
Setelah beberapa menit mereka saling diam sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Kini saatnya mereka saling berbicara dari hati ke hati untuk melupakan masa lalu yang begitu menyedihkan untuk mereka semua yang ada disitu. masa lalu yang tak perlu diingat tapi perlu di luruskan dan di pahami.
“Kenapa ayah mertua masih diam saja, bukannya anda yang menyuruh saya dan Adiba datang kesini?” ucap Rendra membuka suaranya sambil melihat kearah Rama yang berada di dekatnya.
Istri Rama langsung memegang tangan sang suami yang di atas meja, bermaksud untuk menyadarkan dari lamunannya. Rama memang terlihat diam melamun, tak mendengar ucapan Rendra.
“kenapa?” tanya Rama tak mengerti menatap sang istri.
“Rendra bicara padamu” jawab istrinya tersebut.
“Ayah kenapa masih diam sekarang, aku dan calon suamiku tidak ada waktu. Orang tua mas Putra mau mengajakku ke butik” ucap Oki pada sang ayah.
Rama mengabaikannya saja, dia langsung melihat kearah Rendra dan juga Adiba, Adiba yang tadi sedikit menunduk kini semakin menunduk. Dia masih takut kalau ayahnya masih kecewa dan benci padanya.
“Adiba,.” Lirih Rama pada akhirnya.
Adiba langsung mendongak melihat sang ayah yang kini tengah menatapnya, dia bingung dengan tatapan sang ayah saat ini.
“I..iya yah,” jawabnya gugup.
“Ayah mau minta maaf sama kamu Diba, ayah salah karena terus menyalahkan mu soal Ibu mu yang sudah tiada. Dan ayah minta maaf karena ayah sudah mengusir mu dulu tanpa mendengarkan penjelasan mu terlebih dahulu” ucap Rama tapa ragu meminta maf pada sang anak. Semburat kesedihan begitu terlihat di wajahnya.
Rama berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri sang anak saat ini, Adiba yang melihat itu tanpa ragu dan dia melihat kearah Rendra yang mengangguk seakan menyuruh dirinya untuk berdiri.
Setelah melihat suaminya, tanpa ragu Adiba langsung berdiri didepan sang ayah yang menatanya.
Rama langsung menarik putrinya itu kedalam pelukannya saat ini, dia merasa bersalah atas apa yang dia lakukan pada Adiba.
“Diba, ayah minta maaf sama kamu. ayah minta maaf, ayah salah nak” ucap Rama memeluk putri bungsunya dari pernikahan sebelumnya itu.
“Ayah nggak perlu minta maaf yah, justru aku yang minta maaf. Aku sudah buat ayah malu dan buat ibu nggak ada yah. Ibu sakit gara-gara aku kan” ucap Adiba menangis di pelukan sang ayah.
“Nggak nak, ayah yang salah. Ayah salah sudah ngusir kamu tanpa penjelasan dulu. dan maafin ayah karena nyalahin kamu soal ibumu” Rama mengusap bahu sang anak penuh kasih sayang.
Mereka yang berada disitu menatap haru kedua orang yang berpelukan tersebut, Oki juga ikut berdiri dan berjalan menghampiri ayah dan adiknya yang saling berpelukan.
“Ayah nyesel kan sekarang, coba dari dulu ayah nggak nyalahin Adiba yah nggak ngusir Adiba juga mungkin ibu masih ada sama kita yah” ucap Oki yang sudah berada didepan keduanya.
Istri dari Rama langsung menunduk, dia merasa sudah masuk kedalam keluarga orang lain.
Rama langsung melepaskan pelukannya pada Adiba dan melihat kearah Oki yang berdiri diantara mereka. Dan Rama juga memeluk putri sulungnya tersebut.
“Iya ayah minta maaf, ayah salah ki. Ayah juga mau minta maaf sama kamu karena ayah sudah misahin kamu sama adikmu dan membuatmu terus menunda untuk menikah”
“soal aku menunda untuk menikah itu bukan salah ayah itu salahku karena memang keputusanku sendiri” ucap Oki.
“Sini Diba,” Oki meminta Adiba mendekat dan memeluknya, Rama langsung memeluk kedua putrinya penuh kasih sayang, dia tidak akan membuat putri-putrinya kecewa lagi dengannya. dia sungguh menyesal kenapa diusianya yang sudah tua malah ia berbuat salah dengan putrinya sendiri seharusnya dia merangkul sang anak dulu bukannya malah membuangnya.
Rendra dan putra selaku pendamping kedua putri Rama hanya bisa melihatnya dengan haru, mereka berdua ikut senang kalau akhirnya hubungan Rama dengan anak-anaknya baik-baik saja.
Rendra sendiri tersenyum puas, dia selama ini memang selalu mengusahakan agar hubungan Adiba dengan ayahnya baik kembali.
Istri dari Rama sedikit meneteskan air mata bahagia melihat hubungan Rama dan kedua putrinya yang sudah membaik. Meskipun dia hanya istri kedua dan mungkin menjadi pelampiasan saja bagi Rama karena di tinggal sang istri dulu tapi dia senang melihat ketiganya saat ini sudah baik-baik saja.
.........................................
“Bagaimana senang bisa dipeluk ayahmu lagi?” tanya Rendra pada Adiba yang duduk disebelahnya.
Mereka berdua berada didalam mobil yang terparkir di halaman depan rumah Rendra, mereka berdua sudah sampai didepan rumah sedikit malam.
“Iya aku senang bisa dipeluk ayahku lagi, terimakasih karena dirimu aku baikan lagi dengan ayahku” Adiba terlihat begitu gembira sekarang senyuman manis tak lepas dari wajahnya.
“Sama-sama, apa yang nggak buat kamu. tapi ini sepenuhnya bukan karena diriku tai berkat bantuan Papa” ucap Rendra yang berkata jujur kalau kebahagian yang dirasakan Adiba sekarang juga atas campur tangan ayahnya.
“Papamu? “
__ADS_1
“Iya,”
“Aku jadi banyak berhutang budi dengan Papa, bagaimana caraku membalasnya” lirih Adiba merasa banyak hutang budi dengan orang tua Rendra.
“Cukup jadi istri ku sampai kapanpun dan banyak memberi cucu pada Papa. Aku rasa itu cukup untuk balas budi” canda Rendra menatap Adiba.
Adiba langsung melihat kearah Rendra yang menatapnya sambil tersenyum,
“kenapa kau tersenyum begitu?” heran Adiba.
“Masa kau tidak tahu, aku memberi kode sekarang. Kapan buat adik untuk Rafka dan buat cucu lagi untuk papa. Ayo buat anggap untuk balas budi” pungkas Rendra sambil menggoda Adiba.
Blushh,
Wajah Adiba seketika memerah karena ucapan Rendra barusan, dia malu-malu melihat kearah pria disebelahnya tersebut.
“Ka..kamu ngomong apa sih,?”
“Pura-pura nggak tahu,”
“A..aku mau masuk ke rumah. Rafka pasti menungguku” ucap Adiba dan kan keluar dair mobil saat Rendra menatapnya cukup intens.
Rendra langsung menarik tangan Adiba yang akan keluar dari mobil, membuat Adiba tertarik dan pintu mobil yang sempat terbuka tertutup kembali.
“Ke..kenapa?”
“Kamu mau kemana?”
“Ya aku..aku mau turun”
“Mau menghindar dariku, kamu pura-pura nggak tahu kan?”
“Aku, aku serius nggak tahu maksudmu”
“Masa,” Rendra mengunci pintu mobilnya dan membuat Adiba semakin gugup apalagi suaminya itu semakin mendekat padanya.
“Mau apa ya,”
“Ja..jangan disini” ucap Adiba sedikit meninggikan suaranya sambil tangannya menahan dada Rendra yang semakin mendekat padanya.
“kamu tahu apa yang mau aku lakukan. ayo kalau gitu, kita pindah tempat” ucap Rendra penuh semangat dan dia langsung keluar dari mobil sambil tersenyum.
“A..apa?” ucap Adiba yang terkejut
“Bodoh, kenapa aku bilang begitu” batin Adiba meruntuki kebodohan ucapannya barusan.
“Ayo sayang,” seru Rendra dari luar mobil sambil mengetuk-ngetuk jendela di sebelah Adiba.
“I..iya” Adiba semakin gugup, itu tandanya kan Rendra meminta haknya setelah menikah ini. apa ia harus memberikannya sekarang meskipun ini bukan pertama kali dirinya dan Rendra berhubungan tapi ini pertama kali mereka sama-sama mau. dulu bedanya dia di paksa dan sekarang sepertinya bukan pemaksaan tapi ini sudah kewajibannya.
......................................
Rendra mondar-mandi di dalam kamar, dia sesekali tersenyum saat ini. dia menunggu Adiba memberikan haknya, perempuan itu setuju kalau malam ini mereka akan melakukannya memberikan adik untuk Rafka. Tapi kenapa perempuan itu belum masuk ke kamar juga, katanya mau membantu di dapur sebentar tapi kenapa malah belum juga masuk saat ini.
Dia ingin sedari tadi tapi Adiba bersikeras habis makan malam saja, dan sekarang sudah selesai makan malam tapi belum tampak batang hidungnya juga.
“Kemana sih kamu sayang<” seru Rendra mondar mandir sambil melihat kearah pintu.
Baru seperkian detik pintu terbuka membuat senyum Rendra langsung merekah menatap siapa yang membuka pintu secara perlahan.
“Akhirnya kamu datang juga sayang, darimana aja kenapa lama” ucap rendra langsung menghampiri Adiba.
“A..aku aku tadi bantu bibi di dapur” ucap Adiba tergagap,
“Bantu bibi di dapur atau mau menghindar dariku” goda Rendra.
__ADS_1
“Nggak ya” sewot Adiba.
“Biasa aja,”
“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” ucap Adiba dan akan pergi tetapi Rendra menahannya dan dia langsung menarik Adiba ke tempat tidur tetapi dia menjatuhkan dirinya terlebih dahulu dan membuat Adiba terjatuh diatasnya sekarang.
“Bohong banget kamu, mau ngindar kan” ucap Rendra sambil melihat Adiba yang berada diatasnya saat ini.
‘Ngg..nggak”
Asli jantung Adiba begitu berdebar dalam situasi saat ini, dia benar-benar gugup seperti pengantin baru. Tapi dibilang pengantin baru dia memang kan pengantin baru, ini pertama kalinya dia begini dengan seorang pria meskipun sudah ada Rafka. Tapi ini keinginan mereka berdua.
Rendra meniup wajah Adiba, dan Adiba memejamkan matanya menikmati tiupan yang menerpa wajahnya saat ini.
Rendra perlahan mendekatkan wajahnya pada sang istri, memegang wajah istrinya itu mengusapnya lembut dan dia langsung merubah posisinya setelah dirasa Diba benar-benar sudah terbuat dengan dirinya.
“Kau serius mau kan? aku tidak memaksa kalau kau tidak mau”
“Iya aku mau lakukan saja, bukannya kau menginginkan hak mu. Aku mengijinkannya” jawab Adiba membuka matanya menatap sang suami.
Rendra langsung mendekatkan wajahnya pada Adiba bersiap untuk mencium istrinya tapi pintu kamar langsung terbuka.
“Papa, Mama, aku mau ditemani nonton robot” pintu yang terbuka dibarengi leh suara Rafka yang langsung terdiam melihat kedua orang tuanya yang menatap kearahnya dengan posisi yang menurutnya aneh.
Adiba langsung mendorong Rendra membuat pria itu terjatuh kelantai,
“Ra..Rafka a.ada apa?” gugup Adiba saat melihat anaknya. Untung saja mereka belum melakukan apa-apa tadi dan belum melepas baju.
Rendra yang terjatuh kelantai berusaha berdiri sendiri, sambil memegangi pantatnya yang terasa sakit.
“Kok Papa di dorong ma, “ ucap Rendra melihat ayahnya yang tampak kesakitan.
“sakit sayang” ucap Rendra
“I..itu” Adiba tampak bingung menjelaskannya pada sang anak.
“Rafka kenapa kesini? Mau ketemu Papa?” tanya Rendra menghampiri sang anak.
“Aku mau di temeni nonton film robot”
“Mau ditemani ya,” ucap Rendra menatap Adiba.
“Iya, ayo pa, ma” ucap Rafka menarik tangan sang Papa merengek untuk ditemani nonton.
“Papa sama mama nggak bisa, kamu nonton sama Om Jeremy ya.” Ucap Rendra mencoba membuat anaknya mengerti.
‘Nggak mau, ayo Pa”
“Ya udah yok sayang sama Mama” sahut Adiba dan membuat Rendra seketika melihat kearahnya.
Sayang,” lirih Rendra.
Adiba tampak menelan ludahnya, Rendra seakan tidak setuju dengan ucapannya pria itu sepertinya benar-benar menginginkan dirinya.
“Yey, Mama mau. ayo ma, Papa juga ayok” ucap Rafka mengajak sang papa.
“Iya, ya udah sama Mama Papa yok” ucap Rendra akhirnya, mau bagaimana lagi daripada dia didalam kamar sendiri lebih baik ikut nonton dnegan anak dan istrinya saja.
“yey, ayo” ucap Rafka langsung menarik tangan kedua orang tuanya. Mengajak mereka berdua keluar.
Rendra yang berjalan disebelah Adiba melihat cemberut sang istri niatnya gagal malam ini.
“Kamu sih sayang, nggak kunci pintu gagalkan buat adik untuk Rafka” bisik Rendra di telinga Adiba.
“Apa sih, udah ah.” Pungkas Adiba dan sedikit menjauhkan diri dari Rendra yang tampak kecewa.
__ADS_1
°°°
T.B.C