CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 56


__ADS_3

Saat ini Frans dan juga Rama beserta yang lainnya termasuk Rafka tengah berada di dalam sebuah restauran menunggu pesanan mereka datang.


“Opa, Opa kenapa bukannya pulang tapi malah kesini?” tanya Rafka yang berdiri disebelah Frans sekarang.


“Kita makan siang dulu ya sayang, habis ini kita pulang.” Pungkas Frans pada Rafka.


“Oke, tapi aku mau tanya deh opa, mereka bertiga siapa ya? Kenapa mereka juga ikut makan disini sama kita. Masa tadi paman itu main peluk aku,” ucap Rafka dan mengadu pada Frans tak lupa juga dia menunjuk kearah pria yang ada satu meja dengan mereka..


“Itu bukan Paman sayang, itu Opa kamu juga. Opa Rama namanya” ucap Citra memegang tangan Rafka untuk duduk di sebelahnya.


“Opa? Opa kok Opa ku banyak sih Oma. Ada Opa Alfin, Opa Frans masa ini ada Opa lagi” bocah lima tahun lebih itu tampak bingung, umurnya yang sebentar lagi menginjak lima tahun membuat dirinya berpikir begitu kritis saat ini.


Citra yang bingung menjelaskannya langsung melihat kearah Frans, dia meminta bantuan suaminya itu untuk menjelaskan.


Rama yang tadi sibuk dengan anaknya yang duduk di pangkuannya saat ini langsung melihat kearah tiga orang didepannya. Sedangkan istrinya masih pergi ke kamar mandi membuatnya tidak terlalu fokus dengan pembicaraan karena mengurusi anaknya yang berumur empat tahun itu.


Rafka melihat kearah Rama, dia menatap penasaran pria didepannya tersebut.


“Em, Paman tadi Opa Frans bilang paman Opa ku juga, apa benar?” tanya bocah itu polos.


“Kok manggil Opa paman sih sayang, Opa ini ayah dari mama kamu” ucap Rama, yang sedikit terkejut dia di panggil paman oleh cucunya itu.


“Ayah dari Mama, ayah Mama kan Opa Alif” ucap Rafka tak mengerti.


Rama terlihat bingung menjelaskannya pada Rafka, begitu juga dengan Frans dan Citra yang hanya bisa saling lihat saja.


“Begini, Ini ayah Mama kamu, kalau Opa Alif itu paman Mama kamu.” jelas Frans perlahan.


“Tapi Opa, waktu itu Opa Alif bilang sama orang-orang yang sering jahat sama Mama kalau dia ayah dari Mama dan dia nggak malu punya anak kayak mama. Gitu, “ ucap Rafka menatap semakin bingung.


Mendengar itu seakan menusuk hati Rama, dia yang ayah kandung Adiba dulu malu mengakui kalau Adiba anaknya tapi Alif yang hanya iparnya dan Om ipar bagi Adiba mau mengakui Adiba sebagai anaknya.


“Maaf tuan-tuna menunggu lama, makanan kalian sudah datang silahkan dinikmati” ucap dua orang pelayan yang datang membawakan makanan mereka.


Citra sedikit bernafas lega karena kedatangan dua pelayan itu, kalau mereka tidak datang Rafka pasti akan terus bertanya membuat dirinya dan suaminya bingung menjelaskan semuanya pada bocah itu.


“Ayo sayang makan dulu, sini duduk sebelah Opa” ucap Frans mengalihkan fokus Rafka agar tidak bertanya lagi. Yang penting dia nantinya hanya bilang untuk memanggil Rama Opa saja dan soal seterusnya biarkan saja waktu yang menjelaskan pada cucunya itu.


................................................


“Bukannya kamu mau ngajak aku ketemu temanmu yang namanya Tere, itu teman kita kuliah dulu kan? kenapa kamu malah ngajak aku ke makam begini sayang” heran Rendra saat mobilnya sudah berhenti di area sekitar pemakaman.


“Ya disini, Tere sudah nggak ada. Dia sudah pergi, kamu tidak tahu?” tanya Adiba sebelum keluar dari mobil Rendra.

__ADS_1


“Nggak” jawab Rendra menggeleng.


“Ayo turun, tapi aku beli bunga dulu disitu ya” ucap Adiba pada Rendra.


“Iya” Rendra langsung ikut turun saat ini.


“berarti yang sering disebut Diba soal temannya itu Tere, dia pasti sangat kehilangan.” Batin Rendra melihat Adiba yang berjalan membeli bunga lebih dulu. dia tahu Tere, Tere adalah sahabat terdekat Adiba saat kuliah.


Tak beberapa lama kemudian Diba berlari mendekati Rendra setelah dia membeli bunga untuk ia taruh di makam Tere.


“Ayo,” ajak Adiba pada Rendra.


Rendra langsung menggandeng tangan Adiba, dia sesekali melihat wajah istrinya sambil berjalan.


“Aku minta maaf ya?” lirihnya dan membuat Adiba menghentikan langkahnya dan menoleh padanya.


“Kenapa kau membahas masa lalu lagi, aku sudah memaafkan mu. Sudahlah tidak usah dibahas” ucap Adiba pada Rendra.


“Aku semakin merasakan kesedihanmu dulu sekarang, kau kehilangan teman terbaikmu di saat kau butuh sandaran” ucap Rendra merasa bersalah atas apa yang menimpa Adiba.


Adiba melepaskan tangannya pada Rendra,


“Aku malas bahas masa lalu, aku nggak mau sedih lagi sekarang. Aku nggak mau Tere lihat aku sedih, please aku minta sama kamu jangan bahas lagi dulu di tempat ini. ayo kita temui Tere terus pulang” ucap Adiba memutuskan untuk berjalan duluan.


Rendra berjalan mengikuti dibelakang Adiba, dia hanya bisa menatap perempuan itu. ia menuruti permintaan perempuannya tersebut.


“Hai, aku datang. Kamu apa kabar,” ucap Adiba saat sudah duduk disebelah makam sang sahabat. Ia menaruh bunga itu diatasnya, Rendra berjongkok disebelah Adiba saat ini melihat nisan yang bertuliskan nama lengkap Tere disitu.


“maaf ya aku jarang kesini, kamu tahu sendiri aku sibuk. Aku juga mau minta maaf, ulang tahunmu kali ini nggak lengkap, bang Tama nggak bisa dateng. Aneh kan dia, abang yang paling kamu banggain tapi nggak datang kesini” Adiba berbicara sendiri dengan gundukan tanah didepannya.


“Tapi kamu nggak usah khawatir, aku nggak sendiri kok kesini. Aku sama orang yang paling kamu benci, kamu jangan marah ya aku datang sama orang itu. kamu tahu sendiri aku cinta orang itu dari dulu, aku janji aku bakal bahagia sama dia.” ucap Adiba.


“Iya Re, Adiba dan gue bakal bahagia selamanya. Gue janji nggak bakal nyakitin dia lagi, kamu pasti tahu gue siapa. Apa kabar re?” ucap Rendra sambil memegang makam Tere.


“Makasih ya, lo sudah mau jadi teman Adiba yang selalu ada buat dia. lo nggak usah khawatir teman lo bakal gue jaga kok. Gue nggak bakal buat dia terluka lagi, gue janji. Gue sayang sama dia dan juga sama anak gue.” Ucap Rendra


Adiba langsung menaburi bunga di makam itu dibantu oleh Rendra yang menaburi makam temannya tersebut.


“Aku pergi dulu ya my sis, kalau ada waktu aku kesini lagi. Aku sekarang harus pulang, tahu sendiri anakku bagaimana,” ucap Adiba pamit pada Tere.


“Kita pergi ya Re, semoga lo damai di sana” ucap Rendra sambil memegang bahu Adiba yang sudah berdiri disebelahnya. Adiba begitu berat untuk melangkah pergi rasanya dia ingin mengobrol lagi tapi rasanya mengobrol ada Rendra rasanya tidak enak dan aneh menurutnya.


“Coba kalau bang Tama ikut juga Tere pasti senang, tapi bang Tama malah pergi ke luar negeri” ucap Adiba saat mereka berdua pergi menuju mobil.

__ADS_1


“Ya mungkin Tama ada urusan, Tere juga pasti paham soal itu” ucap rendra sambil membukakan pintu mobil saat mereka sudah berada disebelah mobil saat ini.


Adiba langsung masuk kedalam mobil, Rendra segera mengitari mobil untuk ikut masuk kedalam.


“Habis ini mau kemana?” tanya Rendra pada sang istri saat dia sudah ada didalam mobil.


“Mau pulang lah, memang mau kemana?”


“OH, aku kira mau ronde kedua kita”


“Maksudnya?” tanya Adiba tak mengerti.


“hehehe, nggak. Ya udah kalau mau pulang” pungkas Rendra langsung menyalakan mesin mobilnya.


“Oh iya, nanti malem kalau tidur jangan lupa kunci pintu” ucap Rendra pada Adiba.


“Kenapa memang?”


“Kok kenapa? Nanti kalau aku khilaf terus Rafka masuk gimana jelasinnya” pungkas Rendra menjalankan mobilnya perlahan.


“Maksud kamu? kamu ngode aku begitu. Tadi kurang puas?”


“hehehe,” Rendra malah tersenyum kikuk, dibilang kurang puas sih kurang. Tadi dia melakukannya dengan was-was takut ada karyawannya yang melihat bukan itu saja tadi hanya sebentar dan Adiba buru-buru menyudahinya membuat dirinya kurang.


“Kamu memang mesum ya dari dulu” kesal Adiba memalingkan wajahnya.


“Lah kok mesum sayang, kan istri sendiri nggak pa-pa kali. Habisnya tadi kamu suruh buru-buru” ucap rendra tak terima di katakan begitu.


“Udah ah, nggak suah bahas itu kita pulang aja,” pungkas Adiba


“Ya ini kita pulang,” ucap Rendra melihat kearah istrinya.


“Jangan lihat arah lain dong, lihat kesini suaminya di sebelah sini” ucap Renda lagi.


“Iya suamiku” jawab Adiba memaksakan senyum pada Rendra.


“Cie manggil suamiku nih,” goda Rendra.


“Nggak usah mulai deh,” Aiba mencubit pelan lengah Rendra.


“Hahha, habisnya kamu tuh lucu kalau kesel. Nggak pantes muka kamu buat kesal sama aku” tukas Rendra sambil tertawa melihat wajah Adiba yang semakin cemberut karena ucapannya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2