
Rendra sedang sibuk bekerja di depan laptopnya yang tepat berada didepannya saat ini, dia duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Itu sebenarnya bukan pekerjaannya tetapi pekerjaan Papanya yang terpaksa ia yang harus mengambil alih karena sang Papa sedang ada di Luar Kota dan baru berangkat tadi pagi bersama Mamanya tanpa memberitahu dirinya lebih dulu.
Saat Rendra tengah fokus dengan pekerjaannya saat ini, tiba-tiba saja dari belakang ada yang memeluk lehernya membuat dia memalingkan wajahnya untuk melihat yang tengah memeluknya dari belakang saat ini.
“kamu sayang,” ucap Rendra saat mengetahui istrinya lah yang tengah memeluknya saat ini, dia mengusap pelan angan istrinya yang memeluk lehernya sekarang.
“kamu ngerjain apa sih mas kok sibuk banget kelihatannya” Adiba begitu penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya yang terlihat sibuk saat ini. padahal tadi sebelum mereka ulang dari kantor Rendra sudah menyelesaikan pekerjaannya semua.
“Ini kerjaan Papa di Dewangga Group,” jawab Rendra dan kembali menggerakkan kursor nya kebawah.
“kerjaan Papa, kok kamu yang ngerjain mas”
“Iya Papa kan ke Luar Kota, ini tadi ada laporan dari karyawannya dan harus diperiksa secepat mungkin makanya aku yang periksa” jelas Rendra
“Kamu tidur dulu saja sayang,” pinta Rendra kemudian.
“Aku nggak bisa tidur kalau kamu nggak tidur, aku pengen meluk kamu” ucap Adiba dan memutari sofa untuk duduk di sebelah suaminya.
Dia langsung duduk tanpa diminta dan menidurkan kepalanya di pangkuan sang suami yang sedikit terkejut dengan apa yang dia lakukan.
“Tumben manja banget, biasanya juga kamu tidur duluan” heran Rendra menunduk melihat wajah istrinya yang ada di pangkuannya sekarang.
“Memang nggak boleh kalau aku manja begini” tukas Adiba memasang wajah serius.
“boleh kok, apa yang nggak boleh buat istri tercintaku” ucap rendra lalu mengecup bibir istrinya.
“Ya udah kamu tidur aja di pangkuanku, tapi maaf ya kalau ke ganggu. Aku cuman meriksa ini bentar terus kita tidur. Kamu udah kunci pintu kamar?” pungkas Rendra lagi.
“Udah memang kenapa?”
“Ya nanti kalau kita tidur terus aku lagi *****-***** kamu Rafka masuk lagi, bingung aku mau jawab apa” tutur Rendra.
“hemm dasar mesum” sungut Adiba.
“ye, namanya sama istri ya gitu lah, kamu ini” ucap Rendra sambil menoel pipi istrinya.
“udah ya sayang jangan goda aku lagi, nanti aku kebablasan pekerjaanku tidak selesai-selesai. Bisa-bisa suamimu ini di gantung papa nanti” ucap Rendra lagi.
“Iya, ya udah kerjain buruan” ucap Adiba lalu memiringkan tubuhnya agar menghadap ke perut Rendra. Tak lupa dia memeluk perut suaminya itu.
Mendapat sentuhan tiba-tiba seketika membuat tubuh Rendra bergidik sendiri dan miliknya seketika menegang dengan apa yang dialkukan istrinya.
“Sa..sayang, kau sengaja menggodaku ya” tukas Rendra terbata.
“Nggak, siapa yang goda kamu. katanya kamu mau kerja” elak Adiba masih memeluk perut Rendra.
“Lah terus ini ngapain?”
“Ya kan tadi aku bilang pengen peluk kamu, udah ah aku mau tidur” pungkas Adiba tanpa memperdulikan Rendra yang gelisah gulana dengan apa yang di lakukan Adiba saat ini.
“Astaga sayang, kamu nggak tahu aja aku gimana. Mau terbang aja nih” gumam Rendra, dia langsung kikuk saat mengerjakan pekerjaannya fokusnya tak terkendali sama sekali. Tapi mati-matian dia berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaannya, dia takut papanya akan marah kalau dia tidak memeriksa ini.
__ADS_1
....................................................
Tama sedang mengendarai mobilnya malam-malam, dia baru saja pulang dari apartemen Pram. Saat ini dia harus pulang ke rumah karena permintaan dari Mamanya yang mengatakan rindu dengannya. Kalau bukan karena Mamanya dia sudah malas untuk menginjakkan kakinya di rumah itu.
Saat dia tengah fokus menyetir tiba-tiba saja tanpa sengaja kepalanya menoleh ke samping dan melihat seorang perempuan duduk sendirian di halte bus yang tak jauh dari kantornya.
“kenapa dia bisa ada disitu malam-malam begini?” herannya saat melihat perempuan yang sangat dia kenal tersebut.
Perempuan itu tampak cemas sambil melihat ke sana kemari mencari angkutan yang lewat di depan halte itu.
Melihat itu membuat Tama langsung meminggirkan mobilnya sedikit agak didepan perempuan itu yang kini beralih menatap kearahnya. Perlahan mobil Tama ia mundurkan sedikit agar tepat didepan perempuan itu.
“Sedang apa kau disini?” tanya Tama saat dia membuka kaca mobilnya.
“kak Tama,” perempuan itu yang tak lain adalah Kania langsung berdiri girang saat melihat Tama yang ada didepannya.
“Sedang apa kau disini?” tanya Tama lagi tak dengan wajah datarnya.
“Kakak tidak lihat aku sedang apa?”
“menunggu bus?” tanya Tama kembali.
“hemmm”
‘Tidak ada angkutan jam segini, kenapa kau menunggu bus hah mobilmu mana?”
“Aku tidak punya mobil” jawab Kania singkat.
“kak Tama darimana?” tanya Kania saat melihat Tama yang sepertinya habis keluar entah darimana soalnya pria itu sedari siang tidak ada di kantor.
“Masuk” perintah Tama.
“aku masuk ke Mobil Kakak, serius” ucap Kania seakan tak percaya dengan apa yang di katakan tama barusan.
“Kau tidak mau ya sudah ak..”
“Aku mau” jawab Kania cepat dan dia langsung berlari masuk kedalam mobil Tama, dia duduk disebelah pria itu yang melihat dirinya aneh.
“kenapa kak? Ada yang aneh denganku?” tanyanya pada Tama saat sudah berada didalam mobil.
“Rumahmu dimana?” tanya Tama mengabaikan pertanyaan Kania.
“Di Palm Reciden, cie pengen tahu rumahku. Mulai nepatin janji sama aku ya,” jawab Kania dan sedikit menggoda Tama.
Tama hanya diam saja, dia lalu menyalakan mesin mobilnya mengabaikan Kania yang langsung cemberut.
“Kak Tama bisa nggak sih jawab saat aku ngomong sama kakak” lirih Kania begitu sedih dengan sikap tama padanya.
“Tidak ada yang perlu aku jawab atau bicarakan dengan bocah sepertimu” tukas Tama, dia lalu melajukan mobilnya tanpa menggubris Kania yang sepertnya sedikit tersinggung.
“Kak Tama makin nggak asik, nggak seperti dulu” kesal Kania dan langsung memalingkan wajahnya menghadap luar mobil.
__ADS_1
Tama melihatnya sekilas tapi dia tetap diam tanpa membuka suaranya pada Kania. Dia harus bersikap begini kalau tidak bocah itu terus mengejarnya, dia tidak suka dengan Kania. Bagaimana dia bisa suka dengan perempuan yang lebih muda sangat jauh darinya.
.............................................
Sinar mentari sudah menerobos masuk kedalam kamar, apalagi cahayanya semakin terang masuk kedalam saat tirai jendela di buka begitu lebar oleh perempuan yang sudah mengenakan Kimono mandi dengan rambut di gelung dnegan handuk. Dia menatap suaminya yang tengah tidur pulas bahkan tak terganggu sama sekali.
“mas bangun, sudah pagi. Kamu mau kerja kan?” ucap Adiba sambil berjalan mendekat dan menarik selimut suaminya pelan.
“Apa sih sayang, aku masih ngantuk” jawab Rendra dengan suara seraknya sambil menggeliat ke arah lain.
“Mas,” ucap Adiba sambil duduk di tepi tempat tidur memegang bahu sang suami.
“Iya sayangku, apa sih” jawab Rendra dan berbalik menghadap istrinya yang duduk di pinggir tempat tidur tepat disebelahnya.
“hemm, wangi” ucapnya saat mencium bau harum dari sang istri yang mengenakan kimono dan rambut yang terbungkus handuk matanya langsung segar melihat hal itu.
Dia langsung duduk sambil mencium istrinya dan melepaskannya, bibir itu kini berpindah mengecup leher sang istri dan sedikit menggigitnya.
“Augh sakit mas, kamu kenapa sih gigi-gigit aja” ucap Adiba yang memegangi lehernya bekas gigitan Rendra.
“gemes aku sama kamu, pagi-pagi begini sudah mandi wangi lagi” ucap Rendra pada istrinya.
Rendra melirik sekilas kearah Adiba yang membenarkan handuk di kepalanya, tapi tiba-tiba Rendra menarik Adiba dan menjatuhkan perempuan itu di kasur dan membuat Adiba berada dibawah suaminya saat ini.
“Kamu mau ngapain mas,” kaget Adiba dan membuat handuknya terlepas.
“mau mita jatah semalem yang belum kamu kasih” ucap Rendra sambil memegang kedua sisi tangan sang istri.
“Kan semalem kamu kerja salah sendiri coba,”
“Ya udah pagi ini aja kasihnya, yok mu..” ucap Rendra terhenti karena Adiba mengecup bibirnya.
“Nanti aja ya waktu kamu pulang kerja,” tolak Adiba.
“Kenapa harus nanti sekarang aja, ya mau ya” pinta Rendra.
“nanti aja mas, aku mau ke bawah dulu buat sarapan buat kamu sama yang lain” ucap Adiba dan langsung mendorong suaminya pelan agar turun dari tubuhnya.
Rendra langsung murung karena penolakan dari istrinya itu, membuatnya kesal pagi-pagi begini.
“udah dong jangan cemberut begitu dong mas, kau jadi ngerasa bersalah” ucap Adiba
“Ya memang kamu salah” pungkas Rendra dan langsung turun dari tempat tidur.
“Gimana mau cepet punya adik buat Rafka, kamu aja nolak begini” gerutu Rendra sambil berjalan kearah kamar mandi dengan murung.
“Maaf ya mas, bukannya aku nolak tapi ada yang mau aku pastikan dulu nanti..” gumam Adiba merasa tidak enak telah menolak keinginan suaminya. Dia hanya melihat Rendra yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
°°°
T.B.C
__ADS_1