
Adiba sedang berada di dapur saat ini, dia malam-malam merasa lapar dan ingin makan. Alhasil dia turun sendiri ke dapur tanpa membangunkan asisten rumah tangga. Dia sibuk sendiri di bawah lampu remang-remang dapur. Ia memang sengaja tak menyalakan semua lampu yang berada disitu. dia takut mengganggu tidur sang asisten rumah tangga, bisa-bisa kalau mereka tahu, malah mereka yang akan membuatkan makanan untuknya saat ini.
Dia sibuk mengiris kol dan juga beberapa sosis, dia ingin nasi goreng saat ini. daripada beli lebih baik dia masak sendiri di dapur dan biasa ia kreasi sesuka hati.
“Kamu disini ternyata, aku kira kamu kemana malem-malem” sebuah suara mengagetkan Adiba yang tengah mengiris sosis. Untuk saja tangannya tidak teriris pisau.
“Ya ampun, kamu ngagetin aja sih mas” ucap Adiba yang terjingkat terkejut melihat Rendra berjalan di tengah kegelapan menuju kearahnya saat ini.
“Kamu ngapain disini, lampunya di terangin biar kelihatan” ucap Rendra yang menyalakan lampu di saklar yang tidak jauh darinya.
“Iih, malah kamu nyalain sih, nanti kalau bi Ningsih sama yang lain bangun gimana. Kasihan mereka kecapean” protes Adiba sambil melihat kearah suaminya.
“Nggaklah, mereka aja tidur gimana bisa kebangun cuman karena lampu. Kamu ngapain malem-malem begini di dapur” tukas Rendra sambil melihat apa yang dilakukan Adiba.
“Kamu ma bikin apa sosis sama kol nya?” tanya Rendra saat melihat ada kol dan juga sosis yang diiris oleh Adiba.
“Aku pengen makan nasi goreng, makanya aku mau buat” jawab Adiba.
‘Kenapa nggak ngomong sama aku, aku bisa beliin buat kamu” heran Rendra menatap sang istri.
“Kamu tidur nggak enak mau bangunin, udah aku bikin aja. Lagi pula malam-malam begini dimana ada orang jual nasi goreng”
“Ya udah sini, aku aja yang bikinin buat kamu” Rendra langsung mendekatkan dirinya pada sang istri.
“memang kamu bisa masak?” tanya Adiba melihat suaminya yang sudah berdiri disebelahnya.
“Nggak sayang” jawab Rendra sambil nyengir menunjukkan giginya.
“Gitu aja mau masak, udah ah aku aja. Kamu sana tidur lagi aja,” sungut Adiba dan langsung berjalan kearah penggorengan.
“Aku temani kamu aja disini, siapa tahu kamu butuh bantuan lain”
“nggak ada yang aku butuhin” Adiba langsung menaruh penggorengan yang sudah dia ambil di atas kompor. Rendra hanya melihatnya saja dia berdiri sedikit kebelakang Adiba yang sudah siap untuk menggoreng nasi.
“kamu mendingan keatas aja mas,” ucap Adiba lagi meminta suaminya untuk keatas saja daripada merecoki dirinya di dapur.
“Nggak mau ah, aku mau disini aja” ucap rendra yang malah memeluk Adiba dari belakang.
“Nah kan bener, kamu cuman ngerecoki aku aja. Kenapa sih main peluk-peluk nanti kalau ada yang liat gimana. Malau malem-malem pelukan di dapur begini” tukas Adiba berusaha melepaskan tangan sang suami yang memeluknya. Tangan Rendra malah tak berpindah sama sekali dia terus memeluk Adiba sesekali juga mengusap perut istrinya yang besar itu.
“Anak-anak kita yang disini lagi ngapain ya kira-kira, nggak sabar pengen ketemu mereka bertiga” ucap Rendra sambil memegangi perut istrinya.
“Sama aku juga, nggak sabar buat ketemu mereka tapi masih lama. Udah ah, kamu duduk aja sana mas. Jangan disini” usir Adiba pada sang suami.
__ADS_1
“iya-iya” akhirnya Rendra pergi dari situ meninggalkan istrinya, dia lebih baik duduk di meja makan sambil mengamati sang istri yang tengah membuat nasi goreng.
.........................................................
Matahari sudah meninggi tapi sepasang suami istri belum terbangun juga dari tidurnya saat ini mereka masih lelap dibawah selimut.
“Papa, mama bangun. Ayo antar aku ke sekolah,” seru suara bocah dari luar kamar mereka.
“Sayang bangun, suara apa itu berisik” ucap rendra yang mendekatkan tubuhnya ke sang istri memintanya untuk bangun.
“Apa mas,?” jawab Adiba dengan suara lirihnya.
“Itu sayang diluar kenapa gedor-gedor suruh diem. Aku masih ngantuk” pinta Rendra lagi.
“Papa mama,” lagi suara itu semakin kencang dan semakin keras menggedor pintu.
“Itu suara Rafka mas,” ucap Adiba yang perlahan bangun masih begitu mengantuk dirinya saat ini tapi harus terpaksa bangun untuk membukakan pintu sang anak.
“Ya udah bukain pintunya” pungkas Rendra.
Adiba sebelum di suruh sudah berjalan mendekati pintu saat ini dan langsung membuka pintu tersebut.
“Mama, mama kok bangunnya siang. Ayo antar aku sekolah” rengek Rafka yang memegang tangan Mamanya.
“Ini sudah siang ma, ayo.” Rafka terus mengajak mamanya untuk mengantarnya ke sekolah.
“Memang jam berapa sekarang? Mas tolong lihatin jam di ponselku sebelah kamu” pungkas Adiba dan memerintahkan suaminya untuk melihat jam yang tertera di ponselnya.
“Jam setengah tujuh sayang” jawab Rendra dan menaruh lagi ponselnya, ia langsung tidur kembali.
“Jam berapa?”
“Setengah tujuh sayang” ulang Rendra yang masih memejamkan matanya saat ini.
“Apa, kesiangan berarti. Mas, mas bangun” Adiba langsung melebarkan matanya dan dia langsung menghampiri suaminya yang malah tidur lagi.
Rafa yang berdiri didepan situ hanya diam melihat Mamanya yang panik membangunkan Papanya.
“Mas, Mas kamu ke kantor nggak setengah tujuh lebih ini” ucap Adiba langsung sigap membangunkan sang suami.
“Ke kantor” jawab Rendra lirih.
“ya buruan bangun”
__ADS_1
“hemmm” jawab Rendra masih ditempat tidur dan tak bergeming sama sekali.
“Oh iya, aku ada rapat” Rendra langsung terjingkat dari tidurnya. Dia duduk sambil melihat sang istri.
“Tuh kan,buruan bangun” ucap Adiba
“Tolong siapin baju ku sayang, aku mandi dulu” Rendra langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
“Untung aku bangunin mama sama Papa, kalau nggak” ucap Rafka layaknya orang dewasa.
“Iya sayang, makasih ya” jawab Adiba terburu-buru masuk kedalam ruang pakain untuk mengambilkan baju suaminya Rafka sendiri berjalan ke tepat tidur kedua orang tuanya duduk disitu sambil menunggu Papanya selesai mandi.
“Sayang mama boleh minta tolong nggak?” seru Adiba yang masih ada didalam ruang pakain.
“Apa ma,” sahut Rafka.
“Tolong sih sayang ambilin jam Papa di lemari, jam tangannya ada di bawah. Bisa kan” pungkas Adiba.
“Bisa” Rafka langsung turun kembali dari tempat tidur berjalan ke arah lemari milik orang tuanya.
Dia menghela nafas layaknya orang dewasa dengan kerumitan di pagi hari ini, anak umur enam tahun sepertinya tentu harus bisa dong dan dia juga sebentar lagi punya adik jadi dia harus menjadi kakak yang dewasa meskipun tak sesuai umurnya.
“kamu sih sayang semalem ngapain juga bangun, aku jadi kebangun juga kan” ucap Rendra yang keluar dari kamar mandi. dia tak lama di dalam kamar mandi entah dia mandi atau tidak yang jelas kelar sudah mengenakan handuk yeng terlilit di pinggangnya.
“Loh mama mana kak?” tanya Rendra saat melihat anaknya yang membuka lemari pakaian.
“Di Sana” jawab Rafka sambil menunjuk kearah ruang pakaian.
“Oh,”
“kenapa? Ini baju kamu mas. Buruan ganti, Rafka ayo kita kebawa dulu kamu sarapan sambil nunggu papa kamu ganti baju” ucap Adiba yang menyerahkan baju pada suaminya dan mengajak sang anak ke bawah.
“Aku belum ambil jam”
“biar papa aja yang ambil” ucap Adiba.
“Mas aku kebawah dulu ya” ucap Adiba yang mengajak Rafka kebawa pamit dengan suaminya lebih dulu.
“Iya” jawab Rendra yang buru-buru mengusap tubuhnya dnegan handuk yang lain.
Adiba dan Rafka langsung berjalan keluar dari kamar saat ini, meninggalkan Rendra yang mengenakan pakaian.
°°°
__ADS_1
T.B.C