
“SAH, SAH” seru orang-orang yang berada di ruangan besar tersebut, setelah ijab Qobul selesai diucapkan oleh rendi. Kini rendra dan juga Adiba telah resmi menjadi sepasang suami istri meskipun ayah Adiba tidak menikahkan mereka tetapi wali hakim yang menikahkan karena Rama ayah Adiba tidak mau menganggap Adiba anak lagi dan dia tidak mau ikut campur saat ini dnegan kehidupan Adiba.
Itu yang diutarakan pria tersebut sebelum Ijab Qobul di lakukan tadi, Julia sendiri yang menelpon kakaknya agar mau menikahkan Adiba dengan Rendra tapi pria itu yang berada di luar kota saat ini terang-terangan sudah tidak menganggap Adiba putrinya lagi.
Hal tersebut tentu saja semakin membuat hati Adiba terluka, dan sakit karena apa yang menimpanya dulu hingga kini masih terus menyakiti dirinya. Bagaimana tidak, dia menikah ini karena terpaksa akibat ancaman Rendra dan ayahnya masih belum memaafkan dirinya saat ini.
Sedari tadi Adiba hingga selesai ijab Qobul hanya menunduk saja, dirinya begitu sedih dnegan yang terjadi padanya saat ini. menikah dnegan orang yang membuatnya terbuang selama ini dan harus terpaksa hidup bersama demi buah hatinya agar memiliki ayah.
Bahkan dia hanya pasrah saja saat Rendra mencium keningnya barusan setelah Ijab Qobul.
“Buat tamu-tamu yang hadir dalam akad Nikah anak saya, mari kita semua makan malam bersama di rumah ini” ucap Frans pada semua yang hadir. Tidak terlalu banyak orang yang datang hanya keluarga saja yang disitu termasuk Julia dan juga Alif yang merupakan orang tua pengganti bagi Adiba bukan mereka saja yang datang tetapi anak-anak mereka juga ikut datang menyaksikan akad nikah sang kakak.
“Iya, ayo mari semua kita kemeja makan” ucap Citra menyuruh semuanya ke meja makan rumahnya.
Rendra sedari tadi memperhatikan Adiba yang hanya diam dan menunduk, dia tahu perempuan itu menangis saat ini. dia tahu dirinya egois karena menikahi Adiba paksa tetapi ini juga demi anak mereka yang butuh seorang ayah.
“Sudah jangan nangis, ayo makan” ucap Rendra menggenggam tangan Adiba yang duduk disebelahnya.
Adiba langsung menepis tangan itu, dia langsung berdiri dari duduknya saat ini membuat rendra mendongak menatap perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut.
“Aku tidak lapar, kau makanlah. Dimana Rafka sekarang?” ucap Adiba bertanya pada Rendra mengenai keberadaan anaknya.
“Dia tidur di kamar Jeremy, sudah biarkan dia di sana. Ayo kita makan” jawab Rendra dan ikut berdiri serta kembali menggandeng tangan Adiba.
“Aku kenyang, aku pergi dulu” lagi Adiba melepaskan tangan rendra dari tangannya dan dia pergi begitu saja meninggalkan Rendra saat ini yang hanya melihat kepergian Adiba.
“Aku tahu, kamu masih marah denganku bahkan karena hal ini juga mungkin dirimu semakin membenciku. Tapi aku tidak akan menyerah untuk membuatmu mau memaafkan diriku saat ini” batin Rendra sambil memperhatikan Adiba yang sudah berjalan menaiki tangga dirumahnya.
__ADS_1
“Rendra ayo makan, dimana Adiba?” seru Citra yang berjalan menghampiri Rendra saat ini.
“Dia ke kamar duluan ma, katanya capek” pungkas Rendra mengalibi, dia tidak mungkin bilang kalau Adiba pergi begitu saja tanpa bilang sesuatu hanya bilang ingin ke kamar saja.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kamu makan. Atau kamu ambil makanan dan bawa ke kamar” ajak sang Mama.
“Nggak ma, aku masih kenyang, aku ke atas dulu ya.”
“Kenapa sih kak buru-buru ke atas, makan dulu. kamu belum makan kan?”
“Mama kayak nggak tahu aja mau ngapain, pengantin baru ma” ucap Rendra sambil tersenyum.
Sang mama juga ikut tersenyum mendengar itu, dia menepuk jidatnya sendiri.
“Oh iya mama lupa, ya sudah sana. Sekarang kamu sudah sah sama Adiba, jadi kamu sudah berhak menyentuhnya lakukan dnegan baik jangan buat dia trauma padamu” ucap Sang mama menasehati
....................................
Adiba menangis di pojokan kamar, dia memang biasa menangis di pojok kamar, itu mengingatkan dirinya yang dulu dan hal inilah yang selalu dia lakukan disaat tengah sedih.
“sudah lama yah, sudah lama. Kenapa ayah masih benci sama aku yah, itu sepenuhnya bukan kesalahan aku tapi kenapa ayah masih benci aku. aku sakit yah, sakit denger kata-kata ayah yang seperti itu tadi” lirih Adiba begitu serak sambil memeluk dirinya sendiri saat ini.
“kenapa ayah nggak bisa ngerti aku, aku juga menderita yah. Apalagi Ibu udah nggak ada sekarang,” lirihnya pilu di pojok kamar besar tersebut.
Pintu kamar terbuka dari luar, membuat Adiba yang berada ditempatnya langsung terdiam melihat kearah pintu. Dia yang sedari tadi begitu sedih karena ucapan sang ayah membuatnya tidak kunjung berganti baju, dirinya masih mengenakan kebaya putih untuk ia gunakan ijab Qobul tadi.
“Adiba,.” Suara Rendra terdengar dia mencari Adiba di dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada pojok kamar didekat ruang pakaiannya. Dia terkejut mendapati perempuan itu yang meringkuk memeluk lututnya. Rendra yang melihat itu langsung segera menghampiri Adiba dengan perasaan khawatir kalau perempuan tersebut kenapa-kenapa.
__ADS_1
Melihat Rendra yang menghampiri dirinya, Adiba langsung berdiri dan menghapus air matanya. Dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya pada Rendra, dia tidak ingin pria yang sudah menjadi suaminya itu semakin semena-mena padanya.
“Kau kenapa? Kau tidak apa-apa kan?” tanya Rendra saat sudah sampai di hadapan Adiba. Dia memeriksa tubuh Adiba dari atas kebawah memastikan kalau istrinya tersebut tidak kenapa-kenapa.
“Aku tidak apa-apa” jawab Adiba singkat melepaskan tangan Rendra yang memegangi tubuhnya saat ini.
Kau serius? Kau tidak apa-apa. kalau kau tidak apa-apa kenapa kau menangis”
“Siapa yang menangis?”
“Dirimu, kau tidak bisa bohong padaku. Matamu menunjukkannya dengan sangat jelas”
“Tidak usah mengkhawatirkan ku dan sok perduli padaku. Aku tidak apa-apa, minggir aku mau ganti baju” pungkas Adiba dan langsung berjalan meninggalkan Rendra.
“Sebentar,” Rendra langsung mengejarnya dan dia menahan tangan Adiba.
“Jelas aku cemas dan mengkhawatirkan mu. Kau istriku sekarang, jadi jangan pura-pura sok kuat di depanku” ucap Rendra penuh penekanan.
“Lepas aku mau ganti baju, bukannya kau segera menginginkan menyentuhku. Lepaskan jika kau tidak mau menunggu lebih lama.”
“Aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku, aku akan melakukan jika kau mau. Kalau kau masih terpaksa menikah denganku kau tidur lah di tempat tidur. Aku tidur di sofa depan tv itu” ucap Rendra dan menunjuk Sofa yang berada di depan tv yang berada di dalam kamar mereka saat ini. dia melepaskan tangan Adiba agar perempuan tersebut pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
“Terimakasih, atas kebesaran hatimu” ucap Adiba dengan dingin, dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Rendra yang terdiam di tempatnya menatap nanar sang istri yang berjalan ke kamar mandi.
°°°
T.B.C
__ADS_1
Note: maaf ya kk pembaca semua, author udah lama nggak up dan buat kecewa kalian semua karena merada di gantungin. Habisnya mau bagimana lagi kk semua. Author masih sibuk soalnya tapi mulai sekarang insyaallah bakal sering up kok. jadi terus setia baca novel author ya terimakasih🤗