CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 137


__ADS_3

Rendra bergegas mendekati Adiba yang duduk di sofa, perempuan itu diam saja smabil memainkan ponsel miliknya.


“Sayang aku bisa jelasin soal itu” Rendra duduk disebelah sang istri berusaha membuat istrinya agar melihat kearahnya saat ini. bukannya melihat kearah Rendra Adiba justru malah berdiri seakan menghindar dari sang suami.


“mau kemana?” Rendra menahan lengan istrinya agar tidak pergi.


“Mau istirahat” jawab Adiba singkat.


“Istirahatnya nanti saja, aku jelasin dulu.” Rendra melarang istrinya untuk pergi, dia harus menjelaskannya kalau tidak ia jelaskan bisa-bisa Adiba ngabembek berlarut-larut padanya.


“Bukannya tadi mas Rendra suruh aku istirahat, kenapa sekarang bilang nanti” tanya Adiba balik.


“Oke, kalau kamu istirarahat silahkan. Tapi kenapa jadi bahas masalahku ya, aku disini tadi mempersalahkan dirimu sayang”


“Aku kenapa mas, bukannya mas Rendra tahu sendiri itu nggak sengaja”


“Ya aku cemburu sayang. Aku cinta sama kamu makanya aku cemburu. Kamu kenapa nggak ngerti banget perasaanku” tutur Rendra merasa dirinya tak salah, karena itu nalurinya yang cemburu. Ia tak suka istrinya dengan pria lain.


“Aku tahu kamu cemburu, tapi kali ini nggak logis mas. Cuman masalah sepele begitu kamu marah-marah sama aku. sedangkan kamu yang jelas-jelas bohong sama aku dan gendong perempuan lain aja aku nggak marah mas. Karena berusaha ngerti keaadaan. Tapi kenapa kok kamu nggak bisa ngerti banget soal itu” tukas Adiba yang tampak kecewa dengan suaminya.


“Udahlah mas, aku mau tidur. Kalau kamu mau marah besok aja waktu kita dirumah” pungkas Adiba lagi dan langsung berjalan kearah tempat tidur.


Rendra hanya bisa diam, dia menghela nafasnya. Dia tampak berpikir ada benarnya juga yang dikatakan sang istri.


Sambil berpikir Rendra mengambil ponsel miliknya yang ada di saku celananya, dia langsung menghubungi seseorang.


“Halo sayang, dirumah sama OM Emy nggak pa-pa kan. mau ngomong sama mama oke, papa kasihkan ke mama ya” Rendra ternyata menelpon anaknya, dia memang snegaja menelpon sang anak. Dan sebenarnya anaknya tak bilang ingin bicara dengan Adiba. Tapi diirnya yang mengarang, karena dengan Rafka yang bicara pasti hubungan mereka tidak akan saling diam kedepannya.


“Sayang jangan tidur dulu. ini Rafka mau ngomong sama kamu” pungkas Rendra yang berjalan mendekati Adiba yang sudah berbaring miring di tempat tidur.


“Bilang aja aku tidur mas, aku sudah kirim pesan ke dia tadi” tolak Adiba. Bukan tanpa alasan dia bilang seperti itu. karena Adiba tahu itu alasan Rendra agar hubungan mereka baik-baik saja saat ini. dia sudah paham cara suaminya.


“Sayang jangan gitu lah, Rafka nant marah loh” Rendra berusaha merengek agar Adiba mau bicara dengan anak mereka.

__ADS_1


Adiba tak menjawabnya, dia malah memejamkan matanya. Membiarkan saja suaminya yang berbicara sendiri. dia kesal sekaligus lelah ditambah emosinya yang sudah ia simpan berminggu-minggu terpaksa ia luapkan lagi. Bagaimana tak emosi, saat dirinya dibohongi lagi-dan lagi oleh Rendra. Dia kecewa kenapa suaminya itu selalu tak pernah jujur padanya. Kalau jujurkan dia bisa menerima, tapi kalau bohong rasanya membuat diirnya begitu kesal.


Rendra hanya bisa pasrah melihat Adiba yang tak menanggapinya, dan dia langsung bilang pada anaknya maupun Jeremy yang disebernag sana kalau dia mau istirahat. Jadi mau tak mau panggilan langsung terputus begitu saja.


....................................


Adiba dan Rendra sudah pulang ke Jakarta, Rendra memabwakan tas milik Adiba meskipun sedari semalam dan di perjalanan tadi istrinya hanya bersikap dingin dan sesekali berbicara padanya.


“Mama, papa..mama sama papa pulang nggak beli jajan” seru bocah itu dan langsung bertanya tepat didepan sang mama yang tersenyum melihatnya.


“Nggak sayang, jajan apa. kan dirumah banyak jajan, sudah ya mama keatas dulu ya” Adiba mengusap kepala anaknya dan langsung berlalu kearah tangga.


“Jer, tolong bawakan keatas” Rendra buru-buru melempar tas Adiba kearah Jeremy dan dia langsung menyusul istrinya membantu snag istri untuk menaiki tangga rumah mereka. Kamarnya memang belum pindah, Rendra belum sempat menyuruh tukang untuk memindahkannya di bawah.


“Orang seenak sendiri, gimana kalau nggak gue tangkap nih tas” kesal Jeremy sambil melihat kakaknya yang berusaha memegang tangan Adiba yang akan naik ke tangga.


“Sayang aku bantu ya.” Rendra langsung merengkuh istrinya agar beralan bersampingan dengannya.


“Sayang udah dong jangan marah, kalau Rafka lihat dia sedih nanti mama papanya bernatem” bisik Rendra di telinga snag istri.


“Siapa yang marah, aku nggak marah” jawab Adiba smabil meliat kearah Rendra.


“Lihat depan, pelan-pelan jalannya” ucap Rendra yang masih sempat memperingatkan istrinya.


“Kamulah yang marah, dari semalem cuman diem aja” ucapnya kemudian


“perasaan kamu aja mas” tukas Adiba smabil berjalan dengan di bantu Rendra. Dia tk menolak bantuan itu dia sadar diri kalau dia kesusahan naik tangga.


“Nanti di kamar kita bicara lagi, jangan marah terus sama suami. Dosa loh” pungkas Rendra sedikit bergurau pada Adiba.


“Dosa mana sama suami yang tukang bohong sama istri” telak Adiba membalikkan omongan Rendra barusan. Rendra meneguk ludahnya, berat.


“Tuh kan berarti kamu marah, kalau bahas ini”

__ADS_1


Adiba diam saja, dan dia langsung menjauh dari suaminya saat sudah sampai di lantai atas. Ia segera berjalan sendiri dengan langkah sedikit cepat. Ia berjalan memegangi perutnya, yang tiba-tiba sedikit kram. Berkali-kali dia juga mengatur nafsnya karena merasa lelah berjalan menaiki tangga barusan.


“Sayang..” Rendra berusaha menyusul istrinya itu masuk kedalam kamar.


............................


Adiba baru saja selesai mandi, dia kelaur dari kamar mandi dnegan kimono mandinya yang berwarna putih. Dia memang belum mandi sedari hotel tadi, memang snegaja ia tak mandi di hotel karena malas saja.


Sedangkan Rendra sendiri, menunggu setia snag istri di pinggir tempat tidur, dia ingin bicara empat mata dengan istrinya itu.


“Sayang, ayolah kita bicara. Aku mau jelasin ke kamu, aku minta maaf kalaua aku bo..”


“Mas bisa diem bentar nggak sih, dari tadi kamu terus ngomong perutku jaid sakit mas” Adiba memotong ucapan suaminya. Bukan maksudnya tak sopan tapi dia risih saat ini membahas itu apalagi perutnya yang tiba-tiba sakit sekarang. Dia berjalan sambil mengusap-usap perutnya agar tidak sakit. Gerakan di dalam perutnay sekana begitu menjadi sekarang.


“Perut kamu sakit yang mana, mereka nendang-nendang kamu” wajah Rendra langsung berubah menjadi cemas.


“Perutku kram mas, soal itu bahas nanti saja. aku mau istirahat” pungkas Adiba smabil berjalan kearah kursi.


“Arkh,.aduh.” rintih Adiba saat berjalan melewati Rendra.


“Kenapa? Mana yang sakit” sontak Rendra langsung melihat kearah snag istri yang merintih kesakitan.


“perutku mas, arkh mas” ucap Adiba merintih tertahan dna dia langsung memegang tagan sang suami.


“Ayo kerumah sakit” ajak Rendra karena dia begitu cemas.


“nggak usah mas,” tolak Adiba.


“Nggak usah bilang nggak usah, ayo” Rendra tak menunggu lama. Dia langsung menggendong Adiba, karena dia melihat istrinya seperti menahan rasa sakit. Yang tadinya ia ingin berbicara serius tapi karena istrinya yang kesakitan membuat itu smeua menghilang di di kepalanya dan sekarang otaknya hanya berisi kecemasan saja.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2