
Matahari yang tampak di siang hari kini sudah berganti dengan sinar bulan yang menghiasi gelapnya malam bersama dengan bintang-bintang yang bersinar di langit.
Rendra duduk di kursi rebah balkon sendirian sambil menunggu sang istri yang masih mandi,menikmati bintang-bintang sambil ditemani oleh secangkir kopi yang berada di meja kecil sebelahnya membuat dirinya tak bosan meskipun sedang menunggu sang istri yang sedari tadi masih mandi.
Saat Rendra tengah bersantai, ponsel yang ia taruh di meja tadi bergetar singkat menandakan ada pesan yang masuk kedalam ponsel tersebut. Rendra yang kebetulan tengah fokus mendengar dering singkat itu dan dia langsung melihat kearah ponselnya saat ini melihat pesan yang baru saja masuk itu. siapa tahu pesan penting dari kliennya atau karyawannya.
Dahi Rendra tampak mengernyit saat melihat nomor yang tak ia kenal tertera di layar ponsel yang sudah ia pegang saat ini.
“Kau sudah menerima paket yang aku kirimkan kemarin? Bagaimana kau suka” tulisan dari pesan tersebut juga membuat Rendra semakin tampak bingung. Siapa yang mengirimi dia pesan ini dan soal paket, paket apa? batinnya tak mengerti.
“kau sedang apa? lama ya menungguku” ucap Adiba yang berjalan pelan menuju kearah suaminya saat ini.
Rendra langsung melihat arah kedatangan sang istri, dia menaruh ponselnya secara perlahan di meja sambil tersenyum pada istrinya itu.
“Nggak kok sayang,” jawab Rendra tersenyum kecil.
Adiba yang sudah berada di dekat Rendra saat ini langsung duduk di depan suaminya yang ada cela lebar yang masih bisa ia duduki.
“Maaf ya aku tadi lama, karea harus kebawah dulu membuatkan Rafka susu” lirih Adiba merasa tak enak karena suaminya sudah menunggunya lama.
“Iya, tidak apa-apa. santai saja, jangan merasa bersalah gitu dong” jawab Rendra sambil memegang wajah Adiba yang cemberut.
“Aku lihat tadi kamu kelihatan kebingungan, kenapa? Ada amsalah di kantor?” tanya Adiba yang penasaran karena dia tadi tak sengaja memperhatikan suaminya yang tampak bingung sendiri melihat kearah ponsel.
“Aku dapat pesan entah dari siapa, dia bilang kirim paket kerumah. Memang ada paket yang dikirim kerumah kita?” ucap rendra yang bingung sambil menatap istrinya siapa tahu sang istri tahu soal itu.
__ADS_1
“Iya memang ada paket yang dikirim kerumah kemarin,” jawab Adiba raut wajahnya langsung berubah menatap suaminya dengan tatapan curiga.
“Beneran ada paket? Dari siapa paketnya?”
“Dari Gwen, kamu kenal?” tukas Adiba dengan sedikit dingin dalam bertanya.
Mata Rendra langsung melebar saat mendengar nama itu, dia sesekali meneguk ludahnya sambil menatap sang istri.
.......................................................
Tama melempar bantal-bantal dari sofa bahkan bantal yang sebelumnya dia gunakan untuk berbaring di sofa panjang depan tv juga ikut dia lempar. Sesekali dia memejamkan mata sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Mengingat kembali kejadian kemarin dimana dia mencium Kania begitu saja bahkan membuat mereka berdua hampir kehabisan nafas kalau saja Kania tidak mendorongnya kuat dan menamparnya saat itu. benar Kania menarparnya bahkan memaki dirinya pria brengsek.
“Kau bodoh Tama, bisa-bisanya dirimu mencium dia begitu saja” runtuk Tama pada dirinya sendiri yang menurutnya terlalu kekakanak-kanakan.
Tama langsung mendudukkan dirinya sambil melihat ponsel yang berada di atas meja, dia mengambilnya dengan kasar dan menekan nomor Kania. Dia tidak bisa tinggal diam begini saja, dia harus jujur dengan perasaannya sendiri saat ini. tidak bisa dipungkiri kalau dirinya kemarin marah melihat Kania dengan pria lain.
“Oke, aku akui aku kalah Kania.” Gumam Tama dan langsung menekan nomor Kania. Dia langsung mendekatkan ponselnya di telinga menunggu panggilan di angkat oleh perempuan itu. namun, lama dia menunggu panggilan tak kunjung diangkat membuat Tama langsung mematikannya dan kembali menghubunginya lagi tetapi masih sama panggilan tak kujung di jawab oleh Kania.
“kau sengaja tidak mengangkat telpon dari ku, oke jika itu keinginanmu” Tama langsung mematikannya, dan dia mencari nomor seseorang lagi di ponsel yang masih ia pegang tersebut.
Dia kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya, menunggu panggilan diseberang sana di angkat.
“Ya halo, tolong carikan alamat Kania salah satu pegawaiku yang dua bulan lalu ijin cuti” perintah Tama pada seseorang yang berada di seberang sana.
“Tidak pakai lama, setelah kau mendapatkannya segera kirimkan kepadaku, aku tunggu” pungkas Tama dan langsung mematikan panggilannya dan melempar ponselnya kembali ke meja yang berada di depannya tersebut.
__ADS_1
Dia sendiri kembali menyandarkan dirinya di sandaran sofa, dia menatap langit-langit ruangan tersebut. Ia merenungi nasib asmaranya yang begitu labil saat ini,
“Apa kabar dengan Adiba dan Rafka, sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka” gumam Tama saat ingat kalau dirinya sudah lama tidak bertemu dengan Adiba dan juga Rafka.
“nanti saja aku pikirkan untuk bertemu dengan mereka, sekarang menemukan alamat rumah Kania dulu”putus Tama dan dia langsung merebahkan dirinya dengan kasar.
......................................................
“Sayang, Sayang, dengarkan aku dulu.” ucap Rendra yang menaikkan dirinya ke kasur mendekati istrinya yang membuka selimut bersiap untuk tidur.
“Sudahlah di lanjut besok lagi, aku capek, aku ngantuk” tukas Adiba yang naik ke atas tempar tidur dan siap untuk berbaring.
“nggak, kita bicarakan sekarang. Kalau besok kamu pasti ada alasan lagi. Dengarkan aku dulu ya?” ucap Rendra menahan lengan Adiba agar tidak berbaring.
“Apalagi sih mas, kamu udah bilang kan kalau dia mantan kamu. yaudah, mau jelasin apalagi. Sudah ya, aku capek” tukas Adiba dan langsung berbaring membelakangi suaminya.
“kamu marah kan sama aku, aku minta maaf. Dia memang mantan aku, tapi aku nggak cinta sama dia. dan aku minta maaf sudah bohong sama kamu” ucap Rendra bersikeras meyakinkan Adiba soal itu. dia memegang bahu istrinya lembut agar sang istri mau menatap kearahnya saat ini. tapi Adiba tak kunjung melihat kearahnya.
“Sayang, kamu denger nggak. Gwen memang mantanku, tapi aku nggak cinta sama dia,”
“Aku tahu aku salah sudah bohongi kamu soal aku nggak punya pacar di Amerika. Tapi kamu harus tahu Gwen itu sahabat aku disana, karena satu hal akhirnya dia jadi pacar aku. plis, kamu dengerin aku dulu” ucap Rendra terus merengek agar Adiba mau mendengarkan dirinya saat ini. tapi itu semua sia-sia sang istri tak menggubrisnya sama sekali.
Adiba sebenarnya belum tidur, dia hanya pura-pura tidur saja. Ia sedikit kecewa dan kesal pada suaminya yang sudah berbohong. Dulu Rendra bilang kalau tidak pernah pacaran dengan satu orang pun di Amerika tapi apa nyatanya hari ini dia baru mengetahui hal itu. dan lebih parahnya lagi perempuan itu mengirimkan paket entah apa isinya yang sedari kemarin belum dia buka sama sekali, biarkan saja Rendra yang membukanya. Lebih baik dia diam saja saat, daripada mereka harus berdebat di malam hari seperti ini.
°°°
T. B. C
__ADS_1