
Adiba masuk ke kamar anaknya untuk membangunkan Rafka untuk mandi, dan juga meminta Rafka untuk tidak sekolah karena mereka akan pergi ke Bogor untuk menghadiri acara pernikahan Oki.
Tanpa diduga saat Adiba membuka pintu kamar sang anak, dia tidak melihat bocah itu. kamar tampak kosong saat ini membuatnya kebingungan seketika.
“Rafka, Rafka sayang” panggil Adiba sambil berjalan amsuk mencari anaknya tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.
“Loh rafka kemana pagi-pagi begini” ucapnya lagi mulai cemas soal keberadaan anaknya.
Buru-buru Adiba keluar dari kamar itu, ia akan memberitahu Rendra kalau rafka tidak ada di kamarnya sekarang. Sangking cemasnya ia berlari kecil menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar sang anak.
“Mas, bangun..bangun mas” gelisah Adiba berteriak meminta suaminya untuk bangun.
Karena mendengar teriakan Adiba itu membuat Rendra terbangun, dia duduk seketika dan menatap istrinya khawatir.
“Ada apa sayang, ada apa. kau kenapa, perut kamu sakit?” Rendra langsung berdiri dan menghampiri Adiba yang tampak begitu cemas.
“Rafka mas, Rafka”
“Rafka? Rafka kenapa?”
“Rafka nggak ada di kamarnya mas dia kemana pagi-pagi begini”
Rendra memeluk istrinya yang tampak panik sendiri karena tidak mendapati anak sulung mereka di kamar.
“Kamu tenang dulu bisa kan, sini duduk” pinta Rendra dan mengajak Adiba duduk di tepi tempat tidur.
“Gimana aku bisa tenang mas, Rafka nggak ada. Dia nggak ada di kamarnya”
“Rafka di kamar Jeremy, dia tidur sama Jeremy semalam” tukas Rendra.
“hah, serius mas” ucap Adiba menatap suaminya.
“Iya sayang, makanya dong jangan panik dulu”
“Kok kamu nggak bilang sih semalem, kalau Rafka tidur sama Jeremy”
“Semalem aku mau bilang sama kamu tapi kamu udah tidur ya udah aku nggak ngomong. Kamu jangan panik-panik lagi ah lagi hamil nggak boleh sayang” ucap rendra menasehati sang istri.
“Ya aku tadi reflek panik aja mas, biasanya Rafka tidur di kamar terus tadi nggak ada. Jadinya aku takut dia kemana”
“Lihat sayang Mama kamu panik karena kakak kamu nggak ada di kamar sampai bua Papa kebangun” ucap Rendra berbicara didepan perut Adiba.
Adiba melihat Rendra yang mengusap perutnya dan berbicara tepat didepan perutnya saat ini, ini terlihat menggelikan saat Rendra menyentuh perutnya tetapi dia menyukai hal ini. ini anak kedua baginya tapi ini hal pertama yang membuatnya terharu. Bagaimana tidak dulu saat hamil Rafka sama sekali tidak ada yang mengajak mengobrol dan memegang perutnya saat ini anak keduanya didampingi oleh calon Papanya.
Tanpa terasa mata Adiba berkaca-kaca, membuatnya menyeka pelan pelupuk matanya saat ini.
Rendra yang menyadari itu langsung mendongak dan melihat sang istri.
“Kamu nangis sayang? Kenapa nangis?” cemas Rendra saat melihat istrinya menangis didepannya.
“Siapa yang menangis mas, aku cuman terharu aja”
“Terharu kenapa, cengeng banget istri aku” ucap Rendra sambil mengusap wajah Adiba.
__ADS_1
“terharu aja, aku nggak nyangka hamil lagi dan kamu ada saat ini buat aku dan calon anakku” jawab Adiba.
Rasa bersalah akan dulu kembali terngiang di ingatan Rendra saat ini, dulu saat Adiba hamil Rafka dirinya sama sekali tidak ada bersama Adiba. Tapi kali ini dia harus ada dia akan menebus semuanya, dia akan selalu menemani masa kehamilan sang istri hingga dia melahirkan nantinya.
“Aku minta maaf ya soal dulu, aku janji sama kamu kalau aku bakal selalu ada buat kamu” pungkas Rendra dengan penuh keyakinan.
Adiba mengangguk dan langsung memeluk Rendra, dia semakin terharu dengan apa yang dikatakan suaminya itu.
Rendra membalas pelukan Adiba, dia mengusap lembut bahu sang istri. Sepertinya kehamilan Adiba kali ini membuat perempuan itu lebih perasa, dia sebagai suami harus lebih peka lagi agar tidak membuat istrinya kecewa.
......................................................
Meja ruang makan di rumah Rendra sudah penuh dengan berbagai macam makanan untuk sarapan pagi kali ini.
Rendra dan yang lainnya pun sudah ada di meja makan, Adiba mengambilkan makan untuk suami dan anaknya sedangkan Jeremy mengambil sendiri apa yang dia mau hanya satu yang dia pinta dari Adiba yaitu mengambilkan Ikan bakar yang jauh darinya dan lebih dekat dengan kakak iparnya itu.
“Kak, Papa sama Mama kapan pulang?” tanya Jeremy membuka suaranya saat kakaknya baru saja akan menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
“Nggak tahu, kayaknya seminggu lagi, kenapa?” balas Rendra dan balik bertanya pada Jeremy.
“Nggak pa-pa tanya aja”
“Mama memang kita hari ini mau kemana sih kenapa aku pakai baju yang sama kayak Papa” tanya Rafka pada Mamanya yang duduk didepannya saat ini.
“Kita mau ke rumah Opa Rama sayang di bogor, bude Oki mau menikah” jawab Adiba yang membuang duri-duri ikan untuk Rafka.
“Opa Rama yang itu Ma, yang ngaku jadi Opa aku waktu itu”
“Iya sayang, bukan ngaku tapi dia memang Opa kamu. dia Ayah dari mama” jelas Adiba
“Bocah, makan dulu baru banyak tanya. Nanti Om makan itu punya kamu” ucap Jeremy membuka suaranya, karena kakaknya dan kakak iparnya terlihat bingung bagiamana menjelaskan soal apa yang ditanyakan Rafka membuat dirinya terpaksa harus ikut campur.
“Jangan OM, itu kan punya aku. OM Emy rakus” sungut Rafka menatap tak suka pada Omnya.
“Ya makanya itu dimakan, Mama kamu sudah membersihkan durinya” perintah Jeremy pada sang keponakan.
“Iya sayang buruan dimakan, karena nanti kita ke rumah sakit dulu buat lihat adik kamu” sela Rendra menatap anaknya.
“Adik?” ucap jeremy dan rafka hampir berbarengan.
“Adik Pa, rafka belum punya adik” heran bocah enam tahun itu tampak bingung.
Jeremy langsung tahu yang dimaksud kakaknya barusan.
“Kakak ipar hamil lagi?” tanya pada Rendra dan juga Adiba.
“Iya Jer, kakak hamil lagi” jawab Adiba.
“Ya ampun bakal ada bocil lagi di rumah, posisi gue bakal terancam dan bakal adi baby sitter lagi gue capek deh” keluh Jeremy meratapi dirinya di masa mendatang.
“Mama hamil, serius.” Tanya Rafka yang baru ngeh dengan ucapan tiga orang dewasa didepannya.
“Iya Mama kamu hamil sekarang, kamu senang kan bentar lagi punya adik” ucap Rendra pada sang putra.
__ADS_1
“Seneng Pa, aku senang punya adik. Nanti ketemu Lintang ya Pa. Aku mau ngomong sama dia kalau akau mau punya adik” ucap Rafka bersemangat, ia jadi tak sabar untuk memberitahukan sahabatnya kalau dia bakal sama punya adik.
“Nggak bisa sayang, kan nanti kita mau ke Bogor. Besok aja ya” jawab rendra menatap sang anak yang berubah cemberut karena tidak jadi ke rumah Lintang untuk memberitahu soal mamanya yang hamil.
“Kok cemberut sih anak Papa, besok Papa janji anterin kamu tempat Lintang. Senyum dong nanti kan mau lihat adiknya masa cemberut, nanti adiknya kakak Rafka ikut cemberut loh” ucap rendra berusaha membujuk anaknya agar tidak cemberut dan marah.
“Iya deh, tapi seriusan mau lihat adik nanti. Memang bisa pa, kan masih ada di dalam perut mama”
“bisa sayang, nanti Rafka tahu adiknya kayak mana” sahut Adiba.
“Sekarang makan dulu yuk, kasihan tuh Om Emy udah laper” ucap Adiba lagi.
“Yok makan sayang” ucap Rendra pada anaknya.
“Ini sudahkan bicaranya, Papa sama Nggak di rumah aku begini banget sih kayak orang asing” cibir Jeremy menghela nafasnya.
“Iri bilang bos” tukas Rendra pada Jeremy.
Jeremy hanya diam dan mengalihkan pandangannya dari sang kakak,
“Buruan makan Jer, nanti kamu mau ikut kita nggak?” tanya Adiba pada adik iparnya tersebut.
“Ke Bogor? Ngapain kakak ipar. Aku di rumah aja” tolak Jeremy.
“Ikut kita aja, ngapain juga kamu di rumah tidur” pungkas Rendra melihat adiknya.
“Itu tahu”
“Dasar, cari jodoh sana daripada di rumah tidur” tukas Rendra.
“Udah ada jodohnya” jawab Jeremy,
“Udah ah, ayo buruan makan. Kalau kata Papa ini meja makan bukan ruang rapat” ucap jeremy lagi sambil menirukan ucapan Papanya.
............................................................
“Papa mana adik aku, katanya mau lihat adik” tanya Rafka sambil sedikit menarik baju papanya yang berdiri disebelahnya saat ini. mereka berdua berdiri disebelah ranjang Adiba yang tengah diperiksa seorang dokter perempuan.
“Oh mau lihat adiknya ya nak, ini bu dokter lihatin” ucap dokter perempuan itu sambil memperlihatkan dalam rahim Adiba dimana janinnya belum terlalu besar di karenakan usia kehamilannya masih tergolong muda.
“Ini ya pak janin baru tiga minggu jadi belum terlalu terlihat” ucap sang dokter sambil menunjuknya.
“Iya,” jawab Rendra singkat dan hanya sesekali mengangguk, dia tampak bingung dan tak tahu yang mana karena belum terlihat jelas jadi lebih baik dia pura-pura tahu saja.
Sepertinya Rafka juga sama bingungnya dengan sang papa tapi dia hanay diam, karena dia tak mengerti yang mana adiknya.
Tak butuh waktu lama , Adiba sudah di persilahkan turun dari ranjang dan mereka bertiga langsung mendekat kearah sang dokter yang tampak menuliskan sesuatu dia mejanya saat ini.
“Ternyata anak kita sudah tiga minggu sayang, untung aku mainnya nggak kasar ya kan.” bisik Rendra di telinga istrinya sambil melemparkan senyum menggoda.
“Iih mas, disini kok bahas itu” mendengar itu membuat Adiba refleks mencubit pinggang sang suami, dibarengi dengan hal itu membuatnya tersipu malu saat Rendra membahas pergulatan di ranjang.
“Kenapa memang” jawab Rendra sambil tersenyum dan dia langsung melenggang pergi mendekati dokter kandungan itu. ia juga ingin menanyakan bagaimana soal kandungan Adiba apakah baik-baik saja atau tidak.
__ADS_1
°°°
T.B.C