CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 80


__ADS_3

“Mama, Mama tadi kan kata dokter di perut mama ada adik nah tapi tadi Rafka nggak lihat ada adiknya” celoteh bocah itu polos. Dia sedikit memajukan dirinya agar bisa bicara dengan mama dan Papanya yang duduk di kursi depan mereka bertiga saat ini sedang berada didalam mobil menuju Bogor.


“kan belum kelihatan adiknya sayang, masih kecil soalnya” jawab Adiba dengan lembut.


“Gitu ya” pungkas Rafka.


“Sayang tadi dokter kan bilang katanya anak kita kalau nggak salah kembar tiga, tapi belum jelas benar itu benar nggak ya. Kalau kembar tiga busyet anak kita langsung empat dong” ucap Rendra membuka suaranya sambil sesekali melihat kearah istrinya itu.


“Semoga aja nggak deh mas, cukup nambah satu lagi aja. Kalau nambah tiga lagi kebanyakan mas” Adiba merasa kalau anaknya langsung nambah tiga itu menurutnya kebanyakan dan mereka pasti nanti kerepotan.


“Eh nggak boleh gitu, anak itu rezeki. Berapapun nanti anak kita itu di syukuri sayang, jangan ngeluh”


“tapi aku nggak ada keturunan kembar mas, masa aku bisa punya anak kembar. Tiga sekalian lagi, kan nggak masuk akal kita juga nggak program anak kembar”


“Nggak ada yang nggak masuk akal kalau tuhan sudah berkehendak sayang, udah kalau kamu misalnya beneran hamil anak kembar disyukuri aja” ucap Rendra berkata dengan begitu bijak dan menasehati istrinya.


“Mama hamil anak kembar? Kalau beneran rafka senang banget Ma. Nanti rafka langsung punya adik dua kan, berarti Rafka sama kayak Lintang yang punya adik dua” sahut bocah itu setelah mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya.


“Tuh kamu denger kan, Rafka pengen punya adik dua sekaligus. Mungkin ini cara tuhan menjawab keinginan Rafka saat ulang tahun dulu,” ucap Rendra mengingatkan Adiba pada keinginan anak mereka saat ulang tahun waktu itu.


Adiba hanya diam saja, sambil mengingat doa Rafka waktu itu.


“Apa mungkin ya, kalau memang benar ya sudah aku syukuri aja” gumam Adiba, meskipun terdengar lirih Rendra yang mengemudikan mobil disebelahnya langsung melihat kembali pada istrinya.


“Nah gitu dong, harus di syukuri apapun itu” pungkas Rendra.


“Iya suamiku, udah ah kamu fokus nyetir aja”


“Cie suamiku nih ye” goda Rendra.


“Apaan sih, nggak usah mulai deh kamu. ada Rafka kamu juga masih nyetir” ucap Adiba mengingatkan suaminya agar tidak menggodanya saat ini.


“Iya-iya sayang,” balas Rendra sambil tersenyum.


“Papa kapan kita sampainya?” tanya Rafka yang sudah mulai bosan sekarang.


“Sebentar lagi sampai sayang, sabar ya” jawab Rendra melihat kebelakang sekilas dimana anaknya yang duduk sendiri merasa bosan.


“rafka tidur saja dulu ya nak, nanti mama sama Papa bangunin kamu” pinta Adiba pada sang anak.


“Iya deh aku tidur” jawab bocah itu menuruti ucapan dari Mamanya, dia langsung membaringkan dirinya di belakang.

__ADS_1


...........................................


Tama akan berjalan masuk kedalam Lobby tetapi dia mendengar suara seseorang yang tengah marah-marah dari balik tembok.


“Mama kenapa sih nggak pernah ngertiin aku ma, aku cuman minta nomer papa kandung aku apa salahnya sih. Selama ini aku sudah nurutin Mama ya. Tapi apa suami Mama malah mengambil semua fasilitas yang Papaku berikan padaku” Kania tampak begitu emosi dengan mamanya sekarang.


“Aku tidak perduli soal Mama yang aku perduli kan milikku, ada hak apa Mama dan suamimu mengambilnya. Kau tidak tahu semenderita apa diriku sekarang, suamimu memblokir kartu atm ku. Kembalikan ma, kembalikan punyaku” kesal Kania berteriak saat dia tengah berbicara dengan sang Mama. Rasanya dia frustasi sendiri saat ini.


Fasilitas yang diberikan Papa kandungnya dulu telah diambil oleh Mamanya dan juga Papa tirinya, dia hanya diam waktu itu tapi kali ini sungguh keterlaluan bisa-bisanya suami Mamanya memblokir kartu atmnya membuat uangnya yang ada disitu tidak bisa diambil sama sekali.


Itu semua terjadi saat dia memutuskan pergi dari rumah Mamanya dan suami Mamanya, dia sudah tidak tahan tinggal di rumah itu yang selalu seenaknya dengannya. Bagaimana tidak orang tua dari Papa tirinya tidak menerima dirinya dan papa tirinya terhasut dengan mereka apalagi Mamanya yang menyebalkan itu.


“Dasar brengsek, aku benci dengan ibu sepertimu” Kania benar-benar marah dan dia langsung mematikan panggilannya sepihak.


Andai dulu dia sudah besar, ia tidak akan memilih untuk ikut Mamanya, dia akan ikut dengan Papanya. Tapi karena pengadilan yang memutuskan dia harus ikut siapa terpaksa membuatnya seperti ini sekarang. Dan komunikasinya dengan Papa kandungan begitu terbatas saat umur tujuh belas tahun dia di beri hadiah berupa mobil tapi apa mobil itu di ambil oleh saudara tirinya. Dan saat ini dia tidak tahu dimana Papanya karena Papa tirinya yang pencemburu itu memutuskan semua hubungan dengan Papanya alasannya agar mamanya tidak ada komunikasi dengan Papanya. Sungguh tak masuk akal untuk dipahami, kekanakan sekali batin Kania.


“Apa yang harus aku lakukan untuk membayar tempat kos ku saat ini, pria brengsek itu memblokir atm ku” ucap Kania, matanya berkaca-kaca memikirkan itu. dia pusing harus dapat uang darimana, kemarin gajinya dari perusahaan Rendra sudah habis dan karena dia keluar sendiri tidak ada uang pesangon. Sedangkan dari perusahaannya yang ini dia baru bekerja beberapa hari jadi belum di gaji.


“Andai aku tidak pindah ke perusahaan ini, bodoh kau Kania kau bodoh bagaimana bisa karena obsesi mu kau begini” kesalnya sesekali menghentakkan kakinya sebelum pergi, dia akan memikirkan cara lain agar mendapatkan uang untuk membayar tempat tinggalnya yang sekarang.


Tama langsung muncul dari tempat persembunyiannya, dia yang tadinya akan masuk langsung mendekat kearah Kania tanpa sepengetahuan perempuan itu dan dia bisa mendengar semua yang di bicarakan Kania dan seseorang yang tidak ia tahu yang jelas itu seperti mama dari Kania.


Tama hanya diam dan dia tampak memikirkan sesuatu, haruskah dia ikut campur dalam permasalah yang di hadapi Kania, tapi untuk apa dia ikut campur”


“entahlah itu bukan urusanku” gumam Tama melipat tangannya di dada dan langsung berjalan pergi masuk kedalam, dia tidak akan ikut campur urusan tentang Kania. Kania bukan siapa-siapanya jadi ia tidak perlu memberikan kepeduliannya pada bocah itu.


............................................


Mobil Rendra sudah sampai di tempat acara pernikahan Oki kakak dari Adiba, mobil itu berhenti diparkiran umum yang tak jauh dari rumah orang tua Adiba.


Adiba bisa mengingat dengan jelas daerah tempat dia di lahir kan ini, tempat dimana ada hal bahagia dan juga menyedihkan di tempat ini. beberapa kali Adiba terlihat menghela nafas panjang berusaha menguatkan dirinya saat mengingat kenangan masa lalu yang mulai amsuk di kepalanya, bayang-bayang ibunya yang menangis mengejarnya saat dia di usir untuk kedua kalinya jelas terputar diingatannya saat ini membuatnya begitu sedih mengingat moments terakhir ibunya tersebut.


“Sayang kenapa diem, ayo turun. Oh iya itu Rafka dibangunkan” ucap Rendra dan melihat kebelakang dirinya hampir lupa kalau anaknya sedang tidur dibelakang saat ini.


“Nggak pa-pa mas,” jawab Adiba lirih dan dia langsung melihat kebelakang berusaha membangunkan anaknya dengan cara menepuk pelan tubuh bocah itu.


“Sayang bangun nak, kita sudah samapi ayo turun” ucap Adiba lembut.


Rafka langsung membuka matanya perlahan, dia mendudukkan dirinya sambil melihat Papa Mama nya dengan wajah yang terlihat begitu mengantuk.


“udah sampai ma” ucapnya sambil mengucek mata.

__ADS_1


“Iya nak ayo turun” ucap Rendra dan mengajak sang anak turun.


Rendra langsung turun lebih dulu dan dia membuka pintu belakang dimana anaknya duduk, dia langsung menggendong anaknya itu yang tampak masih mengantuk.


Bocah kecil itu, menaruh kepalanya di bahu sang Papa sesekali matanya terpejam karena menahan kantuk.


Adiba langsung turun dari dalam mobil saat Rafka sudah digendong oleh Rendra, dia mengambil tas kecilnya yang ada di atas dasbor sambil mengganti sepatu heelsnya dengan sepatu flat yang barusan dibeli Rendra setelah dari rumah sakit tadi. Pria itu melarang dirinya mengenakan sepatu heels saat ini. mau tidak mau di harus menurutinya. Tapi sepatu Flat memang kesukaannya dari dulu, ia memang tidak menyukai heels. Ia memakai itu karena pekerjaan saja dan terbiasa.


“Sudah belum sayang” seru Rendra dari luar mobil.


“Sudah sebentar,” jawab Adiba dan membuka pintu mobilnya di mana dia bisa melihat Rendra yang sudah berdiri didepannya saat ini.


“Mas kita kesini untuk kondangan saja ya nggak usah lama-lama” pinta Adiba.


Rendra menggandeng Adiba dengan satu tangannya yang bebas sebelum menjawab ucapan dari istrinya itu.


“Kenapa cuman sebentar, ini kan acara kakak kamu. kamu nggak ingin lama-lama gitu sama mereka” heran Rendra.


“Bukannya aku mau lam-lama sama mereka, aku takut kalau aku malah bikin mereka malu. Pasti disini banyak rekan kerja ayah yang dateng. Aku nggak mau ayah malu karena diriku mas”


“kenapa kamu bilang begitu, nggak mungkinlah ayah kamu malu. Kenapa harus malu harusnya dia bangga sama kamu karena jadi orang sukses. Sudah yok nggak usah ingat masa lalu. Kita masu saja kedalam” ucap rendra dan langsung mengajak Adiba masuk dia tidak ingin berlama-lama di luar ia ingin agar istrinya tidak merasa bersalah lagi dengan masa lalu mereka dulu.


“Ini rumah kamu dulu?” tanya Rendra sat melihat sekeliling lingkungan itu,


“Iya ini rumahku tapi nggak kelihatan kan karena ketutup sama tenda-tenda, ya begini daerah rumahku tempat aku dilahirkan dulu”


“Masih sejuk, padahal ini sudah termasuk kota kan karena ini rumah pegawai pemerintah”


“Tapi menurutku ini sudah tidak sejuk lagi karena nggak ada ibu, lingkungannya juga sudah nggak alami kayak dulu mas” lirih Adiba dan dia kembali teringat dengan Ibunya.


Rendra yang merasakan perubahan suasana hati sang istri langsung mengeratkan genggamannya.


“Sudah nggak usah mikir masa lalu, ibu juga nggak mau kamu mikirin soak masa lalu kamu. ayo masuk ketemu ayah kamu sama kakak kamu, habis ini kita pulang ke hotel” ucap Rendra pada istrinya.


“Ke Hotel?”


“Iya ke Hotel, aku sudah menyewa hotel dekat sini, kita menginap disini semalam saja baru besok pulang. Kamu pasti capek pulang pergi Bogor Jakarta nggak baik buat kandungan kamu” tukas Rendra yang begitu memperhatikan kondisi istrinya, dia benar-benar harus menjadi suami yang siap siaga di kehamilan istrinya yang kedua ini sebagai penebus dosanya yang dulu yang tak bertanggung jawab sama sekali sebagai seorang ayah.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2