
Lalu lalang orang yang keluar masuk dari bandara saat ini cukup ramai. Mereka ada yang tergesa-gesa karena harus buru-buru agar tidak ketinggalan pesawat ada juga yang buru-buru untuk keluar dari bandara karena jemputan mereka sudah menunggu.
Salah stau yang baru saja keluar dari bandara yaitu Kania, dia keluar bersama dengan Papanya yang seorang bule tulen berambut merah terkesan pirang. Dia merangkul lengan sang papa dengan begitu manja dan sesekali senyuman ia pancarkan. Mereka tak hanya berdua tetapi dengan seorang pria yang berjalan didekat mereka saat ini.
“Papa serius kan mau belikan aku apartemen?” tanya Kania melihat kearah papanya saat ini. mereka baru saja pulang dari Belgia.
Dua bulan berlalu juga untuk Kania pulang ke Indonesia, dia harus mulai menghadapi Tama lagi yang terlalu gengsi padanya.
“Ya, Papa serius mau membelikan mu apartemen. Jadi terserah kamu mau milih dimana yang ingin kau beli” pungkas sang Papa. Dia begitu senang sang putri yang sudah lama tak ia temui kini bertemu lagi dengannya bahkan dua bulan putrinya tinggal dengannya di Belgia.
“yes, I Love U Papa. Week ngapa kamu kak Xavier, hahaha aku dapat apartemen dari papa” pungkas Kania dan sedikit meledek kearah pria yang berjalan didepan mereka. Xavier adalah kakak dari Kania mereka hanya terpaut satu tahun saja dan banyak orang yang belum tahu soal Xavier.
“Curang, nggak adil pa” protes Xavier pada Papanya.
“Adil lah, kau dapat semua dari papa masa aku dapat jadi apartemen adil lah” ucap Kania merasa senang dan terus menjulurkan lidah pada kakaknya meledek pria berparas bule itu.
“Kau juga selama ini dapat dari Papa kan, setahun lalu atau kapan kau juga dapat kiriman mobil. Belum lama ini juga kau dapat mobil lagi dari papa” Xavier masih saja tak terima saat Papanya membelikan apartemen untuk Kania.
“Mobil di Jual Mama, terus kiriman..aku nggak pernah dapat mama semua yang ambil. “ jelas Kania pada Papa dan kakaknya.
“Salah sendiri dulu kau lebih memilih ikut Mama” tukas Xavier.
“Ya memang salah ikut orang tua, kan aku nggak tahu kalau mama menikah sama orang yang licik” sungut Kania yang tak terima disalahkan.
“Sudahlah, kenapa berisik di jalan. ayo kamu mau kemana Kania, kita beli apartemen untukmu” Papa Kania dan juga Xavier mencoba menengahi perdebatan kedua anaknya itu. mereka tak merasa malu sama sekali berdebat sambil berjalan.
Kania memang sudah menceritakan semuanya pada sang Papa, dari dia yang diperlakukan tak adil oleh Mamanya dan suaminya terus akses komunikasinya dengan papanya juga di putus begitu saja oleh mamanya jadi membuatnya tak bisa saling berkomunikasi lagi dengan sang papa.
Intinya semua yang Kania rasakan selama ini sudah ia ceritakan pada sang Papa, maka dari itu Papanya mau membelikannya apartemen saat ini.
“Mama berarti tinggal sama suaminya sekarang, dia tinggal di mana?” tanaya Xavier pada Kania.
“Di rumah pejabat lah, suaminya kan pejabat” pungkas Kania.
__ADS_1
“Ya aku tahu, tapi dimana. Gue bukan orang sini”
“Mau apa kamu tanya soal Mamamu dimana Xavier?” tanya Chase ayah mereka berdua.
“Ya mau say hello aja pa, udah bertahun-tahun nggak ketemu. Ketemu waktu aku di Indonesia dulu untuk liburan sama Papa. Dulu kan suaminya nggak begitu sama kita, kenapa jadi berubah” ucap Xavier yang tak begitu percaya suami Mamanya bisa tega dengan adiknya.
“Ya itu pura-pura, nggak tahu aja lo” sungut Thalia kesal karena Xavier tak mempercayainya.
“hemm, udahlah ayok” tukas Xavier dan berjalan lebih dulu.
“Dia yang tinggal sama Papa tapi kenapa dia yang lebih mirip mama ya pa” ucap Kania pada Papanya.
“Ya namanya gen sayang. Ayo buruan, tahu sendiri papa banyak kerjaan besok juga harus ke Singapura”
“Oke, oke Papaku” ucap Kania yang masih terus menggelendoti sang Papa.
...........................................
“Bi tolong kulitnya di buang ke kotak sampah ya, aku ke depan dulu” pungkas Rendra pada sang istri.
“iya tuan,” jawab Bi Jumi.
Rendra langsung berjalan kearah ruang tengah saat ini untuk menemui sang istri yang sedang menunggunya dan juga buah-buahan yang baru saja dia kupas kan.
Baru juga dia berjalan ke depan, istrinya itu sudah menghampiri dirinya terlebih dahulu saat ini.
“kenapa sayang?” tanya Rendra saat melihat istrinya yang berada didepannya saat ini yang ada didepannya.
“keluar yuk” ajak Adiba tiba-tiba
“mau keluar kemana? Ini buahnya aku udah kupasin buat kamu” heran Rendra saat istrinya mengajak keluar.
“Aku pengen makan yang pedes gitu loh, yok keluar yok” ucap Adiba begitu ingin keluar rumah saat ini.
__ADS_1
“Kamu masih mau makan berat lagi, belum kenyang sayang” tukas Rendra yang masih tak menyangka sang istri belum kenyang juga padahal mereka baru saja selesai makan.
“Mama, mama temenin aku belajar yuk” tiba-tiba saja Raka datang menghampiri sang mama sambil membawa bukunya.
“Jangan sekarang ya sayang, besok aja gimana?” Adiba terlihat enggan untuk menemani sang anak. Entah mengapa dia begitu tapi saat ini rasanya dia tidak mood untuk melakukan apapun.
“Kok jangan sekarang sih, kemarin Mama bilang mau nemenin aku belajar terus hari ini bilang jangan sekarang. Mama aneh” Rafka tampak kecewa melihat mamanya.
Rendra yang ada disitu bingung sendiri harus apa, Adiba begini apa karena hamil atau bagaimana. Tapi selama ini Adiba tak pernah bersikap seperti ini.
“Mama ayok,” Rafka menarik tangan sang Mama.
“Rafka jangan sekarang ya mama capek, mama lagi nggak mood sayang” pungkas Adiba.
“Papa mama nggak mau temenin aku belajar” adu Rafka pada sang Papa.
“Ya udah sama Papa aja yuk, kita keruang tengah” ucap Rendra yang mendekati sang anak.
“Mama ngga asik” marah Rafka dan langsung berjalan pergi lebih dulu.
“Ayo sayang, kita nggak usah keluar hari ini. kalau pengen makan pedes nggak usah nggak baik itu. ayo makan ini aja sambil nemenin Rafka belajar” ucap Rendra pada istrinya.
“Ya udah kamu temenin Rafka aja, aku mau tidur aja ya keatas.” Adiba malah ingin naik ke kamarnya.
“Kok gitu sih sayang, tadi bilangnya mau buah terus mau makan pedes sekarang malah mau keatas buat tidur” Rendra bingung sendiri dengan ucapan istrinya.
“Ya nggak tahu mas, nggak pa-pa ya aku keatas dulu” ucap Adiba dan langsung berjalan pergi meninggalkan suaminya saat ini.
Rendra hanya bisa menghela nafasnya sambil melihat sang istri yang berjalan pergi dari hadapannya. Dia langsung berjalan mendekati sang anak yang sudah menunggunya di ruang tengah. Dia harus sabar mungkin orang hamil memang begini.
°°°
T.B.C
__ADS_1