
“Wiih Mama masak tumis Jamur sama buat Chicken Crispy” girang Rafka saat melihat begitu nikmatnya beberapa hidangan di meja apalagi tumis Jamur kesukaannya.
“Iya dong kan Rafka suka sama Jamur ini, Mama masakin khusu buat kamu” ucap Adiba sambil menyendok kan nasi di piring anaknya.
“Buat Papanya nggak berarti” sahut Rendra yang baru saja keluar dari kamar dan bergabung di meja makan bersama anak dan istrinya.
“Ya buat kamu juga dong mas” ucap Adiba sambil mengambilkan piring untuk Rendra makan.
“Bi Wati kemana? Kok kamu yang masak?” tanya Rendra sambil memperhatikan istrinya yang sudah mengambilkan piring untuknya.
“Bi Wati mau ke rumah keponakannya yang deket sini, dia pulang nanti malem jadi aku yang masak sekarang” jelas Adiba.
“Nasinya sedikit atau banyak mas?” tanya Adiba pada suaminya soal porsi nasi yang diinginkan Rendra.
“Sedeng aja,”
Adiba langsung mengambilkan satu centong lebih nasih dan menaruhnya ke piring Rendra, kemudian dia mengambilkan sayur dan juga lauk pauknya baru setelah itu dia menaruhnya kembali ke hadapan suaminya.
Setelah selesai melayani suaminya Adiba juga langsung duduk di kursinya yang berada d depan suaminya itu. dia sekilas melihat anaknya yang pintar makan sendiri tanpa bantuannya. Rafka memang bocah yang mandiri walupun masih enam tahun sedari umur empat tahun bocah itu memang sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi meskipun nasinya tercecer keman-mana.
Dulu dia tidak marah meskipun nasi tercecer karena itu melatih Rafka untuk lebih mandiri.
Mereka bertiga saat ini menikmati makanan yang ada di depannya dalam keheningan hanya ada dentingan sendok yang beradu dan beberapakali celoteh Rafka yang menggemaskan. Dimana dia terus membahas adik dari Lintang temannya yang lucu.
.........................................
Rendra duduk di sofa kamarnya dia tampak sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana dan dia sesekali memperhatikan anak dan istrinya yang sudah lelap tidur.
“Besok aku pulang kau tenang saja kenapa sih Jeremy, Papa juga hanya minta tolong satu kali itu kan padamu nggak usah bawel deh. Kau juga kalau sudah lulus bakal sibuk di kantor kan nggak usah protes” tukas Rendra yang ternyata sedang berbicara dengan adiknya di telpon.
“Gimana nggak mau protes, masa remajaku hilang karena dirimu aku bekerja di perusahaan, terus sekarang aku disuruh lagi ngurus perusahaan mu. Nanti kalau aku lulus urus perusahaan Papa. Nggak ada waktu untuk santai” omel Jeremy yang merasa hidupnya terenggut tak punya waktu untuk bersantai sedari dulu
“Udahlah nggak suah ngomel, anggap saja itu untuk mendidik mu lebih dewasa.”
“lebih dewasa sih lebih dewasa, sudahlah percuma aku ngomel sama kakak”
“Ya sudah matikan panggilannya, kau yang menelpon masa aku yang mematikannya”
“Eh sebentar, aku mau tanya sama kakak soal sesuatu?”
“Tanya apa?”
“Kau waktu di Amerika dulu punya acar atau tidak?” tanya Jeremy entah kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu.
“Nggak ada, kau tahu sendiri aku mati-matian mencari Adiba mana mungkin aku punya pacar lain. Kenapa kau tanya begitu?”
__ADS_1
“Nggak pa-pa tanya aja, ya sudah aku matikan” ucap Jeremy dan langsung mematikan panggilannya begitu saja membuat Rendra heran soal kenapa adiknya menanyakan hal itu.
“kenapa dia tanya begitu padaku, aneh” gumam Rendra dan langsung menaruh ponselnya di meja, dia sediri langsung beranjak dari duduknya sambil merentangkan tangannya. Dia begitu lelah saat ini, lebih baik dia ikut tidur dengan istri dan anaknya.
Perlahan langkah kaki Rendra berjalan mendekat kearah kasur untuk bergabung kedalam alam mimpin menyusul anak dan juga istrinya yang sudah begitu terlelap.
.................................................
“Tuan Pram kemarin kan kopernya biar saya saja yang bawakan?” ucap Ana yang akan mengambil alih koper yang dibawa Pram, dia tidak tega dengan pria itu yang hanya menatap diam jalan didepannya.
Tama yang berjalan didepan lebih dulu mendengar itu dan dia berbalik melihat Pram yang juga berbalik untuk melihat Ana yang sudah memegang tangannya yang berada di koper.
“Tidak apa biar saya sendiri yang membawanya” jawab Pram dingin dan dia melepaskan tangan Ana yang berada di atas tangannya.
Mereka bertiga baru saja sampai di bandara untuk berangkat ke Indonesia, begitu pagi mereka berangkat dari hotel.
“Ana Pram kalian tunggu disitu dulu, aku ke arah temanku dulu yang mengurus tiket kita” pinta Tama pada Ana dan juga Pram agar mereka berdua duduk saja lebih dulu.
“Ya Tuan, mari Tuan Pram” sahut Ana dan mengajak Pram untuk duduk lebih dulu.
“Ana, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena dirimu aku bisa kembali ke negaraku. Kalau bukan karena mu yang merawat ku dengan tulus tidak mungkin aku bisa seperti ini” ucap Pram sambil menahan tangan anak yang akan berjalan.
Ana seketika langsung berhenti melihat Pram yang menatapnya dengan berkaca-kaca, pria itu seakan begitu terharu.
“Tidak apa tuan, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai perawat tuan”
“Tidak bicara apa-apa tuan” jawab Ana.
“Ya sudah ayo kita masuk kedalam” ajak Tama pada keduanya.
Ana dan juga Pram mengangguk dan mengikuti tama berjalan, namun langkah mereka berhenti saat Tama berhenti. Tama menoleh melihat kearah dua orang itu sambil memegang ponselnya.
“Kalian masuk saja dulu, aku akan menerima panggilan sebentar” ucap Tama pada keduanya.
“Baik Tuan,” jawab Ana.
“Ya sudah kita berdua masuk dulu Tam” pungkas Pram
Tama hanya mengangguk dan dia sedikit menjauh untuk menerima panggilan tersebut, dia menghela nafas saat melihat nomor itu lagi. Dia sudah tahu siapa yang menelponnya siapa lain kalau bukan Kania.
“Halo ada Apa Kania..” ucap Tama sambil menekankan nama Kania.
“Kau sudah tahu siapa aku” terdengar diseberang sana perempuan itu senang karena Tama tahu namanya.
“Ya aku tahu siapa kamu bocah kecil, untuk apa kau terus menggangguku”
__ADS_1
“Aku rindu saja dengan kak Tama, kakak seakan menghilang. Kau bohong juga padaku, aku ingin menagih janjimu itu, kau sekarang ada dimana?”
“Bukan urusanmu akau ada dimana, soal Janji aku tidak pernah berjanji padamu. Janji apa yang aku pernah katakan padamu.”
“Iish, kak Tama selalu begitu. Aku bukan anak kecil lagi kak, kakak bilang dimana sekarang, aku rindu denganmu pengen ketemu”
“Aku di Amerika puas,s udah aku matikan aku sibuk” ucap Tama dan langsung mematikan panggilannya itu, dia tidak ada waktu untuk menanggapi anak kecil saat ini. dia sudah banyak pikiran dan tidak mau memikirkan hal lain lagi soal Kania. Bocah itu memang mengada-ngada saat ini.
Tama langsung memasukkan ponselnya ke saku celana dan dia langsung menyusul Pram dan juga Ana yang sudah masuk lebih dulu ke area tunggu.
..................................................
Rafka bangun lebih awal dia melihat kedua orang tuanya yang tidur memeluk dirinya saat ini, dia tersenyum melihat kedua orang tuanya.
“Mama, Mama bangun” ucap Rafka sambil berusaha menyingkirkan tangan sang mama.
Adiba yang merasa ada pergerakan perlahan membuka matanya begitu juga Rendra yang mendengar suara anaknya itu.
“kenapa sayang,” ucap keduanya dengan suara serak.
“bangun Ma Pa, udah pagi,” ucap Bocah itu.
“Udah pagi ya,” Adiba langsung bangun dari tidurnya dan mendudukkan dirinya saat ini.
Rendra sendiri meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, baru setelah itu dia juga ikut duduk dengan wajah yang masih mengantuk sesekali dia juga menguap.
“Iih Papa, kalau nguap ditutup mulutnya, nanti ada yang masuk loh” ucap bocah itu dnegan polosnya menasehati sang papa.
“Tuh mas dengerin anaknya” tukas Adiba.
“hehehe maaf ya anak Papa sayang, sini Papa cium” ucap rendra dan akan mencium anaknya tapi Rafka segera menghindar.
“Nggak mau Papa bau baru bangun tidur” ucap bocah itu,
“Gitu ya sama Papanya,”
“Mama ke kamar mandi dulu ya mau cuci muka, kamu mainan dulu sama Papa ya sayang” ucap Adiba dan mulai beranjak dari kasur.
“Sini Papa cium nak,” Rendra masih bersikeras mencium anaknya namun bocah itu terus menghindar membuat Rendra gemas dan terus berusaha dan berhasil memeluk putranya dan menciumnya.
Rafka tersenyum saat Papanya menciumi dirinya saat ini, dia merasa geli dan sesekali menolak.
Adiba yang melihat suami dan anaknya saing bercanda di tempat tidur membuat hatinya menghangat dia bahagia melihat pemandangan di pagi hari yang indah seperti ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C