
Hari ini pernikahan Jeremy di gelar di Bali hanya keluarga terdekat saja yang datang dan beberapa kenalan saja yang ada di situ sesuai keinginan Jeremy yang tidak ingin terlalu banyak mengundang orang untuk hadir kepernikahannya.
Rendra dan Adiba juga berada di situ mereka duduk bersama dengan keluarga besar Adiba yang datang. Ada Rini, Alif dan juga Alfin serta adik Alfin. Disitu juga ada ayah kandung Adiba dan kakaknya beserta suami dari kakaknya itu.
Sedangkan kedua orang Rendra tengah menemani mempelai pria menyambut tamu-tamu mereka yang datang.
“Bang Tama sama Kania belum datang ya mas?” tanya Adiba pada suaminya tersebut.
“Kayaknya sih belum, belum kelihatan daritadi” jawab Rendra yang sedang membukakan mainan untuk Rafka.
“Kamu ngundang Tama juga Adiba?” tanya ayah Adiba tiba-tiba.
Sontak Adiba langsung melihat kearah ayahnya yang tiba-tia bertanya seperti itu padanya.
“Iya yah, memang kenapa?” pungkas Adiba sambil mengamati wajah risau ayahnya.
“Nggak, nggak pa-pa” jawab ayah Adiba tapi wajahnya menyiratkan hal yang lain.
“Ayah takut bertemu dengan Tama kan? karena masalah dulu” pungkas Oki melihat kearah ayahnya yang duduk disebelah suaminya itu.
Adiba dan Rendra yang mendengar itu langsung melihat kearah dua orang tersebut, begitu juga Rini dan Alif yang mendengarnya.
“maaf kalau aku boleh tahu, memang amsalah apa kak? Memang bang tama pernah bertemu ayah dulu?” tanya Adiba yang penasaran langsung bertanya pada kakaknya.
“Oki sudah tidak usah dibahas” ucap ayahnya.
“Benar Oki, sudah tidak usah dibahas. Itu Masalalu, kita jangan tinggal di masa lalu itu” sahut Alif yang seakan tahu mengenai keadaan yang mulai canggung.
“Sudah Adiba tidak usah dipikirkan, mungkin urusan ayahmu dengan Tama” pinta Alif agar Adiba tidak memikirkan hal tersebut.
“maaf, kita terlambat” orang yang mereka bicarakan tiba-tiba saja muncul dan membuat semuanya menoleh kearah ekdatangan Tama dan juga Kania.
“bang tama Kania” seru Adiba merasa lega akhirnya dua orang itu datang juga.
“Maaf Adiba kita terlambat” ucap kania
“Iya tidak apa-apa, silah duduk disini, mas tolong ambil kursi yang kosong itu biar mereka duduk disini” Adiba langsung berdiri dan meminta Rendra untuk mengambil kursi kosong yang berada didekat Rendra.
Rendra langsung melakukannya, dia mengambil kursi etrsebut dan menaruh di sebelahnya membuat Tama bisa duduk, dan kania duduk di sebelah Adiba tempat Rendra duduk tadi. Rendra sendiri mengambil kursi dibelakang sang istri untuk ia duduki.
Tama sudah duduk di sbelah Rendra, dna kebetulan pandangan matanya menatap tepat didepannya saat ini tengah duduk orang yang beberapa tahun lalu pernah ia maki-maki duduk menatapnya ragu-ragu. Siapa lagi orang itu kalau bukan ayah Adiba, ya dia pernah memaki-maki ayah Adiba.
__ADS_1
FLASHBACK ON
6 tahun lalu
Tama yang habis mengantarkan Adiba ke stasiun atas perintah ayahnya, merasa tak tega dan kasihan dengan perempuan itu yang tak diterima dimana-mana. dia juga merasa bersalah atas perlakuan ayahnya terhadap Adiba.
Di mobil menuju pulang Tama, mencengkram kuat stir mobilnya menahan kekesalan karena dia tak bisa apa-apa untuk membantu taman adiknya. Saat tengah menahan kekesalan terhadap dirinya sendiri, Tama langsung terpikir soal orang tua perempuan yang baru saja dia antarkan ke stasiun.
“Aku harus menemui orang tuanya, bagaimana bisa orang tuanya sendiri mengusir anaknya seperti itu” geram Tama, dia benar-benar tak habis pikir dengan ini semua. Dia yang terllau lemah terhadap perintah ayahnya, dan juga rasa kemanusiaanya tak mendukung dirinya saat ini. rasanya dia ingin menemui orang tua Adiba sahabat baik adiknya itu.
Segera saja Tama langsung meminta alamat rumah orang tua Adiba pada Tere, setelah mendapatkan alamat rumah itu ia langsung pergi menemui orang tua Adiba pada saat ini.
Setelah mengemudi cukup jauh, dia akhirnya sampai di depan sebuah rumah yang cukup sederhana tetapi sudah bagus.
Tengah malam dia baru sampai disitu, bahkan suasa sedikit mendung, perlahan Tama turun dari mobilnya berjalan mendekat kearah pintu rumah yang terlihat sudah sepi dan lampunya sudah ada yang di matikan.
Dia mengetuk pintu rumah itu, berharap ada yang membukakannya. Baru du kali ketukan pintu sudah terbuka, seorang pria paruh baya yang membukakan pintu itu untuknya.
“Maaf anda siapa?” tanya ayah Adiba pada saat ini.
“Maaf kalau boleh saya tahu, anda ayah dari Adiba?” tanya Tama balik sambil mengamati wajah pria paruh baya di depannya.
Belum sempat pria itu menjawab seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah itu, ia tebak kalau itu ibu dari Adiba.
“Ayah juga nggak tahu bu, ayah tanya dia belum jawab” jawab ayah Adiba jujur.
“Maaf nak, kamu siapa ya? Dan ada perlu apa malam-malam begini kerumah kita?” tanya Ibu Adiba cukup lembut nan ramah.
“Saya kakak dari Tere sahabat anak ibu Adiba,” jawab Tama.
“Oh kakaknya Tere, ayo masuk nak” ucap ibu Adiba mengajak Tama untuk masuk dulu.
“Bu untuk apa ngajak orang asing masuk, Adiba buka anak kita lagi dan yang berhubungan dengan dia tidak ada hubungan dengan kita” ucap sang ayah melarang istrinya mengajak tamu mereka masuk.
“Ayah..” tegur sang istri tak terima.
“Saya juga nggak akan masuk kok pak, saya kesini hanya ingin tahu saja seperti apa orang tua yang tega mengusir anaknya” tukas Tama menatap datar ayah Adiba.
“Bagaimana bisa seorang ayah mengusir anaknya sendiri karena hamil, seharusnya orang tuanya memberikan perlindungan pada anaknya ini malah mengsuir dan membuat anaknya bak orang terbuang” Tama begitu menunjukkan emosinya di depan ayah Adiba.
“Maaf, kamu hanya anak muda tidak tahu bagaimana kami sebagai ornag tuanya. Kamu masih muda jangan ikut campur” tegas Ayah Adiba yang tak terima dengan itu.
__ADS_1
“Saya tahu saya masih muda, tapi saya punya rasa kemanusiaan pak, bukan seperti bapak yang tidak ada rasa kemanusaian dengan anak sendiri. bayangkan saya bukan siapa-siapa Adiba dan saya tidak terlalu mengenal dia tapi saya kasiahan pak dengannya. Saya tidak habis pikir orang tua mengusir anaknya sendiri” kesal Tama mengepalkan tangannya menatap ayah Adiba.
“Sudah-sudah nak, kita masuk kedalam dulu. pak ayo ajak dia kedalam kita bicara di dalam”
“Maaf bu tidak usah, saya kesini hanya memaki kalian saja. Kalian orang tuanya tapi kenapa bisa setega itu dengannya. Saya jauh-jauh kesini hanya ingin tanya soal itu?”
“kau tidak usah ikut campur, dan tidak usah membela anak saya yang sudah salah. Dia sudah mempermalukan keluarga, dia pantas mendapatkan itu semua”
“bapak bilang pantas, orang tua macam apa yang tega berkata begitu”
“anak anda tidak salah , dia korban tapi kenapa anda bukannya membela malah ikut menjelekkannya. Bagaimana jika dia tidak sanggup dengan hinaan anda ini, dia bisa bunuh diri pak. Dan kalau dia mati semua ini salah bapak, bapak yang membunuhnya. Dia sudah dapat cacian dari orang lain ditambah keluarganya sendiri bahkan orang tuanya, manusia mana yang kuat dengan semua itu. benar-benar tidak habis pikir dengan anda, lihat jika dia benar-benar tiada anda pasti menyesal”
“Saya tidak akan menyesal, untuk apa saya menyesal pada anak yang sudah membuat dosa” kukuh ayah Adiba.
“Yaampun yah, inget ya Aidba anak kita. Kok kamu ngomong begitu yah” ibu Adiba yang mendnegar ucapan suaminya langsung lemas, dia tak terima suaminya berkata buruk seperti itu pada anak mereka.
“Sudahlah bu ayo masuk, anak ini bikin ribut saja” ucap Ayah Adiba mengajak istrinya masuk.
“Ingat pak, karma itu nyata. Orang tua tidak berakhlak anda, lihat ketika anak anda sukses anda pasti menyesal” kesal Tama pada ayah Adiba yang sudah menutup pintu dengan cukup keras meninggalkannya seornag diri di luar.
Flashback OFF
Tama menatap diam pria didepannya, sudah lama dia tidak bertemu dengan pria itu yang enam tahun lalu dia maki-maki.
“Terimakasih sudah datang ke pernikahan adikku” ucap Rendra sambil memegang bahu Tama.
Tama langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rendra yang duduk agak di belakangnya.
“Seharusnya aku yang berterimakasih sudah mengundang kita berdua,” pungkas Tama pada Rendra.
“sayang, ayo ajak makan mereka dulu” ajak Rendra pada istrinya.
“OH iya lupa, bang, Kania ayo makan dulu kalian belum makankan”
“Udah nanti aja Diba” tukas Kania dan juga Tama.
“Jangan nanti-nanti, nanti kita tinggal ngobrol ayo makan dulu” paksa Adiba apda mereka ebrdua.
“Iya kalian makan dulu saja, Tama Kania” shaut Rini yang berada disitu juga.
“Ya sudah kalau begitu, kita pergi makan dulu” akhirnya Tama dna juga Kania mengiyakan dan Rendra serta Adiba mengantar mereka untuk mengambil makanan.
__ADS_1
°°°
T.B.C