
“Mama ini gimana sih sama menantu kok begitu, kamu ini jaga mulut kamu. bisa-bisanya kamu lebih percaya Dela yang jelas-jelas mulut racun itu” marah Frans pada sang istri setelah mendengar cerita dari Rendra.
“Papa apa-apaan sih marahin Mama. Mama udah bener ya pa marahi Adiba. Adiba yang nggak sopan sama Dela. Aturan dia yang bisa jaga sikap sama Tamu” Citra tidak mau disalahkan soal hal itu, dia msaih membela dirinya dan juga Dela.
“’Mama nyalahin istri aku, istri aku udah jaga sikap ya ma tapi dasarnya aja tante Dela yang kasar. Mama tahu nggak tante Dela dorong Rafka sampai jatuh, itu apa punya sopan. Adiba yang jelas-jelas ibunya tentu nggak terima lah ma. Anaknya di dorong, mama masih bilang istri aku nggak punya sopan santun. Aku bener-bener kecewa sama Mama. Nggak habis pikir aku” ucap Rendra yang tampak kecewa.
“Udahlah Pa, kayaknya percuma aku minta keadilan soal istriku, Mama egois tidak bisa mengerti menantu. Mama yang sikapnya seperti ini semakin membuat ku yakin buat keluar dari rumah ini, aku tidak bisa tinggal dengan orang yang membuat istriku banyak pikiran saat hamil sekarang. Aku sekalian mau bilang juga, besok aku pindah rumah, aku sudah tidak ingin tinggal disini, Mama sudah membuatku kecewa” Rendra mengutarakan kekesalannya yang sudah memuncak, dia langsung berdiri dari duduknya melihat sang Mama yang sok.
“Kamu bela istri kamu ketimbang mama, kamu mau jadi anak durhaka Rendra. Bisa-bisanya kamu bilang mama begitu, Mama sudah benar ya, istri kamu yang salah. Nyesel mama menyuruh anak dan istri kamu ke rumah ini. kalau mereka tidak mama suruh kesini kamu nggak mungkin begini sama Mama”
“Stop Ma,” bentak Frans mencengkram tangan istri.
“Apa Pa?apa Mama salah soal ini, Lihatlah anak kesayangan Mama jadi berubah gara-gara istrinya tidak ada sopan santun dan tidak becus itu”
“Mama bisa berhenti jelekin Adiba nggak, kalau Mama masih begini bukan aku aja yang benci dan marah sama Mama tapi anakku dan Jeremy juga bakal benci dengan mama” tukas Rendra benar-benar kecewa.
“Ma stop, Papa bilang stop ya stop” bentak Frans saat istrinya akan berbicara.
“Kamu jadi liar begini gara-gara Dela, kamu lupa ha Dela itu bagaimana. Dia pernah menghancurkan mu kan? kenapa kau sekarang malah jadi sohibnya hah” Frans benar-benar marah pada istrinya itu dan dia mengingatkan Citra dengan masalah istrinya itu dnegan Dela yang pernah menghancurkan karir Citra dan yang hampir merebut dirinya dari sisi Citra. Ya dulu Dela sempat menyukainya saat dia baru mengenal Citra.
Citra hanya bisa diam mendengar ucapan suaminya barusan,
Rendra sudah tidak mau berdrama lagi, dia langsung pergi begitu saja meninggalkan keduanya ditempat. Dia akan menyuruh istri dan anaknya untuk merapikan pakaian mereka karena ia akan benar-benar pergi dari rumahnya saat ini. rasanya tidak terima dia melihat istrinya terzolimi di rumahnya.
“Otak kamu dibuka lebar-lebar, jangan egois mentingin diri sendiri. lihat kamu semakin tua nggak mungkin bakal urus diri sendiri atau bakal sama teman kamu itu. tapi sama anak-anak kamu. ingat juga Ma, kamu bisa begini karena siapa? Karena Papa kan?” ucap Frans dengan begitu dingin, dia langsung pergi meninggalkan istrinya sendirian.
.......................................
Kania duduk sendiri di halte bus malam-malam, dia menunggu sendiri bus tersebut. Tapi sedari tadi tak ada yang datang ke halte semakin membuatnya bingung saat ini. ia harus pulang naik apa sekarang.
“nasib gue kok jadi begini banget sih, dulu gue nggak bingung naik apa sekarang kenapa begini” ucapnya sesekali menunduk kesal dengan nasibnya saat ini.
__ADS_1
“Papa kapan sih ngirim mobil buat gue, nggak kuat rasanya harus naik bis begini” lirihnya.
Kania memang sudah menghubungi ayahnya yang ada di Belgia, dan ayahnya bilang akan mengirimkan mobil lagi untuk Kania saat perempuan itu menceritakan kondisinya pada sang papa.
Papanya sendiri belum bisa melihatnya di Indonesia karena masih banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.
“Udah nggak pa-pa Kania sabar aja, yang penting kehidupanmu sekarang tidak bingung lagi karena kau sudah bisa berkomunikasi langsung dengan Papamu” ucap Kania menyemangati dirinya sendiri. dulu dia memang hanay bisa berkomunikasi dengan Papanya melalui Mamanya karena dia masih di bawah umur. Tapi karena saat ini dia sudah dewasa dia bisa berbicara langsung dengan sang Papa.
Tinnnnn
Suara klakson mobil yang keras mengagetkan Kania, dia langsung melihat kearah mobil yang sudah berhenti didepannya saat ini.
Siapa lagi orang itu kalau bukan Tama, yang menyebalkan dan seenaknya sendiri.
“Apa?” ketus Kania saat melihat Tama yang sudah menurunkan kaca jendelanya.
“Naik” perintah Tama.
“Kau mau masuk atau aku seret” tukas Tama.
Kania kesal menghentakkan kakinya, dan langsung berdiri. Kalau Tama sudah bilang begitu pria itu tidak bercanda. Dia tahu sifat Tama seperti apa.
“Kakak bisa nggak sih nggak seenaknya begini, bukannya kakak sendiri yang bilang kalau aku harus menjauh darimu. Kenapa jadi kamu sekarang yang dekat-dekat denganku” tanya Kania pada Tama saat dia sudah masuk kedalam mobil.
“Bisa diam atau tidak?”
“Tidak, sebelum kau jawab kenapa kau begini. kau egois tahu nggak kak. Seenaknya sendiri denganku”
“Aku minta maaf soal itu, tapi menurut saja denganku. Kau ingin hidup enakkan, maka ikuti ucapan ku”
“dasar ingin menang sendiri, aku tidak mau mengikuti mu. Dan apa maksudmu tadi yang bilang kalau aku calon istrimu, kau tidak ngaca aku bocah kecil”
__ADS_1
“Gini, sekarang kita buat kesepakatan. Kau jadi calon istriku dan aku bakal membiayai hidupmu mengerti. Tidak ada penolakan” tukas Tama.
“Nggak ngerti, maksudmu apa?” ucap Kania polos.
“begini, kau pura-pura jadi calon istriku dan tinggal di apartemenku, paham”
“Kau serius mengijinkan ku tinggal di apartemen mu, berarti kita tinggal bersama. Kenapa menyuruhku tinggal bersamamu, kau suka denganku ya?”
Bukannya menjawab Tama malah menjitak kepala Kania,membuat bocah itu kesakitan.
“Jangan mimpi, bocah sepertimu tidak mungkin aku menyukaimu” tukas Tama dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
“kemakan omongan sendiri baru mampus, lihat nanti kalau kau kemakan omongan sendiri. kau bakal cinta mati bakal padaku kak. “ ucap Kania dengan percaya dirinya.
“Jangan mimpi, aku jatuh cinta pada bocah kecil sepertimu”
“Ciih, sok jual mahan dasar orang tua” kesal Kania dan langsung memalingkan wajahnya.
“Kau mengatai ku apa tadi?”
“Orang tua kenapa? Marah. memang orang tua kan situ”
“kau..”
“kenapa marah? Memang begitu kan? dasar orang tua weekk, aku doakan kau kemakan omongan mu sendiri kak” kesal Kania sambil menjulurkan lidahnya meledek Tama, dan dia langsung memalingkan wajahnya.
Sementara Tama menahan kekesalannya saat ini, dirinya hanya bisa pasrah dikatai Kanai seperti itu. dengan kesal ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempatnya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1