
“Kau..” ucap Jeremy sambil menunjuk kearah tamu kakaknya, dia sedikit terkejut karena temannya datang ke rumah kakaknya.
“Kau, kau ngapain disini?” tukas Kania yang sama terkejutnya saat melihat Jeremy ada di rumah Adiba.
“Ya kenapa, ini rumah kakak gue” sungut jeremy.
“Oh iya, lupa gue” ucap Kania yang menepuk jidatnya sendiri.
Tama yang melihat itu sesekali melihat kearah pria yang seumuran dnegan kania dan juga Kania yang terlihat baisa saja dan tampak saling kenal. Bagaimana bisa Kania mengenal pria didepannya.
“Bang Tama,” ucap Adiba dan membuat pandangan Tama beralih pada perempuan yang berada di depannya.
“Maaf ya ke sorean abang dateng nya” ucap Tama sambil sedikit menyenggol Kania agar berjalan mendekat kearah Adiba.
“Ngga pa-pa kok bang, sini duduk dulu. loh kok bang Tama bisa kenal dnegan Kania?” tanya Adiba sedikit terkejut saat melihat mantan rekan kerjanya datang bersama dengan Tama.
“Nanti abang ceritakan,” jawab Tama yang belum ingin bicara apapun.
“Apa kabar ren,” sapa Tama kemudian pada Rendra yang langsung berdiri disebelah Adiba.
“Baik, aku kira aku tak dianggap disini” cibir Rendra, dan langsung dicubit oleh Adiba.
“hehe aku hanay bercanda” ucap Rendra lagi sambil tersenyum yang dipaksakan.
“Silahkan duduk Tam, Kania” uap Rendra kemudian meminta tamunya untuk duduk.
“Iya, Rafka dimana? Ini aku belikan hotdog dan juga mainan untuknya” ucap Jeremy menanyakan keberadaan Rafka.
“Dia di atas bang, mungkin tidur” jawab Adiba.
“Oh,” ucap Tama dan langsung duduk.
“Woy, kenapa lo kesini? Belum lo jawab pertanyaan gue tadi?” tanya Jeremy yang sedikit menyenggol bahu Kania yang akan duduk.
“Apaan sih senggol, senggol” sungut Kania pada Jeremy. Mereka berdua memang selalu begitu berteman tapi terkadang saling senggol.
Tama yang sudah duduk langsung menarik tangan Kania, membuat perempuan itu langsung terduduk disebelahnya.
“Apaan sih kak” bisik kania ditelinga Tama.
“Duduk,” tukas Tama.
“Sana Jer, keatas lihat Rafka tidur atau nggak. Kalau nggak suruh turun kebawah” perintah Rendra pada adiknya.
“Hemm nyebelin banget, woy nanti lagi ya. Oh iya gimana, kemarin sudah lo berikan sama orang yang bikin lo kesal” ucap Jeremy sebelum pergi.
Kania langsung menaruh jari telunjuknya didepan mulut saat ini agar Jeremy tak berbicara yang aneh-aneh. Tentu saja itu tak lepas dari penglihatan Tama.
“Buruan Jer” perintah Rendra.
“Iya-iya” ucap jeremy dan langsung pergi.
“Maaf ya memang adikku agak miring, Kania pasti tahu dia seperti apa” ucap Renda menatap pada Tama.
“Iya tidak apa-apa”
__ADS_1
“Bang Tama kenal sama Kania? Makanya diajak kesini?” tanya Adiba menatap pria yang sudah ia anggap kakak.
‘Iya dia kerja di kantorku sekarang, dan dia juga calon istriku sekarang” jelas Tama pada Adiba.
“Apa calon istri?” ucap Rendra dan Adiba bersamaan. mereka berdua sama-sama terkejut mendengarnya.
“Kenapa kalian terkejut?” tanya Tama pada sepasang suami istri itu.
“Tidak apa-apa” jawab Rendra menggeleng.
Sedangkan Adiba melihat kearah Kania yang tersenyum kikuk, entah ini benar atau tidak. Tapi kalau benar syukurlah tama sudah menemukan orang yang pas untuknya. Dia juga bersyukur Tama tidak akan kesepian lagi,.
“Serius Kania, kamu calon istrinya bang tama?” tanya Adiba yang entah kenapa dia tidak yakin.
“I..iya” jawab Kania sedikit terbata sambil melihat kearah Tama yang melihatnya.
“Syukurlah kalau kau memang calon istri Tama” ucap rendra yang entah merasa lega, karena dia tidak akan ada saingan dan banyak pikiran saat Tama bertemu istrinya.
“Abang lihat kamu gemuk kan Dib, makmur sepertinya” ucap Tama pada Adiba yang duduk disebelah Rendra.
“Masa sih bang” tanya Adiba balik sambil memegang kedua pipinya.
“Iya, Rendra kayaknya bikin kamu bahagia. Makasih ya Ren, sudah membuat Adiba bahagia” ucap Tama pada Rendra.
“Ya harus, seorang suami kan harus membuat istrinya bahagia” jawab Rendra.
Kania hanya bisa membuang muka saat Tama berbasa-basi, dia tahu tama seperti apa. jadi mana mungkin dia mengatakan itu dengan tulus.
“Aku gemuk juga mungkin karena aku hamil bang, jadi begini” ucap Adiba.
“Hamil? Kamu hamil lagi?” tanya Tama yang sedikit terkejut mendengarnya.
“Oh, selamat buat kalian. Aku ikut senang mendengarnya, apalagi anak kalian kembar, rafka semakin banyak teman di rumah” pungkas Tama memberikan ucapan selamat pada keduanya.
“Iya terimakasih bang” ucap Adiba dan juga Rendra bersamaan.
“Oh iya bang Tama, kania kalian mau minum apa?” tanya Adiba pada tamu mereka.
“Apa aja?” jawab Tama.
“Ya udah air putih aja sayang” ucap Rendra.
“Ya nggak gitu juga dong pak bos, masa tamu dikasih air putih” sahut Kania pada Rendra.
“Ya kata calon suami kamu apa aja, ya udah air putih” pungkas Rendra.
“Mas jangan gitu ah sama tamu” tegur Adiba.
“Aku bercanda sayang,”
“Maaf Tama , aku bercanda” lanjut Rendra.
“Iya aku tahu, santai saja”
“Ya sudah aku ke dapur sebentar buat bilang sama Bi Jumi” ucap Adiba yang langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
.............................................
Tama dan Kania saat ini baru pulang dari rumah Rendra, mereka hanya saling diam saja didalam mobil tak ada yang memulai pembicaraan satu sama lain. Tetapi sedari tadi tama sesekali mencuri pandang pada perempuan yang duduk disebelahnya itu.
“Kau kenalan dengan adiknya Rendra?” tanya tama yang tiba-tiba menanyakan hal itu pada Kania.
“kenapa memang kalau aku kenal?” bukannya menjawab Kania malah balik bertanya.
“Aku yang bertanya kenapa kau yang malah balik bertanya padaku?” tukas Tama seakan tidak ingin ditanya balik oleh Kania.
“Ya memang kenapa kalau aku tanya balik, makanya kalau kak Tama nggak suka aku tanya nggak suah tanya-tanya urusan pribadiku” pungkas Kania dengan menohok.
Tama terdiam sesaat dan tiba-tiba saja dia meminggirkan mobilnya saat ini.
“kenapa malah berhenti, ayo pulang aku capek” tukas Kania menatap aneh Tama.
“Jawab dulu, kau kenal dengan Jeremy?”
“Kenapa sih kepo banget urusanku?”
“Tentu aku kepo, kau tinggal di apartemenku sekarang dan kau karyawan ku. Jadi wajar aku kepo tentang hidupmu, kalau kau ada masalah siapa yang kena?”
“dia temanku dulu di LA, kenapa? Puas kak?” jawab Kania menatap tak suka pada Tama saat ini.
“Bohong, kenapa aku tidak pernah melihatnya dulu”
“Ya mana ku tahu kau tidak pernah melihatnya, yang jelas aku tidak bohong puas” kesal Kania saat Tama tak mempercayai dirinya tentang Jeremy.
“Ayo pulang, aku sudah menjawabnya kan, kaka tanya-tanya begini padaku kenapa? Cemburu? Kalau cemburu bilang. Dan tidak usah khawatir soal Jeremy yang menyukaiku atau tidak. Dia sudah ada pacar mengerti”
“Siapa juga yang cemburu, bocah sepertimu untuk apa aku cemburui.” Tukas Tama dan menyalakan mobilnya kembali.
“Kalau ngomong nggak suah pedes bisa nggak sih, nyakit tahu nggak” dengus Kaia menatap sebal pada Tama.
Tama diam dan memperhatikan wajah Kania yang terlihat sedih, bahkan sedikit berkaca-kaca. Perempuan itu langsung memalingkan wajahnya saat dia melihatnya.
“Aku minta maaf,” ucap tama sambil memegang wajah Kania saat ini.
Seketika Kania langsung melihat kearah Tama yang tiba-tiba saja memegang wajahnya, hal itu membuat wajahnya tampak merah saat ini.
“Aku minta maaf kalau aku menyakitimu, kata-kataku memang pedas jadi aku minta maaf. Dan tolong terbiasa lah dnegan itu” uap tama sedikit lirih dan dia langsung melepaskan tangannya dari wajah Kania. Tama kembali fokus untuk menjalankan mobilnya kembali saat ini.
Dalam hatinya merutuki dirinya sendiri kenapa dia selalu berbicara ketus pada Kania, dan kenapa juga tadi dia menanyakan tentang hubungan Kania dan Jeremy.
“Bodoh kamu Tama, bodoh, kamu malah semakin membuat anak orang berharap padamu” runtuk tama didalam hatinya, ia sesekali melihat Kanai yang terus menatapnya sedari tadi.
“kenapa?” tanya Tama saat menyadari itu.
“Kakak serius tidak pernah menyukaiku?” tanya Kania menatap serius wajah pria didepannya.
“Ya,” jawab Tama yakin.
Tiba-tiba saja Kania mendekatkan wajahnya pada Tama dan menciumnya begitu saja, tama terdiam ditempatnya saat ini. terpaku akan ciuman tersebut. Tapi bukannya menghindar Tama malah ******* bibir Kania saat perempuan itu akan melepaskan ciumannya.
Kania sendiri terbelalak karena Tama membalas ciumannya bahkan **********, Kania yang hanyut dnegan ciuman itu memejamkan matanya merasakan ciuman manis Tama.
__ADS_1
°°°
T.B.C