
Adiba menuruti apa yang dikatakan suaminya tadi pagi, saat ini dia memakai celana bahan berwana hitam dan juga kemeja di lapisi jas perempuan. Tangannya membawa tas anaknya dan menggandeng putranya tersebut berjalan kearah ruang makan untuk sarapan pagi.
“Mama beneran nggak bisa nganterin aku hari ini?” tanya Rafka sambil berjalan memperhatikan mamanya yang berada disebelahnya.
“maafin Mama ya sayang, Mama naik motor sama Papa jadi nggak bisa anterin kamu ke sekolah” ucap Adiba merasa bersalah dengan putranya.
“Ya udah deh nggak pa-pa, aku sama Opa aja” Rafka menghela nafasnya, dan berjalan menuju ruang makan dimana sudah berkumpul keluarganya di sana.
“Pagi semua,” seru Rafka yang berlari kecil mendekat.
“Pagi cucu Oma, sini sarapan” balas Citra dan mencium pipi Rafka yang sudah berhambur kearahnya.
“Masa Oma aja yang dicium, Opa nggak di cium ini” ucap Frans.
“Eh lupa,” bocah itu menepuk jidatnya sendiri dan dia langsung mencium sang Opa yang sudah siap untuk ia cium.
“Rafka buruan duduk, sarapan nak” perintah Rendra yang memang sedari tadi sudah duduk di meja makan.
“Siap Papa,” Rafka langsung mengambil duduk disebelah Omanya, lebih tepatnya di tengah-tengah Oma dan Omnya Jeremy.
Adiba sendiri langsung mengambil duduk disebelah Rendra, dia sesekali melihat Rendra yang sudah mengambil makanannya sendiri.
“Papa, hari ini aku minta tolong bisa?” ucap Rendra membuka suaranya dan menatap sang ayah.
“Minta tolong apa?” jawab Frans.
“Papa nanti ke kantor pusat kan, aku minta tolong sekalian anterin Rafka sekolah bisa nggak pa”
“Kok kamu nyuruh Papa kamu sih Ren, kamu sama Adiba kenapa anterin sekalian anaknya. Dia pengen dianter kalian terus,” sahut Citra melihat kearah anak dan menantunya.
“Aku naik motor hari ini ma, jadi nggak mungkin mau nganter Rafka juga”
“Kenapa haru naik moto, mobil kamu kenapa?” tanya Frans.
“Papa sama kayak nggak tahu aja, mereka tuh mau pacaran Pa biar kayak anak muda” sahut Jeremy yang sekilas melihat keduanya, dia sibuk makanan di piringnya.
Frans langsung diam, dia kembali melanjutkan makannya. Mau bicara apalagi kalau memang begitu, biarlah mereka berduaan ibarat mengulang masa muda mereka yang belum pernah di lakukan.
Adiba merasa malu mendengar Jeremy mengatakan seperti itu, apalagi suasana meja makan menjadi sunyi membuatnya bersemu merah menahan malu pada kedua mertuanya.
“Om Emy, aku mau itu dong” ucap Rafka pada Jeremy.
“Mau apa?”
“Itu yang di piring Om Emy” tunjuk Rafka pada dua buah sosis bakar yang ada di piring Jeremy saat ini.
Rafka ingin itu karena di meja makan tidak ada tapi di piring Omnya ada dia ingin makan itu juga kenapa Mamanya tidak mengambilkan untuknya.
“Mau apa sayang, jangan ganggu Om Jeremy ah. Sini bilang Mama kamu mau apa?” ucap Adiba yang melihat anaknya tampak mengganggu Jeremy makan.
“Dia mau Sosis Ku kak,” jawab Jeremy.
__ADS_1
“Ya kasih dong keponakannya Jeremy” tegur Citra.
“Kasih satu anakku, nanti aku belikan banyak buatmu” pungkas Rendra.
“Ini sosis spesial yang dibuat pacarku semalam” ucap Jeremy terasa berat untuk memberikannya pada Rafka. Itu buatan kekasihnya percobaan pacar yang baru belajar masak semalam.
“Jeremy kasih” tegas Frans.
“Ini sosis ikan Pa, dia alergi seafood juga kan sama kayak kakak”
“Aku mau Om Emy, pokoknya aku mau makan itu” rengek Rafka yang meminta sosis itu karena terlihat enak sepertinya.
“Nggak bisa, ini sosis ikan murni kau alergi kan” ucap Jeremy melihat keponakanya yang merengek di sebelahnya.
“Papa aku mau pa,”
“Nggak boleh sayang, kamu alergi seafood nanti Papa sama beliin yang daging ya”
“Iya Rafka, jangan begitu ah. Udah besar nggak bolek ngrengek begitu, nanti mama belikan buat kamu”
Rafka langsung diam mendengar ucapan itu, dia makan yang ada di piringnya mengabaikan mereka yang menatapnya saat ini.
Jeremy jadi merasa bersalah keponakanya langsung cemberut begitu, mau bagiamana lagi kalau dia bukannya pelit tapi ini ikan asli yang di bikin. Sedangkan keponakannya itu alergi seafood sama seperti kakaknya.
“Keponakan ganteng Om Jeremy kok cemberut, nanti Om bikini kayak gini tapi bukan pakai Ikan Oke” lirih Jeremy pada Rafka.
“hemm,” dehem bocah kecil itu yang fokus makan mengabaikan ucapan Omnya.
..................................................
Rendra sendiri hanay senyum-senyum saja, dia memang sengaja melajukan cepat agar Adiba semakin memeluknya erat saat ini.
“Kamu ngebut kayak gini sengaja ya biar aku makin erat peluk kamu” ucap Adiba ditelinga Rendra yang tertutup helm.
“Apa? nggak denger sayang”
“KAMU SENGAJA NGEBUT KAN BIAR AKU MELUK KAMU ERAT BEGINI” ucap Adiba mengeraskan suaranya agar Rendra mendengarnya.
“APA NGGAK Denger, udah peluk aja” balasnya berteriak.
Adiba sudah putus asa berbicara dengan Rendra, pria itu tetap tidak mendengarnya berbicara.
Meskipun awalnya menolak memeluk seperti ini ternyata nyaman juga memeluk Rendra dalam keadaan seperti ini punggungnya yang kokoh mampu memberikan kenyamanan untuknya.
“Enak nggak naik motor berdua sama aku” tanya Rendra dan mengurangi kecepatan motornya.
“Lumayan”
“Kok lumayan, maksudnya?”
“Udah ah kamu fokus aja, jangan banyak bicara nanti kalau kita kenapa-kenapa gimana”
__ADS_1
“Ya tapi enakkan, kita begini. kita belum pernah loh mesra begini di luar. Enakan kamu juga bisa ngerasain jadi cewek-cewek yang aku bonceng dulu. kita kayak orang pacaran kan sekarang” ucap Rendra senang.
“Kamu dulu juga begini modusnya biar dipeluk, ngebut kayak tadi”
“Modus gimana, nggak ya.”
“Udah nggak usah bohong”
“Nggaklah, dulu mah nggak se intim ini baru sam kamu aja”
“Cewek-cewek yang kamu bonceng kan banyak, masa nggak pernah begini”
“Nggaklah, dulu cuman biasa aja. Nggak pernah tuh begini” ucap rendra sambil melepaskan satu tangannya dari stir motor dan memegang paha Adiba dan sedikit meremasnya gemas.
“Iih, jangan mesum di jalan” tukas Adiba refleks.
“Hahahaha, kaget ya. Maaf sayang. Aku cuman nunjukin aja dulu aku nggak pernah seintim begini”
“Ya udahlah nggak usah di bahas, kamu fokus nyetir aja” ucap Adiba yang berubah emosi, entah kenapa dia menjadi membayangkan Rendra dulu yang sering membonceng banyak cewek bahkan perempuan-perempuan dengan pakaian minim. Jadi tidak mungkin Rendra tidak seperti ini saat bersama dengannya.
...........................................
Nurma baru saja keluar dari ruangan Rendra dan juga Adiba, dia selesai menaruh dokumen yang harus di periksa Adiba sebelum diberikan pada Rendra. Baru saja dia keluar Kania sudah berdiri didepannya saat ini.
“Pak Rendra sama Adiba di dalam?” tanya Kania melihat Nurma yang sedikit terkejut karena tiba-tiba dia berdiri didepan perempuan itu yang habis menutup pintu.
“mereka belum datang, kenapa?” tanya Nurma balik.
“Mau ngasih surat Resign” jawab Kania.
“Kamu serius mau keluar Kan, kenapa?” Nurma tampak terkejut tetapi dia bisa menyembunyikan itu.
“Mau pindah tempat, dapat kerjaan baru gue” jawab Kania.
“Kenapa sih kamu harus pindah, kalau kamu pindah tidak ada yang membantuku membela Adiba lagi” ucap Nurma sedikit sedih. Meskipun Kania tidak dekat dengannya ataupun dengan Adiba dan perempuan itu lebih dekat dengan Sasa yang notabennya sering membicarakan Adiba tapi kania meskipun berteman dengan mereka dia selalu membela Adiba.
“Bukannya lo seneng ya kalau gue pindah, gue kan temannya Sasa. Kalau kata lo gue kan banyak Omong nggak jelas” ucap Kania.
“Ya itu dulu sebelum aku kenal kamu,”
Kania hanya tersenyum saja melihat orang didepannya.
“Aku begitu juga karena kamu sih temenan sama Sasa, terus kamu lebih muda dariku tapi nggak ada basa-basi manggil mbak atau kak. Ya aku kesel lah sama kamu, jarak kita loh tiga tahun tapi kamu nggak ada sopan-sopan nya”
“hehehe ya maaf, mau aku panggil mbak sekarang. Tapi gue nggak terbiasa tahu sendiri pergaulan luar negeri bagaimana”
“Yaitu luar negeri sis, ini Indonesia”
“Iya mbak Nurma, udah ah gue nggak mau banyak bicara lagi. Gue balik meja dulu ya mbak masih banyak barang yang aku bereskan” ucap Kania dan berlalu pergi sambil menampilkan senyumnya.
“Anak itu, untuk pernah baik kalau nggak” geram Nurma, dia sendiri langsung kembali kemeja yang tidak jauh dari pintu masuk ruangan Rendra.
__ADS_1
°°°
T.B.C