
Adiba tengah berberes di hotel, memasukkan baju-bajunya kedalam tas kecil yang mereka bawa kemarin saat berangkat ke Bogor. Hari ini mereka akan pulang ke Jakarta karena Rendra siang harus ada di kantor untuk menandatangani salah satu proyek pekerjaan jadi mau tidak mau mereka harus pulang begitu pagi.
“Sayang kamu mandi dulu sana biar aku yang beresin sisanya” ucap Rendra yang barus aja keluar dari kamar mandi memegangi handuknya yang melingkar di lehernya saat ini.
“bentar lagi mas, tinggal masukin baju Rafka aja ke tas” jawab Adiba yang masih terus sibuk menata baju-baju mereka di dalam tas. Ia juga mengeluarkan baju bersih untuk anaknya yang masih tidur. Sedangkan baju yang akan di pakai Rendra sudah ia siapkan sedari tadi saat pria itu masih berada didalam kamar mandi.
“Ya udah kalau gitu,” tukas Rendra sambil berjalan kearah kasur, dimana anaknya yang masih tidur nyenyak saat ini.
“Rafka, bangun nak ayo mau pulang nggak?” ucap Rendra sambil memegang bahu anaknya yang tengah tidur.
Rafka mengolet kearah lain, membuat Rendra berusaha keras untuk membangunkan sang putra yang sama sepertinya susah untuk bangun.
“Mas, aku mandi dulu ya. Itu bajumu disitu” Adiba yang tadinya duduk di lantai sambil merapikan isi tasnya perlahan mulai berdiri dari duduknya.
“Iya sana kamu mandi dulu, aku bangunin Rafka dulu” balas Rendra.
“Nak ayo bangun mau pulang nggak, itu Mama mandi masihan atau kamu mau ditinggal disini” lirih Rendra membangunkan Rafka dengan begitu sabar.
“Nggak mau aku mau pulang,” Rafka langsung terbangun dan duduk seketika dia takut kalau harus ditinggal di tempat asing seperti ini.
“Nah gitu dong, ayo sayang” Rendra langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang anak.
Rafka menerima uluran tangan Papanya dan dia langsung berada di gendongan sang Papa.
“Masih ngantuk ya anak Papa, nanti tidur lagi di mobil ya” pungkas Rendra sambil melihat anaknya yang menguap dan sesekali mengucek matanya.
Rafka mengangguk, menaruh kepalanya di bahu sang papa sesekali dia memejamkan matanya karena benar-benar masih ngantuk saat ini.
Wajar saja jika bocah enam tahun itu mengantuk saat ini, jam juga masih begitu pagi belum ada jam enam sekarang.
“Sayang-sayang buruan aku mau ke kamar mandi sebentar” Rendra yang masih menggendong Rafka menggedor-gendor pintu kamar mandi agar istrinya cepat keluar karena dia ingin muntah saat ini.
“bentar mas,” sahut Adiba dari dalam kamar mandi.
“Sayang buruan, aku mau muntah sayang” panik Rendra yang perutnya terasa mual tiba-tiba.
“Papa, Papa kenapa?” tanya Rafka khawatir melihat wajah ayahnya yang berkeringat begitu banyak.
“kamu turun dulu ya kak, Papa mau ke kamar mandi bentar” ucap Rendra menurunkan sang anak.
Pintu kamar mandi langsung terbuka dengan Adiba yang hanya mengenakan handuk saja menatap kesal pada suaminya padahal dia belum selesai mandi tapi Rendra sudah tergesa-gesa menyuruhnya keluar.
“Ada apa sih mas aku be...” ucapan Adiba yang akan mengomel terpaksa terpotong karena Rendra yang langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa mendengar perkataannya dulu.
Rendra sangking terburu-buru nya tidak menutup pintu kamar mandi, dia mengeluarkan seluruh makanan yang ada didalam perutnya di wastafel kamar mandi. di terus-terusan muntah bahkan sampai menimbulkan suara yang cukup keras.
Adiba dan rafka yang mendengar itu saling lihat dan pandangan cemas langsung muncul dari keduanya.
“mas, kamu kenapa mas” Adiba langsung berjalan masuk menghampiri Rendra yang muntah tak henti-henti.
“Nggak tahu sayang perutku rasanya mual, kepalaku juga pusing sekarang” jawab Rendra lemas.
Adiba membantu Rendra dengan memijit leher sang suami agar lebih enakan, dia benar-benar cemas dengan yang terjadi pada suaminya.
__ADS_1
“Kamu sakit? Kita ke puskesmas dekat sini yuk?” ucap Adiba.
“Nggak usah, aku istirahat aja bentar” tolak Rendra sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
“Tapi kamu muntah begini loh nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana?”
“Papa, Papa kenapa?” tanya Rafka yang muncul diantara kedua orang tuanya yang tengah saling berbicara.
“Papa nggak pa-pa sayang” jawab Rendra dan berjalan pelan dengan dibantu Adiba yang memegangi tangannya.
“Kamu ganti baju dulu aja sayang, aku nggak pa-pa kok” perintah rendra.
“Kayaknya kamu memang nggak pa-pa deh mas, sepertinya yang kamu alami ini kayaknya dampak dari aku hamil deh. Kamu yang ngidam jangan-jangan” tebak Adiba menatap suaminya yang sesekali menggelengkan kepala agar merasa agak ringan kepalanya.
Mendengar itu Rendra langsung melihat Adiba, matanya terbuka lebar mendengar itu. kalau memang benar begitu berarti dirinya disini yang menderita nantinya. Tahu sendiri orang ngidam itu bagaimana.
“Ah nggak mungkin sayang, aku cuman capek aja. Masa yang hamil kamu yang ngidam aku.” Rendra tersenyum meremehkan pendapat istrinya itu.
“ya mungkin ajalah mas, kamu calon dokter dulu kan masa nggak tahu soal ini.” cibir Adiba menatap suaminya yang langsung diam.
Rendra diam seribu bahasa, bibirnya langsung terkatup rapat dengan ucapan istirnya. Benar juga sih pendapat Adiba soal dirinya sekarang. Karena tidak mungkin dia sakit atau apa badannya saja baik-baik saja cuman perutnya yang sedikit mual.
“Oh my god, kenapa jadi aku yang ngidam” batin Rendra.
“kenapa diem, ayo ke kasur. Aku mau ganti baju” tukas Adiba melihat suaminya yang diam saja.
“Ini adil berarti mas, aku yang hamil kamu yang ngidam biar aku nggak menderita sendiri. Waktu hamil rafka dulu kamu nggak ngidam kan, aku yang ngidam tahu dulu aku lebih sulit hamil sendirian ngidam sendiri kemana-mana sendiri nggak ada yang bantu mungkin bunda atau ayah. Kalau aku pengen hal lain bang Tama yang selalu pesenin sekarang gantian kamu, terima aja cuman ngidam nggak hamil nampung anak sembilan bulan di perut” celoteh Adiba sambil menuntun sang suami ke kasur.
“Iya, iya sayangku. Mas jalani ngidam ini demi kamu, senang nggak? Aku ngidam begini berarti cinta mati sama kamu” pungkas Rendra dan malah merangkul bahu istrinya berjalan bersebelahan.
.....................................................
“Bro, untung gue belum pulang kalau gue sudah pulang ke Bali duluan gimana? Untung ada gue kalian bisa pulang sekarang” ucap Davin sekilas melihat kebelakang dimana Rendra dan Adiba duduk di kursi belakang.
Davin diminta oleh Rendra untuk mengantar mereka pulang ke Jakarta, karena badan Rendra yang begitu lemas saat ini.
Sebenarnya mereka ingin menunda kepulangan ke Jakarta tetapi karena Rafka yang terus merengek membuat Adiba dan juga Rendra terpaksa meminta bantuan Davin untuk mengantar mereka pulang.
“Iya makasih sudah bantuin kita” jawab Rendra sambil memegangi perut istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Kepalanya terasa berputar membuat dirinya terus bersandar saat ini.
Rafka sendiri duduk di depan disebelah Davin bocah itu sebenarnya tidak mau pisah dengan Mamanya tapi karena Papanya yang sakit membuat dia mau tidak mau duduk didepan seorang diri.
“lagian lo makan apa sampai sakit begini?” tanya Davin penasaran.
“Nggak makan apa-apa” jawab rendra.
“Dia ngidam makanya begini” sahut Adiba.
“What?” Davin langsung menatap kebelakang melihat sepasang suami istri itu.
“Maksudnya? Rendra hamil?”
“Bukan bego, istri gue yang hamil ngada-ngada aja lu” kesal rendra dan kata kasar keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Papa kok ngomong kasar sih Pa” tukas Rafka yang menoleh kebelakang melihat Papanya.
Adiba langsung mencubit suaminya itu, membuat rendra kesakitan dan langsung melihat kearah Adiba tidak terima.
“Tuh jawab Ren, kok ngomong kasar. Anak pintar lo tanya itu?” Davin terkekeh melihat ekspresi Rendra yang bingung harus menjawab apa.
“Nggak kok sayang Papa nggak ngomong kasar, kamu salah denger” elak rendra.
“Nggak, aku tadi denger Papa ngomong kasar” tukas bocah itu dengan begitu yakin dengan pendengarannya yang tidak salah.
“Rafka, udah jangan tanya lagi. Duduk aja diem sambil nonton film di tab nggak boleh dengerin orang dewasa ngomong” ucap Adiba menasehati anaknya, dia membantu Rendra yang kebingungan harus menjawab apa.
Rafka yang memang selalu menurut mamanya memalingkan wajah seketika, dia tidak ingin Mamanya marah soal itu.
Davin hanya melihat saja bocah itu yang langsung memalingkan wajah cemberut.
“Good boy, keponakan Om” seru Davin sambil tersenyum pada Rafka yang melihatnya.
“Nanti kalau gue nikah cari istri kayak lo deh Dib, pinter didik anak. Bukan anak aja yang lo didik tapi suami lo yang nggak ada akhlak itu juga lo didik kayaknya” pungkas Davin menatap Rendra dengan tatapan mengejek.
Rendra yang kesal akan mengeluarkan kata-kata kasarnya lagi tapi dia teringat soal anaknya yang ada diantar mereka. Anaknya cukup pintar jadi tidak mungkin dia bicara kasar dengan Davin temannya yang menyebalkan.
“Nggak ah vin, aku nggak sebegitu nya. Masih banyak kurangnya” sela Adiba.
“Menurut gue sih lo perfect, cara ngajari anak tuh benar-benar bagus.” Ucap Davin yang memuji Adiba tentang cara mendidik anak yang menurutnya cukup baik.
“Kalau soal itu anak memang harus diajarkan kebaikan sejak dini, apalagi dia anak pertama harus benar-benar di didik untuk dewasa dalam segala hal” tukas Adiba.
Davin hanya mengangguk saja mendengar hal itu sesekali dia melihat rendra yang diam saja sambil mendengarkan mereka berbicara.
“Davin nanti kalau sudah dekat Jakarta mampir Restauran tempat kita sering ngumpul” pinta Rendra pada temannya itu.
“Mau apa? lo laper?” tanya Davin.
“Iya, kita juga sedari tadi belum sarapan kan. aku pengen makan lobster sekarang” ucap rendra.
“Kamu ini gimana nggak usah pesan lobster nanti, tahu sendiri alergi seafood” nyolot Adiba yang menatap suaminya.
“Ya aku pengen sayang”
“Ya terus kalau pengen kamu mau makan, nggak mikirin kesehatan kamu” tukas Adiba.
“Kan aku pengen juga bukan keinginan aku, anak kita yang disini yang pengen kan” Rendra langsung memegang perut Adiba lagi menunjuk ke perut itu yang ada anak mereka.
“ya meskipun anak yang aku kandung yang pengen tapi kamu nggak suah makan, udah tahu alergi”
“Ya udah nanti kamu yang makan, aku kuahnya aja gimana?” putus Rendra menatap istrinya.
“Ya udah, nanti aku yang makan” jawab Adiba lirih terpaksa mengiyakan daripada suaminya yang makan malah membahayakan Rendra nantinya.
Davin yang melihat perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya saja, ada rasa iri juga dalam dirinya bagaimana tidak iri ditengah ke sweetan perdebatan mereka berdua dirinya bak obat nyamuk diantara pasangan suami istri itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C