
Jeremy datang bersama dua orang yang mengenakan jaket hitam serta badan yang tegap. Mereka mask kedalam ruangan Rendra saat dimana Rendra yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung melihat ketiga orang yang baru saja datang tersebut.
“Bagus kalian sudah datang tepat waktu,” ucap Rendra pada ketiga orang itu.
“hemm,” sahut Jeremy.
“Dimana perempuan itu?” tanya Jeremy lagi, sambil melihat ke seluruh ruangan kakaknya.
“Dia ada di ruangan pak Hardi, sebentar lagi dia kesini. Jadi kalian berdua langsung saja tangkap perempuan itu dan bawa ke kantor Polisi” pungkas Rendra.
“OH iya kak, kenalkan dulu ini inspektur Genta, dan ini Inspektu Fathur” ucap Jeremy memperkenalkan dua pria tersebut pada Rendra. Ya dua orang itu adalah polisi yang memakai baju bebas agar tidak mengundang perhatian orang lain dan agar perempuan mata-mata itu tidak tahu soal ini.
Baru saja Jeremy berkata seperti itu, pintu ruangan sudah terbuka. Hardi masuk bersama Jane sekertaris sementara yang menjadi mata-mata di perusahaan Rendra. Mereka berdua yang tak tahu apa-apa terlihat terkejut karena banyak orang di ruangan CEO mereka.
“Pak Hardi, Jane silahkan kemari” panggil Rendra meminta kedua orang yang berada di ambang pintu itu untuk mendekat. Keduanya mematuhi perintah Rendra, mereka langsung berjalan mendekat kearah atasannya tersebut.
“Maaf pak, ini ada apa ya kenapa ada pak Jeremy juga disini?” tanya Hardi yang penasaran.
“Saya kesini hanya ingin melihat orang suruhan saya dari kantor Papa, apa dia baik-baik saja atau tidak” ucap Jeremy sambil melihat sekilas kearah perempuan yang berdiri disebelah Hardi.
“Dimana ya pak, Sekertaris sementara kakak saya. Saya ingin bertemu dengannya, kata kakak saya tadi dia bersama bapak” ucap Jeremy lagi pada Hardi.
Hardi yang mendengar itu tak mengerti, sedangkan Jane tampak gugup dia gelisah sendiri bahkan pandangannya mulai menunduk tak berani menatap Rendra maupun Jeremy.
“Ini pak Jane, bukannya dia sekertaris sementara pak Rendra suruhan pak Jeremy” Hardi menunju Jane yang berada di sebelahnya.
“Bukan, saya mengutus seorang pria yang menjadi sekertaris sementara kakak saya bukan wanita. Dan saya tidak kenal dia siapa?”
“Pak Rendra,..” ucap Hardi yang kebingungan dan menatap Rendra.
Rendra langsung melangkah maju mendekati Hardi dan juga Jane,
“Dia bukan sekertaris suruhan Jeremy pak, dia mata-mata di perusahaan kita” pungkas rendra dan menatap tajam Jane.
“apa? bagaimana bisa pak” Hardi tampak kaget
“Jane, kau mat-mat diperusahaan ini?” tanya Hardi pada perempuan tersebut.
Jane yang merasa telah tertangkap basah, langsug mendongak dan bersiap untuk kabur tapi sayang dua orang yang tinggi tega telah memegangi kedua tangannya lebih dulu.
“mau kemana Jane?” tanya Rendra seakan santai saja
“Mau kabur?” ucapnya lagi sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
“Pak, Pak Rendra sya minta maaf pak. Saya minta maaf, sa..saya hanya disuruh pak” jane mulai ketakutan dia menatap dengan tatapan memohon pada Rendra.
“Siapa yang menyuruhmu, bagaimana bisa kau membodohi ku hah” tegas Rendra
“Pak saya tahu saya saah, bebaskan saya pak. Saya mohon,” bukannya menjawab Jane malah terus memohon untuk di bebaskan.
“Tidak semudah itu jane, kau berani masuk ke perusahaan ini, kau juga harus berani menghadapi hal seperti ini” tukas Rendra.
“SIAPA YANG MENYURUHMU” bentak Rendra kemudian, karena perempuan tersebut tak kunjung mengaku.
“Ra...RaQuel grup pak” ucap Jane pada akhirnya.
“Hemm benarkan dugaanku kak, RaQel yang menyuruhnya” ucap Jeremy dan langsung mendekati Rendra.
“Apa tujuan kalian?”
“RaQel, RaQel ingin mengambil klienkalian dan membuat skandal di perusahaan kalian”
“Seperti dugaan kita kemarin” ucap Jeremy menatap kakaknya.
“Dasar licik, kalau tidak bisa bersaing jangan dengan cara kotor begini. dan kau perempuan bodoh bisa-bisa nya kau disuruh oleh mereka. Tangkap perempuan ini, masukkan dia kepenjara dan korek semua informasi dari perempuan ini. oh iya tolong layangkan surat panggilan untuk RaQel Grup” pungkas Rendra pada dua orang polisi tersebut.
“Pak Rendra saya mohon pak jangan masukkan saya ke penjara pak. Saya mohon” Jane berusaha untuk menggapai Rendra dan meminta maaf tapi Rendra menjauh seketika.
“Bawa perempuan itu ke penjara” perintah Jeremy,
“Pak Rendra, Pak jeremy bagaimana bisa perusahaan kita dimasuki oleh mata-mata. Itu bisa mengancam kinerja perusahaan kita” ucap hardi yang mengungkapkan kecemasannya.
“Anda tenang saja, masalah ini sudah kita urus. Dan saya mohon jangan beritahu apapun pada papa. Saya mohon sekali pada anda” ucap Rendra pada pria itu.
“Pak Frans belum tahu semua ini?”
“Ya belumlah pak Hardi, kalau papa tahu mana mungkin aku dan kak Rendra baik-baik saja. tolong rahasiakan dari papa” timpal Jeremy.
“Tapi pak?” hardi masih ragu untuk tidak memberitahu Frans.
“Tidak usah tapi-tapi cukup dengarkan apa yang kita perintahkan. Perusahaan ini sepenuhnya yang mengurus diriku dan Jeremy”
“Ba..baik pak kalau begitu” mau tak mau Hardi menuruti apa yang diperintahkan Rendra dan juga Jeremy padanya.
“Ya sudah kalau begitu silahkan keluar” perintah Redra pada Direktur di perusahaannya itu.
“baik pak” hardi langsung pamit pergi dari ruangan bosnya saat ini.
__ADS_1
...............................................
Kania datang kerumah Adiba saat ini, dia datang sendiri tak bersama Tama. Tama sedang sibuk di kantor sehingga membuatnya datang sendiri kerumah Adiba.
“Maaf ya Kania, nunggu lama ya?” ucap Adiba yang baru saja menghampiri Kania yang duduk di ruang tamunya.
“Iya nggak pa-pa kok, santai saja”
“Kamu sendirian kesini, bang Tama nggak ikut” Adiba duduk perlahan di sofa sebelah Kania duduk.
“Iya, dia sibuk kamu tahu sendiir. Aku sudah ajak dia buat keisni tapi dia malah nyuruh aku datang sendiri katanya sibuk.”
“Maaf ya aku datang keisni ganggu kamu” ucap kania lagi.
“Nggak, ganggu kenapa. Aku lagi nggak ngapa-ngapain jadi ganggu kenapa?”
“Ya siapa tahu aku ganggu”
“Aku kesini cuman pengen minta pendapat sama kamu Adiba” ucap kania yang tampak risau.
“Pendapat? Pendapat ya?”
“Begini, aku waktu itu diajak kerumah kak Tama ketemu orang tuanya dan mamanya bilang kita kalau sudah menikah tinggal dirumah orang tuanya. Tapi kak Tama nggak mau, terus menurut kamu gimana?”
“Maaf ya bukannya aku nyuruh nggak baik, tapi menurutku sih mending ikut apa kata bang tama. Kamu sudah tahu kan bang tama dan keluarganya nggak cocok, dan aku takutnya kalau kamu nggak nyaman tinggal disana.”
“Tapi aku pengen kak Tama dan kelaurganya rukun, bisa ngobrol dan tinggal bareng lagipula anak orang tuanya tinggal kak Tama sendiri kan. jadi pasti orang tuanya sedih anak mereka tidak tinggal disitu” ucap kania, entah mengapa dia merasa iba dengan orang tua Tama.
“Kalau soal itu sih, aku nggak bisa kasih pendapat Kania. Tapi kalau dari sisi bang Tama apa yang dia lakuin menurutku bener sih. Soalnya bang tama itu penuh perhitungan orangnya,”
“Gitu ya, ya sudah deh aku ikutin saran kamu aja.”
“Eh ya jangan, kamu bicarain lagi sama bang tama siapa tahu dia bisa berubah pikiran” Adiba jadi merasa tak enak kalau Kania menuruti ucapannya.
“Oke, oke terimakasih sarannya”
“Iya sama-sama, itu dimakan kuenya Kania tehnya juga diminum” ucap Adiba menawari tamunya itu.
Mereka lalu mengobrolkan hal lainnya, saling berbagi pendapat satu sama lain dan saing mengungkapkan pengalaman-pengalaman mereka.
°°°
**T.B.C
__ADS_1
p. s**: Maaf buat readers semuanya, Author mau tanya siapa yang inget nama pacarnya Jeremy yang jadi istrinya sekarang. Soalnya author lupa, kalau ganti nama takutnya yang lain bingung, maaf ya kalau ada yang tahu bisa kasih tahu author..
Terimakasih 🤗