
“Sayang,” lirih Rendra saat Adiba bangun dan akan turun dari tempat tidur.
“Iya” jawab Adiba yang akan memakai sanda dan berbalik melihat Rendra.
“Liburan yuk ke Bogor, ketempat ayah kamu” ajak Rendra sambil merubah posisinya yang tadi berbaring menjadi bersandar di kasur.
“Ngapain kesana mas, lagian buat apa liburan Rafka juga masih sekolah” jawab Adiba, nada bicaranya masih sama seperti kemarin-kemarin yang datar tak begitu bersemangat menanggapi ucapan sang suami.
“Rafka bisa ambil ijin dari sekolah, ya mau ya liburan” bujuk Rendra, dia memiliki ide untuk liburan siapa tahu dengan pergi berlibur Adiba melupakan semuanya.
“aku nggak mau mas, kalau kamu mau liburan. Liburan saja sendiri” tukas Adiba, dan dia langsung bangkit dari duduknya berjalan menjauh dari kasur meninggalkan Rendra yang tampak memikirkan ide lagi agar bisa membujuk istrinya.
“Sayang,..” rengek Rendra saat Adiba akan membuka pintu kamar mereka.
“Apa sih mas, aku mau ke kamar Rafka, dia sudah bangun atau belum” ketus Adiba sambil memegang gagang pintu yang sudah dia buka.
“Kepala ku pusing, bisa pijitin aku sebentar” ucap Rendra suaranya berubah sedikit lebih manja.
Adiba mengernyitkan dahinya menatap curiga pada sang suami,
“Tadi perasaan nggak pa-pa, kenapa sekarang bilang pusing” tanya Adiba penuh kecurigaan.
“Nggak tahu, sini pijitin ya” pinta Rendra dengan manja dan tubuhnya ia buat-buat seakan lemas.
“Sayang,” rengek Rendra lagi, karena Adiba tak kunjung mendekat kearahnya.
“Ya,” Adiba akhirnya menuruti perkataan Rendra, dia berjalan mendekat kearah suaminya tetapi belum sampai di dekat Rendra seorang mengetuk pintu kamar mereka saat ini.
Membuat tatapan sepasang suami istri tersebut langsung tertuju kearah pintu kamar yang terbuka.
“Iya ada apa bi?” tanya Rendra pada asisten rumah tangganya tersebut.
“Maaf saya mengganggu nyonya dan tuan. Tapi di bawah ada dua orang yang ingin bertemu dengan Tuan Rendra” ucap BI Nawang.
“Siapa bi yang ingin bertemu dengan suami saya” tanya Adiba yang akhirnya membuka suara karena pernasaran.
“Saya tidak tahun Nyonya,”
“Ya sudah suruh mereka tunggu sebentar” ucap Rendra. Dia perlahan berdiri tetapi ponselnya bergetar singkat mengalihkan pandangannya langsung ke nakas melihat notifikasi pesan yang baru saja masuk.
“Ya sudah nyonya, tuan saya permisi dulu” pamit Bi Nawang.
“Iya bi, tolong juga tamunya dibuatkan minum dulu sambil menunggu suami saya turun. Dan bilang saja sebentar lagi suami saya turun” ucap Adiba.
“Iya nyonya” Bi Nawang langsung berjalan pergi dari kamar majikannya, untuk pergi ke dapur membuatkan minum tamu majikannya tersebut.
Rendra sendiri hanya melihat sekilas, dia fokus pada ponselnya, matanya tampa terkejut melihat pesan yang datangnya dari Jeremy.
“kunci kakak ipar di kamar, orang tua Gwen datang kerumahmu sekarang. Aku segera kesana membawa apa yang kakak mau” begitulah pesan dari Jeremy.
“Mampus, gue harus apa. mana mungkin gue ngunciin bini gue sendiri di kamar. Makin ngamuk dia, Tapi kalau gue ajak ke bawah bisa tambah salah paham lagi. Mampuss..” batin Rendra sambil memjit pelipisnya dan sesekali melihat kearah Adiba yang juga menatapnya penuh tanda tanya.
“kenapa mas?” tanya Adiba.
“Nggak pa-pa, sayang kamu mandi dulu gih. Aku kebawah nemuin Rafka sama tamu,” ucap Rendra sedikit aneh terdengar di telinga Adiba.
“Aku saja yang menemui Rafka, kamu temui saja tamu kamu mas” tukas Adiba. Dia langsung berjalan kearah pintu tapi Rendra segera menahan tangannya.
__ADS_1
“Sayang sebentar biar aku saja, kamu tolong aku dulu ya” ucap Rendra berusaha menahan Adiba agar tidak turun.
“Apa mas?”
“Itu..aku, aku hari ini nggak berangkat ke kantor. Kamu tolong dong bilangin sama sekertaris aku kalau hari ini aku nggak bisa ke kantor.” Ucap Rendra berusaha memberi alasan dan menahan istrinya agar tetap di kamar.
“Mau ya? Istri nggak boleh nolak suami loh. Kamu sudah nolak permintaan aku terus ditambah ini dosa tahu” ucap Rendra.
“Yaudah, aku telpon sekertaris kamu” ucap Adiba pada akhirnya. Dia langsung berjalan kearah meja kerja Rendra untuk menelpon sekertaris suaminya.
“Nah gitu dong, aku kebawah dulu ya sayang” ucap Rendra sambil melihat kearah Adiba yang berjalan, dia sesegera mungkin langsung keluar dari kamar. Tak lupa ia mencabut kunci kamar terlebih dahulu dan langsung keluar mengunci kamarnya dari luar tanpa sepengetahuan sang istri.
“maaf ya sayang, ini demi kebaikan rumah tangga kita” ucap Rendra pusing sendiri dengan masalah ini. dia langsung bergegas ke bawah.
....................................................................
“Pak Jordan Tutup mulut anda, sekali lagi anda bilang anak saya anak haram. Jangan salah kan saya kalau anda pulang tanpa nama mengerti” tegas Rendra yang murka pada pria paruh baya didepannya. Dia berdiri menatap pria itu dengan marah saat orang tua Gwen mengatai Rafka anak haram.
“Memang benarkan, kau mau mengakui anak haram itu sebagai anakmu tapi tidak mau mengakui anak yang di lahirkan oleh putri saya” tukas Jordan yang tak kalah emosi, dia berdiri menatap Rendra.
“Anda gila ya, bagaimana bisa saya mengakui anak yang bukan anak saya.” Maki Rendra menatap tajam pria itu.
“Rendra saya tahu orang tuamu berkuasa tapi kau tidak bisa seenaknya dengan Gwen, bagaimanapun anaknya juga anakmu.” Ucap istri dari Jordan.
“Memang kalian berdua orang sinting, ada bukti apa kalian kalau itu anakku. Menyentuh putri kalian saja saya tidak pernah, anak kalian yang gila itu halu terlalu tinggi mengerti. Bawa saja purti kalian kerumah sakit jiwa, otaknya sudah tak waras” ucap Rendra.
“Jaga mulutmu Rendra,”
“Untuk apa aku menjaga mulutku. Anda saja tidak menjaga mulut anda, mana buktinya anak Gwen anak saya. Anak umur delapan tahun anda mintai pertanggung jawaban pada saya. Hello kalian, kalau ingin kaya dan menopang hidup kalian salah sasaran dengan menjebak saya mengerti”
“Tak perduli, kalian tidak ada bukti yang jelas. Ancaman murahan tak berlaku untukku dan keluargaku”
“Oke, jika me..”
“Jika memang apa? jika memang terbukti itu anakku begitu. Tak akan terbukti anak yang lahir dari putri murahanmu itu anakku. Dasar orang gila, kalian keluarga gila yang tak waras”
“Kau pria brengsek, kurang ajar berani sekali mengatai kami berdua seperti itu” Jordan maju dan akan memukul Rendra tetapi Rendra langsung menghindar.
“Tuan Jordan yang terhormat, anda ingin main kasar dirumahku. Ingin keluarga anda semakin hancur, kau seperti ini karena keluargamu sudah hancurkan. Perusahaan keluargamu berantakan kan? dan dalam kehancuran, makanya kau menggunakan kesempatan putrimu ini sebagai peluangmu.”
“Itu berita bohong, keluargaku tidak akan ada dalam kehancuran” sahut istri Jordan.
“Kata siapa, kata kalian? Aku ada bukti tentang ssuamimuitu. dan soal kakakku yang katanya punya anak dari putrimu sungguh mirisnya keluarga kalian yang memfitnah kakakku seperti ini” ucap Jeremy yang baru saja datang sambil tersenyum sinis pada dua orang yang berada di hadapan kakaknya.
“Siapa kau? Jangan i..”
“Aku? masa tidak tahu. pria tampan, pintar dan terkenal ini kalian tidak tahu. Astaga, berarti keluarga kalian memang benar-benar bangkrut ya, sampai tidak ada televisi atau ponsel yang bisa kalian lihat wajah tampanku ini disana” cibir Jeremy sambil mendekat kearah Rendra. Rendra yang mendengar adiknya mencibir dua orang tak tahu diri hanya tersenyum meremehkan kedua orang tua Gwen.
“Ini apa yang kau minta kak, beres kan tugasku” ucap Jeremy sambil menyerahkan amplop coklat kepada Rendra.
“memang kau adikku yang paling pintar, hadiah menyusul” ucap Rendra sambil terenyum pada Jeremy.
“Oke, ditunggu”
“Aku duduk santai dulu ah, sambil nonton drama yang menyenangkan” tutur Jeremy dengan santainya dia langsung duduk di sofa menatap kedua orang itu yang penasaran dan tak percaya melihat tingkah Jeremy yang seakan meremehkan mereka.
“Aku ada bukti, itu bukan anakku. Dan kalian mana bukti kalau anak Gwen adalah anakku hah” ucap Rendra.
__ADS_1
Kedua orang didepannya langsung tampak gugup dan mereka terlihat bingung untuk menjawabnya.
Rendra perlahan mengeluarkan isi amplop tersebut, ada beberapa foto disitu dan juga sebuah alat perekam suara.
“Maaf, saya tidak sopan” ucap Rendra sambil melempar puluhan foto yang berhasil di kumpulkan Jeremy kearah orang tua Gwen
Orang tua Gwen langsung tersentak dan tampak terkejut melihat itu semua, dimana foto-foto mereka bertemu dengan Gwen dan foto-foto Gwen dengan pria lain serta foto seorang anak yang dibilang sebagai anak Rendra.
“A..apa ini” ucap keduanya terbata.
Rendra tersenyum mendengar itu, dia langsung menekan alat perekam suara berbentuk pulpen.
“Pokoknya Papa tidak mau tahu Gwen, kau harus merusak rumah tangga Rendra dan istrinya. Kau harus menjadi bagian dari keluarga Dewangga, ini kesempatanmu dan kesempatan keluarga kita untuk bisa bangkit lagi dengan menjadi bagian dari Dewangga Group” terdengar suara Jordan berbciara pada Gwen.
“Pa, tapi aku tidak mau pa. Aku mohon, biarkan aku bahagia dengan anak dan kekasihku, ini bukan anak Rendra ini anakku dan kekasihku Pa.” Terdengar suara bergetar dari Gwen.
“Papa tidak mau tahu, bilang pada Rendra kau punya anak dengannya. Kau pernah pacaran dengannya kan, bilang kalau kau hamil anaknya. Dan Papa akan memberitahu Media kalau anakmu anak dari Rendra. Ini kesempatan bagus Gwen, Papa memikirkan segala cara untuk membuat perusahaan kita bangkit tapi Papa tak menemukan jalan. dan saat tahu kau pernah menjadi pacar Rendra ini kesempatan kita untuk masuk ke keluarganya. Kau tahu sendiri tak ada rumor Rendra berkencan dengan siapapun kan selama ini. pasti Media akan percaya dnegan kita”
“Aku bilang aku tidak mau pa, tolong Papa jangan memaksaku” tukas Gwen menolak dengan tegasnya.
“Oke kalau kau tidak mau, maka anakmu akan Papa ambil”
“Pa..”
“Kau turuti Papa atau anakmu Papa ambil dan kekasihmu Papa minta dia pergi darimu, kau pilih mana. menghancurkan rumah tangga Rendra atau anak dan kekasih..”
“Oke,..aku turut semua yang papa mau. Papa puas, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dari anakku pa”
“bagaimana Tuan Jordan si licik paruh baya, masih mau mengelak.” Ucap Rendra, Rendra sendiri sebenarnya sedikit terkejut mendengar rekaman suara itu dia tak menyangka alasan Gwen menerornya karena perintah dari orang tua perempuan itu.
“Kenapa kalian diam, tadi seperti singa yang akan memakan mangsanya kenapa sekarang jadi ikan yang tak terkena air begini” cibir Rendra.
“Kalian masih mau mengancamku dan keluargaku,? Ini masih adikku dan diriku yang turun tangan belum Papaku. Kau tahu sayangnya Papaku dengan istriku dan anakku. Kalau sampai kedua orang itu tersakiti, bisa bayangkan sendiri seberapa murkanya Frans Dewangga” tambah Rendra menatap meremehkan dua orang didepannya.
“Lebih baik kalian pergi saja, dan jangan ganggu rumah tangga kakakku. Kalian membuat sebuah drama tapi dramanya tak bagus, tak asik membosankan. Sutradara yang tak berbakat sama sekali” sahut Jeremy yang melipat kedua tangannya sambil menatap kedua sepasang suami istri tersebut.
“Kalian berdua,..” ucap Jordan menggantung sambil menunjuk Rendra yang menatapnya dingin.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Rendra dan Jeremy berbarengan. Jeremy langsung berdiri dan berjalan mendekat.
“Kenapa? Kenapa berhenti bicara?” tanya Jeremy.
“Ayo ma kita pergi,” jordan tak berani melanjutkan ucapannya, dia langsung mengajak sang istri pergi.
“Tunggu sebentar’ ucap Rendra pada keduanya.
Keduanya melihat kearah Jeremy dan juga Rendra,.
“Sekarang tahu kan? keluarga Dewangga itu seperti apa. jadi jangan macam-macam dengan kita” ucap Rendra.
“Cihh,” jordan tampak geram sendiri, dia langsung menarik tangan istrinya yang juga merasa tak terima mereka di rendahkan seprti ini. tapi mereka juga tak bisa melawan karena tak memiliki bukti sama sekali.
°°°
T.B.C
Ps. Maaf kalau banyak typo, soalnya author buru" ngetiknya dan nggak sempet ngedit karena sudah kemalaman. Besok author akan perbaiki lagi, oke reders. Terimakasih 🙏💕
__ADS_1