CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 44


__ADS_3

Adiba tengah berada didalam kamar mandi saat ini, dia membasuh wajahnya sendiri dan mengeringkannya dengan tisu yang baru saja dia ambil dari dalam tas kecil miliknya. Dia melihat wajahnya sendiri melalui pantulan cermin didepannya itu.


“Apa-apa kam Diba, kenapa sikapmu jadi begitu tadi. Kenapa lo harus cemburu sih” ucapnya merutuki kebodohannya sendiri saat melihat Rendra bersama perempuan lain tadi.


“Jangan cemburu, lo nggak cinta sama dia. cinta lo buat dia sudah hilang Diba” ucapnya menguatkan hatinya sendiri agar bisa bertahan untuk tidak mencintai Rendra lagi.


Adiba langsung merapikan bajunya, dia juga berusaha untuk mengatur nafasnya agar bisa menutupi rasa cemburunya. Kalau Rendra sampai tahu bisa-bisa dia diledek dan dipaksa untuk mengaku oleh pria itu.


Perempuan itu langsung melangkah keluar kamar mandi, dia melangkah dnegan mantap keluar untuk menemui Rendra lagi yang mungkin menunggunya atau malah cuek saja karena asik bicara dengan pramugari cantik itu.


‘Mau kemana? Suami sendiri ditinggal” ucap suara seseorang yang dimana berada dibelakang Adiba yang sudah melangkah agak jauh dari pintu kamar mandi.


Adiba yang terkejut langsung berbalik melihat Rendra yang ternyata sudah berdiri di belakangnya tadi. Pria itu bersandar di diding dan kini berjalan mendekati Adiba yang masih merasa terkejut karena kehadiran Adiba.


“Ke..kenapa kau bisa ada disini?” ucap Adiba terbata melihat Rendra yang berada disitu.


“Untuk menyusul istriku yang sedang cemburu lah, untuk apa lagi” ucap Rendra menggoda Adiba.


“Siapa juga yang cemburu” elak Adiba tidak ingin dikatakan cemburu.


“Siapa lagi ya kamu lah, udah kalau cemburu bilang aja.” Ucap Rendra pada Adiba.


“Siapa juga, nggak usah kegeeran deh.” Adiba masih terus saja mengelak saat di goda Rendra.


“Terserah kamu bilang apa, tapi disini ada tulisan cemburu tuh. Jadi aku tidak percaya kalau kamu tidak cemburu” ucap Rendra sambil menunjuk dahi Adiba.


“Mana, nggak ada ya” ucap Adiba, sambil memegang dahinya sendiri.


“Hahaha, kamu polos banget sih. Udah ah, ayo saya kita pulang nanti ketinggalan pesawat” tawa Rendra pecah, dia langsung menggandeng tangan Adiba mengajaknya berjalan sambil tertawa.


Adiba sendiri menerima begitu saja gandengan tangan itu, tapi dia menatap kesal Rendra yang mengerjainya dan bodohnya dia percaya begitu saja dengan ucapan Rendra.


.................................................

__ADS_1


Di Jakarta Jeremy sedang duduk dengan ayahnya saat ini, meskipun dia tampak cuek dengan sang Papa yang sibuk membaca koran di sofa tapi matanya sesekali melihat kearah Papanya. Dia sebenarnya penasaran bagaimana Papanya bisa menerima Adiba bahkan membela istri kakaknya itu ketimbang kakaknya.


Jeremy sangat tahu bagaimana sifat Papanya yang memandang pasangan anaknya harus mempunyai bibit bebet dan bobot yang luar biasa sedangkan perempuan yang menjadi kakak iparnya ini adalah orang biasa saja bukan dari keluarga yang kaya. Tapi kenapa Papanya begitu memperhatikan bahkan perduli dengan kakak iparnya.


“kenapa kau sedari tadi melihat Papa begitu?” tanya Frans yang akhirnya menyadari anak bungsunya sedari tadi memperhatikan dirinya.


“Aku pengen tanya deh sama Papa, kenapa papa membela kakak ipar begitu berlebihan. Padahal anak Papa adalah kakak bukan Adiba? Dan kenapa Papa menyetujui begitu saja kakak ipar sebagi menantu Papa, dan kenapa kau mendukung kakak ipar?” tanya Jeremy mengutarakan rasa penasarannya itu.


“Maksudmu apa, Papa tidak mengerti dnegan pertanyaan mu ya ng membingungkan itu” ucap Frans menatap anaknya.


“Aku tahu Papa, Papa dulu memilih pasangan untuk anakmu yang memiliki garis keturunan yang kaya. Lalu kenapa kau begitu berpihak dengan kakak ipar sekarang?”


“Kau anak kecil mengerti apa? sifat Papa memang begitu. Tapi Papa juga punya rasa kemanusiaan, kalau kau jadi Papa punya anak seperti kakakmu itu yang menghancurkan anak gadis orang dan membuat perempuan itu terbuang dari keluarganya harus mengurus anak di lua nIkah. Apa hatimu tidak akan kasihan dengan perempuan itu, meskipun yang melakukan itu anakmu kau tidak seharusnya memihak orang yang salah mengerti. Itu lah yang Papa lakukan sekarang, dan Adiba orag yang baik tak gila harta seperti kebanyakan orang yang berada dikelas menengah bawah” pungkas Frans membuat anak bungsunya itu paham akan apa yang dia lakukan.


“Ternyata Papa punya sisi baik juga ternyata,” ucap Jeremy sambil mengangguk-angguk melihat Papanya.


Frans langsung menggulung korannya dan memukul kepala Jeremy dengan sedikit berdiri.


“Augh, Papa apa-apaan sih” ucap Jeremy kesal.


“Ya memang kan” ucap Jeremy tak merasa bersalah.


“Sudah sana kau pergi jangan ganggu Papa” usir Frans pada anaknya.


“Sebentar pa, aku mau tanya satu hal lagi. Terus anak perempuan rekan bisnis Papa yang dulu sempat Papa ingin jodohkan dengan kakak bagaimana dengan dia,” ucap Jeremy menanyakan soal anak dari rekan bisnis Papanya itu yang dulu pernah dibicarakan Papanya dengan rekan bisnis mereka. Kalau akan menjodohkan Rendra dnegan anak dari rakan bisnis Frans.


“Ya jelas batal lah, Papa sudah menikahkan kakakmu dengan Adiba. Dan Papa juga sudah membatalkannya dari enak tahun lalu. Kenapa kau bahas lagi masalah ini”


“Ya tidak apa-apa, aku Cuma tanya saja” ucap jeremy.


“hiks, Hikss, Mama, Ma” Rafka berlari masuk kedalam rumah sambil menangis, dia baru saja pulang sekolah dnegan keadaan menangis saat ini.


Jeremy dan juga Frans yang masih berada di ruang tamu langsung melihat kearah Rafka yang menangis. Sementara dibelakang bocah itu ada seorang pria yang berseragam hitam, pria itu adalah supir sekaligus pengawal Rafka yang baru ditugaskan hari ini.

__ADS_1


“Ada apa sayang, cucu opa kenapa menangis” ucap Frans yang langsung berdiri menghampiri sang cucu.


“Rafka masih saja menangis tidak menjawab ucapan dari sang kakek,


“Deo ada apa dengan Rafka kenapa dia menangis?” tanya Frans pada pria tegap yang berdiri di depannya saat ini.


“Maaf pak, tadi waktu saya menjemput Rafka dia di ejak teman-temannya dan sedikit di dorong hingga jatuh. Dan dari yang saya dengar tadi mereka mengejek Rafka sebagai anak haram yang tidak memiliki ayah. Bahkan orang tua mereka tadi ada yang mengatai bu Adiba sebagai wanita bayaran, karena saya datang menjemput Rafka. Dan mungkin mereka pikir saya yang membayar bu Adiba.” Jelas pria bernama Deo,


Beberapa orang tua teman Rafka yang datang menjemput anak-anaknya tadi memang sempat membicarakan Adiba karena yang menjemput Rafka lain orang lagi. Mereka sudah beberapa kali melihat Rafka di jemput pria yang berbeda. Jadi mereka berpikir orang-orang itu yang membayar Adiba selama ini.


“Orang tua stres itu, kayak mereka benar sendiri ngomong orang. Nggak etis banget ngomong didepan anak kecil” kesal Jeremy saat mendengar itu.


“Cup, cup, cucu Opa yang ganteng ini masa nangis. Udah, jangan nangis ya,” ucap Frans memencoba menenangkan Rafka yang menangis.


“Mama mana Opa, Mama sama Papa belum pulang” ucap Rafa menanyakan kedua orang tuanya.


“belum sayang, sudah jangan nangis. Kamu sama Om Jeremy dulu ya ganti baju, ada bibi juga di atas nanti biar dia yang gantiin kamu baju atau nggak Om Jeremy yang bantu kamu ganti baju” ucap Frans menggendong Rafka sebentar.


“Papa nih masa aku yang gantiin baju, kan ada si bibi yang jaga Rafka. Mama juga ada, Mama aja ah yang ngurus” ucap Jeremy menolak.


“Mama kamu masih pergi, ini gendong ponakan mu.” Ucap Frans


“Rafka sama Om Jeremy dulu ya” ucap Frans menyerahkan Rafka pada Jeremy.


“Rafka nggak mau digendong Om Emy, Om Emy cerewet,” Rafka malah minta turun dan tidak mau digendong oleh Jeremy saat kakeknya itu menyerahkan dirinya pada sang Om.


“Iih, kok Om yang cerewet kebalik ponakan ku sayang” ucap Jeremy tidak terima di katakan cerewet.


“Jeremy ajak Rafka ke atas” perintah Frans pada Jeremy.


“hemmm”


“Ayo Rafka,” ucap Jeremy sambil menggandeng tangan Rafka mengajaknya untuk keatas saat ini. lagi-lagi dia harus jadi baby sitter untuk ponakannya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2