
Jeremy sibuk sendiri mengatur orang-orang yang tengah mendekor tempat yang besok akan di adakan untuk acara ulang tahun Rafka.
“Gimana bro, puas nggak dengan dekornya?” seorang pria menghampiri Jeremy yang berdiri berkacak pinggang memperhatikan orang-orang yang mendekor.
“bagus sih Jun, keren. Tapi gue nggak tahu pendapat kakak gue, dia udah ngomong pendapatnya belum”
“Gimana dia mau ngomong sama gue, tuh lihat kakak lo malah tidur di kursi” pungkas Juno sambil menunjuk Rendra yang tidur menelungkup kan kepalanya di meja yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“ya elah tuh orang, jadi mandor aja kerjaannya. Bentar ya gue ke sana dulu” ucap Jeremy langsung pergi meninggalkan Juno untuk menghampiri Rendra yang tidur.
“enak banget ini orang, yang ulah tahun anaknya dia yang repot gue” gumam Jeremy menatap kesal kakaknya tersebut.
Sangking kesalnya dia menendang kursi yang di duduki Rendra,
“Gempa, Gempa, Ma gempa ma” Rendra langsung terbangun dan heboh sendiri.
“gempa dari mananya dari hongkong” sinis Jeremy menatap kakaknya kesal.
“Kursi ku goyang barusan, ada gempa kan.?” rendra tampak bingung sendiri sambil melihat dengan was-was sekitarnya.
“Nih gempa nih,” Jeremy kembali menendang kursi yang di duduki kakaknya.
“Rese lo,” kesal Rendra langsung berdiri.
“Salah sendiri ngebos aja, tuh lihat dekornya bagus nggak. Apa lagi yang kurang?”
Rendra langsung melihat kearah yang ditunjuk Jeremy, dia melihat takjub dekor tempat itu yang sudah berbeda dari sebelumnya.
Tema dekorasi untuk ulang tahun Rafka menjunjung Tema robot bahkan ada dekor yang tiga dimensi.
Robot-robot pun juga bisa bergerak
“Wiih, mantep teman lo” ucap Rendra yang merasa puas dengan itu.
“Iyalah teman gue gitu, nggak kayak teman lo nggak jelas semua” cibir Jeremy, Rendra yang mendengar itu langsung melotot menatap adiknya.
“Udah ah, gue ke sana dulu. ini seriusan udah kan, gue suruh pulang teman gue udah malem juga. eh bukan malem lagi tapi udah mau pagi aja.” Ucap Jeremy memasukkan tangannya ke saku celananya saat ini.
“Ya udah sana, besok upahnya”
“eh bentar, Adiba tadi nggak kesini?”
“Nggak, mungkin udah tidur, tadi yang kesini Mama sama Papa”
“ya sudah sana, salam untuk teman-temanmu, terimakasih” pungkas Rendra.
“hemm” Jeremy langsung berjalan pergi menuju teman-temannya yang sedang merapikan tempat yang ada disitu.
Rendra sendiri tampak puas dengan hasil kerja teman adiknya, besok Rafka pasti menyukainya.
........................................................
Matahari sudah menyongsong masuk kedalam kamar Adiba dan juga Rendra, dua orang itu masih terlelap di kasur yang empuk. Rendra memeluk istrinya dari belakang begitu erat seakan tidak ingin kehilangan sama sekali.
Adiba terbangun dari tidurnya karena secercah sinar matahari berhasil menembus masuk dan mengenai wajahnya membuat tidurnya terganggu.
Dia menggeliat dan terasa berat pinggangnya karena pelukan Rendra, ia yang menyadari tangah dipeluk melepaskan tangan suaminya dengan perlahan agar pria itu tidak terbangun tapi dia yang pelan-pelan berbanding terbalik dengan pintu kamar yang terbuka cukup keras membuat Rendra langsung terbangun.
Adiba yang mendengar pintu yang membentur dinding dengan cukup keras langsung melihat kearah pintu saat ini dan mendapati sang anak yang sudah siap berpakaian rapi untuk pergi ke sekolah.
“Suara apa sayang?” tanya Rendra yang belum menyadari anaknya lah yang membuka pintu.
__ADS_1
“Rafka, kok buka pintunya keras banget sih sayang. Papa kamu kebangun ini,” tegur Adiba dnegan lembut.
“habisnya Mama sama Papa bangunnya siang, aku mau sekolah ma.” Ucap bocah itu yang berjalan mendekati kedua orang tuanya.
“hari ini kamu nggak usah sekolah ya nak,” ucap Rendra dengan suara seraknya.
“Nggak sekolah? Kenapa?”
Rendra yang masih begitu mengantuk sesekali memejamkan matanya dan menguap berkali-kali.
“Papa kenapa aku kok nggak usah sekolah” Rafka langsung naik ketempat tidur meminta penjelasan papa.
“papa punya kejutan buat kamu, kamu nggak usah sekolah dulu ya hari ini” ucap Rendra yang masih berbaring dan memeluk putranya yang duduk didepannya.
”kenapa?” bocah itu masih saja tak mengerti kenapa dia tidak dibolehkan ke sekolah hari ini.
“Nanti Papa kasih tahu, Papa mandi dulu ya sayang. Kamu sama Mama dulu,” ucap Rendra yang terpaksa harus bangun dan bangkit dari tidurnya sekarang.
“Aku mandi dulu sayang,” ucap Rendra sambil mengecup kening Adiba sebelum dia pergi ke kamar mandi.
“Aku nggak dicium juga pa,” ucap rafka yang tampak ingin dicium juga.
“Oh iya Papa lupa” ucap Rendra dan kembali berbalik mencium sang putra.
“Ya sudah sana kamu buruan mandi, aku siapin bajunya” ucap Adiba.
Rendra mengangguk pelan dan berjalan kearah kamar mandi yang ada di kamarnya itu.
“Mama-mama, kenapa kok aku nggak dibolehin ke sekolah, terus Papa tadi bilang ada kejutan buat aku. memang apa ma?”
“Apa ya, mama juga nggak tahu. kalau mama tahu mama nggak bakal kasih tahu kamu kan kejutan sayang” ucap Adiba.
“hehehe iya ya, ya udah aku nggak sekolah dulu ah hari ini. aku mau pamer ke Om Emy dulu kalau papa mau kasih kejutan, Dadaa mama” ucap Rafka yang beranjak turun dari tempat tidur dan pergi meninggalkan mamanya yang tersenyum padanya.
...............................................
“Masa udah mau umur enam tahun minta gendong,” goda Rendra yang ada disampingnya.
“Tapi aku kan masih kecil pa, buka ya. Nggak enak mataku sakit” rengek bocah itu dan memaksa untuk melepas penutup matanya saat ini.
“Eh, jangan dulu sayang” ucap Adiba yang langsung mencegahnya.
“Iya bentar anak papa, sebentar lagi ya” ucap Rendra.
“hemmm,” bocah itu langsung cemberut karena dilarang kedua orang tuanya untuk membuka mata.
“bentar sabar ya sayang” ucap Adiba sambil berjalan pelan dan melihat Rendra, mereka berdua saling tersenyum dan menatap depannya yang sudah ramai orang tetapi mereka suruh untuk diam semua termasuk teman-teman sekolah Rafka yang sengaja disuruh datang ke rumah mereka saat ini.
Rendra memberi aba pada semuanya saat Adiba membuka mata mereka semua diminta untuk menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rafka.
“Ma udah ma, buka ya ma” ucap Rafka yang tidak sabar.
“Iya bentar sayang, tunggu pa hitung dulu ya” jawab Adiba.
“Papa hitung sekarang ya, satu, dua tiga, buka ma” seru Rendra dan meminta Adiba membuka penutup mata anaknya.
“Suprise..” seru Rendra dan juga Adiba bersamaan.
Orang-orang yang ada disitu segera menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rafka termasuk teman-temannya juga.
Rafka yang melihat itu tampak berbinar senang dengan kejutan yang dibuat oleh kedua orang tuanya. Dia langsung menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
“Mama, Papa,” ucapnya lirih dan tampak bergembira.
“Rafka suka,” ucap Rendra dan langsung menggendong putranya.
“Heem suka, bagus pa. Rame juga, aku suka” ucap bocah itu.
“Selamat ulang tahun cucu Oma sama Opa” ucap Citra saat Rendra dan Adiba membawa Rafka mendekati mereka yang berdiri mengelilingi kue tart berwarna kuning dengan bentuk robot.
“Makasih Oma, Opa” ucap bocah itu menerima ciuman dari Oma dan Opanya.
“Lintang-lintang,” ucap Rafka yang langsung turun dari gendongan sang papa dan menghampiri temannya senang. bocah itu tampak senang melihat teman-teman sekolahnya datang ke ulang tahunya. Termasuk Lintang teman sekolahnya dulu.
“Selamat ulang tahun Afka,” ucap lintang bocah laki-laki seumuran Rafka.
“makasih,”
“Iki, Bagas,” seru rafka lagi saat melihat kedua teman barunya yang datang juga. mereka saling mengucapkan selamat.
Rendra dan juga Adiba melihat itu ikut merasa senang melihat Rafka yang tampak bahagia bahkan sesekali dia menunjukkan kue itu pada teman-temannya.
Acara tiup lilin telah berlangsung dan mc bertanya pada Rafka kado yang diinginkan bocah itu apa.
Rafka yang tadinya asik dengan temannya langsung melihat kearah Mc dan berlari menghampiri kedua orang tuanya yang tidak jauh darinya saat ini.
“Rafka sayang mau kado apa nak dari Papa sama Mama, tadi kan Om lihat dapat kado dari Opa Frans mobil-mobilan besar terus dan Opa Alif dapat robot. Terus yang diminta Rafka sama Papa Mama apa sayang kalau boleh Om tahu”
“Mau apa sayang?” tanya Rendra lirih
“Nanti Om aku mau minta Om Emy dulu kadonya, baru aku minta ke Papa sama Mama”
jeremy yang berada disitu langsung membelalakkan matanya sambil menunjuk dirinya sendiri
“Om Emy, OM Emy, Om Emy nggak mau ngasih aku kado” pinta Rafka pada Jeremy.
“Tuh bocah perasaan ganggu hidup gue aja” gerutu Jeremy pelan,
“hehhe iya nanti keponakan om,” ucap Jeremy sambil nyengir.
“Om Emy nya Rafka kayaknya pelit ya sayang” ucap sang MC dan mengundang tawa semua orang yang ada disitu.
“Om Emy emang pelit, cerewet juga oM MC” sahut Rafka sambil meledek Omnya yang memberikan tatapan tak bersahabat.
“Asli tu bocah kenapa begitu banget sama gue deh” gumam Jeremy.
“Sekarang giliran Mama sama Papa, Rafka mau minta apa sayang sama Mama Papa Rafka?”
“Aku nggak mau minta apa-apa, aku cuman mau sesuatu aja”
“Kalau Om boleh tahu, apa ya”
“Aku mau minta adik dua sama Mama sama Papa” ucap bocah itu polos dan membuat Adiba dan Rendra melebarkan matanya satu sama lain, mereka antara malu dan bingung sendiri di tengah-tengah banyak orang.
“Waah Rafka mau adik ya, doakan saja ya, Om doakan deh supaya Rafka cepat dapat adik ya.”
“Iya Om,” seru bocah itu girang, dia memang ingin sekali punya adik. Dia melihat Lintang yang punya adik ditambah Lintang juga sebentar lagi mau punya adik lagi sedangkan dia belum sama sekali.
“Tuh denger, anak kamu pengen adik. Buruan di gas, bikin adik buat Rafka” bisik Citra ditelinga putranya.
“Apaan sih ma, nanti juga bakal ada adik buat Rafka.” Ucap Rendra, Adiba yang ada disitu merasa kikuk sendiri.
°°°
__ADS_1
T.B.C