak mau jika ada apa-apa dia yang disalahkan.

__ADS_1


“ketemu teman kak, pergi ya” Jeremy memberikan tatapan memelas agar dia di ijinkan untuk keluar.


“Ya sudah,” jawab Adiba kemudian, dia tidak mungkinkan melarang adik iparnya untuk pergi.


“Oh iya kak, nanti aku mau ke mall. Kau mau nitip sesuatu tidak?” ucap Jeremy yang berbalik lagi menatap Adiba yang akan melangkah naik keatas.


“Nggak deh Jer,”


“Oke, aku pergi dulu”


“Iya hati-hati”


Setelah Jeremy sudah berjalan pergi dia langsung melangkahkan kakinya kembali naik keatas untuk mengambil uang dan juga tas miliknya.


Kamar Adiba dan Rendra yang tidak jauh dari tangga tak butuh waktu lama bagi Adiba untuk sampai di kamar, dia langsung membuka lemarinya untuk mengambil tas. Tapi ingatannya terhenti saat dia tak sengaja teringat kalau beberapa waktu lalu dia pernah membeli testpack karena Rendra terus-terusan menyuruhnya untuk mengecek dia tengah hamil atau tidak.


“Oh iya aku lupa kalau ada persediaan” ucap Adiba sambil menepuk jidatnya sendiri, dia langsung berjalan kearah ruang ganti pakaian yang ada di dalam kamar itu. alatnya memang dia simpan di tempat itu agar Rafka tidak tahu.


...................................................


Mobil Tama baru saja memasuki pagar perusahaannya tapi matanya tertuju pada kania yang baru saja keluar dari taksi saat ini. perempuan itu tampak tergesa-gesa mengambil uang dari dalam dompetnya.


“Dia naik taksi, apa benar anak itu tidak punya mobil. Mana mungkin, orang tuanya kaya kenapa dia tidak ada mobil pribadi” gumam Tama sambil melajukan mobilnya masuk ke halaman perusahaan, dia menghentikan mobil itu tepat didepan pintu masuk lobby dan datang seorang pria yang berlari kecil mendekati Tama yang baru saja keluar dari mobil.


“Tolong parkir kan pak,” ucap Tama sambil menyerahkan kunci mobil pada pria paruh bayu itu.


Tama memasukkan tangannya ke saku celananya sambil melihat Kania yang berlari mendekat padanya saat ini. perempuan itu begitu terburu-buru bisa Tama tebak kalau Kania terlambat.


“Eh kak Tama,” serunya senang saat melihat Tama di depannya, sementara Tama hanya menunjukkan wajah dinginnya saja tanpa senyuman.


“Kau bar berangkat jam segini, kau tidak tahu ini jam berapa” tukas Tama dengan Tegas.


“Maaf kak, aku tahu aku telat tapi biasa saja bisa jangan begitu padaku” lirih Kania dan senyum yang ada di wajahnya tak memudar seketika saat mendengar ucapan dari Tama.


“AKu bos mu mengerti, jadi terserah diriku”


“Dan aku peringatkan padamu, ini di kantor jangan memanggilku sesukamu” lanjut Tama dan dia langsung melenggang pergi meninggalkan Kania yang tampak mengepalkan tangannya dan menggenggam tas kecilnya cukup kuat dan tanpa di duga dia melemparkan tas itu pada Tama dan tepat mengenai kepala dari bosnya.


“kak Tama nyebelin tahu nggak, pagi-pagi sudah menambah runyam mood ku. Aku kesal denganmu, ngerti nggak” sungut Kania sambil mengambil tasnya lagi yang terjatuh di lantai.


Tama sendiri sambil berbalik memegangi kepalanya menatap Kania, perempuan itu menatapnya penuh kekesalan bahkan matanya sedikit berkaca-kaca membuat tama tertegun dnegan itu.


Kania pergi begitu saja meninggalkan Tama yang masih terpaku di tempat, sungguh dia tak mengerti kenapa Kania seperti itu sekarang.


“kenapa dengannya?” heran Tama menatap punggung kania yang berjalan cepat meninggalkan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Pak Tama kenal dengan Kania?” seorang pria paruh baya mengagetkan tama membuat pria itu langsung menatap salah satu pimpinan di perusahaannya.


“Kenapa kau tanya begitu, tentu saja saya kenal. Dia pegawai saya” tukas Tama ketus.


“Bukan itu maksud saya pak, tapi di luar pekerjaan apa bapak mengenalnya. Karena saay lihat bapak dan Kania seperti saling kenal” ucap Kadek pada Tama.


“Nggak,” jawab tama singkat.


“Saya kira kenal Pak, saya kasihan sama Kania dia semenjak orang tuanya bercerai, dia ikut Ibunya yang menikah lagi dengan orang lain membuatnya kehilangan semua fasilitas.” Jelas Kadek tiba-tiba.


Apa yang di katakan Kadek itu membuat Tama tak mengerti,


“Kau kenal dengannya, dan apa maksudmu?” tanya Tama pada pria itu.


“Iya saya kenal pak, saya rekan dari ayah tirinya.” Jawab pria itu jujur,


Tama hanya diam saja mendengar hal itu, dia memikirkan lagi soal Kania yang kemarin dia lihat ada di halte bis dan sekarang perempuan itu naik taksi. Masa segitunya dia tidak bisa mendapatkan fasilitas.


“Maaf pak, kalau saya banyak bicara. Kalau begitu saya pergi dulu” pamit kadek pada Tama, dia malah merasa salah telah banyak cerita dengan bosnya.


“Ya silahkan, saya juga mau masuk kedalam” jawab tama dan dia mengikuti langkah Kadek yanng berjalan masuk kedalam perusahaan.


..........................................


Adiba sedang berada didalam kamar mandi, dia memegangi alat tes kehamilan dengan harap-harap cemas karena hasilnya tak kunjung keluar.


“Positif atau nggak ya” ucapnya sambil terus melihat alat itu yang dia genggam.


“Semoga saja positif pasti Rendra sama Rafa senang dengernya” ucapnya lagi dan melihat kembali alat itu. namun wajahnya ayng penuh harap itu saat ini berubah menjadi tak bersemangat saat dia melihat hanya garis satu lah yang tertera di alat itu.


“Cuman satu garis, aku belum hamil berarti” ucapnya kecewa saat melihat itu, harapannya ia hamil tapi belum rezeki. Nyatanya dia belum hamil lagi sekarang.


“Mungkin belum rezeki ku sama Rendra, nggak pa-pa mungkin bukan sekarang kita punya anak lagi” ucapnya berusaha untuk semangat lagi dan dia langsung membuang alat itu ke kotak sampah yang ada didalam kamar mandi itu.


Setelah mengecek apakah dia hamil atau tidak dan hasilnya membuat dia kecewa, Adiba memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, dia harus memilih baju Rendra mana yang kotor dan mana yang bersih.


Adiba menghembuskan nafas berat, sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


“Sudahlah Adiba mungkin belum waktunya, ayo semangat” ucapnya menyemangati diri sendiri saat melihat kenyatan itu.


“Mungkin apa yang aku rasain beberapa hari ini hanya kelelahan saja,” lanjutnya lagi sambil berjalan kearah pintu kamar.


Beberapa hari ini dia memang tengah mencurigai dirinya sendiri kalau tengah berbadan dua, seperti pusing badan cepat lelah. Dan yang paling mencengangkan adalah kemarin saat dia begitu manja dengan rendra. Ia pikir karena dia tengah hamil nyatanya tidak, entah kenapa rasanya dia ingin dimanja saja.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2