CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 72


__ADS_3

Beberapa setelah mereka liburan bersama, Adiba saat ini berangkat bekerja untuk yang terakhir kalinya sebelum dia memutuskan untuk resign menuruti permintaan Rendra dan memikirkan Rafka.


Dia berangkat untuk mengucapkan salam perpisahan pada Nurma, temannya itu pasti sedih karena dia juga ikut keluar seperti Kania yang memutuskan keluar lebih dulu.


“Mas, aku ijin keluar sebentar ya?” pinta Adiba sambil berdiri dari duduknya.


“mau kemana?” tanya Rendra balik sambil menatap Adiba.


“Mau ngobrol sama Nurma, aku pamit sama dia kalau aku mau resign” jawab Adiba sambil berjalan kearah Rendra yang melihat padanya tampak memikirkan sesuatu.


“Boleh nggak”


“Iya boleh, jangan lama-lama sayang,”


“Oke mas,” jawab Adiba mengecup pipi suaminya. Dia langsung berjalan keluar dari ruangan itu sambil mengukir seulas senyuman pada suaminya yang juga balas tersenyum.


Saat Adiba keluar ponsel Rendra berbunyi membuat pria itu langsung beralih menatap ponselnya yang berbunyi tersebut.


“Tama, kenapa dia meneleponku saat ini” kernyitan di dahi begitu nampak jelas di wajah Rendra.


“Halo, ada apa?” jawab Rendra lebih lembut dari beberapa hari lalu saat Tama menelponnya.


“Aku mau ngucapin terimakasih ke kamu Rendra, kenapa kamu nggak bilang kalau nyuruh orang yang bersihin apartemen Pram. Maaf aku telat tahunya?” ucap Tama di seberang sana.


“Sama-sama, anggap saja itu balas budiku padamu karena kau sudah membantu Adiba selama ini”


“Tapi maaf kalau aku boleh tahu, kamu tahu apartemen Pram dari mana ya? Dari Adiba?”


“Iya siapa lagi kalau bukan dari istriku,”


“Oh, ya sudah kalau begitu aku matikan dulu Ren. aku ada urusan lain, titip salam buat Adiba”


“Ya,.” Panggilan langsung terputus saat ini dan Rendra langsung mematikan panggilannya begitu saja.


“Temanan dengan orang ini ternyata enak juga, dia bukan pria yang buruk seperti pikiranku” lirih Rendra sambil melihat ponsel yang sudah dia taruh di mejanya lagi.


Rendra kembali melanjutkan pekerjaannya, pekerjaannya begitu menumpuk saat ini, banyak yang harus dia kerjakan sekarang.


..............................................


“Tumben sih kamu ngajak makan berdua, biasanya aja sama pak bos terus” canda Nurma sambil cemberut menatap Adiba yang duduk didepannya.

__ADS_1


“hehehe, ya mau gimana lagi istri harus nurut suami”


“Cie suami, iya deh iya yang punya suami” kekeh Nurma menatap temannya yang tersenyum malu-malu.


“Oh iya Nurma, aku mau ngomong sama kamu”


“Ngomong apa Dib,”


“Besok aku udah nggak kerja lagi,”


“APA? kenapa?”


“Maaf ya, rendra minta aku buat fokus urus Rafka. Anak aku kasihan kesepian di rumah Nur”


“iih kok gitu, aku nggak ada teman dong disini. Kania udah keluar masa kamu juga keluar”


“Maaf ya Nurma, kamu misalnya kalau kangen aku bisa kok ke rumahku” ucap Adiba yang merasa kasihan dengan temannya yang tidak memiliki teman karib lagi di kantor.


“Ya deh, mau gimana lagi itu sudah jadi keputusan kamu sama suamimu. Semoga jadi ibu rumah tangga yang baik ya, salam buat Rafka”


“Iya makasih sudah mau ngerti aku,”


“Kamu sudah dengar kabarnya Kania belum?” lanjut Adiba.


“kerja dimana memang?” tanya Adiba pada Nurma.


“aku denger sih di perusahaan milik keluarga Suryaja”


“Serius dia kerja disitu?”


“Iya kenapa kamu kok kelihatan kaget begitu” heran Nurma saat melihat wajah temannya itu.


“Nggak pa-pa,” elak Adiba tapi wajahnya seperti berkata lain mengenai hal tersebut.


“Dia nih aneh, disini pekerjaan dia mending ya tapi dia pindah ke sana cuman mau jadi staf biasa. Aneh kan anak itu. otaknya yang pintar nggak terlalu dipakai”


“Udahlah mungkin itu kemauan dia,”


“Ya tapi aneh dib”


“Iya sih”

__ADS_1


“Sudah ah nggak usah bahas tuh bocah, dia aja nggak terlalu bahas kita. Di akan lebih nyaman sama Sasa daripada kita” sungut Nurma.


“Nggak boleh gitu, gimanapun itu teman kita. Kamu banyak curhat juga sama dia kan”


“hehehe iya sih, kenapa juga aku begini. seakan aku jadi orang munafik ngomongin dia di belakang”


“Itu tahu, makanya nggak usah dibahas, lanjutin makanya. Bentar lagi aku mau ke atas tahu sendiri Rendra gimana”


“Iya-iya yang punya suami protektif” pungkas Nurma.


Adiba yang mendengar itu hanya tersenyum dan melanjutkan makannya lagi, yang dikatakan Nurma memang benar kalau Rendra seperti itu tapi dia menyukainya.


...........................................


Tama baru saja keluar dari ruangannya, dia berjalan melewati para pergi yang lain dan matanya tertuju pada Kania yang tengah dimarahi oleh salah satu ketua tim di divisi itu.


“Ada apa?” tanya Tama saat dia sudah berada didekat mereka.


“Ini pak anak baru tapi membuat ulah, bisa-bisanya dia salah memasukkan anggaran” kesal ketua Tim divisi tersebut.


Tama melihat sekilas Kania yang sedang dimarahi oleh anak buahnya itu, begitu juga Kania yang melihat kearahnya saat ini perempuan itu hanya diam memperhatikan tapi dalam hatinya juga ikut senang karena Tama menghampiri dirinya.


“Sudah kau yang selesaikan itu, dan kau ikut denganku” ucap Tama pada Ketua Tim dan beralih menatap Kania mengajaknya pergi dengan berjalan lebih dulu.


Kania langsung segera mengikuti Tama daripada dia yang menjadi sasaran ketua timnya yang sedang marah mending menjadi sasaran kemarahan Tama daripada ketua Timnya yang cerewet.


Tama sebenarnya cukup terkejut mendapati Kania yang bekerja di perusahaannya saat ini, jelas dia terkejut karena dari penyelidikannya Kania bekerja di perusahaan Rendra tapi kenapa saat dia sudah masuk ke kantor ia melihat Kania dan menyapa dirinya sambil tersenyum.


“Kak Tama, kakak nggak ada senyum gitu sama aku?” tanya Kania yang berjalan dibelakang Tama yang tak menoleh sama sekali padanya. Pria itu tapak begitu mengacuhkan dirinya menganggapnya seakan tidak berada di belakang pria itu.


“Kak Tama denger aku nggak sih, aku lagi ngomong loh sama kakak” pungkas Kania lagi.


“Bisa tidak kau profesional, ini di kantor bukan di luar mengerti” tegas Tama menatap dingin perempuan itu.


“ya, makanya kakak ngomong kek sama aku” Kania berusaha mengimbangi langkah Tama yang semakin memperlebar jarak diantara mereka.


Tama masih diam saja tidak menggubris apapun yang dikatakan perempuan itu saat ini, dia tidak suka berbicara apapun dengan Kania. Apalagi saat ini mereka sedang berada di kantor dia tidak ingin menjadi bahan gosip karyawannya yang tukang nyinyir.


Bukan itu saja, dia tidak ingin Papanya banyak tanya soal hal ini, pria tua bangka itu pasti menanyai dirinya siapa perempuan yang begitu dekat dengannya. Tahu sendiri pria itu selalu ingin dirinya menikah dan meminta calon menantu yang bibit bebet bobotnya pasti.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2