CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 147


__ADS_3

Adiba baru saja bangun tidur, dia langsung turun kebawah untuk melihat anak-anaknya sebelum turun tadi dia juga melihat rafka yang sedang mandi tak lupa dia juga menyipakan keperluan anaknya itu untuk pergi kesekolah.


Selesai dengan putra sulungnya tentu saja dia langsung melihat anak-anaknya yang lain dan mencari suaminya yang tumben jam segini sudah bangun.


“Mbok Jum,” panggil Adiba pada perempuan paruh baya yang dulu pernah bekerja di rumah mertuanya kini kembali lagi kerumahnya untuk membatu dirinya.


“Iya Diba, ada apa?” tanya Mbok Jum pada perempuan muda tersebut.


“Mbok liat mas Rendra nggak, habisnya dia di kamar nggak ada” tanya Adiba pada perempuan itu.


“tadi sih mbok lihat nak Rendra di kamar si kembar” jawab Mbok Jum.


“oh, di kamar triple ya. Ya sudah kalau begitu mbok, aku kesana dulu” pamit Adiba dan langsung ke kamar ke tiga anaknya.


Dikamar ketiga anaknya dia tak mendapati sang suami disana, di dalam kamar itu hanya da ketiga anaknya dan dua suster mereka yang sedang merapikan baju-baju anak-anaknya itu.


“Sus Harni, Sus Novi lihat mas Rendra nggak ya?” tanya Adiba pada kedua suster itu.


“Oh pak Rendra mbak Diba, tadi sih beliau ada di sini tapi sekarang kita berdua nggak tahu kemana dia pergi” jawab sus harni.


“kemana ya suami saya, pagi-pagi begini nggak ada di rumah” heran Adiba karena tak mendapati suaminya dimanapun.


“Mungkin beliau ada di depan mbak” ucap Sus Novi.


“mungkin kali ya sus, ya sudah saya kedepan dulu. eh bentar itu triple sudah mandi semua kan?” ucap Adiba sambil berjalan melihat anaknya yang bermain di tempat tidur.


“Reva sama Raihan sudah mbak, tapi Raiden belum mandi. dia baru bangun soalnya” jawab sus Harni.


“Oh, kalau begitu tolong cepat dimandikan ya sus. Saya kedepan dulu sebentar” pungkas Adiba pada keduanya.


“Siap mbak” jawab sus Harni dan juga sus Novi berbarengan. Adiba langsung berjalan kedepan untuk mencari sang suami.


Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di ruang tamu dan dia bisa melihat ada mobil yang berhenti di halaman rumahnya. Ia bingung itu mobil siapa yang pagi-pagi ada di rumahnya saat ini. rasa penasarannya begitu membuncah, ia perlahan melangkah kedepan tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat orang yang tak asing baginya memeluk suaminya saat ini.


Adiba terpaku ditempatnya, ia syok melihat suaminya berpelukan dengan seorang perempuan yang sangat sensitif bagi dirinya selama ini. siapa lagi perempuan itu kalau bukan Gwen, perempuan yang pernah membuat masalah di keluarga kecilnya kini mau apa lagi perempuan itu bahkan memeluk Rendra sangat erat.


Adiba terluka melihat pandangan pagi ini, dia yang tak tahan dengan itu semua memilih untuk pergi. Rasanya malas untuk sekedar mendekat apalagi berbicara pada keduanya yang tampak damai berpelukan di pagi hari.


“kenapa perempuan itu datang lagi, kenapa dia meluk mas rendra?” begitu banyak pertanyaan di kepala Adiba saat ini, dia tampak linglung smabil berjalan masuk kedalam.


.......................................

__ADS_1


Adiba sarapan dalam diam bahkan dia menyiapkan sarapan untuk Rendra juga hanya dengan diam saja setelah itu dia menyuapi Rafka yang juga sarapan duduk di sebelahnya saat ini.


“Mas nanti aku ijin keluar” ucap Adiba tanpa melihat sang suami yang sedang makan.


“kamu mau kemana?” tanya Rendra dan langsung melihat kearah sang istri.


“Pergi sama bang Tama” jawab Adiba singkat.


“ya kemana?’


“Ke bandara”


“nagpain kamu kesana? Nggak usah dirumah aja” ucap Rendra melarang istrinya untuk pergi.


“Aku tetap pergi nanti, aku mau nganter Pram ke bandara. Aku juga ajak anak-anakku, kamu nggak usah khawatir” tukas Adiba dengan sedikit dingin.


Rendra menyadari hal itu, dia menatap aneh pada istrinya.


“kamu lagi PMS ya sayang? Dari tadi ngomong sama aku kayaknya ketus banget” ucap Rendra penasaran.


“Hmmm” jawab Adiba berbohong. Padahal sifatnya seperti ini karena dia melihat suaminya tadi memeluk Gwen dan tanpa rasa berdosa atau bersalahnya Rendra diam saja tak menceritakan soal Gwen yang datang kerumah.


“jangan marah-marah dong, sabar tahan emosi” ucap Rendra menasehati sang sitri sambil bercanda.


“Siap mama, ma nanti mama jadikan jemput aku ke sekolah” ucap Rafka sabil memakai tas sekolahnya.


“iya nanti mama jemput kamu ke sekolah” jawab Adiba dan langsung pergi ke dapur. Sekali lagi dia mengabaikan Rendra yang hanya diam melihat keanehan pada sang istri. Tidak biasanya Adiba mengacuhkan dirinya seperti ini.


......................................


Adiba tetap pergi bersama Tama untuk mengantar Pram ke bandara, hari ini Pram akan kembali lagi ke Amerika setelah menyelesaikan masalahnya di Indonesia. Hatinya sepenuhnya sudah melepas Tere untuk bahagia di atas sana.


Adiba tidak hanya dengan Tama saja tetapi dia juga dengan Rafka yang sudah ia jemput barusan.


“Mama Om yang disebelah daddy siapa?” tanya Rafka pada Adiba yang duduk dibelakang bersama anaknya itu.


“Itu temannya mama juga, namanya Om Pram. Abang kenalan dong sama beliau,” pungkas Adiba.


“kenapa bang?” tanya Tama yang sedang mengemudi melihat sekilas ke belakang dimana Adiba dan Rafka duduk. Pram juga melihat kearah Adiba dan anak kecil itu.


“Mama tadi bilang kalau Om di sebelah daddy itu temen mama, apa iya dad?” tanya Rafka smabil melihat Pram sekilas.

__ADS_1


Pram yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum dengan pertanyaan bocah tujuh tahun tersebut yang begitu pintar.


“Iya disebelah daddy ini temennya mama kamu. dia pacarnya tante Tere adiknya daddy sama mama kamu” jelas Tama sambil menyetir.


“Tente Tere? Yang waktu itu makamnya dikunjungi sama mama sama aku juga” ucap Rafka.


“Yups, kamu pinter sekali sih nak. Om sampai kaget denger kamu ngomong pasih begini” ucap Pram membuka suaranya sambil tersenyum pada bocah itu.


“Hehehe anak siapa dulu dong OM, anak papa Rendra” ucap Rafka membanggakan dirinya.


“Cuman anak papa kamu, mama nggak di anggep nih” ucap Adiba menatap anaknya serius.


“Anak mama juga dong,” pungkas Rafka dan langsung memeluk sang mama yang cemberut.


“Anak kamu pinter banget sih Dib, baru mau tujuh tahun kan. tapi ngomongnya sudah kayak orang dewasa” pungkas Pram.


“Dia gennya bapaknya banget, makanya begitu. Pinternya kayak rendra tapi cara pemikiran dan kedewasaanya kayak Jeremy adiknya Rendra” ucap Tama menilai diri Rafka yang mengalir kuat gen keluarga Rendra.


“bang tama gitu ya sekarang mihak Rendra, masa akunya nggak ada di rafka” cemberut Adiba saat Tama mendeskripsikan Rafka yang mirip keluarga suaminya semua.


“bukannya mihak Rendra, tapi dari yang abang lihat memang begitu. Jangan marah dong adik abang. Tapi kalau si kembar tiga itu, Raihan sama Reva mirip kamu” ucap tama berusaha cembuat Adiba senang.


“Om kenapa pulang ke Amerika, kan Om temennya mama pacarnya tante Tere?” tanya Rafka.


“Om tinggal disana sekarang, jadi Om harus kembali kesana” jawab Pram.


Rafka hanya mengangguk saja,


“Rafka nanti ajak mama sama Papa main ketempat Om ya, nanti Om ajak jalan-jalan” pungkas Pram.


“Nggak ah, aku mau jalan-jalan sendiri. nanti kalau aku udah besar kata papa aku mau di sekolahin disana. Nanti aku main kerumah Om” ucap rafka.


“Serius bang Rafka mau sekolah di Luar negeri?” tanya Tama.


“Iya, aku mau. kata papa disana enak, bisa mandiri, bisa banyak teman dari mana-mana”


“Waah bagus dong kalau mau, Om tunggu disana ya.” Sahut Pram.


“Oke Om,” jawab Rafka girang.


Dan perjalanan mereka ke bandara di liuti sunyi setelah banyak perbincagan dan saling mengobrol satu sama lain. Hanya Rafka yang berbicara dan sesekali di tanggapi oleh ketiga orang itu tentang keingin tahuna bocah pintar tersebut.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2