
Adiba berlari terburu-buru menuju ruangannya sekarang, dia tidak mengerti kenapa dia bisa di pecat padahal selama ini dia tidak pernah merugikan perusahaan atau membuat masalah di perusahaan kenapa dia di pecat sekarang.
“Hito,.” Panggil Adiba pada Manager keuangannya. Dia melihat Hito yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Akhirnya kamu datang juga,’ ucap Hito, meskipun Adiba atasannya tetapi Hito dan Adiba cukup dekat selama ini saat di kantor.
“apa benar yang kamu katakan kalau aku dipecat? Nggak mungkin kan to” ucap Adiba menatap Hito.
Hito diam sejenak, dia tampak bingung harus bilang apa pada Adiba sekarang kalau hal itu memang benar
“Itu benar Diba, kamu dipecat oleh Pak Rendra bahkan barang-barang mu juga di buang” jelas Hito pada Adiba.
“Apa?” Adiba tampak syok mengetahui itu. Adiba langsung berlari masuk kedalam ruangannya dia ingin melihat sendiri kenyataan itu kalau barang-barang miliknya juga dibuang.
Hito mengejar Adiba masuk kedalam ruangan, dia tidak tega dengan perempuan single parent itu yang harus di pecat.
Adiba terpaku di tempatnya saat melihat ruangannya yang kosong, hanya ada meja dan kursi tanpa ada berkas-berkas di mejanya saat ini bahkan foto dan juga barang-barang pribadi miliknya yang ia tinggal di kantor juga tidak ada.
“benar foto,” gumam Diba langsung berlari menuju meja kerjanya yang sudah kosong.
“Dimana foto Rafka,” ucapnya lirih sabil terus mencari bingkai foto kecil yang selalu dia taruh di meja kerjanya sebagai penyemangat dirinya ketika bekerja. Foto anaknya yang begitu menggemaskan yang selalu menemani dia.
“kamu mencari apa?” tanya Hito yang melihat Adiba tampak kebingungan.
“Foto anakku, kamu lihat foto anakku di meja” tanya Adiba begitu cemas foto itu hilang, dia juga takut kalau Rendra melihat itu.
“Si..siapa yang memberesi tempat ini?” ucap Adiba terbata, karena takut jika Rendra yang melakukannya.
“Pak Rendra sendiri yang memberesi nya” jawab Hito.
Deg,
Diba semakin takut saja dengan itu, bagaimana jika Rendra tahu soal Rafka.
Adiba lalu pergi meninggalkan Hito yang bingung dengannya,
“Diba mau kemana lagi kamu?” seru Hito pada Adiba, Adiba berlari kearah ruangan Ceo yang tidak jauh dari ruangannya. Dia harus bertemu dengan Rendra masalah hal ini. dia tidak ingin pria itu tahu soal Rafka. Dia juga akan menanyakan alasan dirinya di pecat, ini tidak adil kenapa dia ahrus di pecat.
.....................
“Ini foto siapa? Apa ini anakku?” ucap rendra yang duduk di meja kerjanya sambil melihat foto berbingkai kecil yang dia pegang. Foto seorang bayi yang duduk dan tersenyum menggemaskan.
“Tapi dia bilang sudah menggugurkannya,” lanjut Rendra tampak bingung dengan foto tersebut.
Di tengah kebingungannya, pintu ruangannya saat ini terbuka menampakkan wajah seorang perempuan yang memang dia harapkan kedatangannya sedari tadi.
“Apa maksud mu memecat ku,?” tukas Adiba berjalan mendekati Rendra yang tampak menaruh sesuatu di loker meja dan pria itu langsung berdiri menatapnya..
“Kau datang hanya bertanya soal maksudku memecat mu, tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan” ucap Rendra dengan wajah serius, dia berjalan mendekat kearah Adiba.
__ADS_1
“kenapa kau mendekat?”
“Tidak enak berbicara dengan jarak yang jauh” tukas Rendra dengan tangan yang masuk ke saku celananya.
‘aku tanya padamu kenapa kau memecat ku, aku salah apa sehingga kau memecat ku hah” kesal Adiba menatap nyalang Rendra yang menatapnya tak berekspresi.
“Kau telah salah karena bertunangan dengan orang lain” jawab Rendra.
“Apa?”
Rendra langsung menarik tangan Adiba, dan dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping saat ini.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku. aku bilang lepaskan” ucap Adiba memberontak.
“Kau milikku hanya milikku, orang lain tidak bisa memilikimu. Kau ku pecat sebagai Direktur karena kau mulai hari ini adalah sekertaris pribadiku mengerti” ucap rendra dan mencium pipi Adiba.
“kau gila,” Adiba mendorong kuat tubuh Rendra dengan sekuat tenaganya agar terlepas rengkuhan pria itu. Dia mengusap kasar wajahnya yang bekas dicium Rendra barusan.
Rendra sendiri hanya tersenyum menatap Adiba yang tampak marah dengannya, dan wajahnya langsung berubah serius saat mengingat foto bayi berusia beberapa bulan yang dia ambil dari ruang kerja Adiba tadi.
“Aku tanya padamu, di mana anakku?” tegas Rendra menatap Adiba.
“Anak apa maksudmu? Bukannya aku sudah pernah bilang sudah aku gugurkan” ucap Adiba yang berusaha untuk berani berbicara begitu. Padahal tadi dia cukup terkejut saat Rendra menanyakan anaknya.
“kau serius dengan ucapan mu?”
“Ya aku serius anak haram darimu sudah mati saat dalam kandunganku” tukas Adiba cukup lantang tapi hatinya sakit saat mengatakan anak itu telah mati sejak dalam kandungan. padahal anak itu masih hidup sekarang.
“Yakin sekali dirimu, aku harus bilang berapa kali kalau dia sudah tiada, bukannya kau sendiri yang menyuruhku menggugurkannya” Adiba mengepalkan tangannya menatap Rendra tak bersahabat.
“Oke, kau bersikeras tidak ingin memberitahu ku kan. Aku akab cari sendiri kebenarannya” ucap Rendra langsung pergi meninggalkan Adiba, dia melewati perempuan itu begitu saja.
“kau mau kemana, jelaskan padaku kenapa aku di pecat dan harus menjadi sekertaris mu” tukas Adiba pada Rendra.
Rendra tidak menjawabnya sama sekali, dia berjalan pergi dengan cepat meninggalkan Adiba dan menutup pintu ruangan itu dengan keras.
Adiba terdiam di tempatnya, dia langsung luruh ke lantai,
“maafkan Mama nak, maafkan mama..Mama mengatakan kamu sudah tiada, maaf kan Mama” ucap Adiba menangis menyesali apa yang dia ucapkan barusan.
..........................
Rendra duduk terdiam di sebuah cafe yang berada di mall, dia datang ke Mal karena ada sesuatu yang dia beli. Dia terdiam mengingat ucapan Adiba tadi, lagi-lagi perempuan itu bilang anaknya sudah tiada.
“Dia bohong sampai segitu, aku yakin bayi itu anakku. Aku sangat yakin meskipun foto itu tidak terlalu mirip denganku. Foto siapa lagi yang dia pajang kalau bukan anaknya” ucap Rendra sambil mengingat foto tadi.
“Kamu anak Papa kan? Tunggu papa sayang, papa pasti menemukanmu” ucap Rendra dengan begitu yakin kalau anak itu anaknya.
Rendra langsung berdiri sambil menenteng papar bag besar berwana putih dengan logo merek ternama. Dia harus pulang sekarang, ia akan menemui Papanya dan dia akan memohon pada pria itu untuk membantunya. Dia benar-benar ingin bertemu dengan anaknya.
__ADS_1
Saat rendra baru berjalan keluar dari dalam cafe tiba-tiba ada yang menabrak dirinya saat ini, dan itu anak kecil yang kira-kira berumur lima tahun, bocah itu terdorong dan jatuh terduduk di depannya.
“Rafka,..” seru seorang perempuan remaja dan juga seorang pria yang segera membantu Rafka berdiri.
Rendra mensejajarkan tubuhnya agar sama dengan bocah itu, dan dia terkejut saat melihat wajahnya. Itu bocah yang beberapa hari bertemu dengannya di taman bermain. Hatinya terasa hangat melihat bocah tersebut.
“Anak manis nggak pa-pa” ucap Rendra pada Rafka.
“maaf ya mas ponakan saya nabrak mas” ucap pria itu dan langsung melihat kearah Rendra
“Loh masnya yang waktu di taman itu ya?” ucap Alfin saat mengenali rendra adalah pria yang dia temui di taman bermain beberapa waktu lalu. Dimana waktu itu Rafka juga menabrak pria di depannya.
“Rafka jangan lari lagi ya tante capek” ucap Chika adik Alfin.
“Aku nggak mau sama tante Chika sama Om Alfin, aku maunya sama Mama. Mama bohong sama aku, katanya mau nemuin aku sama papa. Tapi Mama bohong, aku pergi..” ucap Rafka sambil menangis di depan Rendra.
“Rafka, Rafka jangan nangis ya. Mama kan kerja sayang buat rendra, biar bisa beli mainan kayak sekarang. Om ngajak kamu kesini kan mau beli mainan, ayo sayang” ucap Alfi menarik pelan Rafka.
“Nggak mau, aku nggak mau mainan aku mau nya Papa. Aku Mau Papa Om bukan mainan, aku mau ketemu Mama, aku mau ajak Mama ketemu papa Om” rengek Rafka.
Rendra yang melihat itu seperti tidak tega hatinya sakit melihat bocah itu menangis,
“Sini sama Om Rendra sayang, jagoan kok nangis. “ ucap Rendra pada Rafka.
“memang Papa sama Mama nya kemana?” tanya rendra pada Alfin dan juga Chika.
Alfin dan juga Chika hanya bisa diam dan saling lihat satu sama lain,
“Mamanya kerja mas, te..terus Papanya..” ucapan Chika terhenti karena Alfin memotongnya.
“Papanya di luar negeri mas,” timpal Alfin.
“Oh,.”
“Rafka nggak usah nangis ya, Mama kan sibuk kerja. Papa mungkin juga sibuk kerja, sama Om aja yuk. Om belikan es krim sama mainan” ucap rendra pada Rafka.
“Nggak usah mas, saya sama adik saya yang mau belikan,”
“Nggak pa-pa, nggak usah sungkan. Dia seusia anak saya kalau anak saya masih hidup” pungkas Rendra.
Alfin dan Chika terdiam, mendengar ucapan rendra. Mereka menilai pria di depannya adalah orang yang baik bahkan mereka tidak saling kenal tetapi ucapannya begitu ramah dan dia tampak baik dengan Rafka.
“Ayo, mau kan ikut Om” ucap Rendra. Rafka mengangguk menjawab pertanyaan Rendra.
Hal itu membuat Chika dan Alfin heran karena Rafka tipe anak yang tidak mau di ajak siapa-siapa selain keluarganya.
“Ayo kalian juga,” ajak Rendra pada kedua orang itu.
Rendra tiba-tiba saja menggendong Rafka dan dia juga menentang tas belanjaannya. Entah mengapa dia ingin sekali menggendong bocah itu saat ini. dua kali ia bertemu dnegan bocah yang dia gendong saat ini seperti mereka saling ada ikatan satu sama lain tapi apa, heran Rendra.
__ADS_1
°°°
T.B.C