
Adiba makan bersama dengan suaminya saat ini, dia sesekali melihat kearah Rendra yang diam saja memakan-makanan didepannya.
“Mas..” panggil Adiba pada sang suami.
“Apa sayang” Rendra langsung mendongak menatap kearah sang istri.
“Em, aku boleh minta tolong?” tanya Adiba dengan hati-hati.
“Minta tolong apa?”
“Hari ini kamu libur kan, kita boleh main ke Bogor nggak?” tanya Adiba pada sang suami, ia takut jika merepotkan suaminya nanti.
“Ngapain sayang ke Bogor?” heran Rendra dengan istrinya yang meminta ke bogor.
“Aku pengen ketemu ibu, kemarin waktu kita ke sana belum sempat nyekar ibu. Kamu mau nggak nganterin aku ke sana?” pungkas Adiba mengutarakan keinginannya ingin melihat makan sang ibu.
“Kamu nggak pa-pa kalau ke Bogor, kalau ketemu ayah kamu gimana?” tukas Rendra menatap cemas sang istri. Ia takut saja kalau tanpa sengaja mereka bertemu dnegan ayah Adiba. Ia taku istrinya sakit hati karena sikap sang ayah. Dia tak mau istrinya memiliki beban pikiran saat ini di usia kehamilan empat bulan.
“nggak pa-pa, aku udah nggak masalah soal sikap ayah yang cuek sama aku. karena memang waktu sudah berlalu,” ucap Adiba yang tak lagi memikirkan sikap ayahnya.
“Ya sudah nanti kita ke Bogor, mau kemana lagi selain ke tempat ibumu.mapir tempat kakakmu nggak sayang”
“Lihat nanti aja ya, soalnya tahu sendiri aku sekarang sering mual. Kamu udah nggak sekarang gantian aku” pungkas Adiba.
“Ya sudah buruan sarapan sayang, habis ini kita berangkat” perintah Rendra agar istrinya segera makan.
“Tapi ke rumah Papamu dulu ya mas jemput Rafka, masa dia nggak diajak kasihan mas” ucap Adiba saat teringat kala anaknya masih di rumah mertuanya saat ini.
Rafka memang sedang berada di rumah sang mertua, walupun begitu hubungan Rendra dan Mamanya masih terlihat kikuk begitu juga dirinya dan mertua perempuannya. Mama mertuanya itu hanya seperlunya saja bicara dengannya. dan kalau tidak ada yang dibicarakan perempuan itu diam saja.
Adiba sendiri berusaha mengerti hal itu, mengerti akan kekesalan mertuanya terhadapnya. Dia sadar kalau memang selama ini mertuanya tak merestui dirinya dan Rendra. Jadi ya sudah kalau memang seperti itu, tapi yang penting mertuanya tetap sayang dnegan anaknya.
“Rafka biarin aja di rumah Papa, di sana juga ada Mama sama Jeremy. Biar rafka diurus Mama, supaya tidak sering kumpul dengan tante Dela” ucap Rendra.
“Tapi mas, mama nanti malah makin nggak suka sama aku. gimana kalau dia bilang aku nggak bisa urus anak”
“Soal itu nggak usah khawatir, ada Papa. Biar Papa yang urus” ucap Rendra menenangkan sang istri.
“Ya sudah, kalau begitu”
“Sayang, kemarin waktu Tama kesini aku nggak sengaja denger dia pusing mikirin seseorang. Siapa orang itu? bukan kamu kan yang dia pikirkan?” tukas Rendra pada istrinya.
Ya dia memang kemarin sempat mendengar pembicaraan Tama dan Adiba saat dia baru saja pulang dari kantor. Dan dia penasaran akan itu. entah siapa yang istrinya dan Tama bicarakan waktu itu. dia yang menghormati sang istri memutuskan untuk amsuk saja daripada bergabung.
“Oh kemarin, itu bang Tama ngomongin Kania mas”
__ADS_1
“Kania? Mantan karyawan ku dulu. perempuan yang dibawa Tama kesini dua bulan lalu?”
“Iya”
“kenapa perempuan itu?” tanya Rendra yang penasaran.
“Itu Kania katanya ke Belgia udah dua bulan belum pulang juga ke Indonesia. Terus bang Tama kepikiran sama Kania.”
“Masalahnya apa?”
“Kayaknya bang Tama galau, dia kayaknya mulai suka sama Kania tapi masih gengsi mas.”
“suka kok gengsi, nggak maju-maju” cibir Rendra.
“Kamu dulu juga kan? Bang Tama itu mirip sama kamu. tapi dia masih bicara mikir jernih kalau kamu nggak”
“Kok kamu gitu sih sama aku, maksudnya apa itu” wajah Rendra berubah serius mendengar ucapan istrinya.
“Bercanda mas, jangan marah dong” ucap Adiba sambil tersenyum melihat suaminya yang langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Nggak lucu bercanda kamu, enam tahun hampir tujuh tahun kamu masih ngungkit itu” kesal Rendra dan langsung pergi meninggalkan istrinya.
“Mas aku bercanda” lirih Adiba sambil melihat suaminya yang membawa piring ke dapur.
Rendra tak menanggapinya sama sekali, dia malah langsung pergi dari dapur menuju garasi. Entah kenapa dia langsung menuju garasi saat ini.
Tama memang tengah galau sendiri, dia kesal saat ini dan sesekali dia marah-marah tak jelas.
Yang menjadi penyebab itu tentu saja Kania, yang dua bulan ini belum kembali juga ke Indonesia. Bocah itu katanya ijin untuk ke Belgia menemu sang Papa tapi sampai sekarang belum juga kembali bekerja.
“Bocah itu masih hidup atau tidak sih kenapa sudah dua bulan belum kembali juga” tukas Tama yang menggerutu sendiri soal itu.
“Aku telpon seminggu ini tak diangkat, dia pikir dia spesial begitu” kesal Tama sambil melihat kearah ponselnya yang tak ada notifikasi pesan sama sekali.
Selama dua bulan ini, dia berpisah dengan Kania entah mengapa rasanya sepi dan sedikit hampa membuatnya kesal sendiri.
Tentu saja ini bukan cinta, dia tak mencintai seorang bocah seperti Kania. Bocah itu sendiri sepakat untuk menjadi adiknya saja dan bukan perempuan yang spesial di hatinya.
Tama dan kania memang sudah sepakat hanya sebatas adik kakak saja, jika Kania masih ingin bekerja dan melihat Tama di kantor. Perempuan itu menyetujuinya begitu saja tanpa berpikir. Tapi satu yang Kania katakan, kalau hal itu tak mungkin berlangsung lama karena Tama sudah mencintainya.
Tentu saja Tama mengatakan tak akan pernah mencintai Kania bagaimanapun juga kedepannya. Semenjak ucapan itulah Kania sedikit berubah dan dua bulan ijin ke Belgia.
“Apa aku ada rasa dengan perempuan itu?” ucap tama pada dirinya sendiri.
“Nggak Tama, nggak. Mana mungkin kau ada rasa, kau begini karena dia sudah seperti Tere” tukas Tama meyakinkan dirinya sambil menggeleng pelan menghalau pikiran yang tak masuk akal masuk kedalam kepalanya.
__ADS_1
“Tapi apa salahnya kalau aku coba saja untuk membuka hati pada perempuan itu, Adiba yang tiga tahun lebih muda dariku bisa aku cintai dulu. lalu kenapa Kania tidak?” Tama tampak memikirkan segala kemungkinan apabila dia membuka hati untuk Kania.
“Stop tam, nggak. Mana mungkin kau menjalin hubungan dnegan perempuan enam taun lebih muda darimu” ucap Tama sekali lagi menepis ucapannya yang berkeliaran didalam kepala.
“Sudahlah, untuk apa aku terus memikirkan perempuan itu. terserah dia mau pulang ke lagi ke Indonesia atau tidak” tama menggebrak meja kerjanya sendiri sambil berdiri. Dia akan keluar untuk menjernihkan pikirannya agar tidak memikirkan Kania terus. Dirinya bosan setiap kali selalu memikirkan Kania.
Dan lagi ucapan Adiba semakin membuatnya memikirkan bocah enam tahun lebih muda darinya itu
“Gara-gara kamu sih Dib, abang jadi mikirin tuh bocah” gumam tama sambil berjalan pergi dari ruangannya saat ini.
.........................................
“Mas..” panggil Adiba lirih saat mereka sudah ada di mobil. Dan Rendra sendiri sudah siap untuk menyalakan mobil tetapi tangan Adiba memegang lembut tangannya saat ini.
“Apa?” tanya Rendra terkesan dingin.
“Kamu marah sama aku, aku tadi bercanda” Adiba semakin dalam mengusap tangan sang suami.
“Hemm” jawab Rendra sambil melihat tangan nakal istrinya yang terus bergerak di telapak tangannya.
“mas, aku serius tadi bercanda” ucap Adiba manja sambil memegang wajah suaminya dan menghadapkan padanya saat ini.
“Kamu mau goda aku sekarang?” tanya Rendra langsung to the poin pada intinya.
“kalau iya kenapa,?”
“Kamu nggak takut kalau aku kebablasan di mobil”
“Kenapa harus takut, kalau itu bisa bikin kamu nggak marah sama aku”
Rendra hanya diam saja, dia sesekali melihat istrinya yang semakin menggoda dirinya bahkan tangan nakal itu memegang bibirnya saat ini.
“Kalau aku kebablasan kita nggak jadi ke bogor loh. Kamu pilih mana?”
Adiba diam sejenak, ia tampak berpikir. Benar juga kalau dia terus menggoda suaminya, pria itu pasti tak bisa menahan hasratnya saat ini.
Ya udah kalau nggak jadi ke Bogor nggak pa-pa, yang penting kamu nggak marah sama aku.” ucap Adiba mantap menatap yakin suaminya.
Rendra menatap intens sang istri,
“Jangan nyesel,” ucap pria itu dan langsung turun dari mobil dan bergegas mengitari mobil saat ini kearah istrinya.
Tanpa menunggu lama Rendra membuka pintu mobilnya dan langsung meraup bibir manis Adiba.
°°°
__ADS_1
T.B.C