CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 85


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, selama seminggu pula Kania tidak seagresif biasanya untuk mendekati Tama. Dia lebih menjaga jarak saat ini daripada harus mendekati pria itu, karena untuk apa juga dia mendekati Tama kalau Tama nya saja tidak menggubrisnya sama sekali soal masa lalu dan perasaannya itu cukuplah dia saja yang menyimpannya saat ini.


“Kania tolong antar kan berkas ini keruangan pak Tama?” ucap seorang pria yang berdiri dari duduknya sambil menyerahkan pada Kania yang duduk tidak jauh dari meja kerjanya.


“Jangan sayalah pak, masa saya terus yang nyerahin sama bos. Nih sih Tina aja, jangan saya lah” tolak Kania dan menyodorkan temannya yang duduk disebelahnya saat ini.


“Eh kok gue, gue sibuk lo aja. Kerjaan lo udah selesaikan” sama dengan Kania perempuan yang bernama Tina juga menolaknya.


“Sudah tidak usah saling perintah, disini yang jadi ketua Tim siapa? Kenapa jadi kalian yang saling suruh” tegur pria yang berparas masih muda itu.


“Kania cepat antar ini keruangan Pak Tama” lanjut Juno ketua Tim mereka.


Dengan terpaksa Kania berdiri dari duduknya saat ini, dan mengambil berkas itu dari tangan Juno dengan penuh keterpaksaan rasanya berat untuk mengantarkan itu. Apa kat Tama nanti saat ida mengantarkan ini jelas-jelas seminggu lalu dia memaki pria itu untuk kedua kalinya dan seminggu sudah dia berhasil menghindar tapi kenapa hari ini harus dia lagi yang keruangan pria menyebalkan bin tsundere seperti Tama.


Langkah beratnya berjalan menjauh dari kubik kan tempat dia bekerja, sesekali helaan nafas terdengar dari mulut Kania. Malas sudah rasanya untuk melangkah keruangan Tama saat ini.


.................................................


Saat ini keluarga Frans baru saja selesai sarapan, Frans mengusap mulutnya dengan tisu sesekali melihat kearah menantunya yang tengah menyuapi Rafka saat ini. tak ada Rendra di meja makan entah anaknya itu kemana pagi-pagi tak turun untuk sarapan bersama.


“Suamimu dimana Adiba?” tanya Frans pada sang menantu.


“Mas Rendra ada di kamar pa, dia katanya badannya lemas jadi nggak bisa turun” jawab Adiba beralih melihat kearah Papa mertuanya.


“Dia masih ngerasa nggak enak badan, ini sudah seminggu lo dia begini masa masih ngidam aja” heran Citra.


“Kurang tahu ma, tapi kenyataannya mas Rendra masih begitu” balas Adiba yang juga merasa bingung dengan keadaan suaminya yang setiap pagi selalu muntah dan badannya lemas tapi sesudah itu dia biasa saja.


“Nanti dia suruh keruangan Papa, Papa tunggu di sana” ucap Frans yang langsung berdiri dari duduknya.


“Ma , tolong buatkan Papa teh antar ke ruangan Papa” perintah Frans pada istrinya.


“Iya pa” jawab Citra yang langsung berdiri tetapi dia melihat sekilas kearah Adiba.


“Maaf kenapa ya ma?” ucap Adiba saat mertua perempuannya terus menatap kearahnya saat ini.


“Nggak pa-pa, kamu telaten ngurus Rafka. Mama pergi dulu” jawab Citra dan langsung pergi meninggalkan Adiba dan Rafka di meja makan. Ia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh suaminya.


“Mama kemarin aku lihat Oma waktu habis pulang dari luar kota, dia marah-marah sama Papa. Aku jadi takut ma” lirih Rafka pada Mamanya.


Adiba yang tadinya masih menatap mertuanya yang berjalan pergi langsung beralih menatap Rafka yang berbicara padanya.


“Oma marah-marah sama Papa, marah apa sayang?” Adiba yang mendengar itu cukup terkejut, dia tidak tahu kalau suaminya di marahi oleh Mamanya. Rendra sendiri tidak ada cerita apa-apa dengannya.

__ADS_1


“Nggak tahu ma, tapi Oma bilang kalau Papa nekat pergi Oma bakal nggak nganggep Papa anaknya lagi” tukas bocah itu yang menyampaikan apa yang dia dengar dari perbincangan Papanya dan Omanya kemarin.


“Oma bilang gitu?” Adiba masih tak percaya, dan apa yang dimaksud mertuanya kalau Rendra akan pergi. Pergi kemana?.batin Adiba, dan dia semakin bingung kenapa suaminya ingin pergi.


“Iya, Tapi Oma juga buan bilang itu aja Ma. Oma bilang kalau Mama yang mempengaruhi Papa buat pergi dari rumah ini. masa Oma nuduh Mama aneh-aneh begitu, aku sebenarnya nggak terima Oma jelekin Mama” adu Rafka pada sang Mama yang langsung melebarkan matanya tak percaya. Ibu mertuanya menjelekkan dirinya, dia salah apa sampai Mama mertuanya bilang begitu dan memarahi Rendra.


“Udah sayang nggak pa-pa, Oma mungkin salah paham. Kamu selesaikan makannya dulu ya, mama mau ke atas dulu manggil Papa kamu” ucap Adiba.


“Iya tapi Mama nggak lama kan?” tanya Rafka pada sang Mama.


“Nggak kok sayang, Mama cuman bentar. Anak Mama yang pinter ini disini sebentar ya” ucap Adiba sambil berdiri dan mengusap lembut kepala anaknya.


“Oke ma” jawab bocah itu dan membuat simbol oke dengan jari jempolnya.


Adiba harus segera menemu Rendra untuk menyuruh suaminya itu menemui Papa mertuanya dan dia juga akan bicara soal apa yang dimaksud Rafka tadi.


...........................................


Rendra yang diberitahu Adiba segera turun, dia perlahan melangkah masuk kedalam ruang kerja sang ayah setelah sempat mengetuk pintu terlebih dahulu.


Perlahan Rendra masuk kedalam ruangan sang Papa, dia melihat Papanya yang duduk di meja kerja sambil mengenakan kaca mata bacanya saat ini beralih melihat kearahnya.


“Ada apa pa?” tanya Rendra pada papanya yang melihat kearahnya saat ini.


Rendra diam saja sambil menuruti apa yang di katakan sang Papa, dia langsung duduk didepan Papanya sekarang.


“Kau tahu alsan Papa menyuruhmu kesini?”


“Ya,” jawab Rendra singkat dan terkesan datar.


Frans menghela nafasnya sebentar sebelum berbicara dengan anaknya itu,


“Kau sekarang bukan anak kecil atau remaja yang sering papa pukul dulu Ren, kau sudah dewasa dan menjadi seorang ayah. Kenapa sikapmu seperti anak kecil begini hah” tukas Frans menceramahi anaknya.


“Aku bukannya seperti anak kecil pa, papa tidak tahu istriku hamil dan aku yang ngidam” ucap Rendra dan sesekali tidak menatap kearah Papanya.


“Kau pikir bisa bohong pada Papa, alasanmu bukan karena kau ngidam kan jangan bawa-bawa istrimu sebagai alasan” ucap Frans sambil menunjukkan senyum miringnya menatap sang anak.


Rendra diam saja, dia sudah menduga ini Papanya pasti tahu alasan dirinya melakukan semua ini. Papanya cukup pintar untuk di bodohi.


“Ya kalau Papa tahu kenapa harus tanya padaku dan kenapa haru menyuruhku bicara berdua disini”


“Papa menyuruhmu kesini agar istri dan Mamamu tidak mendengarnya”

__ADS_1


“Kau marah kan dengan mamamu?” tukas Frans menatap anaknya.


“Ya” jawab Rendra singkat.


“Kau seharusnya marah jangan seperti anak kecil seperti ini dengan tidak ikut sarapan bersama hampir seminggu dan tidak bekerja juga. apa itu hal yang pantas kau lakukan didepan anakmu”


“Ya habisnya gimana Pa, Mama menurutku egois. Aku yang ingin keluar dari rumah ini kenapa dia menuduh istriku. Istriku bahkan tidak tahu apa-apa soal rencana ku ingin pindah rumah” pungkas Rendra meluapkan apa yang dia rasakan selama seminggu ini.


“Bukannya Papa yang bilang kalau aku sudah dewasa, maka aku juga ingin membentuk rumah tanggaku sendiri Pa, tidak tinggal bersama dengan papa. Aku ingin menjadi kepala keluarga untuk istri dan anak-anakku nanti di rumah ku sendiri bukan di rumah Papa sama Mama. Apa aku salah kalau ada keinginan pindah rumah” jelas Rendra menjelaskannya dengan sedikit emosi.


Frans tersenyum mendengar ucapan anaknya tersebut, dia sedikit berdiri dan memegang kepala anaknya begitu bangga. Putranya yang dulunya brengsek itu ternyata sekarang sudah berpikiran dewasa tak seperti bocah labil lagi.


“Kenapa Papa malah tersenyum , membuatku merinding saja. Lebih baik Papa marah padaku dan memukulku” cibir Rendra sedikit memundurkan dirinya karena menatap aneh Papanya.


“Papa sekarang bangga padamu, Papa tidak menyangka kau punya pikiran begitu. Baguslah kalau kau sudah mengerti bagaimana tanggung jawab mu sebagi seorang kepala rumah tangga. Kalau memang itu keputusanmu papa dukung” ucap frans yang sudah duduk kembali ke kursinya.


“Serius, Papa tidak ikut marah seperti mama setelah mendengar keinginanku untuk pindah rumah”


“Nggak papa dukung”


“Lalu mama bagaimana? Kalau aku nekat pindah dari sini dia malah semakin menuduh Adiba yang aneh-aneh, jujur aku tidak terima Papa Mama menuduh istriku. Bukannya aku terlalu membela Adiba tapi Mama yang keterlaluan”


“Nanti papa yang bilang pada Mama, dan kau jangan seperti anak kecil begini membolos bekerja dan tidak ikut sarapan bersama. Besok jangan kau lakukan lagi, kasihan juga adikmu yang terpaksa mengurus perusahaan mu lagi”


“Ya, aku tidak aan begini lagi. Tapi aku benar-benar minta tolong pada Papa. Tolong bantu akau bicara dengan mama pa, aku ingin punya rumah sendiri. dan menjadi Papa yang baik untuk anak-anakku nanti, Papa tahu sendiri anakku yang akan lahir nantinya bukan satu tapi tiga, jadi aku sebentar lagi jadi bapak empat orang anak. Apa kata temanku kalau aku rumah masih tinggal dengan Papa dan Mama”


“Kau tenang saja nanti papa bantu, Papa belikan juga rumah yang akan kau tempati nantinya”


“Tidak usah, aku sudah membelinya dan tinggal menempati saja”


“Kau serius,?”


“Iya”


“bagus kalau begitu, ya sudah kau boleh keluar” tukas Frans.


“hemmm” rendra langsung berdiri dari duduknya saat ini.


“Aku keluar dulu pa, istriku juga sepertinya ada yang ingin dia bicarakan padaku” ucap Rendra pamit pada Papanya itu.


Frans hanya mengangguk mendengar perkataan sang anak, Rendra sendiri langsung berjalan pergi meninggalkan ruang kerja sang Papa.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2