
Adiba tampak bingung saat mobil yang dikemudikan suaminya masuk kearah tol yang menuju ke pantai. Dia menoleh melihat kearah suaminya itu penuh tanda tanya, bukannya tadi Rendra ingin mengajakknya pergi kesebuah tempat tapi kenapa malah menuju kepantai. Apa tempat yang dituju adalah pantai, batin Adiba.
Rendra yang menyadari ekspresi penuh tanya sang istri hanya diam saja tak menjelaskan apapun, dia pura-pura tak tahu dengan tatapan istrinya pada dirinya saat ini.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ketempat yang mereka tuju saat ini, setelah keluar tol tak jauh dari situ mobil Rendra berhenti di sebuah parkiran luas sebuah pantai yang terdapat resort didalamnya. Rendra baru menoleh kearah Adiba saat mobil mereka sudah berhenti, otomatis Adiba langsung melayangkan tatapan penuh tanya pada snag suami.
“Kenapa nantap aku begitu sih sayang, ada yang aneh d wajah ku. Atau kamu terpesona dengan keatmpanan suami kamu ini” goda Rendra pada sang istri yang langsung mencebikkn bibirnya.
Rendra tersenyum, sambil mengusap lembut rambut Adiba.” Ayo turun sayang,” ajak Rendra menatap perempuan itu.
“Kenapa kamu mengajakku kesini mas, kita mau liburan di pantai?” tanya Aidba yang tak tahu tujuan Rendra mengajaknya.
“Udah, nanti aja banyak tanyanya, sekarang ayo turun. Nanti yang nunggu kita ngomel” tukas Rendra.
“Siapa yang nunggu kita? Kamu ngajak orang juga kesini?” Adiba semakin dibuat penasaran dengan ucapan Rendra barusan.
“Ayo turun dulu” rendra langsung turun terlebih dahulu, karena kalau dia tidak turun dulu pasti Adiba akan terus bertanya.
“Gimana sih, aku belum selesai loh tanyanya” seru Adiba saat melihat suaminya yang turun dari mobil begitu saja.
Akhirnya, mau tak mau Adiba ikut turun, dia membuka pintu mobil dan menghampiri sang suami yang sudah berjalan mendekatinya saat ini.
“Udah jangan tanya dulu, lihat didepan ada siapa” uap Rendra sambil memegang bahu Adiba agar melihat kedepan mereka saat ini.
Adiba terkejut melihat siapa yang berdiri di depan mereka saat ini, terlihat ada Tama dan juga Kania yang menatap mereka.
“Loh, kok ada bang Tama?” tanya Adiba menatap sang suami penuh tanya.
“kejutan” seru rendra sambil tersenyum melihat kebingunan dari istrinya itu. “Ayo kesana,” ajak Rendra sambil menggenggam tangan Aidba mengajak perempuan itu mendekat kearah Tama dan juga Kania.
__ADS_1
.....................................................
Saat ini Rendra dan juga Tama tengah duduk di pinggir pantai sambil menunggu pasangan mereka yang tengah membeli makanan untuk keduanya.
“Sudah resmi dengan Kania?” tanya Rendra yang melayangkan pertanyaan tiba-tiba tersebut.
Sontak Tama langsung menoleh menatap pria yang duduk disebelahnya,
“Bisa dibilang Resmi bisa juga tidak” jawab Tama terdengar begitu ambigu di telinga Rendra saat ini.
“Aku tidak mengerti” tukas Rendra terus terang.
“aku juga tidak menegrti dengan hubungnku dengan perempuan itu yang sekarang malah seakan menairk ulur diriku” jelas Tama mengenai perasaannya.
“Akibat ulahmu sendiri” ucap Rendra.
Tama hanya melihat sekilas Rendra yang berbicara begitu padanya, dia menatap intens pria yang menjadi suami dari perempuan yang pernah dia jaga selama ini.
“Aku suaminya tak mungkin aku menyakiti istriku sendiri, kalau kau ingin menkah. Menikah saja tak perlu cemas dengan istriku” tukas Rendra.
Tama hanya tersenyum singkat mendengar ucapan Rendra itu.
................................................................
Adiba tengah membeli makanan bersama dengan Kania, mereka duduk bersebelahan dan hanya saling diam.tepatnya bukan saling diam, tapi Kania yang lebih banyak mendiami Adiba. Adiba merasa tak enak dengan suasana seperti ini, seakan-akan dia ada salah dengan Kania.
“Maaf Kania, kau marah denganku? Tapi aku ada salah apa ya denganmu” tanya Adiba langsung tanpa banyak berbasa-basi.
“Siapa yang marah? Aku?” tanya Kania sambil menunjuk kearah dirinya di saat dia menatap Adiba. “Heh, kenapa aku harus marah padamu” Kania menatap Adiba diselingin senyum yang tak bisa diartikan lawan bicaranya.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu sedari tadi seperti mendiamiku, aku jadi merasa kalau akau ada salah” lirih Adiba. “Apa ini menygkut bang Tama? Makanya kamu begini padaku?” tanya Adiba lagi.
“Itu kau tahu,” tukas Kania tanpa menatap Adiba.
“Aku kira, diriku kesini untuk diajak liburan berdua tahunya denganmu juga disini” cibir Kania yang begitu tak suka. Baru kali ini dia benar-benar tak suka ada Aidba, karena selama ini dia selalu kalah oleh seorang Adiba yang selalu mendapatkan perhatian dan tatapan dari Tama.
“kania, aku harap kamu tidak salah paham. Aku dan bang tama hanya sebatas adik kakak tidak lebih. Dan kamu pasti tahu aku sahabat adik bang Tama”
“Ya, aku tahu. tapi aku juga tahu kalau Kak Tama menyukaimu dulu”
“Itu dulu, tapi tidak untuk sekarang. Kita hanya sebatas adik kakak, dan kamu pun tahu soal itu.” Adiba berusaha membuat Kania yakin dengan ucapannya.
“Bang tama menyukaimu saat ini, kau pergi dua bulan kemarin, apa kau tahu bang Tama begitu tersiksa dan kesepian tidak ada kamu. dia selalu curhat dan banyak cerita padaku dan suamiku. Percayalah dengan ucapanku Kania, bang Tama menyukaimu saat ini, dan dia hanya menganggapku adik kecilnya sebagai pengganti Tere” Adiba mengatakan cukup panjang untuk meyakinkan Kania yang seakan tak mempercayai dirinya dan ia tahu perempuan muda itu cemburu dengannya saat ini.
“apa yang bisa membuat diriku yakin kalau ucapanmu memang benar,” kania seakan tak percaya dengan perkataan Adiba itu.
“Kalau kamu tidak percaya, aku bisa menjaga jarak dari bang Tama. Demi dirimu mempercayaiku, tapi satu permintaanku padamu Kania. Tolong selalu ada disisi bang Tama, sebagai pendampingnya dan sebagai adik serta temannya, dia sudah kehilangan dua adiknya termasuk aku jika diriku benar-benar menghindar darinya” pesan Adiba
“Ayo, kita kembali menemui mereka, pasti mereka menunggu kita” ucap Adiba sambil mengambil pesanan mereka yang sudah siap.
Kania tertegun mendengar apa yang dikatakan Adiba, dia tak bermaksud begitu tapi kenapa ucapannya malah seperti tadi. Tak seharusnya dia lancang seperti tadi, ucapannya seakan mengusir Adiba jauh dari Tama.
........................................
Mereka berempat saat ini tengah duduk di tepi pantai, melihat sunset yang begitu menakjubkan didepan mereka saat ini. Kania yang duduk diantara Adiba dan juga Tama melihats sesekali dua orang itu yang terpisah jarak oleh dirinya. Dia menatap Adiba meningat lagi ucapan perempuan itu tadi, antara percaya dan tak percaya dirinya saat ini dan sesekali dia melihat kearah Tama yang kebetulan juga melihat kearahnya sambil tersenyum.
“Benarkah yang dikatakan Adiba tadi kalau Kak Tama sudah mencintai ku, apa ku sudahi saja sok jual mahalku ini” pikir Kania sambil membalas senyum Tama padanya.
°°°
__ADS_1
T. B. C