
“Kak istrimu tadi menyuruh Rafka memanggil orang yang dia maksud tadi Daddy, kau tidak marah?” bisik Jeremy di telinga Rendra.
“Nggak untuk apa marah,” jawab Rendra singkat dan kembali melihat laptopnya yang ada di meja depannya sedangkan Adiba duduk di sofa bersama dengan Rafka.
“You’re Kidding” Jeremy tak percaya mendengar perkataan kakaknya tersebut.
“yes” sungut Rendra melihat jengah Jeremy yang terus mengganggu dirinya menyelesaikan pekerjaannya.
“Are you my brother? Tidak mungkin kau kakakku tumben kau tidak cemburu”
“bisa kau pergi, makan-makananmu sana atau pergi dari ruangan ku” tegas Rendra dan membalikkan kursinya menatap adiknya yang terus mengganggu konsentrasinya.
“Ada apa mas,” tukas Adiba saat melihat Rendra yang menghentak kursi menatap kesal pada Jeremy.
“Nggak,” lirih Rendra.
“Sudah cinta mati nih kayaknya, oke bye” pungkas Jeremy langsung berjalan pergi meninggalkan kakaknya yang kesal dengannya.
“Om Emy pizza-nya dimakan tidak? Kalau tidak buat Rafka ya?” ucap bocah enam tahun pada Omnya.
“enak aja, itu bagian Om. Mau Om makan” ucap jeremy dan langsung cepat duduk di sofa bersama kakak iparnya dan keponakannya itu.
“kakak ipar, kau hebat bisa menaklukkan orang gila itu” lanjut Jeremy berbicara pada Adiba.
Adiba tak mengerti sembari melihat kearah Rendra yang menatap kearah mereka berdua,
“kakakmu tadi bicara apa denganmu?” tanya Adiba yang penasaran beralih melihat kerah Jeremy yang duduk satu sofa dengannya.
“Tidak ada” jawab Jeremy singkat sambil memakan potongan Pizza.
“kalau tidak ada kenapa kau bilang begitu padaku,” heran Adiba yang merasa aneh dengan pujian Jeremy padanya.
“Ya hanya memuji saja, memang salah kalau aku memuji mu” pungkas Jeremy.
Adiba menggeleng tanda dia tidak masalah soal itu,.
“Tidak kan ya sudah” ucap Jeremy dan makan Pizza-nya dengan lahap.
“Buruan di habiskan, habis ini kita pulang” pungkas Rendra pada keduanya.
“Kamu nggak makan sayang” ucap Adiba.
“Nggak, aku sudah kenyang” jawab Rendra dan langsung kembali fokus pada apa yang dia kerjakan.
.............................................
Tama berada di apartemen Pram saat ini, dia duduk di sofa sambil melihat-lihat sekeliling tempatnya berada. Pram yang duduk di sampingnya sedari tadi hanya diam saja, pria itu tidak banyak bicara sama sekali sedangkan Ana sedang berada di dapur membuatkan minuman untuk mereka berdua.
“Pram nanti kau ikut denganku bisa?” ucap Tama yang membuka suaranya membuat Pram mendongak menatap pria itu.
“Kau mau mengajakku kemana?” tanya Pram.
“Menemui adikku yang lain, kau tahu kan siapa dia?” ucap Tama.
“sahabat Tere dulu, perempuan hamil itu?” pungkas Pram mencoba mengingat soal dulu dimana dia di ajak oleh Tere ke Surabaya menemui perempuan hamil. Dan di sana Tere bilang kalau perempuan itu sudah dianggap adik juga oleh Tama.
“Iya, namanya Adiba kau masih ingat?”
__ADS_1
“Iya, lalu kondisinya sekarang bagaimana perempuan itu. masih seperti dulu begitu menyedihkan”
“dia sudah bahagia sekarang. Aku harap kau bisa seperti itu juga bangkit dari lukamu yang mendalam” Tama berusaha berbicara cukup lembut dia begitu ingin Pram kembali menjadi dirinya yang dulu.
Pram hanya tersenyum saat Tama memintanya untuk bahagia menghapus masa lalunya yang entahlah mengingatnya saja seakan hidupnya begitu hancur dan tak sanggup hidup lagi. Penguatnya selama ini hanya Tere tapi Tere pergi meninggalkannya di depan matanya sendiri.
“Pram.” Ucap Tama menepuk bahu Pram membuat pria itu seketika langsung tersadar.
“Kau kenapa? Ada yang sakit? Aku panggilkan Ana agar memeriksa mu?” ucap Tama terlihat mencemaskan pria itu.
“Tidak, aku baik-baik saja.”
“Maaf tuan saya lama, diminum tehnya” ucap Ana yang baru saja datang dan menaruh secangkir teh di depan Tama dan juga Pram.
“Terimakasih AN” ucap Tama dan juga Pram bersamaan.
“Sama-sama Tuan” jawab Ana
“Kalau begitu saya permisi ke dapur dulu” pamit Ana dan dia langsung berjalan kembali ke dapur saat kedua pra itu mengangguk
................................................
Rendra dan Adiba sedang berjalan-jalan di mal saat ini, tangan Rendra menggandeng putranya dan begitu juga tangan Adiba yang menggandeng tangan sang anak.
Rafka tampak senang kedua tangannya di gandeng hangat oleh kedua orang tuanya saat ini, mereka berjalan bertiga mengelilingi mall untuk melihat-lihat baju dan beberapa mainan.
“Rafka mau digendong Papa atau mau jalan lagi?” tanya Rendra menghentikan langkahnya dan melihat sang anak.
“gendong,” jawab Rafka manja
“Memang kapan aku punya adik Pa?”
“Itu tanya Mama kapan Mama hamilnya?” tukas Rendra sambil menatap sang istrinya.
“Ya aku nggak tahu mas, hamil itu kan rezeki dan sedikasihnya sama yang di atas aneh deh kamu” ucap Adiba yang terlihat kesal.
“Ya siapa tahu kamu sekarang sudah hamil tapi nggak bilang”
“Ya bilang lah, masa aku nggak bilang aneh deh kamu”
Rafka hanya melihat perdebatan-perdebatan kecil kedua orang tuanya itu, dia tidak terlalu mengerti dengan dua orang dewasa tersebut yang merupakan kedua orang tuanya.
“Udah sini nggak usah kesel gitu,” ucap Rendra langsung menggandeng tangan istrinya dnegan satu tangannya.
“kamu mau kemana?” tambahnya menatap sang istri.
“Nggak pengen keman-mana sih, memang mau kemana?” balas Adiba bingung memikirkan kemana lagi mereka harus pergi.
“Rafka mau kemana sayang, beli mainan mau?” ucap Rendra bertanya pada sang anak.
“Nggak ah, Rafka nggak mau. aku mau pulang Papa,” jawab bocah itu.
“Tuh anak kamu mau pulang, pulang aja yuk. Tama juga nggak dateng-dateng kan?” ucap Rendra mengajak pulang Adiba.
“nanti dong mas, kan udah janjian sama bang Tama. Tunggu sebentar lagi ya, kita tunggu di cafe tempat kita janjian gimana. Bentar aja,” ucap Adiba berusaha membujuk suaminya agar mau.
“Tapi aku kasih hadiah baru mau”
__ADS_1
“Apa?”
“Yang biasanya dia ranjang,”
“Mas, kalau ngomong didepan anak jangan begitu.” Tegur Rendra.
“Rafka nggak tahulah maksudnya?”
“memang maksudnya apa pa” tanya bocah itu yang langsung membuat gelagapan Adiba.
“hehehe nggak kok sayang”
Adiba langsung mendekat pada Rendra dan dia memberikan kecupan di pipi Rendra,
“Itu sudah, mau ya mas tunggu bentar aja” ucap Adiba dan langsung mendempet pada Rendra dan bersikap manja pada pria itu.
Rendra tersenyum simpul mendapatkan hal itu,
“Oke, kita tunggu bentar saja” ucap Rendra dan dia langsung berjalan sambil menggendong anaknya tak lupa dia melempar senyum lebih dahulu pada istrinya yang dia tinggal berjalan sendiri.
“Loh kok aku ditinggal mas,” ucap Adiba yang sudah mengulurkan tangannya ingin di gandeng malah di tinggal sendiri.
“Jalan sendiri lah sayang, mau mas gandeng ya” ucap Rendra menggoda Adiba.
“Iishh” sungut Adiba dan berjalan cepat menyusul suaminya yang tengah menggoda dirinya saat ini.
...........................................
“Maaf ya sudah nunggu kita lama?” ucap Tama yang baru saja datang bersama dengan Pram mengambil duduk di depan Rendra dan juga Adiba.
“Iya bang nggak pa-pa kok” jawab Adiba mendahului suaminya, dia takut kalau Rendra duluan yang berbicara malah ngegas duluan.
Rendra melihat kearah istrinya kesal, karena ucapannya di srobot begitu saja.
“Rendra tidak apa-apa kan? kita bertemu begini?” tanya Tama pada Rendra, dia sungguh tidak mau menjadi maslaah diantara Rendra dan juga Adiba.
“tidak apa-apa” jawab Rendra.
“Hai Rafka,” sapa Tama pada Rafka yang duduk dipangkuan Rendra.
“Hai juga daddy,” balas rafka girang.
Berbeda dengan Tama dan juga Pram yang membelalakkan matanya, apalagi Pram yang langsung menatap pada Tama dia tak mengerti mengapa bocah itu memanggil Tama sebagai daddy.
“Dad..daddy?” ucap Tama terbata sambil memperhatikan Adiba dan juga Rendra.
“Iya, Mama bilang daddy”
“Iya bang, bukannya bang Tama ingin dipanggil Rafka Daddy, makanya aku bilang pada dia untuk memanggil abang Daddy” jelas Adiba pada tama.
Tama langsung melihat Rendra yang seakan tak peduli pria itu tampak memainkan jari anaknya tanpa melihat dirinya.
Rendra memang sedari tadi hanay cuek saja tidak menggubris masalah itu, mau bagaimana lagi Adiba yang menginginkannya. Selagi itu tidak mengancam posisinya maka dia akan menerima begitu saja.
°°°
T.B.C
__ADS_1