
“Syukurlah kalau kalian sudah datang sekarang” ucap Rendra pada tiga orang yang berdiri didepannya. Tiga orang perempuan paruh baya yang kemungkinan seusia mamanya tetapi dengan tampilan berbeda bukan layaknya sang Mama yang selalu berdandan dan masih terlihat muda dan terawat.
Ketiga orang itu adalah asisten rumah tangganya yang baru ia minta dari Mbok Sri yang bekerja di rumah Papanya. Mbok Sri meminta mereka bertiga untuk bekerja dirumahnya saat ini.
“Iya tuan, Mbok Sri yang menyuruh kami untuk datang sekarang” jawab salah satu dari tiga orang itu.
“terimakasih sebelumnya kalian sudah datang tepat waktu” jawab Rendra.
“Kalua begitu silahkan pergi ke dapur, dan kamar kalian ada di dekat dapur ada dua kamar disitu. di bagi saja siapa yang akan tidur berdua” perintah Rendra pada ketiganya.
“Baik tuan, kalau begitu kita permisi dulu” ucap perwakilan perempuan tersebut.
“Iya silahkan” pungkas Rendra yang mengijinkan ketiganya untuk pergi.
“Oh iya sebentar, siapa diantara kalian yang bisa mengurus anak dengan baik” ucap Rendra.
“Kita semua bisa tuan,?”
“Ya sudah kalian bergantian mengurus anakku nanti,” pinta Rendra.
“Siap tuan,”
Rendra langsung merasa lega kalau mereka bertiga bisa mengurus anak, jadi dia tidak perlu mencari suster yang akan mengasuh Rafka. Cukup mereka bertiga saja yang akan mengasuh sang anak dan calon ketiga anaknya nanti yang akan lahir.
.................................................
Tama berjalan keluar dari ruangannya saat ini, dia melihat kearah beberapa divisi yang tengah sibuk bekerja. Dia mencari keberadaan Kania saat ini tapi perempuan itu tak ada diantara mereka yang sedang bekerja.
“Dimana perempuan itu kenapa tidak ada disini” tukas Tama sambil sesekali melihat kearah kursi Kania yang kosong.
“Nyari siapa? Nyari aku” ucap seseorang yang memegang bahu Tama membuat pria itu langsung menoleh dan dia sedikit terkejut saat melihat Kania lah yang memegang bahunya saat ini.
Dia langsung memberi jarak dari perempuan itu tampak gugup untuk menjawab apa.
“Ngg..nggak, “ jawab Tama sedikit terbata.
“Gengsi melulu, nyesel mampus kalau pergi dari perusahaan ini” sinis Kania pada Tama.
“Ngapain aku nyesel, sudah sana pergi kerjakan pekerjaan. Eh sebentar, tidak usah bekerja hari ini. kau lebih lebih baik ikut aku saja” ucap Tama terasa membingungkan.
“Kemana?”
“Udah ikut aja” Tama langsung menarik Kania pergi dari situ untung orang-orang yang berada di tempat itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga mereka tak terlalu memperhatikan bos mereka dan rekan mereka yang pergi bersama.
“Apaan sih kak main tarik-tarik,”kesal Kania dan melepaskan pegangan Tama padanya.
“Bisa nggak ikut aja nggak usah banyak tanya” ketus Tama.
“Ya harus banyak tanya lah kak, aku aneh deh sama kamu. kamu bilangnya nggak suka sama aku tapi kenapa selalu seenaknya sendiri seakan kakak ini suka sama aku” tegas Kania, dia tidak bisa diperlakukan seperti ini terus oleh Tama.
“Aku memang tidak suka denganmu mengerti, ak begini karena menganggap mu adikku puas. Jadi ayo ikut aku..” tukas Tama dan memaksa Kania untuk ikut dengannya.
__ADS_1
“kemana sih..” kesal Kania dia sakit hati dan kesal sekarang dua rasa yang ia rasakan bersamaan.
“Ketemu Adiba sama suami, tolong bantu aku. kali ini saja, aku juga pernah membantumu kan?”
“Ketemu orang yang kau suka, huh dasar tukang memanfaatkan seseorang”
“Siapa yang memanfaatkan siapa?” tuka Tama.
“Ya sudah ayo, asli nyesel aku nemuin kak Tama lagi” ucap Kania jujur didepan Tama kalau dia menyesal bertemu pria itu lagi. Dia kesal karena Tama akan bertemu dengan Adiba.
Tama terdiam, entah kenapa mendengar hal itu membuatnya tidak terlalu senang. kenapa dia tidak terima kalau Kania menyesal menemuinya lagi. Dia langsung menyusul Kania yang berjalan lebih dulu.
.................................................
Adiba berjalan mendekati Rendra yang duduk di pinggir kolam renang melihat anaknya yang tengah berenang saat ini.
“Kamu udahan mas berenangnya?” tanya Adiba sambil duduk disebelah suaminya menaruh kakinya di kolam renang.
“Udah, nggak asih berenang sendiri” jawab Rendra sambil melihat kearah istrinya.
“kok sendiri? itu sama Rafka” heran Adiba dengan suaminya.
“Nggak ada kamu jadinya nggak asik” tukas Rendra sambil tersenyum menggoda.
“Kamu tahu sendiri aku nggak bisa berenang” pungkas Adiba sedikit sedih sih dengan kenyataan dirinya yang tak bisa berenang.
“Ya kamu sih, dulu mau aku ajari nggak mau.” ucap Rendra mengingatkan pada Adiba soal dulu yang tidak mau saat dirinya akan mengajari berenang sang istri.
“Apa sih yang ditakutin, itu rafka yang anak enam tahun aja berani masa kamu nggak berani”
“Mama penakut Pa, jadi nggak berani” sahut bocah itu yang berenang melewati kedua orang tuanya yang tengah mengobrol di pinggir kolam.
“Tuh kamu di ledek anak kamu”
“Rafka, kok gitu sama Mama” ucap Adiba sambil cemberut.
“Ya habisnya Mama nggak mau diajarin berenang” jawab bocah itu.
“Ayo berenang sama aku, aku ajari” ucap Rendra yang turun ke dalam kolam.
“Nggak ah, aku takut mas. Aku juga lagi hamil” tolak Adiba saat sang suami mengulurkan tangan padanya.
“nggak pa-pa, udah ayo berenang. Ibu hamil tuh nggak pa-pa kalau berenang” Rendra berusaha membujuk istrinya untuk berenang bersamanya saat ini.
“Beneran nggak pa-pa”
“Iya nggak pa-pa sini” Rendra memegang tangan istrinya dan langsung menggendong istrinya itu untuk masuk kedalam kolam. Ia kemudian perlahan menurunkan istrinya agar kaki sang istri menginjak lantai kolam renang.
“Mas nanti aku tenggelam gimana?” Adiba panik sendiri sambil memegangi tangan suaminya.
“Nggak udah kamu tenang aja”
__ADS_1
“Yey, mama masuk kolam renang” girang rafka saat melihat sang mama yang sudah berada didalam kolam renang
“Ayo sini ketengah” ucap Rendra mengajak Adiba untuk ketengah.
“Ah nggak ah mas,” tolak Adiba yang merasa takut.
“Nggak pa-pa sayang” ucap Rendra.
Pria itu langsung memeluk istrinya dengan satu tangan mengajak sang istri untuk lebih menengah lagi.
“Kamu modus ya?” tanya Adiba pada sang suami yang memeluknya saat ini.
“Hehehe tahu aja kamu,”
“Tahu lah, kamu berarti ngajak aku berenang cuman mau pengen peluk-peluk begini. malu mas ada rafka” ucap Adiba yang berhasil menebak apa yang suaminya inginkan.
“Biarin, Rafka juga pasti tahulah” pungkas Rendra tersenyum menggoda Adiba.
“Ihh, udah ah. Kamu cuman mau modus, nggak baik loh mesra-mesraan begini depan anak”
“Ya terus, masa mau berantem depan anak. Daripada berantem mending mesra-mesraan aja” pungkas Rendra.
“Mama sama Papa pelukan, aku juga mau” ucap Bocah itu yang melihat kedua orang tuanya berpelukan di dalam kolam renang.
“Susah sayang, kamu naik aja ya. Kan tadi kakak sudah berenang dari tadi, nanti sakit loh” ucap Rendra mengingatkan anaknya.
“Huh,” bocah itu cemberut dan langsung menepi.
Bertepatan dengan itu ada Bi Jumi yang datang mendekati mereka bertiga.
“Maaf tuan, Nyonya di depan ada tamu yang ingin ketemu sama tuan” ucap Bi Jumi pada suami istri tersebut.
“Tamu? Siapa bi?”
“Saya nggak tahu tuan,”
“Ya sudah suruh tunggu saja”
“Oh iya, Bi tolong gantikan baju Rafka” lanjut Rendra pada asisten rumah tangganya tersebut.
“Iya tuan, ayo Rafka sama bibi” ucap Bi Jumi mengajak bocah itu yang sudah naik keatas
“Udah ayo kita juga naik, ada tamu mas” ucap Adiba memegangi tangan Rendra meminta kepinggir.
“Iya sayang ku”
“Tamunya ganggu banget asli” kesal Rendra.
Adiba hanya diam saja mendengar grutuan suaminya itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C