
Kania langsung terpaku saat melihat siapa yang beridiri di depannya, lebih tepatnya di dalam lif. Seorang pria yang dua bulan tidak ia temui tengah menatapnya tajam sambil seseklai melempar tatapan tak bersahabat pada kakaknya yang berada di sebelahnya saat ini.
Mata Tama terpaku melihtap perempuan yang sudah beberapa bulan tidak ia lihat, dan ia bimbangkan selama ini tengah berdiri didepannya dengan seornag pria bule. Mereka berdua terlihat begitu akrab bahkan tampak dekat layaknya sepasang kekasi. Sungguh dia tak suka saat melihat hal ini rasanya ia ingin menarik tangan Kania agar berdiri di sisinya.
“Woy, biasa aja. Ayo masuk buruan” Xavier membuyarkan lamunan Kania yang tengah menatap Tama.
“Iya,” sinis Kania dan melewati Tama begitu saja masuk kedalam lift menyusul kakaknya yang berjalan masuk.
Tama yang melangkah keluar lift hendak berbicara pada Kania langsung terdiam saat perempuan itu malah melewati dirinya dan seakan-akan tak kenal dengannya. Membuat Tama seketika langsung berbalik melihat kearah Kanai yang sudah masuk kedalam lift.
“Sorry, anda mau asuk lagi kedalam lift atau mau apa? kalau tidak ingin masuk tolong sedikit menyingkir. Aku buru-buru” ucap Xavier pada Tama dengan logat bule nya.
“Kau pura-pura tidak mengenalku setlah pergi beberapa bulan” tukas Tama sambil menatap Kania yang sedikit memberikan respon cuek terhadapnya
“kita perlu bicara?” Tama langsung menarik tangan Kania begitu saja membawanya pergi.
“Hoi, mau kau bawa kemana anak itu” seru Xavier yang langsung melihat arah kepergian Tama yang membawa adiknya.
...............................................
Adiba sedang pergi ke dapur untuk mengambil minum, rasanya tenggorokannya begitu kering saat ini. ia ingin sesuatu yang mampu menyegarkan tenggorokannya tersebut.
Saat dia akan menginjak ke dapur terdengar suara dari belakangnya membuat ia terpaksa menghentikan langkahnya tersebut.
“Non Adiba,” panggil salah sau asisten rumah tangga yang bekrja di rumah itu.
“Iya kenapa bi” jawab Adiba sambil menatap pegawainya itu.
“Ini tadi ada kurir dateng ngasih paket ini buat den Rendra” ucap Sekar asisten rumah tangga baru dirumah Adiba. Dia mengulurkan kiriman paket itu yang ada di dalam kardus pada Adiba.
“Buat Rendra bi?” heran Adiba sambil memeriksa alamat yang tertera di luar bingkisan itu.
Disitu tertulis nama serta alamat dari si pengirim, nama Gwen tertulis di situ dan berasal dari Amerika. Melihat nama perempuan yang tertera mengundang rasa penasaran di hati Adiba tentang isi paket tersebut.
__ADS_1
“Gwen, siapa Gwen? Dan ini apa isinya?” gumamnya smbil terus melihat isi paket tersebut.
“Kalau begitu saya permisi dulu bu” pamit Sekar setelah memberikan paket itu pada majikannya.
“Iya silahkan, Oh iya Sekar tolong buatkan saya jus mangga dan bawa ke kamar ya” perintah Adiba sambil berjalan membawa paket yang ditujukan untuk suaminya.
Lebih baik dia tidak usah membukanya, itu milik Rendra soal nama perempuan disitu mungkin kenalan Rendra dulu saat di Amerika. Ia harus berusaha untuk tak berpikir yang aneh-aneh hanya gara-gara masalah seperti ini.
“Mama,..” seru langkah kaki yang cepat disertai suara yang girang memanggil Adiba.
Adiba yang akan melangkah kearah tangga langsung terhenti saat mendengar panggilan itu. Rafka berlari kecil menghampiri dirinya sambi tersenyum girang.
“Eh anak Mama sudah pulang,” pungkas Adiba smabil berjalan menghampiri sang anak yang juga berjalan kearahnya.
Rafka langsung memeluk mamanya saat sang Mama merentangkan tangan kearahnya, dia memeluk Adiba dengan hangat.
“Anak Mama happy banget kayaknya, ada apa ini” ucap Adiba yang memeluk Rafka setelah dia menaruh paket yang dia pegang tadi di lantai.
“Happy dong Ma, karena Mama sama Papa dapat undangan buat ke sekolah Rafka. Mama sama Papa nanti dateng ya” tutur Rafka pada Mamanya.
“Disekolah Rafka ada lomba cerdas cermat, orang tua disuruh buat kesana. Ini dikasih undangan sama bu guru ma” pungkas rafka sambil membuka tas miliknya untuk mengambil undangan bagi orang tua yang telah di berikan bu gurunya tadi.
Adiba melihat undangan itu yang diberikan Rafka padanya,
“ini ma” ucap Rafka smabil memberikan kertas putih pada snag mama.
“Itu apa ma?” tanya Rafka saat matanya tak sengaja melihat sebuah kota yang terbungkus plastik warna hitam.
“Itu punya Papa, kamu ganti baju dulu sana sayang. Mama siapin makan dulu bua kamu” pungkas Adiba meminta sang anak untuk ganti baju lebih dulu.
“Siap Mama,”
“Mama, nanti aku boleh main ke taman sama Om Emy?” tanya Rafka sebelu pergi.
__ADS_1
“ke Tama sama Om kamu, bukannya Om Jeremy sibuk. Nggak usah dulu ya sayang, dirumah aja. Nanti kalau Papa pulang cariin Rafka gimana” tukas Adiba apda sang anak.
“Om Emy yang ngajak ma, boleh ya” rengek Rafka.
“Nggak dulu ya sayang, kamu dirumah aja.” Ucap Adiba tak mengijinkan anaknya pergi dengan Jeremy, dia tahu alsanan adik iparnya itu apa mengajak anaknya. Tentu saja sebagai tameng agar bisa berkencan.
“Ya udah deh kalau nggak boleh” pungkas Rafka sambil cemberut. Padahal dia juga ingin bermain, tapi apa boleh buat sang mama tak mengijinkannya. Bocah enam tahun itu melangkah berat meninggalkan sang mama yang hanya diam sambil melihatnya dengan rasa bersalah
................................................................
“Apa-apa sih kak, lepasin nggak” ucap Kania yang memberontak saat di dorong masuk ke apartemen Tama.
Tama hanay diam saja sambil mengunci pitu apartemennya saat ini, dan dia langsung berbalik menghadap kania yang berusaha untuk membuka kembali pintu apartemen itu.
“Bisa diam tidak Kania, kalau kau masih terus saja ingin pergi. Lihat apa yang aku akan lakukan padamu” tukas Tama mengancam perempuan itu.
“Apaan sih tukang ngancem, aku mau pergi buka nggak” tegas Kania yang tak takut dengan ancaman Tama barusan.
Tama langsu mencengkram tangan Kania dan menghimpitnya kepintu dnegan kedua tangan Kania yang terkunci di sisi kanan dan kirinya karena cengkraman Tama.
“Ka..kak Tama mau apa hah” pungkas Kania sedikit gugup dengan hal itu.
“Kau dua bulan menghilang tidak ada kabar sama sekali, dan apa tadi kau pulang-pulangs ekaan tak mengenalku” sinis Tama menatap mata Kania dengan tajam.
“Siapa laki-laki yang bersama mu tadi” tukas Tama menuntut Kania untuk jujur.
“Bukan urusanmu, dia siapaku. Dan kalau aku tak ada kabr juga apa rugiya buat kak Tama” tukas Adiba pada pria didepannya.
“Oke, memang bukan urusanku. Tapi sekarang bakal menjadi urusanku segala tentangmu” ucap tama dan langsung mencium Kania dengan decapan yang menuntut. Menerima itu membuat Kania syok dan berusaha melepaskan ciuman Tama tapi dia tak ampu melakukannya karena Tama semakin menuntut saja bahkan ******* habis bibirnya. Dia saat ini hanya bisa menerimanya saja dan merasakan ciuman itu yang membuat dirinya mulai menikmatinya.
°°°
T. B. C
__ADS_1
P. s: Maaf buat Readers setiaku yang sudah nunggu lama kelanjutan novel ini. Kemarin author memang hiatus sementara karena ada urusan di dunia nyata jadi tolong maklum ya. Bukannya author nggak mau lanjutin atau gimn tapi karena memang ada urusan. Jadi mohon maaf buat kalian yang sudah nunggu lama. Terimakasih 🙏