CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 84


__ADS_3

Jeremy yang akan keluar dari rumahnya berpapasan dengan kakaknya yang baru saja pulang dengan di papah oleh salah satu teman kakaknya yang dia kenal namanya Davi.


“Kakak ipar Kak Rendra kenapa?” tanya Jeremy melihat kakaknya yang lemas.


“Kakak lo mabuk” jawab Davin mendahului Adiba yang akan menjawabnya.


“Wah, parah kau kak. Aku bilang Papa?” tukas Jeremy mengancam sang kakak.


Rendra yang berdiri sambil dipapah Davin melayangkan tendangan pada Jeremy, dia kesal dengan bocah itu.


“Enggak kena” ucap Jeremy yang berhasil menghindar dari tendangan sang kakak.


“Awas lo, kalau gue enakan nanti” tukas Rendra.


“Bodo nggak takut, dasar udah bapak-bapak masih mabuk. Papa siap menghajarmu seru pasti” kekeh Jeremy dia merasa senang rasanya tak sabar melihat pertikaian kakak dan Papanya nanti.


“Jeremy sudahlah, kakakmu tidak mabuk. Dia tidak enak badan, jangan meledeknya begitu” tutur Adiba menasehati adik iparnya.


“yang benar yang mana sih, kakak mabuk atau nggak kakak ipar. Kak Davin tadi bilang nih orang mabuk” heran jeremy menatap Adiba dan Davin bergantian.


“Nggak, gue cuman bercanda. Kakak lo teler aja karena ngidam.” Pungkas Davin akhirnya jujur.


“Sudahlah vin, nggak usah jelasin sama bocah bodoh di depanmu. Orang bodoh apa ngerti kalau di jelasin, ayo bantu aku masuk” sinis Rendra.


“Bodoh teriak bodoh ya kakakku ini, nggak ngaca” cibir Jeremy tak terima.


“Mana keponakanku, kenapa nggak ada disini?” lanjut Jeremy saat menyadari kalau Rafka tidak ada di antara mereka.


“Astaga mas, Rafka masih tidur di mobil” Adiba langsung terbelalak saat menyadari putranya masih ada didalam mobil. Karena tadi dia dilarang Rendra untuk menggendong Rafka, alasannya karena dia tengah hamil tidak boleh mengangkat yang berat-berat.


“Astaga aku juga lupa,” sahut Davin dan juga Rendra bersamaan.


“Jer, kakak minta tolong gendong Rafka dong taruh di kamarnya” pinta Rendra pada adiknya dan nada suaranya berubah lebih lembut.


“Ya,” jawab Jeremy dan langsung melangkah pergi menuju mobil kakaknya yang tidak jauh dari depan rumah mereka.


“Anak itu masih sama aja ya, nggak ada perubahannya” ucap Davin sambil berjalan memapah Rendra.


“Siapa? Jeremy maksudmu?”


“Iya siapa lagi”


“Anak itu mana ada perubahan, malah semakin menjadi seperti anak kecil” ketus Rendra membahas soal adiknya.


“Tapi meskipun Jeremy begitu, dia bisa mengurus Rafka loh Vin. Meskipun dia kelihatan cuek atau ngeselin tapi kalau Rafka mau apa di turuti sama dia, dia juga nggak gengsi ajak keponakannya buat kencan sama pacarnya” ucap Adiba membuka suaranya membela sang adik ipar.


“Masa sih, anak itu?” Davin seakan tak percaya dengan ucapan Adiba.


“Iya, walau dia kayak menggerutu dulu tapi dia mau” pungkas Adiba sesekali melihat Jeremy yang menggendong Rafka keluar dari mobil.


“Udahlah, kenapa jadi bahas Jeremy, buruan ayo masuk aku mau berbaring” lirih Rendra ingin bergegas untuk membaringkan dirinya yang terasa lelah.


“Iya sabar kenapa, memang gue ini pembantu lo” tukas Davin kesal, dia sudah disuruh mengemudi Bogor - Jakarta sekarang disuruh membantu Rendra masuk kedalam rumah. Entah dirinya nanti pulang naik apa ke Bogor.


..............................................


“Pram kalau kamu mau keluar nanti bilang pada Ana jangan asal pergi, dia dan aku khawatir denganmu” perintah Tama pada Pram yang duduk di depannya.


“Iya Tam, aku minta maaf soal kemarin. Aku tahu aku salah” sesal Tama dia menunduk merasa bersalah atas apa yang dia lakukan kemarin pergi tanpa berpamitan lebih dulu pada Ana.

__ADS_1


“Kau jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada ana. Dia kemarin menangis karena kau tiba-tiba saja menghilang” tukas Tama meminta Pram untuk meminta maaf pada ana bukan padanya.


Ana yang berada disitu merasa tidak enak dia sesekali melihat Pram dan juga Tama bergantian.


Pram mendongak menatap Ana yang berdiri disebelah Tama duduk,


“Ana, aku minta maaf atas perbuatan ku kemarin” ucapnya.


“Iya tidak apa-apa tuan,” jawab Ana berusaha memaklumi hal itu.


“Pram misalkan kalau kau ingin menemui Tere bilang padaku biar aku yang mengantarmu, jangan pergi sendiri seperti kemarin”


“Aku kemarin pergi karena aku benar-benar merindukannya, mengingat pertemuan kita dengan Adiba waktu itu mengingatkanku dengan Tere.” Lirih Pram matanya mulai berkaca-kaca memikul kesedihannya.


Tama hanya bisa diam mendengar itu, dia bingung harus berkata apa soal hal ini.


“Ya sudah kalau begitu aku berangkat kerja dulu, sekali lagi kalau kau ingin sesuatu atau ingin pergi kemana bilang pada Ana” Tama mulai berdiri dari duduknya sambil melihat Pram yang menunduk.


“Iya,” jawab pria itu lirih.


“Ana tolong antar aku ke kamar” pinta Pram pada perawatnya tersebut.


“Iya tuan” Ana langsung mendekati Pram yang terlihat begitu sedih wajah keterpurukan itu kembali lagi tidak seperti kemarin.


Tama hanya melihatnya saja hingga pram dan juga Ana masuk kedalam salah satu kamar yang ada di apartemen itu. dia menghela nafas panjang sebelum berjalan meninggalkan ruang tamu apartemen tersebut.


Baru saja dia melangkah beberapa langkah saja, ponsel yang ada di saku celananya bergetar membuat dia menghentikan langkahnya saat ini. dengan buru-buru ia mengangkat panggilan itu takutnya itu adalah panggilan penting dari kliennya.


“Halo ada apa? apa kau sudah mengurusnya?” ucap Tama saat mengangkat panggilan tersebut, dia tampak mendengarkan dengan seksama ucapan seseorang dari seberang sana.


“Sudah tuan tapi belum berhasil, susah untuk mengambil milik seseorang tanpa orang yang memilikki nya ikut campur” tukas orang diseberang sana yang melaporkan apa yang diminta Tama.


“Iya tuan tidak bisa, keluarga dari Papa tirinya orang dalam semua jadi susah untuk merubah dokumen” jelas orang diseberang sana.


“ya sudah kalau tidak bisa, aku minta tolong carikan orang yang aku kirimkan padamu nanti. Dapatkan alamat dan nomor telponnya, mengerti”


“Mengerti tuan, ada lagi tuan?”


“ kau sudah membayarkan tempat itu untuk bulan ini?”


“Sudah tuan, tapi saya kasihan tuan dengan orang tinggal disitu”


“Maksud kamu?”


“Tempatnya tidak layak tapi biaya bulanannya cukup tinggi, sepertinya dia di tipu agar membayar segitu”


“Kau tahu alamatnya dimana? Kalau tahu kirimkan padaku?”


“Siap tuan, nanti saya kirimkan ke nomor anda”


“Ya sudah kalau begitu saya matikan panggilannya” pungkas Tama sebelum mematikan panggilan diantara mereka.


Panggilan seketika terputus saat tama mulai menekan tombol merahnya, dia menatap ponselnya dan melihat sebuah tempat yang baru saja dikirimkan oleh suruhannya tadi.


“Bocah itu bodoh atau apa, kenapa mau membayar tempat ini semahal itu” gumam Tama saat melihat foto tersebut. Entah siapa yang dia maksud yang jelas membuatnya kesal dengan hal itu.


.........................................................


“Sayang..” panggil Rendra lirih saat melihat istrinya yang baru saja keluar dari ruang pakaian.

__ADS_1


“Apa mas?” jawab Adiba sambil melihat kearah Rendra yang berbaring di kasur.


“Boleh minta tolong nggak?” tukas Rendra sedikit ragu untuk mengatakannya.


“Minta tolong apa?” jawab Adiba sambil berjalan mendekat kearah suaminya yang tampak ragu-ragu untuk bicara.


“Tolong pijitin tanganku sih sayang” ucap rendra sambil mengulurkan tangannya manja pada sang istri.


“Astaga manja banget sih mas, aku yang hamil kamu yang manja begini” ucap Adiba tak habis pikir dengan suaminya yang bak anak kecil.


“Ya kayak mana, badanku capek semua. Kok begini banget sih ngidamnya aneh-aneh perasaan. Kamu dulu waktu hamil rafka apa ngidam begini, badan lemes nggak karuan”


“Iyalah mas, ngerasain kan sekarang susahnya seorang ibu itu gimana. Makanya kalau sama Mama jangan sering bantah mas, perjuangan mama tuh buat melahirkan kamu sama Jeremy pasti susah”


“kenapa jadi mengarah ke aku, aku mana ada sering bantah Mama. Jeremy tuh,” elak Rendra tak mau disebut dia saja yang sering membantah Mamanya.


“Sama aja kamu juga” sungut Adiba dan langsung memegang tangan suaminya menuruti perintah untuk memijit lengan suaminya yang katanya lelah itu.


“Oh iya mas sampai lupa, Mama sama Papa nggak di kasih tahu kalau aku hamil lagi. Mereka pasti senang dengernya?” ucap Adiba lagi saat teringat akan kedua mertuanya yang tidak ada di rumah dan belum mereka beritahu soal kehamilannya saat ini.


“Udah biarin mereka besok pulang, kasih tahu pas pulang aja” ucap Rendra.


“tapi nanti kalau Mama kecewa gimana? Dia kan yang paling nunggu soal aku hamil lagi”


“Nggak-nggak, Mama kecewanya cuman sesaat habis itu udah”


“Sini dong kamu naik di kasur,” pinta Rendra sedikit menarik Adiba dan dirinya sedikit bergeser memberi ruang untuk sang istri agar naik ke atas tempat tidur disebelahnya.


Adiba langsung menuruti ucapan suaminya, dia langsung naik tanpa berpikir panjang. Saat Adiba sudah naik ke tempat tidur Rendra malah menariknya lagi membuat Adiba seketika langsung terbaring di sebelah Rendra.


“Hehehe maaf ya sayang, aku sengaja” senyum Rendra.


“kamu nih modus tahu nggak mas, udah ah aku mau ke bawah” ucap Adiba dan langsung akan bangun lagi.


“Ngapain ke bawah, udah sini aja kita tidur siang. Capek tau” Rendra tanpa aba-aba langsung memeluk istrinya agar tidak bisa bergerak pergi.


“Aku nih mau lihat Davin sudah diantar pulang Jeremy belum, kalau belum kasihan mas masa ditinggal sendirian di bawah” ucap Adiba.


“Udah, kalau belum Jeremy mau aku marahi.”


“Tapi kalau belum gimana, kamu tahu sendiri adik kamu”


“Kamu juga tahu sendiri adik ipar kamu, tadi kamu belain dia katanya dia walaupun nggak mau disuruh tapi pasti mau melakukannya. Kenapa kamu jadi khawatir?” ucap Rendra mengingatkan Adiba soal pembelaan istrinya itu tadi pada Jeremy.


“Iya sih tapikan...” ucapan Adiba terhenti saat Rendra menaruh kepalanya di cekungan lehernya dan sedikit menghembuskan nafas disitu.


Apa yang dialkukan Rendra itu tiba-tiba saja membuat bulu roma nya berdiri, dan seketika hormon hamilnya langsung memuncak. Kenapa dia jadi ingin melakukan hal itu dengan suaminya. Tapi tidak mungkin sekarang usia kehamilannya masih cukup rawan dan belum kuat untuk melakukan hubungan suami istri.


“kenapa sayang kaku begini, merinding ya. Mau?”


“Nggak, udah ah mas tidur aja” tukas Adiba dan langsung memejamkan matanya menghadap sang suami yang tersenyum mendengar nada gugup dari istrinya tersebut. Dia tahu istrinya tengah gugup saat ini.


Rendra menarik Adiba semakin dekat kedalam pelukannya, dia lalu mengecup kening sang istri beralih ke wajahnya dan turun ke bibir.


Adiba hanya diam saja pura-pura tidur dan berusaha menahan gejolak yang ada dalam hatinya saat ini. tidak bisa dipungkiri setiap sentuhan Rendra mampu membuat tubuhnya terasa tersetrum oleh getaran-getaran yang begitu menjadi.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2