CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 47


__ADS_3

Adiba sibuk mengerjakan pekerjaannya di mejanya saat ini, sedangkan meja Rendra kosong pria itu tidak ada didalam ruangannya. Dia sedang memimpin rapat, dan meminta Adiba untuk tidak usah ikut dengannya.


“Pria itu aneh sekarang, dulu sikapnya tidak menyebalkan begini” gumam Adiba sambil mengerjakan pekerjaannya, dan dia sesekali memeriksa berkas yang akan dia taruh dimeja Rendra


Selesai memeriksa berkas tersebut Adiba langsung berdiri dari duduknya, dan membawa map itu ke meja Rendra yang tidak jauh darinya saat ini. baru saja dia berjalan ke meja Rendra pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Rendra yang melihat kearahnya saat ini.


“Sedang apa kamu?” tanyanya pada Adiba.


“Tidak lihat aku sedang apa” ketus Adiba sambil menaruh map dimeja.


Rendra hanya diam saja, sambil berjalan menuju mejanya saat ini. Adiba yang melihat Rendra diam merasa aneh dengan sikap pria itu sekarang.


“Kenapa dia? apa meeting nya tidak berjalan lancar” batin Adiba mulai mencemaskan Rendra yang diam.


“Ada yang bisa aku bantu? Kau perlu apa?” tanya Adiba dengan hati-hati.


“Tidak ada, kau duduk saja dimeja mu” jawab Rendra dan duduk sambil menyandarkan dirinya di kursi.


Adiba yang masih berdiri, tak bergerak ia malah melihat Rendra yang seakan tengah gundah memikirkan sesuatu.


“Kau serius tidak butuh apa-apa?” tanya Adiba lagi pada Rendra.


“Tidak, kamu duduk saja. Nanti kalau aku butuh sesuatu pasti aku bilang padamu” tukas Rendra dan memutarkan kursinya agar membelakangi Adiba.


Adiba terdiam dengan sikap Rendra barusan, dia semakin merasa resah sebenarnya ada apa dengan pria yang sudah menyandang sebagai suaminya itu.


Meskipun dia penasaran, Adiba kembali ke mejanya saat ini tetapi ia masih melihat kearah Rendra yang membelakangi dirinya.


Setelah Adiba duduk di mejanya saat ini, Rendra melihat sekilas perempuan tersebut


“Apa aku menyuruh Adiba tidak bekerja saja ya, daripada dia bertemu pria itu?” gumam Rendra sambil melihat istrinya.


Yang dimaksud pria itu adalah Tama, yang ternyata mengajukan kerja sama dengan perusahaannya tadi.


................................................


Adiba saat ini duduk di cafetaria kantornya, dia tidak sendiri melainkan bersama dnegan Tama yang tadi menghubunginya meminta bertemu.


“Apa kabar, abang lama nggak ketemu kamu? bagaimana kabarmu, abang lihat kayaknya lagi bahagia ini” ucap Tama menatap Adiba.


“sok tahu kamu bang,” sungut Adiba.


“Lah kok sok tahu,”


“Iyalah bang Tama sok tahu, beberapa hari ini apa tahu kalau aku dipak..” ucapan Adiba terhenti karena dia tidak mungkin bilang pada Tama kalau ia dipaksa menikah dengan Rendra.


“kenapa? Dipak apa? maksud kamu dipaksa, dipaksa kenapa?”


“Nggak, aku salah ngomong. Bang Tama kok bisa ada disini kenapa?”

__ADS_1


“Abang sengaja aja datang kesini buat nemuin kamu, bang kangen sama kamu” pungkas Tama sambil meminum Latte Nya.


“Nggak usah mulai deh bang” tukas Adiba.


“Mulai gimana?” goda Tama.


“Males, ah bang Tama mulai nggak jelas”


“Hahahha bercanda, adek Abang” ucap Tama sambil mengusap kepala Adiba lembut.


“Abang besok mau ketemu Tere, kamu ikut nggak?” lanjut Tama sambil melepaskan tangannya di kepala Adiba.


“Besok ya bang, kayaknya sih bi...”


“Dia nggak bisa, dia besok ada janji denganku” sahut Rendra yang berjalan mendekat. Dia sebenarnya sedari tadi sudah disitu dan dia melihat Tama yang mengusap kepala istrinya.


Tama dan Adiba langsung melihat kearah Rendra yang berjalan mendekati mereka berdua.


“boleh gabung kan?” ucap Rendra saat sudah sampai didepan keduanya, dia langsung menarik kursi disebelah Adiba.


“Silahkan” jawab Tama.


“Kamu kenapa ada disini?” tukas Adiba yang tampak was-was, takut kalau Rendra bicara sesuatu.


“memang kenapa kalau aku ada disini, aku disini untuk mengawasi istri..”


Adiba memberi isyarat pada Rendra agar tidak bicara sesuatu apalagi membahas kalau mereka sudah menikah didepan Tama.


“Kau kenapa tuan Rendra,?” tanya Tama melihat aneh pada Rendra.


“Ada yang menginjak ku” jawab Rendra sambil memperhatikan Adiba dan berganti melihat Tama.


“Kau bisa diam saja tidak bos, kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lebih baik pergi saja” ucap Adiba mengusir Rendra secara halus.


“Kenapa kau takut kalau dia tahu kita sudah menikah?” pungkas Rendra menatap Adiba yang langsung melebarkan matanya saat ini.


Tama yang mendengar itu, bersikap biasa saja. Dia sudah tahu soal Adiba yang telah menikah dengan Rendra, tentu saja dia tahu karena dia menyuruh orang untuk mengawasi Adiba.


“Kamu ngomong apa sih, bang, bang Tama jangan percaya yang dia omongin” ucap Adiba pada Tama agar pria tersebut tidak menganggap serius ucapan Rendra.


“Abang sudah tahu kok, dan abang nggak pa-pa kamu nikah. Abang cuman berharap semoga kamu bahagia terus dengan suamimu. Dan jangan ragu untuk cerita sama abang kalau pria di sebelahmu itu menyakiti dirimu” ucap Tama tersenyum tipis pada Adiba.


Berbeda dengan Rendra yang tersenyum sinis kearah Tama,


“Siapa juga yang menyakiti Adiba, tidak akan aku lakukan hal itu” ketus Rendra sambil melihat kearah Tama.


“Bang Tama tahu kalau aku sudah menikah” lirih Adiba sambil melihat sekita.


“Iya abang tahu, abang setuju dengan semua keputusanmu” jawab Tama menatap Adiba penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Lo bisa nggak, nggak usah natap istri gue begitu” ucap rendra menekankan kata istri.


“Dib, abang pergi dulu ya. Nanti kalau kamu bisa ikut abang ketemu Tere hubungi abang aja, bang Tama masih ada urusan” ucap Tama dan langsung berdiri dari duduknya mengabaikan Rendra.


“Kok buru-buru bang, katanya mau ngobrol lama sama aku”


“hehehe maaf, bang sibuk. Udah ya abang pergi dulu” ucap Tama dan langsung pergi begitu saja.


Adiba langsung berdiri saat Tama pergi dan dia melihat kearah Rendra yang duduk disebelahnya menatap pria itu dengan kesal.


“kenapa natap aku begitu, durhaka sama suami baru mampus” ucap pria itu tak kalah ketus.


Adiba hanya diam saja, ia langsung pergi meninggalkan rendra.


“Dia malah pergi” gumam Rendra, ikut berdiri dari duduknya saat ini menyusul Adiba yang sudah berjalan agak jauh darinya.


................................................


“kmu bisa berhenti sebentar nggak sih,” ucap Rendra menahan tangan Adiba saat mereka sudah berada di ruang kerja mereka.


“Kenapa sih?”


“Aku mau ngomong sama kamu”


“Mau ngomong apa? aku banyak kerjaan”


“Sebentar aja, aku minta sama kamu jangan pernah temui pria bernama Tama itu lagi bisa kan?”


“Nggak,”


“kenapa? Aku suami kamu sekarang. Jadi kamu harus turuti mau ku”


“Aku tahu kamu suamiku, tapi kamu nggak berhak buat larang aku ketemu bang Tama. Dia salah satu orang yang berharga buat ku,”


“Berharga mana dia atau diriku? Kau pilih mana?” tukas rendra.


“Dia,” jawab Adiba lirih


Tangan Rendra yang mencengkram tangan Adiba tadi terlepas begitu saja, dia menatap istrinya dengan kecewa. Lagi-lagi Adiba menunjukkan ketidak sukaan padanya.


“Oke, jika dia berharga buatmu dan bukan diriku yang berharga untukmu.” Ucap Rendra dan langsung pergi menuju meja kerjanya saat ini. dia mengabaikan Adiba begitu saja.


Adiba yang melihatnya terdiam, dia bodoh kenapa dia berkata begitu. Rendra sepertinya marah padanya saat ini.


Kenapa dia jadi risau begini saat melihat wajah Rendra yang tampak kecewa dengannya, bagaimana kalau pria itu begitu marah padanya saat ini. batin Adiba menatap Rendra yang diam sambil mengabaikan dia dan memilih mengetik sesuatu di laptop.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2