
Adiba keluar dari kamarnya setelah asisten rumah tangganya bilang kalau ada tamu dari Bogor yang datang dan ingin bertemu dengannya. Dia melihat kearah ruang tengah yang berada di lantai atas tersebut. Ada dua orang perempuan dan satu anak kecil yang hampir seumuran dengan Rafka yang duduk di situ menghadap belakang. Tapi dari belakang saja ia sudah tahu siapa yang ingin menemuinya.
Langkah kecil perlahan mendekati kedua perempuan yang sedang menunggunya itu,
“maaf kalian menunggu lama?” ucap Adiba yang sudah berada didekat mereka.
Kedua orang itu langsung menoleh melihat Adiba yang sudah berjalan dibelakang mereka saat ini.
Keduanya langsung berdiri dan perempuan satunya langsung menurunkan anaknya yang sedari ia pangku.
“Adiba,” ucap salah satu perempuan dewasa yang memangku anak tadi.
“Duduk tan, teh” ucap Adiba menyuruh kedua orang itu duduk. Dua orang itu adalah ibu tiri Adiba dan adik ibu tirinya itu. entah mengapa mereka berdua datang kerumahnya saat ini. Adiba berjalan kearah sofa yang berada di sebelah mereka duduk.
“Maaf ya Dib, kita ganggu kamu?” ucap ibu tiri Adiba tersebut.
“Iya nggak pa-pa tan, aku juga lagi nggak ngapa-ngapain” pungkas Adiba.
“Ryan salim dulu nak sama kak Diba” ucap ibu tiri Adiba pada anak kecil yang kira-kira baru berumur lima tahun itu.
Bocah itu langsung melakukan apa yang disuruh ibunya, setelah mencium tangan Adiba bocah itu kembali sibuk dengan ponsel yang sedari tadi d pegangnya.
“Ada perlu apa ya tan, kok tumben. Kesini cuman sama teh Nila, ayah nggak ikut?” Adiba menatap dua orang itu penasaran, ia ingin tahu alasan keduanya datang untuk apa.
Nia dan Juga nIla saling lihat satu sama lain, mereka terasa tak enak untuk mengatakannya. Tapi mau bagimana lagi mereka tengah membutuhkan sesuatu.
“Em, ayah kamu lagi sibuk jadi tante kesini cuman sama Nila. Tante bawain kamu talas Bogor dibawah sama cumi pedas kesukaan kamu”
“Ki..kita kesini sebenernya mau minta tolong sama kamu Diba?” Nia tampak ragu mengatakan itu, dia melihat sekilas kearah adiknya yang mengangguk.
“Minta tolong apa ya tan,?” Heran Adiba
“Begini sebenarnya bukan teh Nia yang minta tolong sama kamu. tapi teh Nila yang mau minta tolong sama kamu Dib” sahut Nila yang akhirnya bicara sendiri
Adiba semakin heran sebenarnya apa yang diinginkan adik dari ibu tirinya itu.
“Minta tolong apa ya teh, insyaallah saya bisa bantu”
“begini Dib, teteh minta tolong sama kamu sama suami kamu tolong kasih kerjaan ke Sari, diba. Teteh minta tolong banget sama kamu” Nila terlihat memohon pada Adiba untuk memberikan pekerjaan untuk anaknya yang baru saja lulus sekolah.
Adiba bingung sendiri mendengar itu, bisa-bisanya dua ornag itu datang meminta pekerjaan padanya.
“Aduh teh, maaf banget soalnya itu yang urus mas Rendra aku nggak tahu apa-ap soal lowongan kerjaan” Adiba berbicara jujur, karena memang dia tak tahu semua yang mengurus suaminya soal pekerjaan dan dia hanya mengamatinya saja.
__ADS_1
“Masa kamu nggak tahu soal itu Dib, tersera deh Sari ma ditempatin dimana. Jadi pembantu kamu sementara juga nggak pa-pa deh yang penting dia kerja” Nila sekaan terlihat bersikeras agar anaknya dapat bekerja dengan Adiba.
“beneran deh teh aku nggak tahu soal itu, kalau maaf banget jadi pembantu aku yang nggak enak sama teteh. Asa saudara sendiri di jadiin pembantu, lagipula pembantuku sudah dua teh dirumah”
“Kenapa teteh nggak minta sama ayah, atau tante yang bilang sama ayah soal Sari yang nyari kerja. Kan BUMN banyak butuhin orang teh” lanjut Adiba, dan menguslkan agar dua orang itu minta saja pada ayahnya yang bekerja di kementrian. Pasti koneksi ayahnya banyak,
“Kata ayah kamu disana juga lagi nggak butuhin karyawan Dib, makanya tetehtante sarani buat minta ke kamu” pungkas Nia.
“Di perusahaan mas Rendra juga lagi nggak ada tan, teh Nila. Maaf banget kalau nggak bisa bantu”
“Ya sudahlah Dib kalau tidak ada, teteh nggak maksa” Nila tampak kecewa sebenarnya tapi perempuan itu terlihat menutupinya.
“maaf banget ya teh,” ucap Adiba sekali lagi.
“Minumnya dimunum tante teteh” ucap Adiba menawari tamunya.
“Iya diba” jawab Nia, sedangkan Nila hanya mengangguk kecil. Adiba melihat raut wajah keduanya yang tampak kecewa, tapi mau bagaimana lagi dia tak bisa membantu. Bukannya enggan tapi dilihat dari sikap Sari yang terlihat ganjen dan seakan pergaulannya yang sedikit bebas padahal anak itu masih cukup muda membuatnya jadi risau untuk memberikan pekerjaan pada anak dari adik ipar ibur tirinya itu.
.............................................
Rendra baru saja pulang dari kantor, dia berjalan menaiki tangga saat ini untuk langsung ke kamarnya rasanya badanya pegal-pegal semua pekerjaanya juga menumpuk di kantor karena tidak ada yang membantunya. Ia belum mencari sekertaris lagi setelah kejadian kemarin.
“Loh sayang, kok disittu?” ucapnya saat melihat sang istri yang duduk di ruang tengah lantai atas itu.
“Nonton tv mas, kamu barusan pulang” jawab Adiba dan langsung menghampiri suaminya yang juga berjalan mendekati dirinya.
“Pengen suasana baru aja, kamu kenapa? Kok lemes banget” Adiba yang melihat wajah lesu suaminya langsung merengkuh lengan kekar Rendra menuntunnya untuk mengajak duduk di sofa.
“Capek banget sayang, kerjaanku banyak” Rendra menunjukkan rasa letihnya dnegan nada manja.
“Kemarin perasaan baru libur mas, baru masuk sehari masa udah capek” pungkas Adiba.
“Kerjaan banyak sayang, numpuk. Ini aja aku bawa pulang sebagian” keluh Rendra.
“Ya udah yang sabar mas, namanya juga punya tanggung jawab. Mana yang capek mau aku pijitin” ucap Adiba menawarkan diri untuk memijat sang suami.
“Serius mau? eh nggak usah deng nanti kamu kecapean. Udah aku nggak pa-pa kok, ayo masuk kekamar. Aku minta tolong sayang nyalain air panas di kamar mandi. kayaknya enak mandi air hangat” ucap Rendra mengaja sang istri untuk kekamar. Dna ia juga mita tolong pada istrinya itu untuk menyalakan kran air panasnya.
“Astaga aku lupa, nggak jadi sayang. Nanti kamu kenapa-kenapa malah, udah aku aja” ralat rendra padahal mereka sudah berjalan untuk membuka pintu kamar mereka.
“Kamu gimana sih mas kok labil banget, sama lebay tahu nggak kamu. cuman nyalain kran air panas ya nggak pa-pa lah. Udah ayo masuk ke kamar, kamu istirahat dulu baru mandi, aku siapin semuanya” Adiba yang berjalan disebelah sang suami menatap kesal
“Udah nggak usah sayang, aku aja. Kamu duduk aja atau siapin baju, biar aku yang nyalain kran kamr mandi. sudah sana siapin aku bajunya” ucap Rendra dan dia langsung berjalan kearah kamar mandi untuk menyalakn kran air panasnya.
__ADS_1
“Yaampun Rafka dimana mas? Aku lupa dari tadi belum lihat dia” Adiba abru teringat soal anaknya yang sedari tadi tak terlihat dan Rendra hanya pulang sendiri kerumah.
“Rafka pulang sama papa, dia di rumah papa sekarang” sahut Rendra yang sednag berada di dalam kamar mandi.
“Kok dirumah papa, aku kira dia pulang ke kantor kamu”
“Nggak, Papa pengen ketemu Rafka ya sudah aku suruh jemput sekalian. Kan aku sudah bilang sama kamu tadi pagi,” Rendra yang sudah kembali dari kamar mandi langsung berjalan kearah istrinya yang sedang mengambil baju di lemari.
“Iya aku lupa mas,” pungkas Adiba saat mengingatnya.
“Mas, tadi ibu tiriku sama teh Nila datang kesini” ucap Adiba sembari menutup lemari dan meilhat suaminya yang duduk ditempat tidur sambil melepas kemejanya.
“Tumben mereka kesini?” Rendra langsung melihat kearah istrinya.
“Mereka ngomong sesuatu?” ucapnya lagi saat melihat raut wajah Adiba yang terlihat tak senang.
“Nggak sih, mereka kesini mau minta tolong buat masukin anak teh Nila ke kantor mas Rendra”
“Heh, mereka minta kerjaan. Terus kamu bilang apa?”
“Aku bilang nggak tahu, yang tahu kamu soal kerjaan”
“Bagus, aku males juga ngasih kerjaan ke orang-orang yang jahat sama kamu dulu”
“Mereka nggak jahat sih mas, cuman aku kecewa sama tante Nia yang mau nikah sama ayah. Aku juga bilang gitu karena aku nggak suka sama anaknya teh Nila, dia orang yang bahaya menurutku” tutur Adiba.
“Bahaya?” Rendra mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Iya dia bahaya kalau kerja sama kamu”
“Maksudnya?” Rendra lagi-lagi tak mengerti.
“Ya bahaa, nanti kamu kegoda lagi sama Sari” ucap Adiba sedikit ngegas.
“OH, takut ceritanya. Cemburu nih, hemm” goda Rendra tersenyum jahil.
“Apaan sih, udah sana mandi mas. Ini handuknya” sungut Adiba dan menyerahkan handuk itu pada Rendra yang sudah berdiri didepannya.
“Gengsinya, bilang aja takut cemburu. Gemes banget sih sayang,.” Ucap Rendra smabil memeluk sang istri, dan tangannya memegang perut sang istri mengusapnya lembut.
“Anak-anak papa disii jangan nakal ya, jangan nyusahin mama. Sudah ya papa mau mandi dulu” ucap Rendra sambil mencium perut Adiba dan langsung berjalan pergi.
Adiba sendiri langsung duduk di tempat tidur, merapikan baju yang digunakan Rendra tadi baru setelah itu akan ia taruh kekranjang pakaian kotor.
__ADS_1
°°°
T.B.C