CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 143


__ADS_3

Setelah kepulangan teman-teman Rendra, di dalam kamar Rendra yang tadinya sibuk dengan pekerjaan miliknya tiba-tiba saja teringat akan ucapan teman-temannya tadi soal Dirgam dosen muda di kampusnya dulu. hal itu membuat Rendra tak fokus lagi dengan pekerjaannya saat ini.


“Adiba pernah ada hubungan apa dengan dosen itu?” gumamnya yang terus terpikir hal tersebut. Selama ini ia tak pernah mendengar hal itu dan Adiba juga tak pernah menceritakan masalalunya. Padahal hampir dua tahun mereka menjadi sepasang suami istri tapi Adiba tak pernah bicara tentang pria masa lalunya. Istrinya itu hanya cerita pernah menyimpan rasa padanya saja tak pada orang lain lalu kenapa soal Dirgam rasanya Adiba juga suka padanya.


“Ah, sudahlah untuk apa aku memikirkannya. Itu masa lalu, ayo fokus bekerja lagi Ren” Rendra berusaha mengembalikan fokusnya lagi saat ini. dia tak boleh terpengaruh akan hal tersebut.


“Mas tehnya?” Adiba masuk kedalam kamar sambil membawakan teh hangat untuk Rendra agar menjadi teman lembur pria itu. Rendra yang tadinya akan kembali fokus lagi malah terganggu dengan kedatangan istrinya itu.


“Apa aku tanya saja mumpung Adiba ada disini?” gumamnya saat Adiba sudah meletakkan gelas didepannya.


“Kamu ngomong apa mas barusan?” tanya Adiba saat sekilas mendengar ucapan suaminya tersebut.


“Sayang, aku boleh tanya sesuatu?” ucap Rendra perlahan.


“Tanya apa mas” jawab Adiba menatap penasaran sang suami.


Rendra berdiri dari duduknya, dan menggandeng tangan Adiba mengajak perempuan itu kearah sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


“Duduk dulu” ucap Rendra duduk lebih dulu, kemudian Adiba mengikutinya untuk duduk.


“Mau bicara apa mas?”


“Kamu sudah lihat anak-anak dibawah?’ tanya Rendra dan membuat Adiba menatapnya aneh.


“Hah, kamu cuman mau tanya itu?”


“Bukan, aku cuman mastiin aja kalau anak-anak sudah tidur. Aku mau ngo..”


“Jangan bilang bilang kamu minta jatah malam ini mas, aku nggak bisa aku capek” lagi Adiba memotong ucapan suaminya.


“Ngga, aku Cuma mau..”


“Mau apa? kalau bukan itu. nggak percaya aku”


“Astaga, kamu bisa diem bentar nggak sih sayang buruang beo kamu mau aku giniin terus” gemas Rendra dan memegang bibir istrinya memanyunkan bibir itu.


“Emmmmghhh” Adiba berbicara tak jelas karena bibirnya di bungkum oleh Rendra.


“Makanya dengerin aku bentar sayang, dengerin dulu jangan di potong” pungkas Rendra mengingatkan sebelum benar-benar ia melepaskan bibir Adiba.


Adiba menganggukkan kepalanya.


“Arkh, kamu keterlaluan mas masa bibir aku kamu gituin” protes Adiba setelah bibirnya terlepas dari tangan Rendra.

__ADS_1


“Ya habisnya kamu ngomong terus, udah dengerin dulu” tukas Rendra.


“Iya, kamu mau ngomong apa?”


“Jangan marah tapai, jangan nuduh aku cemburu juga” ucap Rendra memperingatkan istrinya lagi.


“Iya-iya mas, kenapa sih?”


“Kamu dulu pernah ada hubungan apa sama pak Dirgam?” tanya Rendra serius.


“Hah, pak Dirgam? Kenapa bahas pak Dirgam?”


“Ya aku pengen tahu aja, buruan jawab gara-gara temen-temenku tadi ngomongin kamu sama pak Dirgam. Aku jadi nggak fokus, buruan jawab kamu pernah ada hubungan apa sama dia?” tanya Rendra


“Aku nggak ada hubungan apa-apa mas sama pak Dirgam”


“Bohong, mana mungkin?” Rendra seakan tak percaya.


“Ya aku bohong,”


“Tuh kan ngaku, jawab ada hubungan apa kalian”


“Aku cuman pernah kagum sama dia aja mas, udah itu doang nggak ada yang lain”


“masa,?” Rendra lagi-lagi tak percaya.


“Iya terus puji cowok lain, bilangnya cuman kagumm tapi itu apa disebutin semua. Sudah sana tidur” kesal Rendra saat Adiba menyebutkan semua itu tentang Dirgam.


“Loh kamu gimana sih, katanya suruh jawab sekarang dijawab marah. Kan cuman suka sekaligus kagum mas, cintaku buat kamu dulu”


Rendra malah berdiri, membuat Adiba bingung dengan suaminya.


“Mas,” panggil Adiba saat sang suami mulai berjalan.


Rendra tetap diam dan dia akan melangkah pergi tetapi sebuah tangan tiba-tiba saja melingkar di pinggangya saat ini.


“Mas jangan marah lah, cuman gitu aja marah sih mas. Jangan marah ya,” ucap Adiba manja berusaha membuat sang suami tak merajuk.


“hemmm” jawab Rendra, dia yang bucin aku hanya dipeluk begitu sedikit mmebuatnya senang.


“Serius nggak marah” tanya Adiba yang masih memeluk Rendra dari belakang.


“Iya aku serius, mu bukti apa kalau aku nggak marah” tanya Rendra smabil melihat sekilas wajah Adiba.

__ADS_1


Adiba menunjuk bibirnya sendiri memberi tanda kalau Rendra tidak marah maka harus mencium dirinya.


Senyum mengembang di wajah Rendra semakin membuat wajahnya tampak begitu tampan, dia langsung membalikkan tubuhnya dan mencium sang istri, dia ******* bibir manis istrinya itu dan membawa Adiba kedalam pelukannya.


....................................................


Adiba mengajak Raiden salah satu anak kembarnya ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan yang tinggal sedikit. Dia menggendong si anteng Raiden melihat-lihat sayuran hijau yang tampak begitu segar tertata rapi di rak.


“Raiden suka tomat kan, mama nanti buatin soup tomat buat Raiden ya.” Ucap Adiba saat Raiden menunjuk-nunjuk tomat yang tak jauh dari tempatnya.


“Adiba?” ucap seseorang yang terdengar tak yakin memanggil Adiba.


Adiba yang merasa terpanggil langsung menoleh kesamping dan mendapati seorang pria dengan kacamatanya serta hidung mancung dan kulit putihnya tampak terperangah melihat dirinya saat ini.


“Pak Dirgam” ucap Adiba sedikit terkejut melihat pria itu yang sudah beberapa tahu tak ia temui.


“ternyata benar ini kamu, kemana saja kamu selama ini Diba” tukas Dirgam terdengar cemas tetapi dia lega saat melihat perempuan yang dulu tiba-tiba saja tak terlihat di kampus ataupun di kelas dia mengajar.


“Saya, saya pindah rumah dulu pak.”


“Lama tidak ketemu Dib, oh iya yang kamu gendong anak siapa?” tanya Dirgam saat menyadari sedari tadi Adiba menggendong seorang bayi.


“Ini anak saya pak” jawab Adiba.


“Oh iya pak Dirgam kenapa ada disini? dengan siapa pak?” tanya Adiba balik.


“Anak..?” gumam Dirgam, dia tak menyangka perempuan didepannya sudah punya anak.


“Iya ini anak ketiga saya pak”


“Apa? anak kamu sudah tiga Dib.” Dirgam semakin kaget mendnegar bahwa itu anak ketiga Adiba.


“hehhe bukan hanya tiga anak saya pak, tapi sudah empat. Pak Dirgam sendiri mana anaknya pak, kesini pasti dengan istri bapakkan?” jawab Adiba dan dia kembali bertanya pada mantan dosen mudanya itu.


Dia dan Dirgam hanya terpaut tiga tahu saja selama ini, tapi karena kecerdasan pria itu. pria tersebut bisa menjadi seornag dosen di usia yang masih cukup muda.


“Saya masih sendiri, belum ada istri belum ada anak” jawab Dirgam lirih, dia terlihat sendu menjawabnya. Hampir tujuh tahun dia mendam rasa pada seseorang hingga saat ini rasa itu masih ada tapi selama ia menunggu ia tak tahu kalau perempuan itu sudah menjadi milik orang lain.


“Pak..pak Dirgam” panggil Adiba menyadarkan Dirgam dari lamunannya.


“AH iya,..” Dirgam langsung tersadar dan melihat kearah Adiba dan bayi yang sekitar berusia lima bulan dalam gendongan Adiba.


“Pak maaf ya saya permisi dulu, anak saya rewek minta lanjut jalan. lain kali kita ketemu lagi ya pak” pamit Adiba membuat Dirgam hanya mengangguk pelan saja sambil tersenyum kecil. Dia yang terkejut dengan pertemuan itu tak bisa berkata apa-apa, Dirgam hanya bisa terdiam saja. Tujuh tahun dia tak bertemu Adiba. Dulu ia sering menanyakan Adiba pada teman-temannya tapi tak ada yang tahu mahasiswinya itu pindah kemana sampai ia harus meneruskan kuliahnya ke luar negeri hingga sekarang dia kembali belum pernah bertemu lagi dengan perempuan itu. tapi hari ini mereka bertemu satu sama lain dan membuatnya terkejut dengan kenyataan yang terjadi.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2