
Citra masuk kedalam ruangan suaminya saat ini dia melihat kearah sang suami yang tengah sibuk melihat sesuatu di layar laptopnya.
“Papa kenapa nyuruh mama kesini?” tanya Citra pada suaminya yang langsung melihatnya saat ini.
“kesini dulu, Papa mau nunjukin sesuatu sama Mama” perintah Frans pada sang istri.
“Apa sih pa” meskipun terlihat enggan tapi Citra mau berjalan mendekat kearah suaminya saat ini.
Dia perlahan mendekati Frans yang tampak serius sekarang, dia yang sudah berada di samping suaminya itu langsung melihat kearah layar laptop didepannya.
“Mama lihat itu siapa?” tukas Frans pada istrinya.
“Itu Dela, kenapa?”
Frans langsung memutar video itu, dimana itu perkumpulan arisan mereka tanpa Citra yang sudah keluar dari arisan tersebut karena di larang oleh Frans.
“dengerin baik-baik apa yang diomongin Dela soal kamu” pinta Frans pada istrinya untuk memperhatikan serta mendengarkan video yang ada di laptopnya tersebut.
Citra langsung mendengarkan itu, dia tampak terkejut saat mendengar Dela yang menjelekkannya didepan teman-teman arisannya dulu. dia pikir Dela sudah berubah dan ingin berteman dengannya kembali ternyata mantan temannya itu masih sama malah sekarang lebih uruk lagi. Dia sudah memiliki anak tapi juga menjelek-jelekkan anaknya begitu juga menantunya.
“Sadar nggak habis denger itu” sindir Frans pada suaminya.
“milih mana sekarang, teman atau menantu?” tukas Frans lagi
Mendengar itu Citra melihat kearah suaminya saat ini, dia gelagapan sendiri bingung harus menjawab mana. tatapan suaminya seakan menyalahkan dirinya dan begitu mengintimidasinya.
“kenapa diem ma, ngerasa bersalah sama anak menantu?”
‘Papa nih kenapa sih?”
“Ya papa kenapa? Papa cuman pengen mama sadar aja. Lihat teman yang kamu banggain meskipun kamu udah tahu dia nggak bener malah begitu sama kamu. sedang kan menantu kamu dua bulan kamu musuhin”
“Siapa juga yang musuhin Adiba pa,” elak Citra tak mau disalahkan.
“Yakin nggak musuhin dia,?”
“Nggak”
“Iya mama nggak musuhin dia tapi Mama terlalu jahat sama dia?”
“Kok jahat mama memang ngapain dia pa, mama nggak ngapa-ngapain perasaan”
__ADS_1
“Gimana kamu nggak jahat kamu mendiskriminasi Adiba, apa salahnya kalau dia dari keluarga biasa ma. Mama selalu menilai orang dari derajatnya saja”
“Mama nggak begitu ya?”
“Masa, papa nggak percaya tuh. Kalau nggak begitu kenapa Mama malah membela Dela sama Jane waktu kita ketemu beberapa waktu lalu. Kau mau jadi orang gila ma dengan menjodohkan anakmu yang sudah punya istri” ucap Frans dengan tajam.
Citra tampak terkejut dengan ucapan suaminya itu,
“Da..darimana Papa tahu”
“Seorang Frans Dewangga tidak bisa dibohongi ma. Kalau sampai Mama belum berhenti bersikap gila seperti itu, Papa yang akan turun tangan jika rumah tangga Rendra sama Adiba hancur. Bukan rumah tangga mereka mungkin nanti yang hancur tapi rumah tangga kita. Mama denger apa yang papa bilang?”
Mendengar ancaman yang mampu membuat Citra sedikit syok mendengarnya. Suaminya begitu tegas dengan ucapannya saat ini.
“Papa kok bilang begitu sih?”
“Kenapa?”
“Iya Mama, Mama minta maaf soal ini. Mama nggak bakal lagi menilai Adiba lebih rendah dari kita” lirih Citra saat melihat mata tajam suaminya yang menakutkan.
“Bukan minta maaf sama Papa tapi sama menantu kamu”
“I..iya nanti aku minta maaf sama Adiba” ucap Citra akhirnya
“Jeremy mau bawa pacarnya ke rumah, dia punya pacar?” tukas Citra yang tampak terkejut mendengar itu.
“lihat saja nanti, sudah sana Papa sibuk. Tapi ingat Mama jangan pernah bersikap tidak baik lagi dengan Adiba. Dia lagi hamil ma kasihan banyak pikiran karena mertuanya yang hampir gila seperti mama”
“Papa nih apa-apa sih, ngatain mama gila. Mama tahu mama salah tapi nggak usah begitu juga kenapa” kesal Citra dan langsung keluar dari ruangan suaminya yang hanya diam dan memilih menyibukkan dirinya lagi pada layar laptopnya.
.....................................................
“Yey Daddy dateng lagi, apa itu daddy” ucap Rafka saat melihat Tama yang berjalan mendekatinya saat ini.
“Mainan untuk anak pintar sepertimu” jawab Tama yang langsung menekuk lututnya menyamakan tingginya dengan Rafka.
“Yes, dapat mainan lagi, Mama Papa aku dapat mainan dari daddy” ucap rafka sambil memperlihatkan mainan itu kearah kedua orang tuanya.
Rendra dan juga Adiba yang berdiri dibelakang rafka hanya tersenyum kecil saja tetapi rendra langsung melihat kearah Tama.
“Rafka mainan di kolam renang saja ya, ada BI Jumi di sana” perintah Rendra pada anaknya.
__ADS_1
“Siap Pa”
“daddy aku mainan dulu ya” pamit rafka dan langsung mengambil mainan yang dibawakan Tama barusan.
“Seharusnya kau tidak perlu membawakan mainan untuk anakku. Mainannya sudah banyak” tegur Rendra pada Tama.
“Iya bang, aturan nggak usah beli mainan. Nanti takutnya Rafka keterusan minta mainan” sahut Adiba yang sepakat dengan ucapan suaminya.
“berarti aku salah ya beli mainan?” tanya Tama tak terlalu mengerti.
“jelas salah, kita tidak terlalu memanjakan Rafka dnegan mainan tapi kau malah membelikannya mainan. Itu membuatnya tidak fokus dengan belajarnya” tukas Rendra.
“Kalau begitu aku minta maaf pada kalian, lain kali kalau aku kesini aku tidak akan membelikannya mainan lagi” ucap Tama yang merasa bersalah.
“Iya tidak apa bang, tapi aku mohon ya lain kali rafka jangan dibelikan mainan” ucap Adiba.
“Iya, ini aku bawakan makanan juga buat kalian” ucap Tama sambil menunjukkan beberapa bungkus sate taichan.
“Wiih sate bang” seru Adiba matanya langsung berbinar melihat itu. begitu juga Rendra yang sedikit ngiler melihatnya tapi dia bisa mengendalikan dirinya.
“kenapa kau datang kesini? Untuk aku di rumah. kalau nggak cuman berdua kalian di rumah” ucap Rendra.
“Sayang” tegur Adiba.
“Aku bercanda” ucap rendra sambil tersenyum pada istrinya.
“Kalian semakin harmonis saja” ucap tama saat melihat pasangan didepannya.
“Aku kesini seperti biasa, ingin curhat dnegan istrimu” ucap Tama jujur.
“Makanya cari pacar,” cibir Rendra pada Tama.
“Ya sudah ayo bang duduk. Mau curhat soal apa lagi ini, soal Kania?” tukas Adiba sambil menggoda Tama yang tadinya akan berjalan kini melihat kearahnya.
“itu juga salah satunya” jawab Tama berkata jujur.
“Sebenarnya kau suka dengan kania atau nggak?” tanya Rendra penasaran.
Bukannya menjawab Tama malah berjalan lebih dulu, dia bingung sendiri di tanya begitu oleh dua orang didepannya.
Entah dia sendiri bingung dirinya mencintai Kania atau tidak tapi seminggu ini dia terus memikirkan Kania karena perempuan itu tak bisa dihubungi dan dia tak tahu keberadaannya dimana sekarang. Apakah masih di Belgia atau sudah di tempat lain.
__ADS_1
°°°
T.B.C