CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 77


__ADS_3

Rendra sedang berada di kantornya, dia melihat kearah meja Adiba yang kosong, kini ruangannya terasa sepi tidak ada istrinya tapi mau bagaimana lagi. Itu keputusannya menyuruh sang istri untuk tidak bekerja, semua itu demi anak mereka dan program anak kedua mereka nantinya.


“Apa sebaiknya meja Adiba aku keluarkan saja?” ucapnya sambil memikirkan hal itu.


“Iya, aku keluarkan saja mejanya” lanjutnya kemudian,


Rendra langsung mengambil telpon kantor dan menekan beberapa angka yang ada di situ.


“Halo Tika, tolong suruh orang yang bekerja di bagian kebersihan untuk datang keruangan ku sekarang” perintah Rendra pada salah satu karyawannya.


Tidak ingin berlama-lama, saat mendengar jawaban dari karyawannya itu Rendra langsung mematikannya begitu saja dan dia kembali fokus dengan pekerjaannya tapi kegiatannya terpaksa harus terhenti karena ponselnya yang kini berbunyi.


“Papa, kenapa dia?” gumam Rendra saat melihat nama Papanya tertera di layar ponsel itu.


“Halo,” jawabnya tanpa menunggu lama, kalau dia berlama-lama bisa-bisa Papanya itu mengomelinya tanpa henti.


“Kau dimana sekarang?” tanya Frans diseberang sana.


“aku di kantor lah pa dimana lagi”


“Bagaimana bisa kamu di kantor, kau lupa hari ini kamu dan Adiba mau kemana?” ucap Frans dengan tegas.


“Aku sama Adiba nggak mau kemana-mana, aneh Papa nih”


“Kau belum setua Papa tapi kau sudah pelupa ya, kau lupa kalau besok kakak ipar mu mau nikah. Bukannya kau disuruh ke bogor hari ini”


“Pa, aku sama Adiba nggak lupa. Tapi nggak ada yang kasih tahu ke Kita kalau kakaknya Adiba menikah besok”


“Masa mereka tidak memberitahumu, tapi mereka memberitahu Papa. Mereka tanya kenapa kamu belum datang ke rumah mereka hari ini” ucap Frans.


“Serius Pa, mereka nggak bilang apa-apa waktu ketemu beberapa waktu lalu. Masa mereka tanya begitu sama Papa?”


“Iya, makanya Papa langsug telpon kamu”


“Asli itu orang, siapa yang nelpon Papa. Papanya Adiba?”


“Iya siapa lagi”


“maksudnya dia apa sih, asli Pa mereka nggak ada omongan apa-apa sama kita berdua. Cuman bilang kalau Oki mau nikah dan dia nggak bilang kapan nikahnya” Rendra tak habis pikir dengan pemikiran Ayah Adiba bagaimana bisa dia tidak bilang apa-apa padanya tapi bilang pada Papanya. Ini namanya kan mengadu domba.


“Ya sudah kalau begitu, besok atau nanti kau pergi ke Bogor atang ke pernikahan kakak ipar mu. Ya sudah Papa matikan, Papa mau ketemu client Papa yang di malang” ucap frans dan langsung mematikan panggilannya.


Rendra menaruh ponselnya dengan keras di meja, dia kesal bagaimana bisa ayah mertuanya seperti itu.


“Itu orang maksudnya apa, anak sendiri tidak di beritahu tapi malah menelpon papaku” heran rendra sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Daripada pusing memikirkan ayah mertuanya yang seperti itu lebih baik dia mengerjakan pekerjaannya saat ini.


..........................................................


Adiba menuruni tangga sambil melihat kanan kiri, rumah terasa sepi karena mertuanya pergi ke luar kota sedangkan Jeremy entah pergi kemana sedari tadi dia belum pulang dan rafka belum jam pulang sekolah.


“ternyata sepi juga ya, berarti Rafka kalau di rumah ya begini kesepian. Kasihan kamu nak” gumam Adiba sambil memikirkan anaknya. Dia membayangkan saat-saat rafka di rumah sendiri dan hanya ada pengasuh di rumah.


“Bibi masak apa ya, aku tadi lupa mau membantunya” ucap Adiba saat dia mencium bau harum dari dapur.

__ADS_1


Perlahan langkahnya berjalan menuju dapur saat ini untuk melihat asisten rumah tangganya itu sedang memasak apa sampai baunya harum begini.


Belum juga dia melangkah ke dapur ponsel yang ada di genggamannya bergetar membuatnya berhenti melangkah saat ini dan langsung melihat kearah ponsel yang ada di tangannya itu.


Nama My husband tertera di layar utama, itu artinya Rendra yang menghubungi dirinya saat ini.


“Iya halo mas,” ucap Adiba saat mengangkat panggilan tersebut.


“Halo sayang, kamu sedang apa?” tanya Rendra di seberang sana.


“Aku baru mau ke dapur lihat bibi, kenapa?” tanya Adiba balik. Dia kini mengurungkan niatnya untuk ke dapur dan malah duduk di sofa mengobrol dengan suaminya.


“Ayah kamu ada ngomong sesuatu sama kamu nggak, kasih kabar atau apa?” tanya Rendra


“Ayah aku?” heran Adiba mengernyitkan dahinya.


“Iya,.”


“Ayah ku nggak pernah nelpon atau ngomong apa-apa sama aku mas, memang kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu” tanya Adiba balik.


“Nggak, tadi tuh kata Papa ayah kamu nelpon dia. terus ayah kamu bilang kok kita nggak ke Bogor padahal kan kakak kamu mau nikah besok”


“Hah, mbak Oki nikah besok. Nggak ada yang kasih kabar nih mas, beberapa waktu lalau juga bak Oki nggak bilang kaan nikahnya” Adiba begitu terkejut kalau kakaknya itu besok akan menikah. Karena waktu itu saat dia tanya kapan acara itu dilaksanakan mereka bilang nanti di kabari dan tidak bilang apa-apa lagi.


“Tuh kan mereka aja nggak bilang ke kita, tapi kenapa bilang ke papa. Aneh deh ayah kamu sayang, bukan ayah kamu aja tapi kakak kamu. mereka masih nganggap kita nggak sih” Rendra terlihat kesal dengan hal itu, bagaimana bisa ayah dan kakak Adiba bersikap begitu.


“Udahlah mas nggak usah dipikir, bukannya kamu sendiri yang bilang sama aku nggak usah mikirin soal keluarga aku. Mungkin mereka ngerasa nggak dekat aja sama aku, karena beberapa tahu nggak pernah ketemu” ucap Adiba mencoba untuk berpikir positif soal hal itu.


“Hemmm”


“Belum mas, mungkin sebentar lagi”


“Kok belum pulang ini sudah siang loh sayang, masa anak TK pulangnya siang”


“Rafka lagi latihan buat acara perpisahan dia di TK mas, kan bentar lagi dia masuk SD. Tadi gurunya juga sudah nelpon aku”


“Oh, ya udah kalau gitu. Eh bentar sayang kesepian nggak dirumah nggak ada aku?”


“Biasa aja,”


“masa, biasanya kan kita berdua di kantor berduaan terus sekarang kamu sendiri hehehe, kalau kesepian bilang aja nanti aku pulang buat kamu” canda Rendra diseberang sana.


“Nggak usah, aku biasa aja tuh. Kamu kerja aja mas,”


“Nggak asik suaminya bercanda nanggepinnya serius”


“Ya habisnya kamu,” kesal Adiba.


“Sudah makan siang belum mas?” tanya Adiba mengalihkan pembicaraan.


“Ini lagi nunggu makanan, kamu belum makan siang kan. sana makan siang dulu, aku matikan ya?”


“Iya, Bye” ucap Adiba dan dia memberikan kecupan dari jauh tanpa diminta.


“Aku barusan ngapain” ucapnya tanpa saat menyadari apa yang dia lakukan barusan. Bisa-bisanya dia memberikan kecupan dari jauh untuk suaminya.

__ADS_1


“Rendra pasti nanti menggodaku, bodoh kamu Adiba. Kenapa aku jadi begini pengen ngungkapin cinta terus” herannya pada diri sendiri yang menurutnya beda dari biasanya. Dia langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju dapur, dia lapar sekali rasanya perutnya terus berbunyi padahal dia tadi pagi setelah mengecek dirinya hamil atau tidak dia langsung ngemil di kamar tapi perutnya terasa belum terisi sama sekali.


..............................................


Waktu sudah sore, dan Rendra baru saja sampai di rumah. dia menenteng koper keja di tangannya berjalan masuk kedalam. Dan saat melangkah dia bisa mendengar anaknya tengah bercanda dengan seseorang sampai tertawa cekikikan di ruang tengah.


“Hahahaha, Mama OM Emy nggak mau berhenti gelitikkin aku” adu Rafka pada Mamanya yang duduk di sofa yang lain tengah menonton Tv.


“Hahaha ngadu nih ye,” ucap Jeremy mengejek keponakannya yang dia pegangi agar tidak berlari ke Mamanya.


“Biarin Om Emy juga sering ngadu sama Om kalau lagi berantem sama Papa” sungut Rafka tak mau kalah dengan Omnya yang mengejek dirinya.


“Nih anak pinter banget jawabnya” kesal Jeremy,


Adiba hanya tertawa melihat perdebatan Om dan keponakan tersebut,


“Ya pinter lah anak gue memang lo,” ucap Rendra yang akhirnya membuka suara setelah melihatnya beberapa menit.


“Tuh bokap lo pulang, udah ah aku ke kamar aja. Males ada tuh orang, aku pergi kakak ipar” ucap Jeremy langsung melepaskan pelukannya pada Rafka dan langsung berdiri dari duduknya saat ini saat melihat kakaknya yang sudah pulang.


Lebih baik dia pergi keatas daripada jadi kambing congek diantara keluarga kecil itu,


“Kamu sudah pulang mas,” tanya Adiba langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri sang suami. Tanpa diduga dia langsung memeluk Rendra begitu saja membuat Rendra terperangah dnegan apa yang dilakukan istrinya tidak biasanya Adiba begini.


“Tumben nih main peluk” ucapnya membalas pelukan dari istrinya.


“Aduh, nggak usah romantis-romantisan depan anak kecil” cibir Jeremy.


“Ayo Rafka ikut Om aja keatas” ajak Jeremy pada bocah itu, dia tidak rela keponakannya yang polos tercemar oleh ulah orang tua dari bocah itu.


“Ngga mau, aku mau sama Papa Mama” tolak Rafka dan berlari menghampiri Papa dan mamanya yang masih berpelukan. Dia sendiri juga langsung memeluk kedua orang tuanya.


“Eh anak papa juga mau peluk ya” ucap Rendra.


Mendengar apa yang dia katakan Rendra barusan Adiba langsung melepaskan pelukannya pada Rendra dan melihat Rafka yang memeluk lututnya saat ini.


“Iya Rafka juga mau dipeluk” ucap bocah itu.


“Ini sayang bawakan dulu koperku” ucap Rendra sambil menyerahkan kopernya pada Adiba dan dia langsung menggendong Rafka yang memeluk lututnya dan juga lutut Adiba.


“Ayo ke kamar mas,” ajak Adiba pada suaminya.


“Ayo, aku juga mau nagih janji kamu tadi pagi” ucap Rendra sambil tersenyum.


“janji..?” ucap Adiba dan beberapa detik kemudian dia terbelalak benar dia ada janji pada Rendra kalau akan melayani suaminya itu.


“Ya udah ayok, tapi kamu mandi dulu baru aku mau” ucap Adiba dan berjalan lebih dulu.


Rafka hanya melihat saja kedua orang tuanya bergantian, dia menatap papanya yang tengah menggendongnya saat ini.


“Papa kenapa senyum-senyum” tanya bocah itu menatap Papanya yang tersenyum sendiri padahal Mamanya sudah pergi dari hadapan mereka.


“hehehe nggak pa-pa sayang” jawabnya dan langsung berjalan pergi mengikuti istrinya yang sudah lebih dulu menaiki tangga.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2