
“kakak nggak bisa seenaknya sama aku, mentang-mentang aku pegawai kak Tama kakak bisa nahan aku disini gitu” kesal Kania melihat Tama yang sibuk bekerja di meja kerjanya.
Tama menghentikan kegiatannya saat ini dan mendongak melihat Kania yang berdiri dengan menatapnya penuh kekesalan.
“kamu bisa diem nggak mau saya pecat, tinggal tunggu sebentar bisa kan?” tukas Tama dengan dingin.
“ya tapi ini nggak adil kak, tinggal ngomong aja bisa kan mau nya kakak apa.? aku harus bayar pakai apa” Kania sudah mulai emosi karena sedari tadi dia seperti seorang tahanan di dalam ruangan Tama. Diancam tidak boleh keluar, kalau dia keluar di pecat, kan tidak masuk akal seperti itu
Tama menaruh penanya dimeja dengan kasar, dia langsung berdiri sambil menghela nafasnya menatap Kania.
“Kau masih cerewet seperti dulu ternyata” tukas tama dan berjalan mendekati Kania saat ini.
Kania tidak perduli, dia benar-benar kesal dengan Tama. Tama seenaknya sendiri selama ini, dia tidak ingin di kira bocah lagi pria itu kira dirinya masih bocah yang bisa disuruh dan dimarahi seperti dulu.
“Ayo kenapa diam disitu, bukannya kau mau membayar hutangmu padaku” ucap Tama saat melewati Kania dan akan berjalan keluar dari ruangannya.
“Mau kemana?” tanya Kania.
“nanti kau juga tahu kita mau kemana, ayo buruan” ajak Tama dan berjalan lebih dulu meninggalkan Kania yang semakin geram dengan sikap seenaknya sendiri dari Tama.
................................................
“Ini dimana kak?” tanya Kania pada Tama yang sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar berlantai dua.
“Ini rumahku ayo keluar” tukas Tama membuka seat belt nya dan langsung keluar dari mobil.
“Dia bilang rumahnya, lalu kenapa dia mengajakku kesini” batin kania dan dia langsung keluar dari dalam mobil tama menyusul pria itu yang sudah menunggunya di luar.
“Ayo,” ajak Tama dan tiba-tiba dia menggandeng tangan Kania membuat perempuan itu terdiam.
Tama yang akan mengajak Kania masuk kedalam rumahnya langsung berhenti karena perempuan itu masih berdiri di tempatnya.
“Ayo kania, kenapa malah berhenti” tukas Tama melihat kearah kania yang melihat kearah genggaman tangan Tama.
“Ya kak Tama yang kenapa, kenapa main gandeng tanganku segala” tukas Kania menatap Tama.
“Ayolah masuk, jangan banyak bicara Kania” bukannya menjawab ucapan Kania Tama malah semakin menarik Kania agar ikut berjalan dengannya. Mau tidak mau Kania berjalan dengan tangannya yang digandeng tama saat ini.
__ADS_1
Dia semakin bingung sebenarnya kenapa dengan Tama, apa pria itu mulai mencintainya atau apa.
“kayaknya kak Tama udah mulai suka sama aku, kalau beneran asik cintaku berarti terbalas” batin Kania kegirangan tak terasa bibirnya tertarik menunjukkan seulas senyum saat memikirkan itu
Tak butuh waktu lama Tama mengajak Kania untuk masuk kedalam rumahnya, mereka berdua sudah duduk di depan seorang perempuan paruh baya dan juga pria paruh baya. Diaman sang pria menatap menelisik kearah kania membuat Kania sedikit tidak nyaman dengan tatapan penuh penilaian itu.
“Maaf kalau boleh tahu tante boleh kenalan nggak sama kamu nak?” ucap perempuan paruh baya itu pada Kania.
“ka..Kania tante” jawab kania sambil tersenyum pada perempuan paruh baya itu.
“bagus namamu nak,” puji Mama tama pada Kania.
“makasih tante” jawab Kania sedikit tersenyum.
“apa pekerjaan orang tuamu?” Papa dari Tama tiba-tiba membuka suaranya menatap tak suka pada Kania.
“ya..” Kanai sedikit terkejut dnegan pertanyaan itu yang secara tiba-tiba.
“Papa tidak usah khawatir dia dari keluarga mana, tinggal batalkan saja pertunangan ku dnegan perempuan kenalan Papa itu. karena aku sudah membawa calon istriku sendiri” tegas tama menatap kearah papanya yang langsung menoleh padanya saat ini.
“Ca..calon istri” ucap kania tergagap melihat kearah Tama yang hanya melihatnya sekilas dan memalingkan wajahnya.
Kania langsung melihat kearah papa dari pria yang dia suka.
“Pa..papaku..” ucapan Kania langsung terhenti karena Tama sudah berbicara lebih dulu.
“Papa dan Mamanya sudah bercerai, papanya orang luar negeri dan sekarang tinggal di Belgia. Seorang pengusaha minyak dan juga berlian, Mamanya sudah menikah lagi dengan seorang pejabat yang tak lain teman yang selalu kau suap” jelas tama menegaskan itu semua soal asal usul Kania.
Kanai terbelalak mendengar ucapan Tama barusan, bagaimana bisa Tama bilang kalau Papanya pengusaha minyak dan juga Berlian. Papanya kan hanya bekerja saja dengan orang dan hanay sebagai manajer bukan yang punya setahunya dulu tapi entah sekarang dia sudah lama tak berkomunikasi dnegan papa kandungnya. Nomor yang diberikan Tama kemarin saja belum coba dia hubungi atau cari, karena itu semua butuh biaya tahu sendiri panggilan keluar negeri sangat mahal dan dia sedang kekurangan uang dan harus pintar-pintar menghemat uangnya.
“apa maksud mu Tama, siapa yang Papa suap?” ucap papa Tama seakan tidak terima.
“Sudahlah tidak usah dibahas Pa, yang jelas Papa harus batalkan soal perjodohan ku dnegan anak rekan papa. Kalau begitu aku pergi dulu, pekerjaanku banyak. Aku pergi ma” ucap tama dan langsung berdiri dengan memegang tangan Kania.
Kania otomatis langsung ikut berdiri dari duduknya sambil melihat kearah Tama yang sepertinya tidak ingin berlama-lama didepan kedua orang paruh baya tersebut.
...............................................
__ADS_1
“Kamu kenapa sih mas ngajak aku kekantor, bahkan maksa banget” ucap Adiba pada Rendra yang membaringkan kepalanya di pangkuannya saat ini.
“sengaja aja , biar kamu nggak di rumah. ada yang mau aku tanyain juga sama kamu, kamu jawab jujur” ucap Rendra mendongak melihat kearah istrinya yang mengusap rambutnya.
“Kamu mau tanya apa sih mas? Tanya dirumah tadi kan juga bisa”
“kamu jawab jujur? Kamu beberapa hari lalu dimarahi Mama kan. kenapa kamu nggak bilang sama aku?” tanya Rendra pada Adiba
Adiba yang mendengarnya langsung membulatkan matanya menatap kearah rendra, dia sedikit terkejut darimana Rendra tahu kalau dia dimarahi mertuanya.
“kamu tahu darimana?” tanya Adiba balik.
Rendra langsung mendudukkan dirinya menatap serius pada Adiba.
“Jadi benar kamu dimarahi Mama lalu kenapa nggak bilang” tegas Rendra yang sedikit kecewa.
“Kamu tahu dari siapa mas?” tukas Adiba bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
“dari rafka,” lirih Rendra.
“Rafka?” Adiba langsung terdiam saat mendengar itu,
“Kamu ini bilang sama aku kalau Mama marah sama kamu, jangan diem aja.”
“Ya aku nggak mau kalau kamu sama Mama berantem mas cuman gara-gara aku dimarahi sama Mama kamu. itu juga mungkin aku yang salah”
“Darimana kamu yang salah, Rafka jatuh itu kecelakaan bukan salah kamu. pokoknya aku sudah niat mau pindah rumah, aku nggak mau Mama bikin kamu stres di rumah. kamu hamil butuh ketenangan bukan stres gara-gara tekanan”
“Tapi mas, Mama kan nggak mau kamu pindah terus kalau dia malah marah lagi gimana.”
“Soal itu nggak usah dipikirin, yang jelas kita sudah keluar dari rumah dia bisa apa. papa juga dukung aku buat pindah rumah, Mama bisa apa juga kalau papa sudah dukung aku. dia mau lawan suaminya, jelas nggak mungkin”
“Tapi aku nggak enak sama Mama mas,”
“Ngapain kamu ngerasa nggak enak, aku yang anaknya aja biasa aja. Pokoknya udh kamu nurut aja sama aku, aku bilang pindah ya pindah. Pokoknya secepatnya kita pindah, aku takut nanti kamu tertekan malah anak-anak kita yang disini yang kena imbasnya” ucap Rendra sambil memegang perut Adiba.
Adiba hanya diam saja, dia bingung saat ini, Rendra sudah begitu ingin pindah sedangkan dirinya semakin meras bersalah dnegan mama mertuanya.
__ADS_1
°°°
T.B.C