
“Kamu tadi kenapa malah bilang sama mereka sih, aku malah jadi semakin nggak enak sama mereka.” Protes Adiba saat mereka berdua sudah masuk kedalam ruangan Rendra saat ini.
Rendra yang berada didepan Adiba langsung berbalik dan menatap perempuan tersebut.
“Ya biar mereka tahu kalau kamu istriku, biar mereka nggak berani lagi ngomongin kamu. kenapa kamu yang malah jadi nggak enak sama mereka. Udahlah nggak usah dipikirin,” tukas Rendra pada Adiba.
“Y tapi ak..” perkataan Adiba terputus karena Rendra langsung mendorongnya pelan kebelakang sampai tubuhnya membentur pintu yang ada dibelakangnya. Rendra mengungkung tubuh Adiba sehingga perempuan itu terpaku di tempatnya menatap wajah datar sang suami.
“Ka..kamu kenapa?” gugup Adiba karena apa yang Rendra lakukan saat ini.
“Nggak usah pikirin mereka bisa, “lirih Rendra
“I..iya, aku nggak mikirin pendapat mereka lagi, ka..kamu bisa minggir sebentar” ucap Adiba terbata meminta Rendra untuk minggir sebentar. Dia perlahan juga mendorong pelan bahu Rendra agar sedikit minggir.
“kalau aku nggak mau minggir bagaimana?” Rendra masih mempertahankan posisinya mengurung Adiba dnegan kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuh perempuan itu.
“Apa?” Adiba langsung melebarkan matanya menatap Rendra saat ini.
“Rendra, please minggir. Aku ma..mau kerja, pekerjaanmu banyak kan?” lanjut Adiba.
Bukannya minggir Rendra malah mendekatkan wajahnya begitu dekat pada Adiba, manik matanya menatap penuh air ke bola mata istrinya itu.
Adiba langsung bergidik sendiri melihat tatapan Rendra, jantungnya kembali berdesir mendapat tatapan seperti itu. dia tahu itu tatapan apa, dia bukan perempuan bodoh sehingga tidak tahu apa yang dimaksud Rendra.
Adiba perlahan menganggukkan kepalanya saat melihat tatapan tersebut, dia seakan menyetujui apa yang akan dilakukan Rendra selanjutnya.
Rendra langsung mencium Adiba saat ini, Adiba memejamkan matanya menerima ciuman tersebut seakan menikmati ciuman yang diberikan Rendra padanya.
Tak hanya sekedar mencium Rendra juga menghisap bibir ranum Adiba, tangannya langsung mengangkat Adiba.
Dia menghimpit tubuh itu, dengan terus mencium bibir Adiba. Sangking terbuai nya dnegan ciuman Rendra membuat perempuan tersebut mengeluarkan desahannya.
Rendra melepaskan ciumannya dan melihat Adiba yang mengambil nafas dalam, dalam begitu juga dengan dirinya ciuman panas itu membuat mereka berdua sama-sama kehabisan nafas.
“Kau menyukainya<” ucap Rendra sambil tersenyum puas.
Adiba yang malu dan pipinya memerah hanya mengangguk saja dan seulas senyum mengembang di wajahnya.
Rendra yang melihat itu tampak puas dan dia kembali meraup bibir ranum Adiba, menggendongnya membawa perempuan itu ke sofa besar yang berada di ruangannya saat ini..
“jangan bilang kamu mau melakukannya disini? ini tempat kerja Rendra?” ucap Adiba saat Rendra sudah menjatuhkannya ke sofa.
“Lalu kenapa kalau ini tempat kerja, ini kantorku terserah diriku”
“Aku tahu ini kantormu, kalau ada orang yang masuk bagaimana. Kau malah membuatku malu saja”
“Tidak akan ada yang masuk,” ucap Rendra dan langsung mencium Adiba.
__ADS_1
Tangan Rendra juga aktif bergerak di tubuh Adiba, dia meraba setiap inci tubuh istrinya itu bahkan tangannya sesekali sedikit meremas bukit kembar Adiba membuat perempuan itu sesekali mendesah dengan apa yang dilakukannya
“Re..Rendra, berhenti sebentar. Ka..kau serius ingin melakukan disini, ak..aku takut ada yang melihat” ucap Adiba terbata menahan tangan Rendra yang ada di dalam rok miliknya.
“Nggak ada orang sayang, sudah ya jangan menahan ku lagi. Aku sudah tidak tahan sekarang” ucap Rendra dengan suara seraknya.
Rendra mencium Adiba kembali, menggigit pelan leher sang istri juga memberikan tanda di sana.
Dia membuka baju yang dikenakan Adiba begitu juga tangan Adiba yang ditaruh di dadanya, meminta Adiba juga membuka baju miliknya saat ini.
Pergulatan mereka di atas sofa berlangsung begitu panas, bahkan beberapa kali Rendra melancarkan aksinya membuat Adiba terus mendesah tertahan karena benda keras yang masuk menerobos kedalam miliknya.
“Arkh Ren, pe..pelan” rintih Adiba,
“Maaf “ Rendra menuruti perkataan Adiba, dia melambatkan ritme permainannya saat ini, keduanya tampak menikmati pergulaan panas mereka tak perduli sudah beberapa menit berlalu mereka masih begitu bergairah satu sama lain.
.........................................
Frans dan juga Citra sedang berada di depan sekolah Rafka mereka tengah menunggu cucu semata wayang mereka saat ini.
“pa kenapa kita nggak masuk saja sih, itu juga sekolah milik kita kenapa malah nunggu didepan begini panas tahu pak. Kayak anak muda aja makan es krim begini” protes Citra pada suaminya.
Frans yang duduk di bangku sebelah Citra hanya menyilang kan kakinya santai sambil menikmati es krim, dia seakan tak perduli ocehan istrinya tersebut.
“Pa kamu dengerin aku nggak sih,” kesal Citra karena di abaikan oleh suaminya.
“Siapa yang papa tunggu?”
“Adalah orang ma, itu orangnya baru dateng” ucap frans langsung berdiri melihat seseorang yang baru saja keluar dari sebuah mobil berwarna hitam.
“Itu siapa?” heran Citra yang melihat kearah suaminya.
“Itu ayahnya Adiba”
“Apa? kenapa dia kesini?”
“Papa yang suruh, biar dia tahu cucunya. Dia juga ingin ketemu sama Rafka, makanya Papa suruh dia kesini”
“kenapa juga dia kesini sih pa, itu malah bawa cucunya yang lain kalau Rafka iri gimana?”
“Itu bukan cucunya pa, itu anaknya”
“Hah, anaknya adiknya Adiba berarti. Terus disebelahnya itu istrinya”
“Iya, udahlah nggak suah banyak tanya ma. Nggak enak nanti kalau mereka dengar”
“Iya-iya”
__ADS_1
“Maaf pak Frans kita agak telat, Rafka dimana ya” ucap Rama yang baru saja datang bersama istri dan anaknya.
“Iya tidak apa-pa, Rafka juga belum keluar dari kelasnya”
“Pak Frans, bu Citra saya sangat berterimakasih pada kalian berdua yang memperbolehkan saya bertemu dengan Rafka. Dan saya juga ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menjadi orang tua yang baik sebagai pengganti saya bagi Adiba” ucap Rama merasa sangat berterimakasih pada besannya tersebut.
“Sudahlah tidak usah dibahas pak Rama, itu tugas saya sebagai orang tua juga. mari duduk disini dulu setelah ini baru temui Rafka kalau dia sudah keluar dari kelas” ucap Frans dengan begitu bijaknya.
Mereka langsung duduk di bangku yang berada didepan sekolah tersebut menunggu cucu mereka keluar baru setelah ini mereka akan berbicara di tempat lain.
.............................................
“Aku minta maaf ya kalau tadi melakukannya cukup kasar padamu,” ucap Rendra sambil mengecup pucuk kepala Adiba yang sudah duduk di kursinya sibuk mengerjakan sesuatu.
Rendra sendiri baru selesai dari kamar mandi membersihkan dirinya setelah menunggu Adiba tadi.
“Iya, kamu nggak kasar kok. Sudah, sana aku mau kerja, jangan minta aneh-aneh lagi, tugas ku banyak. Dan tugasmu juga banyak, sebentar lagi tanda tangani ini” ucap Adiba sambil melihat salah satu berkas yang ada di mejanya tersebut.
“Loh ini perusahaan bang Tama kan? kamu mau kerja sama dengannya?” ucap Adiba saat melihat berkas tersebut dan tertera nama perusahan keluarga milik Tama.
“Iya, dia waktu itu kesini untuk ini” jawab Rendra.
“Kamu mau kerjasama dengannya”
“kenapa harus tidak mau,” ucap Rendra sambil berjalan menuju meja kerjanya.
“Ya kamu kan, agak tidak suka dnegan bang Tama?”
“Bukannya tidka suka, tapi aku cemburu dengannya karena dirimu. Tapi sekarang untuk apa aku cemburu, kamu sudah bilang cinta denganku. Aku tidak cemburu lagi, dia hanya kamu anggap abang kan, jadi apa masalahnya” ucap Rendra sambil duduk di kursi kerjanya.
“Syukurlah kalau pemikiran mu dewasa seperti ini, aku jadi tidak khawatir terus-terusan” Adiba tersenyum senang melihat kearah Rendra.
“Iya dong, Papanya Rafka harus dewasa.” Ucap rendra.
Adiba tiba-tiba saja berdiri dan berjalan kearah Rendra duduk saat ini, dia berjalan cepat menghampiri suaminya dan dia langsung mencium bibir Rendra lebih dulu.
“Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, dan aku terus malu-malu saat melihatmu tapi kali ini aku ingin bilang padamu kalau aku sangat mencintaimu Rendra” ucap Adiba sehabis mencium suaminya.
Rendra yang terkejut menatap Adiba, dia tak percaya dulu Adiba perempuan pemalu dan sedikit cupu kali ini ini sungguh berbeda.
Rendra langsung menarik pinggang Adiba membuat tubuh perempuan itu mendekat,
“Nah begini dong, aku makin cinta sama kamu kalau kamu terbuka begini denganku. Aku juga mencintaimu Adiba, bahkan cintaku lebih besar darimu” Rendra berdiri dan mencium balik sang istri.
°°°
T.B.C
__ADS_1