
Rendra masuk kedalam kamar dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat semangkuk bubur yang baru saja dia buat untuk Adiba barusan. Rafka sendiri berjalan disebelahnya bocah itu sedari tadi mengikuti dirinya kemanapun dia pergi hal itu membuatnya senang karena Rafka tidak marah dengannya atau tidak merasa aneh dengannya. Bocah lima tahun itu justru lengket dengannya saat ini.
“aku bawakan bubur untukmu, dimakan” ucap Rendra menarik kursi di sebelah Adiba yang berbaring di tempat tidur.
“Mama, Mama tadi papa buatin Mama bubur ayah. Enak loh” adu Rafka naik ke tempat tidur disebelah mamanya.
Adiba hanya tersenyum melihat anaknya, dan dia beralih pada Rendra. Ia tidak tersenyum sama sekali menatap pria itu justru wajahnya tamak serius.
“Aku tidak lapar” ucapnya dengan dingin.
“Entah kau bohong atau apa, tapi tolong ini dimakan. Kau sakit,” pinta Rendra menatap Adiba yang malah membuang muka darinya.
“Aku suapi, ayo makan” ucap Rendra mulai menyendok kan bubur itu.
“Mama, Mama itu Papa mau suapi mama” pungkas Rafka pada sang mama.
“Mama tidak lapar sayang, Mama mau tidur aja ya. Rafka ngobrol sama Papa aja ya” ucap Adiba langsung membaringkan dirinya di kasur dia mengabaikan Rendra yang menatapnya dalam diam.
“Ya sudah kalau tidak mau makan, aku keluar dulu” ucap Rendra dan langsung berdiri dari duduknya.
“Papa, Papa mau kemana jangan pergi lagi. Aku mau sama Papa” seru Rafka saat melihat Rendra yang berdiri.
“Papa mau pulang dulu sayang,” jawab Rendra menatap nanar anaknya
Rafka langsung turun dari tempat tidur dan dia langsung memeluk kaki sang Papa.
“Papa nggak boleh pulang, Papa sama aku sama Mama disini” ucap rendra.
“Ma, Mama Papa nggak boleh pergi kan?” ucap Rafka pada Adiba.
Adiba perlahan menegakkan tubuhnya pada melihat sang anak,
“Rafka sayang sini nak, Papa kamu mau pulang. Rafka sama Mama ya” ucap Adiba meminta anaknya mendekat padanya saat ini.
“Nggak, Papa nggak boleh pulang. Papa kan Papa Rendra papa juga harus disini sama Rendra.” Ucap bocah kecil tersebut.
Rendra menatap sekilas Adiba, dia sedikit tersenyum menatap perempuan itu yang menatapnya di tempat tidur.
Rendra langsung menekuk lututnya menyamakan tinggi badannya dengan rafka.
“Sayang Papa pulang dulu, besok Papa kesini lagi. Mama kayaknya lagi nggak mau ketemu sama Papa” ucap Rendra memegang bahu kecil bocah itu.
__ADS_1
“Nggak pokoknya Papa disini, iya kan Ma papa disini” ucap rendra merengek pada sang mama.
“Mama nggak mau papa disini sayang, itu mama kamu diem nggak jawab. Mama juga nggak mau makan bubur buatan Papa, artinya Mama nggak mau papa disini. Besok Papa kesini lagi ya”
Adiba melihat kesal kearah Rendra yang seakan membuat Rafka memihak pria itu.
“Mama, Mama makan bubur buatan Papa, Mama..” Rafka berlari kecil ke sebelah Mamanya yang menatap papanya aneh.
“Iya, mama makan buburnya” jawab Adiba akhirnya, dia terpaksa mengucapkan hal itu karena Rafka anaknya yang terus merengek.
“Yeyy, asik. Papa ayo papa suapi mama. Mama mau makan bubur yang dibuat papa” Rafka begitu senang dan menarik Rendra agar mendekat lagi pada Mamanya saat ini.
Rendra menahan senyumnya, dia senang karena berkat anaknya dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Dia bersyukur punya anak yang pintar seperti Rafka.
“Sayang sini, papa mau cium kamu” ucap Rendra menyuruh Rafka mendekat padanya saat ini.
Rafka langsung menurut ucapan Rendra, dia mendekati sang papa dan Rendra langsung menciumnya.
“Pinter,” ucap Rendra sambil mengusap rambut putranya itu.
“Papa, papa aku mau ke depan bentar ya” ucap Rafka pada rendra.
Rafka langsung mengangguk, dan dia berlari keluar kamar meninggalkan orang tuanya berdua saja.
“Kau mau makan kan, mana aku suapi” ucap rendra yang sudah duduk sambil memegang semangkuk bubur itu.
“Puas kau, aku bisa makan sendiri” tukas Adiba dan dia hendak mengambil mangkuk itu dari tangan Rendra tapi Rendra langsung menjauhkannya.
“Nggak usah biar aku saja, kamu mau Rafka nanti marah padamu kalau kau makan sendiri. dia bilang aku kan yang menyuapi mu”
“Dia benar-benar anakku ya, membela diriku sekali. Begitu kau akan bilang dia anak orang lain,” sinis Rendra menatap Adiba.
“Sekarang kau bilang anak, dulu kau kemana? Menyuruh untuk membunuhnya?” ucap Adiba tak kalah sinis.
“Itu dulu, bukan sekarang. Aku juga menyesalinya dan mencari dirimu tapi Papaku yang menghalang-halanginya” pungkas Rendra.
Adiba membuang mukanya malas mendengarkan ucapan Rendra tersebut, baginya ucapan pria itu hanya omong kosong.
“Kau tidak percaya? Terserah kalau memang kau tidak mempercayainya. Kau bisa tanya sendiri pada Jeremy atau pada Papaku. Ayo makan, aku suapi” ucap rendra mulai menyuapi Adiba.
Adiba diam saja, tetapi dia menuruti ucapan Rendra tersebut
__ADS_1
“Kau sakit memikirkan diriku yang akan mengambil Rafka kan kalau aku tahu dia anakku?” Rendra menatap Adiba yang melihatnya.
“Aku tidak akan mengambilnya darimu” ucap Rendra lagi pada Adiba.
“Mama, mama ada Om yang kata Mama kalau itu papa kemarin” ucap Rafka yang masuk kedalam kamar mengalihkan Rendra dan juga Adiba yang langsung melihat kearah pintu kamar.
Disitu ada Rafka dan juga Tama yang berdiri melihat kearah dua orang tersebut.
Raut wajah Rendra langsung berubah dingin melihat pria didepannya, sedangkan Tama menatap biasa dan dia lebih fokus melihat kearah Adiba.
“Bang Tama? Kok abang kesini?” ucap Adiba yang terkejut melihat Tama ada dirumahnya saat ini.
“Ya tadi abang habis ketemu rekan bisnis, terus kepikiran kamu. jadi mampir kesini buat ketemu kamu sama Rafka” ucap Tama sedikit canggung karena dia melihat ada Rendra juga di rumah Adiba saat ini.
“Adiba sakit, anda lebih baik pulang saja. Dia tidak boleh capek” ucap Rendra yang menaruh bubur di atas nakas dan dia menghampiri Tama.
“Kamu sakit? Sakit apa?” Tama akan mendekati Adiba tetapi Rendra menahannya.
“Dia hamil muda, makanya badannya lemas. Kau pergi saja” usir Rendra pada Tama.
“Jangan asal kamu,” tukas Adiba
Tama melihat kearah Adiba yang protes akan perkataan Rendra barusan, dia tentu saja tidak begitu percaya pada ucapan Rendra.
“Masuk saja bang, aku nggak pa-pa kok” ucap Adiba, ucapan Adiba itu membuat Rendra menatap tidak suka.
“Mm, aku rasa aku pergi saja ya. Kamu sedang ada tamu, lain kali aku ketemu dirimu ya. Jaga diri baik-baik, abang nggak mau kamu kenapa-kenapa” ucap Tama pada Adiba.
“Nggak usah bikin drama romantis didepan gue, udah lo pergi” ucap Rendra langsung mengusir Tama dia sedikit mendorong Tama dan menutup pintu kamarnya setelah sang anak masuk kedalam kamar.
“Aku peringatkan padamu, jangan ganggu calon istriku lagi” ucap Rendra didepan wajah Tama.
“terserah diriku, dia tidak merasa terganggu denganku malah dia merasa terganggu denganmu” ucap Tama.
“itu untuk sementara, dan dia tidak akan begitu lagi padaku. Karena aku ayah dari Rafka, pergi dari sini” usir Rendra.
“Oke, aku akan pergi tapi aku tidak akan menurutimu untuk menjauhi Adiba. Adiba segalanya bagiku mengerti. Aku titip dia” ucap tama sebelum pergi dari hadapan Rendra saat ini. Rendra hanya mengepalkan tangannya menatap Tama yang sudah pergi menuju pintu keluar saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1