CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 136


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak ketdatangan Tama ke rumah Rendra, hari ini hari pernikahan Tam dan Kania.


Pernikahan saklar itu digelar di kawasan Bogor disebuah Vila yang dekat dengan perkebunan. Pernikahan dengan konsep outdoor itu telaksana dengan begitu lancar banyak tamu undangan yang diundang Tama dan juga Kania bahkan ada beberapa kerabat Kania yang datang dari Jerman.


Disitu tentu saja juga Hadir Rendra dan Adiba, yang saat ini duduk di meja yang tak jauh dari tempat mempelai.


“Ayo pulang sayang, akadnya juga sudah selesai. Kita istirahat di Hotel habis itu kita pulang ke Jakarta” Rendra mengajak Adiba untuk pulang karena dia merasa acara intinya juga sudah selesai dna istrinya tengah hamil besar beberapa minggu lagi melahirkan jadi rasanya tak perlu mereka lama-lama.


“nanti aja loh mas, bentar lagi. Masa kita pulang gitu aja” Adiba sekaan enggan untuk pulang. Dia sesekali melihat Tama dan Kania yang sedang menyambut beberapa tamu.


“Lah memang mau nunggu apa, ayo udah ah. Kamu butuh istirahat juga, ayo kita pamit sama mereka terus pulang” Rendra bersih kerasa mengajak Adiba untuk pulang saat ini.


“Ya udah yok, buru-buru banget padahal aku nggak pa-pa” kesal Adiba, dan dia langsung berdiri.


“nggak usah marah gitu, aku ngajak pulang juga demi kebaikan kamu” pungkas Rendra pada istrinya.


“Iya,” Adiba langsung menggeser kursinya agar dia bisa berjalan pegi, tapi saat dia akan jalan tak sengaja kakinya menginjak kain penutup kursi itu dan hampir membuatnya terjatuh tapi untung saja seorang yang tak sengaja lewat dibelakangnya dengan cepat menangkap tubuhnya.


Rendra yang tadinya akan berdiri tak sigap, dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya di tangkap orang orag lain. Dan posisi pria itu terkesan memeluk pinggang istrinya,


“Astaga,.untung saja” lega Adiba karena dia hampir terjatuh barusan dan belum sadar kalau seseorang menangkapnya.


“Nona seharusnya lebih berhati-hati saat sedang hamil seperti ini” ucap pemuda yang menolang Adiba itu. dia membantu Adiba berdiri.


“Terimakasih sudah menolongku” ucap Adiba penuh syukur sambil melihat pria bule didepannya.


Rendra yang melihat itu langsung mendekat kearah istrinya, rasanya dia tak suka melihat interaksi istrinya itu dengan pria barusan. Entah siapa pria itu yang baru saja ia lihat,


Rendra langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri tanda bahwa Adiba adalah miliknya.


“Kamu ini bisa hati-hati nggak, jangan kebiasaan ceroboh kenapa” tukas Rendra dengan sedikit menahan marah. Adiba yang terkejut langsung melihat kearah suaminya yang terliha marah itu, meskipun Rendra terlihat menahannya tapi ia tahu sang suami tengah marah. Entah marah karena dirinya yang cerobaoh atau masalah lain, yang jelas cengkraman di pinggangnya begitu kuat.


“Seharusnya seorang pria melindungi perempuannya bukannya malah marah disaat peremuan itu membuat salah” cibir Pria itu sambil menatap Rendra dan sekilas melihat tangan.


“Bukan urusanmu, dia istriku. Ka siapa yang sok ikut camur urusan rumah tanggaku” kesal Rendra.


“Mas udah banyak orang nggak enak dilihatin, kamu kenapa sih malah marah sama orang yang udah nolongin aku” Adiba berusaha menenangkan suaminya yang seperti terpancing emosinya.


“Ayo pulang” bukannya menjawab Rendra bergegas mengajak Adiba pulang, dia tak perduli ornag lain melihatnya. Pria bule yang hampir bersitegang dengan Rendra hanya melihat datar saja. dan dia langsung berlalu menuju ke pelamainan.

__ADS_1


‘mas kita belum pamitan loh sama bang Tama?” Adiba berusaha mengingatkan Adiba soal itu.


“Nggak usah,” jawab Rendra.


“tapi mas nggak e..”


“Kamu bisa nggak sih nggak usah bantah omongan aku. aku bilang pulang ya pulang nggak usah pamitan” nada suara Rendra sedikit meninggi menatap Adiba yang melebarkan matanya tak percaya.


“Kamu kenapa sih mas marah-marah” Adiba berusaha ingin tahu sebenarnya kenapa Rendra marah bisa marah begitu.


Rendra malas ribut ditempat itu, dia hanya diam dan terus menuntun istrinya yang menatapnya. Ia tak perduli, dengan tatapan itu. ia ingin segera pulang ke hotel sekarang.


...........................................


“Siapa yang marah-marah, jangan asal deh loh. Mana ada tamu kita yang marah-marah” tukas Kania pada kakaknya yang mengadu bahwa tadi dia bertemu dnegan pria yang marah-marah.


“Benar kata Kania, tamu kita tidak ada yang marah perasaan” Tama sependapat dengan Kania. Mereka saat ini sednag ada di ruangan istirahat, dan Xavier datang-datang mengadu seperti itu.


“kalian tidak tahu saja, pria itu sudah tahu istrinya hamil tapi malah memarahi istrinya. Kan gila, cemburu tapi nggak pakek logika” pungkas Xavier.


“Cemburu sama kamu?” tanya Kania dan juga Tama.


Perasaan dia baru datang ke nikahan tadi, tapi ada pria yang sudah marah-marah tak jelas.


“Siapa ya kak?” bingung Kania saat mendapat aduan dari kakaknya itu, dia bertanya pada sang suami soal hal tersebut.


“Aku juga nggak tahu siapa, tapi Xavier bilang istrinya hamil, memang ada tamu kita yang hamil selain Adiba?” sahut Tama.


“Ada dua orang kak,” jawab Kania.


“Oh iya ngomong-ngomong soal Adiba, tadi waktu kita masuk kenapa kita nggak lihat dia sama Rendra ya. Apa mereka sudah pulang, tapi kenapa nggak bilang sama kita” Tama teringat soal Adiba dan juga Rendra yang tak terlihat di tempat.


“bener juga mereka kok nggak kelihatan ya. Jangan-jangan yang di maksud Xavier itu Rendra”


“Masa sih,” Tama sekaan tak percaya, dan dia melihat kearah Xavier yang berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.


“Nggak tahu juga sih, ayo kedepan lagi kak” ucap Kania dan mengajak Tama untuk kedepan lagi. Tama mengiyakannya dan dia mulai berdiri dari duduknya saat ini. tapi dalam pikirannya ia memikirkan soal aduan dari Xavier barusan. Kalau benar itu Rendra, pasti pria itu bakal marah pada Adiba. Tapi hatinya juga belum yakin kalau itu Rendra, masa Rendra masih pencemburu.


........................................

__ADS_1


Adiba duduk di tepi ranjang melihat Rendra yang diam saja melepas jasnya, mereka berdua sedari hanya berdiam diri saja tanpa mengobrol satu sama lain.


“kamu bisa nggak sih mas kalau nggak marah karena hal sepele” akhirnya Adiba berani biara pada suaminya.


Rendra yang tadinya diam smabil melepas jas di tepi ranjang lain langsung menatap snag istri.


“kamu bilang masa sepele?” ucapnya.


“Iya masa sepele mas,”


“Pikiran kamu dimana sih, kalau kamu jatuh tadi gimana? Ditambah lagi ngapain kamu tadi ganjen banget sama tuh cowok’


“Astaga siapa juga yang ganjen mas, kamu juga tau sendiri aku nggak ngapa-ngapain”


“Udahlah nggak usah dibahas, kamu istirahat saja”


“Kamu memang selalu begitu mas, pengen menang sendiri. seharusnya kamu bersyukur mas, pria tadi nolong aku. kalau nggak coba gimana?”


“Ya makanya kamu hati-hati” rendra langsung melihat kearah Adiba.


“Ya namanya musibah mas, aku nggak tahu. kamu marah begini karena cemburu kan. masalah begitu kamu cemberuin mas,” Adiba tak habis pikir dengan suaminya itu.


“Kamu gendong perempuan lain aja , aku nggak permasalahin mas. Tapi aku cuman begitu, itu aja nggak sengaja kau permasalahin begini” lirih Adiba sambil berdiri, dia malas menanggapi ucapan-ucpan suaminya yang terlalu berlebihan.


Rendra yang mendengar itu tampak terkejut, dia menatap Adiba yang akan berjalan kearah sofa


“Kamu. bilang apa barusan?”


Adiba hanya diam, dia malas membahas itu. dia sudah melupakannya tapi malah ia ungkit kembali soal Rendra yang pernah menggendong perempuan lain selain dirinya. Lebih parahnya itu tanpa sepengetahuan dirinya. Dan suaminya diam saja tak pernah bilang soal itu.


Rendra yang tak mendapat jawaban dari istrinya langsung berjalan menyusul Adiba,


“Sayang, kamu tahu soal itu?”


“Kamu pikir aku bodoh mas, samai nggak tahu.” tukas Adiba dingin.


Rendra tampak cemas, dia buru-buru mendekati Adiba yang terlihat kecewa dengannya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2