
Jeremy hari ini bertamu kerumah kakaknya, dia tak sendiri melainkan bersama dengan sang istri. Mereka datang malam hari membawakan makanan mie-miean, berbagai jenis mie ada. Dari mie ayam, mie aceh, mie goreng dan lain sebagainya, itu atas permintaan Rendra dan juga Adiba yang katanya menginginkan salah satu dari makanan itu. alhasil Jeremy membeli semua yang berbahan mie.
“kenapa sih nggak ngobrol dibawah aja?” tanya Jeremy sambil menaiki tangga bertanya pada kakaknya yang berjalan didepannya dan istrinya.
“Adiba nggak bisa naik turun tangga, perutnya udah gede” jawab Rendra yang berjalan didepan sepasang suami istri itu.
“Kenapa kak Rendra sama kak Adiba nggak pindah dibawah saja kamarnya kak” sahut Risa istri Jeremy.
“Nah bener tuh kak, daripada tamu yang naik keatas, harusnya kan atas tempat privasi meskipun ada ruang tengahnya itukan khusus keluarga” pungkas Jeremy yang sependapat dengan istrinya.
“Oh iya ya, kenapa aku nggak kepikiran buat pindah kebawah” Rendra menghentikan langkahnya sendiri merasa bodoh pada dirinya sendiri. bagaimana bisa dia tidak kepikiran soal itu.
“IQ Rendah mana kepikiran” celetuk Jeremy mencibir sang kakak.
Tangan Rendra tentu saja tak diam saja, dia langsung menampol kepala adiknya itu,
“Sakit tahu,” kesal Jeremy melihat kakaknya.
Rendra tak menggubris dia malah langsung berjalan mengabaikan Jeremy yang kesal melihatnya. Istri Jeremy sendiri hanya bisa diam, dan dia melihat kearah suaminya itu.
“Sakit ya?” tanyanya lirih pada Jeremy yang memegangi kepalanya.
“sakit banget saya, coba kamu pegang siapa tahu sakitnya hilang” Jeremy memegang tangan Risa dan menaruh di kepalanya, trik modusnya keluar seketika.
“Buruan, nggak usah manja-manja gitu. Istri gue nunggu,” seru Rendra yang sudah berada di atas.
“ganggu aja tuh orang,” sungut Jeremy
“Nggak boleh begitu, gimanapun kak Rendra kakak kamu” nasehat Risa.
“Iya, dia beruntungnya karena itu sayang, coba kalau bukan kakakku habis tuh orang” tukas Jeremy.
“Udah, ayo kak Diba pasti nunggu makanannya” ucap Risa segera mengajak Jeremy untuk keatas.
“Hai ponakan Om yang ganteng,” seru Jeremy senang saat dia sudah ada di lantai dua rumah kakaknya itu.
Rafka yang tadi duduk didekat mamanya sambil menonton tv langsung melihat kearah orang yang baru saja datang. Dia tampak sumringah melihat om kesayangannya itu yang datang kerumahnya.
“OM Emy..Om Emy kesini” bocah itu langsung bangkit dan berlari kecil menghampiri omnya. Dia begitu antusias melihat sang om yang sudah lama hampir tiga hari tidak ia temui. Terakhir ketmu waktu dia kerumah opanya beberapa waktu lalu.
Rafka langsung menghampur kepelukan omnya yang sudah menyamakan tinggi mereka, Jeremy memeluk keponakannya itu dan langsung menggendongnya.
“Aduh, kok makin berat ponakan om” pungkasnya sedikit bercanda.
“Masa,? Rafka nggak berat Om” ucap Rafka
__ADS_1
“Rafka kan makin besar Om jadi berat” sahut Adiba yang ada di sofa melihat kearah mereka.
“Iya, yah ponakan Om kan sudah besar. Bentar lagi jadi abang,” ucap Jeremy sambil tersenyum dan menurunkan Rafka dari gendongannya.
“bang salim sama tante Risa, sama Om Jeremy nggak usah” perintah Rendra pada anaknya.
“ye, apaan. Terserah dia dong mau salim sama gue atau nggak” celetuk Jeremy.
Rafka langsung mengambil tangan kanan Risa dan bocah itu juga mencium tangan Jeremy tak menuruti perintah papanya yang melarang.
“Kak Diba, ini kita bawakan yang kak Diba mau” ucap Risa yang menunjukan makanan yang dia bawa.
“Wah makasih, “ mata Adiba langsung berbinar melihat itu.
Risa dan Jeremy langsung mendekat kearah Adiba dan juga Rendra, Rafka yang berjalan disebelah Jeremy mengikuti saja.
..................................................
Pagi sudah menyapa, sapaan khas pagi begitu terasa dengan kicau burung dan suara daun yang bergesekan di pagi hari membuat Adiba yang biasanya bangun lebih pagi dari itu kini bangun sedikit kesiangan. Perempuan itu sedari semalam tak bisa tidur enath mengapa rasanya mulai tak nyaman untuk tidur. Dia melihat suaminya yang masih tidur dengang lelapnya, mungkin saja Rendra sedang capek karena pekerjaannya yang cukup banyak.
Adiba malah terpesona melihat tidur Rendra, dia meneguk ludahnya melihat betapa mempesona suaminya pagi ini. enath mengapa dia berpikiran aneh-aneh di pagi hari.
“mas,.” Panggilnya lirih
“mas Rendra,..” ucapnya lagi mencoba membangunkan sang suami dengan memagang lengannya.
“Bangun mas,”
“hemm, aku libur sayang. Aku mau tidur bentar lagi ya,” Rendra benar-benar masih mengantuk, dan untuk saja dia hari ini libur.
Adiba langsung mendekat kearah Rendra dan membisikkan sesuatu di telinga pria itu, membuat Rendra yang langsung membuka matanya lebar dan dia dengan sigap langsung duduk.
“Kamu serius, aku mau ayo..” matanya yang tadinya menahan kantuk kini begitu bersemangat.
“Ayo, aku lagi pengen mas. Makanya kamu bangun,”
“Ini aku udah bangun sayang, aku lepas baju ya” tanpa aba-aba Rendra langsung melepas bajunya. Dia tampak begitu bersemangat, sudah lama istrinya tak menginginkan hubungan intim tumben sekali pagi hari ingin melakukannya.
Adiba hanya bisa tersneyum melihat kegesitan Rendra, yang begitu antusias.
“udah, ayo mulai” ucap Rendra sambil mengedipkan matanya, dia mendekatkan tubuhnya ke sang istri dan menarik tengkut istrinya agar wajah mereka berdekatan. Dan Rendra langsung mencium Adiba, mengecup dan perlahan berubah ******* saat Adiba meresponya.
Ciuman berubah memanas, keduanya saling meraup bibir satu sama lain. Sepertinya hormon kehamilan Adiba semakin membuatnya bertambah panas, karena perempuan itu begitu menginginkan sang suami.
“Sayang-sayang bentar..” Rendra melepas ciumnya dan membuat Adiba yang tadinya begitu rakus dengan suaminya langsung berhenti. Ia tampak kecewa dan tak mengerti kenapa Rendra menyudahi ciuman mereka.
__ADS_1
“kenapa sih mas, kamu nggak mau” perempuan itu terlihat ngambek.
“Bukannya nggak mau, tapi nanti posisinya gimana? Perut kamu gede banget. Aku takut malah nyakitin kamu sama anak kita.”
“Nggaklah mas, pelan-pelan aja. Kayak biasnaya aku diatas kamu” pungkas Adiba.
Rendra tampak berpikir,
“Di kamar mandi aja yuk, kita sambil mandi” usul pria itu kemudian.
“Terserah kamu, aku ikut aja”
“ya udah yuk kita kekamar mandi” segera saja Rendra berdiri duluan dan dia langsung menggendong sang istri membawanya ke kamar mandi.
Rendra sambil menggendong Adiba dia juga sembari mencium bibir snag istri.
........................................
Tama datang kerumah Rendra hari ini, ia datang sendiri tanpa Kania karena Kania sedang ke Singapura menemui ayahnya dan saudara lain yang sednag stay disana untuk sementara.
“Maaf Bi, Rendra dan Adiba masih lama ya turunnya?” tanya Tama pada asisten rumah tangga dirumha itu yang mengantarkan minum. Karena dia sedari tadi menunggu pasangan suami istri itu yang belum turun juga. entah mengapa mereka berdua sedari tadi belum turun juga.
“Sebentar lagi mereka turun den,”
“Oh, kalau begitu makasih bi minumannya”
“Iya den, bibi ke dapur dulu kala begitu”
Tama menganggu menangapinya, dan dia langsung meminum jus yang disajikan untuknya itu.
Sedangkan di kamar, Rendra malah masih asik mencium istrinya. Mereka baru saja selesai mandi dan melakukan kebutuhan mereka sebagai pasangan.
“mas udah dong, itu ada bang Tama di bawah” Adiba mendorong kecil suaminya agar berhenti menciumnya.
“Itu kenapa sih kakak angkat kamu, datang pagi-pagi begini ganggu kita tahu. aku masih pengen lagi, kamu mancing duluan sih” kesuh Rendra merasa kesal karena Tama yang datang pagi-pagi.
“Yaudah temuin dulu bang Tama mas, siapa tahu penting. Nanti kita lanjut lagi, sana aku mau nyisir rambutku basah begini loh”
“hemm.” Dehem Rendra kesal dan langsung melepas pelukannya pada snag istri tetapi dia mencium lagi istirnya sebelum pergi.
“mas,” Adiba langsung melepasnya
“hahaha, kamu bikin candu sih. Ya udah aku kebawah, tapi awas nati kalau nggak di lanjut” ucap Rendra yang mau tak mau langsung pergi. Dia yang sudah berpakaian snatai itu berjalan keluar kamar meninggalkan Adiba yang langsung berjalan kearah meja riasnya.
°°°
__ADS_1
T.B.C