CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep. 117


__ADS_3

Rendra yang sudah bangun terlebih dahulu dan sudah selesai mandi perlahan menaikkan satu kakinya ke tempat tidur hendak membangunkan sang istri yang masih terlelap. Dia perlahan meniupkan udara di lekuk leher istrinya mengganggu perempuan itu yang masih nyaman di alam mimpi.


Adiba yang merasakan ada tiupan angin disekitar lehernya mengusap pelan lekuk lehernya itu tetapi masih dengan mata yang terpejam. Rendra yang melihat itu hanya tersenyum, dia puas menjahili sang istri di pagi hari.


Lagi dia mengulangi apa yang ia lakukan barusan, Adiba masih saja memberikan respon seperti tadi. Kini dia menggeliat perlahan sedikit menjauh, ia sudah sedikit kesusahan untuk sekedar menggeliat di atas kasur karena perutnya yang sudah sedikit besar.


“Sayang bangun, ini sudah pagi” ucap Rendra lembut sambil mengusap pelan kepala istrinya.


Mendengar suara suaminya yang terdengar di telinganya saat ini, membuat Adiba membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya singkat memperhatikan wajah segar sang suami.


“Ternyata kamu mas, aku kira beneran angin. Kamu ngerjain aku ya” Adiba menuduh langsung sang suami dengan suara seraknya itu.


“bangun sayang, tolong siapkan baju kerjaku ya. Pakaikan dasi untukku juga” pinta Rendra dengan nada lembutnya.


Perlahan Adiba mendudukkan dirinya dengan bantuan Rendra yang menopang bahu sang istri.


“Hemm, tapi aku siapin baju Rafka dulu” balas Adiba dengan suara manjanya.


“Rafka sudah ada yang menyiapkan, bibi sudah menyiapkan untuknya. Kamu siapin baju kerja aku aja” tukas Rendra.


“ya sudah kalau begitu” perlahan Adiba menurunkan kakinya ke lantai dan dia berdiri perlahan untuk menuju ke ruang pakain mengambilkan baju kerja sang suami.


Rendra juga ikut turun dari tempat tidur dan dia berjalan menuju kelemari melihat dirinya yang masih memakai kimono mandi. sesekali dia merapikan rambutnya yang begitu acak-acakan.


Mereka semalam baru pulang dari pantai, niatnya ingin menginap di pantai tetapi Adiba malah mengajak pulang mau tak mau mereka pulang tengah malam tanpa berpamitan dengan Tama ataupun Kania yang entah kemana perginya mereka berdua semalam setelah melihat senja bersama.


......................................................


“Pagi Ma, Pa, Oma, Opa” seru Rafka yang berlari kecil ke meja makan yang sudah berkumpul keluarganya minus Omnya Jeremy yang belum ada di meja makan saat ini.


“Pagi juga cucu kesayangan Opa,” balas Frans yang merentangkan tangannya menyambut cucu pertamanya itu.


Rendra dan Adiba serta Citra hanya tersenyum saja melihat cucu dan kakaknya tegah berpelukan berdua.


“Ciuman pagi untuk Papa mana” intrupsi Rendra pada anaknya yang tengah berganti memeluk serta mencium sang Oma.

__ADS_1


“Sabar Papa” jawab bocah itu dengan polos dan melepaskan pelukan pada sang Oma bergeser ke Papanya yang ada di depan Omanya itu.


Rafa langsung memeluk Papanya dengan hangat, Rendra yang sudah menyamakan tingginya dengan Rafka membalas pelukan sang putra tak lupa ia juga melayangkan kecupan manis di kedua pipi anaknya.


“sudah pa, aku bilang sudah. Mama,” rengek Rafka minta dilepaskan oleh papanya agar Papanya yang terus menciumi dirinya berhenti. Rengekan meminta bantuan pada sang Mama tentu saja tak lupa ia ucapkan.


“Mas, sudahlah lepasin anaknya” Adiba meminta sang suami untuk melepaskan anak mereka saat ini.


“Iya Rendra, lepasin anak kamu. biar dia makan dulu nanti terlambat kesekolah” nasehat Citra pada anaknya itu.


“Sekarang kayaknya udah nggak mau Papa cium-cium lagi ya, gitu sekarang anak Papa” protes Rendra sambil melepaskan pelukannya dan berhenti mengecupi sang anak.


“geli pa, aku udah gede” tukas bocah enam tahun itu protes.


“Sudah, sini sayang duduk dan makan. Nanti terlambat” ucap Adiba meminta anaknya untuk duduk di kursi sebelah kirinya.


“Rendra cepat duduk, ayo kita sarapan. Nanti terlambat bekerja” perintah Frans pada putranya.


“Jeremy kemana? Kenapa pagi-pagi begini tidak sarapan?” tanya Rendra yang sudah mulai berdiri untuk duduk di kursi meja makan.


“Kamu kayak tidak tahu adik kamu, dia masih tidur. Biarkan saja dia” sahut Frans dan dia langsung mulai menyantap hidangan di depannya yang sudah di siapkan sang istri.


“Pa, nanti kita pamit kembali kerumah.” Ucapnya lagi.


“kenapa buru-buru, kenapa tidak tinggal disini saja sampai Adiba melahirkan” ucap Citra yang merasa berat kalau anaknya akan kembali kerumahnya.


“ya kali ma, sampai istri aku melahirkan. Masih beberapa bulan lagi. Apa kabar rumah kita kalau tidak di tinggali” jawab Rendra.


“Iya ma, rumah kita nanti malah tidak terawat kalau tidak di tinggali” timpal Adiba membantu sang suami mencari alasan.


“ya sudahlah kalau itu mau kalian, Tapi kalian sering-sering kesini ajak Rafka” pinta Citra


“Iya” jawab rendra.


“Sudah-sudah, ngobrolnya nanti lagi ayo kita sarapan dulu” sela Frans mengingatkan kembali mereka yang tengah mengobrol untuk sarapan sebelum melakukan rutinitas mereka.

__ADS_1


.........................................


Tama mengetuk-ngetuk penginapan Kania, setelah melihat penginapan Rendra dan juga Adiba kosong tak ada orangnya. Padahal ia ingin mengobrol dengan Rendra dan Adiba.


“Iya tunggu sebentar” sahut suara dari dalam penginapan itu. pintu tak lama terbuka menampakkan Kania yang masih muka bantalnya melihat kearah Tama heran karena pagi-pagi sudah heboh mengetuk pintu penginapan orang.


“Ada apa sih kak?” tanyanya tak mengerti.


“kamu tahu Adiba sama Rendra nggak? Kenapa dia tidak ada di kamar mereka” tanya Tama balik.


“ya mana aku tahu, aku kan tidur semalem habis pergi denganmu kak, aneh deh” kesal Kania yang begitu terganggu paginya. Dia menggaruk matanya perlahan,


“mereka kemana ya, kenapa jam segini sudah tidak ada di kamar.” Heran Tama yang begitu bingung tak mendapati Adiba dan juga Rendra.


“Mungkin mereka sudah pulang, Pak Rendra kan harus kerja. Mungkin mereka pagi-pagi langsung pergi” ucap Kania yang masih begitu mengantuk.


“Tapi kalau mereka pergi kenapa tidak bilang denganku, kenapa diam-diam langsung pergi”begitu banyak pertanyaan yang bersarang di pikiran Tama saat ini.


Kania juga tak mengerti kenapa mantan bosnya dan mantan rekan kerjanya pergi begitu saja.


“Mungkin mereka tidak sempat, sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku mau..” ucapan Kania yang semula nya tenangan langsung terhenti dan dia tampak was-was sendiri memperhatikan wajah Tama.


“Apa jangan-jangan Adiba benar-benar akan menjauh dari Kak Tama” pikir kania di kepalanya. Jika memang begitu, ia harus senang atau sedih, pasti Tama tidak mungkin membiarkannya begitu saja.


“Nggak, semoga saja Adiba tidak menghindar dari kak Tama. Bisa-bisa aku merasa bersalah telah membuat hubungan mereka jadi menjauh dan tidak mungkin kak Tama akan diam saja. Kalau dia tahu ini semua karena aku dia pasti malah membenciku, aku harus bicara lagi dengan Adiba.” Batin Kania.


“kania, Kania,” ucap Tama sambil memegang bahu Kania menyadarkan perempuan itu dari lamunannya.


“I..iya, kenapa kak” gugup Kania yang langsung tersadar.


“kenapa kau melamun?” tanya Tama.


“Ng..nggak, s..sudah ya aku mau mandi. dan a..aku juga akan menjawab apa yang kakak katakan padaku semalam” ucap Kania yang langsung menutup pintunya. Tama yang melihat itu tampak heran dan tak mengerti kenapa Kania tampak cemas begitu. Tapi meskipun ia heran dengan sikap Kania, ucapan Kania yang akan menjawab ucapannya semalam membuatnya tersenyum tak sabar menantikan jawaban perempuan itu apa padanya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


 


__ADS_2