
Jeremy datang dengan calon istrinya kerumah Rendra saat ini, dan kebetulan kakaknya itu tengah berada di rumah. Jadi dia tidak perlu untuk datang kerumah kakaknya terus kalau pri itu saat ini ada dirumah.
Alasannya datang kerumah kakaknya tentu saja untuk menyuruh pria itu mengatur acara pernikahanya yang sebentar lagi ia laksanakan. Tidak sampai satu bulan dia akan menikahi tunangannya ini.
“Syukurlah kakak dirumah” ucap Jeremy yang baru saja dari dapur kakaknya mengambil jus yang sudah di buatkan olah asisten rumah tangga kakanya itu.
Rendra sendiri baru saja turun dari lantai atas dan baru bergabung bersama dengan istrinya dan calon adik iparnya yang tengah mengobrol diruang tengah.
“Kenapa memangnya?” tanya Rendra sambil melihat kearah sang adik yang berjalan duduk disebelah sang calon istri.
“Aku kesini mau minta tolong sama kakak,”
“Minta tolong apa?”
“Tolong kakak yang urus semua acara pernikahanku ya, nggak usah banyak tamu yang datang. Acaranya outdor, acara kebun begitu” jelas Jeremy.
“Gila kamu, kamu nyuruh aku mendadak begini. gila, lo yang mau nikah gue yang repot” Rendra tak habis pikir dengan adiknya yang menyuruhnya mengurus pernikahan singkat begini.
“Siapa yang gila, apa salahnya coba” tukas Jeremy.
“Ya salahlah Jeremy, kamu bukannya nikah beberapa minggu lagi, dan kamu baru ngurus sekarang” sahut Adiba yang heran sama seperti suaminya.
“Menurutku nggak ada yang salah sih kakak ipar, aku ngadain acara nggak besar-besaran. Aku juga nggak niat ngundang banyak orang, ini acara keluarga saja. Iya nggak sayang” ucap Jeremy dan meminta pembelaan sang calon istri.
“Iya kok kak, kita ngadain acara nggak besar-besar cukup keluarga saja yang datang. Jadi tolong bantuannya ya” ucap calon istri Jeremy pada Rendra dan juga Adiba.
“Ya meskipun nggak besar-besaran, apa tinggal sim salabim langsung siap gitu. Memang nggak sewa tempat, cathreng dan lainnya. Kalian pikir sesimple itu apa ngurus pernikahan dan kalian limpahin begitu saja padaku” Rendra menceramahi apsangan mud atersebut yang terlalu mengganpangkan sesuatu.
“Ya nggak sim salabim juga kak, kan tempat sudah ada di Resot kakak yang di Bali, Cathering tinggal bilang bundanya kakak ipar, terus tamu-tamu cukup keluarga kita aja kasih undangan cetak selesai” Jeremy benar-benar meanggap urusan pernikahannya sesimple itu berbeda dengan Rendra yang mendengarnya sedikit kesal dengan pikiran kekanakkan sang adik.
“Otak kamu memang sempit ya buat mikir, oke lah kita pakai resort milikku. Lalu catheringnya, kamu pikir bunda bisa langsung ngiyain apa yang kamu mau. bunda Rini itu sibuk, pesanan Catheringnya bayak nggak asal langsung nentuin tempat kamu” rendra benar-benar emosi dengan Jeremy.
“Udah mas, tenang jangan emosi ah” Adiba berusaha meredam emosi suaminya. Rendra menata adiknya dan calon adik iparnya itu yang hanya bisa diam mendengar ucapannya.
__ADS_1
“Ponakanku kemana, kenapa nggak kelihatan dari tadi?” tanya Jeremy mengalihkan pembicaraan.
“Nggak usah ngaihin pembicaraan, bahas permasalah kamu ini. Kamu apa nggak bilang Papa soal acara pernikahan ini, kenapa kamu malau nyuruh kakak”
“Aku sudah bilang sama papa, katany iya terserah aku. malah dia yang suruh aku buat minta bantuan kakak.”
“Papa kamu juga nggak mikir, dikira enak apa ngurus keperluan mendadak gini” kesal Rendra menatap nyalang Jeremy. Bagaimana bisa Papanya juga berpikiran begitu dan ujung-ujungnya dilimpahkan ke dia semua.
“Ya udahlah nggak usah dibahas kalau keberatan, nanti aku aja yang ngurus. Keponakanku mana, aku kangen”
“Rafka ketempat bunda Rini jer” jawab Adiba,
“Oh, ya sudahlah aku mau pulang. Kakak kalau nggak mau ya sudah, aku bisa urus sendiri, ayo saya kita pulang” Jeremy langsung pamit pergi, dia malas kalau di ceramahi lagi. Mungkin ini juga salahnya tapi mau bagaimana lagi, kan ia pikir acaranya tidak besa-besaran jadi menyiapkannya dekat-dekat harikan tidak masalah. Kakaknya saja yang terlalu membesar-besarkan hal seperti ini.
“Itulah kebiasaan kamu, kalau di ceramahi pamit pergi.” Sindir Rendra sambil menatap Jeremy yang sudah berdiri bersama dengan calon istrinya.
“Ya habisnya kakak begini, ya aku mau pergilah”
“Cuman seratus orang kok,”
“Nanti aku urus, sudah sana pergi. Setiap melihatmu kepalaku pusing”
“mas, nggak boleh begitu sama adiknya” tegur Adiba apda suaminya itu yang tak menggubris.
“tidak kakak suruh pergi aku juga akan pergi,”
“kak Rendra, kak Adiba kita pergi dulu” ucap calon istri Jeremy,
“hemm” jawab Rendra pada kedua orang itu.
Jeremy yang sudah berdiri tiba-tiba saja memeluk kakaknya dan membuat Rendra terkejut dan akan melempaskannya tepai Jeremy terus memeluknya.
“Terimakasih kakakku yang tampan, yang kaya, yang pengertian. I love You” ucap Jeremy memeluk erat Rendra yang berusaha memberontak saat ia peluk. Terakhir Jeremy melayangkan kecupan di pipi Rendra.
__ADS_1
“Lo apa-apaan sih, lo gila ya” marah Rendra smabil mengusap aksar bekas ciuman Jeremy barusan.
Adiba dan calon istri Jeremy yang melihat itu hanya bisa tertawa dengan ulah kakak adik tersebut yang menurut mereka begitu mengibur.
“Ayo sayang, macan mulai ngamuk, Kakak ipar kita pulan” ucap jeremy dna langsung menggandeng sang calon istri mengajak pergi buru-buru sebelum Rendra melemparnya dengan bantal yang ada di kursi itu.
“najis tuh anak, sayang plis cium aku, bisa-bisa kena virus aku” pungkas Rendra sambil terus mengusap wajanya yang habis dicium Jeremy.
“Kok jadi aku yang disuruh cium kamu mas, Jeremy aja biar virusnya diambil dia kalau kamu kenapa virus. Sudah ya aku mau ke dapur” tolak Adiba sambil terkekeh dan pergi menghindari suaminya itu.
“Kok malah pergi si sayang,” Rendra langsung berdiri menatap sitrinya yang mala pergi sambil tersenyum menggodanya.
............................................
Rendra sedang duduk di meja kerjanya yang ada di kamarnya saat ini, dia tengah mengerjakan pekerjaannya yang bisa dia bawa pulang. Baru saja dia akan membuka laptop untuk mengirim file pada bawahanya sebuah tangan sudah mengalungkan di lehernya. Dia langsung berhenti melakukan pekerjaannya dna memegang tangan mulus itu,
“Ada apa sayang?” tanya Rendra pada Adiba yang bersikap manja saat ini.
“Aku mau di cium dong, anak kita juga mau disapa papanya” Adiba bergelayut maja pada leher suaminya.
Rendra yang mendengar itu tersenyum dan perlahan menuntun sang istri agar duduk di pangkuannya saat ini.
“Tumben manja bener, tadi mau apa ya? Aku kurang denger, bisa diulangi lagi” goda Rendra sambil menatap mata indah istrinya.
“Mau di ciuam mas, sama ini si kembar pengen di tengok papanya” bisk Adiba di telinga Rendra yang langsung tersenyum mendnegar ucapan Adiba barusan.
Rendra langsung mengambil tengkuk leher Adiba mendekatkannya dengan wajahnya saat ini, dan siap untuk mencium sang istri tetapi ponsel yang ada di meja berdering membuat kegiatan yang akan terlaksana itu tergagalkan.
“Sebentar sayang” rendra langsung mengalihkan pandangannya ke arah ponsel dan eskpresi wajah Adiba berubah tidak mood saat Rendra lebih mementingkan ponsel daripada dirinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1