
Pagi-pagi dengan cuaca yang begitu segar, Rendra menemani Adiba berenang. Dia baru saja bangun dan sudah di tunggu oleh istrinya itu di pinggir kolam renang.
“harus banget pagi-pagi begini ya sayanng” ucap pria itu sambil berjalan mendekat kearah istrinya.
“Ya justru masih pagi mas, aku nggak males. Kalau siang nanti aku males mau ngapa-ngapin. Ayo bantu aku turun” rengek Adiba yang tak sabar untuk berenang.
“Memang masih boleh berenang, ini sudah trimester akhir loh kamu” pungkas Rendra yang sudah berdiri di sebelah istrinya itu.
“Boleh mas, aman kok.” Ucap Adiba, dia sudah bertanya lebih dulu pada dokter kandungannya ia juga sudah mencari-cari info melalui internet dan dari orang-orang yang dia kenal.
“Ya sudah bentar” rendra langsung berjalan masuk kedalam kolam renang, dia berjalan kearah tangga kolam itu mask lebih dulu.
Setelah dia berada di dalam kolam renang, ia mengulurkan tangannya pada Adiba yang sudah berjalan berdiri di pinggir kolam renang tempatnya turun tadi.
“Pelan-pelan” ucap Rendra sambil membantu Adiba yang turun ke kolam renang.
Dengan perlahan Adiba menuruni tangga yang ada di kolam renang itu dengan memegangi tangan Rendra yang menuntunnya secara perlahan.
“hemm seger mas,” ucap Adiba saat sudah masuk kedalam air.
“seger?”
“Iya,.”
“Sini agak ketengah” ucap Rendra sambil menuntu Adiba untu berjalan agak ketengah kolam renang.
Adiba mengikutinya, dia berjalan perlahan dengan tagan yang memegang kuat tangan suaminya..
“Sayang, kalau aku mau buat kamar lagi gimana?” tanya Rendra hati-hati.
“Buat apa mas?” Adiba yang mendengar itu langsung mendongak melihat wajah suaminya.
“Ya buat anak-anak kita, nanti triple taruh kamar mana coba”
“Ya taruh kamar mas, dirumah kita kan ada Lima kamar. Itu aja yag tiga nggak kepakek terus mau bikin kamar lagi buat apa” ungkas Adiba yang tak mengerti kenapa suaminya ingin membuat kamar tidur lagi.
“Kan satunya kamar tamu sayang, terus sisa dua. Anak kita yang akan lahir tiga terus satunya taruh dimana”
“Yang dua disatuin aja mas, kan sama-sama cowok nah anak kita yang cewek kamar sendiri.”
“Masa kamar mereka berdua nanti gabung jadi satu sayang, kalau mereka iri lihat kakaknya punya kamar sendiri gimana?” pungkas Rendra yang masih bersikeras ingi membuat kamar tidur lagi untuk anak mereka.
“Ya nggak mas, mereka masih bayi apa ngerti. Terus bikin kamar lagi buat apa, nanti kalau mereka besar pasti nempatin kamar Rafka. Rafka kan juga nantinya sudah besar dia jelas jarang dirumah. kamu sendiri juga bilang mau nyekolahin dia ke luar negeri jelas kamarnya nggak kepakek,”
“Ya sudahlah terserah kamau saja aku ngikut apa kata kamu” Rendra mau tak mau mengikuti saran istrinya tersebut.
“ya daripada buang-buang duit mas, meskipun kita berkecukupan sekarang kan kita nggak tahu kedepannya gimana. Apalagi besari empat anak nantinya, jadi mending biaya yang untuk begituan kita tabung buat masa depan”
__ADS_1
“Iya sayangku,” ucap Rendra sambil memegang wajah Adiba gemas, dan dia mencium bibir manis istrinya itu.
“ya sudah yok berenang” lanjut Rendra mengajak sang istri.
“Yok” jawab Adiba sambil tersenyum,
.........................................
Rendra mengajak Rafka pergi ke Mall, mereka hanya pergi berdua saja tanpa Adiba. Adiba kelelahan setelah berenang tadi jadi perempuan itu memutuskan untuk tidur saja dirumah. di kehamilannya yang kedelapan bulan membuatnya cepak lelah jadi baru melakukan kegiatan sebentar saja sudah lelah.
Hari ini karena Weekend Rendra mengajak anaknya untuk boys time berdua, pergi ke Mall dan menghabiskan waktu bersama.
“Senang nggak pergi cuman sama papa?” tanya Rendra yang tengah mengemudikan mobilnya, ia melihat sekilas kearah anaknya itu yang mengenakan baju biru polos serta celana pendek.
“Senang pa,” jawab Rafka antusias.
“Nanti mau apa?’
“mau mainan boleh” jawab bocah
“Boleh dong, masa nggak boleh” ucap Rendra sambil tersenyum.
“Rafka bentar lagi mau jadi kakak, maunya dipanggi apa sayang?” tanya Rendra sesekali melihat kearah bocah itu.
“Abang,”
“Nggak, aku maunya abang”
“Oke, nanti Rafka dipanggil abang ya sama adik-adik”
“Yey, aku juga mau adek cewek pa. Mama hamil adek cewek kan?”
“Iya mama hamil adek cewek, tapi Rafka nanti juga punya dua adek cowok. Jadi anak papa harus jadi abang yang baik buat adik-adiknya oke”
“kenapa bang rafka mau adek cewek?”
“rafka pengen jadi pelindung aja buat Adik Rafka, kalau cewekkan lemah jadi rafka bisa lindungin adek Rafka”
“anak pinter,” ucap Rendra sambil tersenyum bangga pada anaknya. Tangannya terulur mengusap lembut kepala sang anak.
Rendra kembali kus menyetir setelah mengusap kepala anaknya, Rafka sendiri sibuk dengan gadgetnya yang ia bawa dari rumah. Rendra tak melarang anaknya bermain gadget karena setiap minggu dia memperbolehkannya tapi kalau hari biasa tidak ia perbolehkan sama sekala untuk memegang gadget. Dia memang membatasi anaknya soal itu, ia tak mau sang anak terlalu fokus dengan gadget sampai menjadi orang yang anti sosial karena terus bermain gadget pengaruh gadget berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak makanya dia melarang hal itu dan untungnya Rafka anak yang menurut meskipun umurnya baru tujuh tahun.
........................................
Jeremy saat ini sedang ada dirumah kakaknya dia datang untuk mencari sang kakak, dia datang sendiri kerumah itu. sambil menunggu pemilik rumah turun dia memakan cemilan yang ada di meja ruang tengah sambil menonton tv didepannya.
“Jeremy, ada apa?” tanya Adiba yang baru saja turun.
__ADS_1
Jeremy langsung berbalik melihat kearah kakak iparnya yang berjalan perlahan menuruni tangga terakhir, buru-buru saja Jeremy berlari menghampiri Adiba dan langsung membantu kakak iparnya tersebut.
“Hati-hati kak” ucapnya smabil memegang tangan Adiba menuruni satu anak tangga.
“Iya makasih ya” ucap Adiba saat dia sudah turun dari tangga.
“Kakak dimana? Istrinya kebawah bukannya dibantu” dumel Jeremy.
“kakakmu keluar sama Rafka” jawab Adiba sambil berjalan kearah sofa, Jeremy sendiri mengikutinya dari belakang.
“Kakak tidak dirumah?”
“Iya kakakmu sedang keluar”
“Kamu kesini sendiri? istrimu nggak kamu aja?” ucap Adiba pada adik iaprnya itu.
“Dia kerja kak,”
“Kerja? Kerja dimana?” ucap Adiba yang sudah duduk terkejut mendengar itu.
“Ya kerja di tempatnya dulu, di cafe”
“Kamu serius? Kamu ijinin dia kerja”
“Ijinin lah kak, aku nggak mau batesin kegiatan dia. dia pengennya gitu ya udah aku ikutin. Kecuali nanti kalau dia hamil bar aku nggak ijinin dia kerja. Sekarang yang penting dia suka happy ya sudah dukung-dukung saja”
“Oh iya kakak lama nggak ya kak keluarnya?” ucap Jeremy kembali.
“memangnya ada perlu apa? nanti aku sampaikan. Tapi kayaknya penting banget ya?” ucap Adiba yang sedikit penasaran.
“Ya dibilang nggak tapi kenyataannya memang penting.”
“Ya sudah kamu bilang saja sendiri sama dia, kakak nggak mau ikut campur”
“hehhee iya kak, kalau kakak ipar ikut campur malah pusing nanti. Ini masalah serius,”
“Seserius itu masalahnya”
“iya, dan untungnya papa belum tahu kak. Kalau papa tahu kakak bisa habis,”
“Kamu kok bilang begitu mememang masalah apa, kenapa keliatannya serius banget”
“Nanti aja ya kak, aku bilang kak Rendra dulu. nanti kakak ipar tanya kakak saja. Ya sudah aku tunggu saja disini. malas pulang pergi. Numpang rebahan ya kakak iparku yang cantik” ucap Jeremy dan lansung berdiri untu beralih ke sofa satunya yang kosong. Dia langsung merebahkan dirinya disitu.
Adiba yang melihatnya tampak penasaran sebenarnya masalah apa yang dibilang serius oleh Jeremy.
°°°
__ADS_1
T.B.C