CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 78


__ADS_3

“Sayang kamu jangan bohong loh, aku habis mandi pokoknya langsung gas ya. Aku pengen kita cepat punya anak lagi, aku pengen gendong bayi gimana sih rasanya” ucap Rendra dengan maja dan memeluk lengan istrinya agar Adiba mau dengan apa yang akan dia lakukan nanti.


“ya, buruan mandi mas,” jawab Adiba sambil melepaskan pelan pegangan tangan Rendra di lengannya. Dia juga sedikit mendorong pelan agar suaminya amsuk kedalam kamar mandi, karena dia tidak tahan bau bada suaminya itu yang menurutnya begitu menyengat.


“peluk dulu baru aku mandi” pinta Rendra pada istrinya itu.


“Iih nggak mau, aku mau nya kamu mandi dulu biar harum. Kamu bau keringat mas” ucap Adiba sambil menutup hidungnya.


“masa sih sayang aku bau perasaan nggak deh” ucap Rendra sambil mencium tubuhnya sendiri.


“Udah buruan masuk, aku nggak tahu cium bau kamu” rengek Adiba sambil mendorong pelan suaminya masuk kedalam kamar mandi.


“Iya-iya, nggak suah gitu juga sama suami. Aku mandi” Rendra tampak kecewa dengan apa yang dilakukan Adiba padanya. Dia dengan berat hati langsung masuk kedalam kamar mandi itu dan menutup pintunya.


Setelah Rendra masuk kedalam kamar mandi Adiba langsung berjalan kearah tempat tidur rasanya dia ingin sekali berbaring saat ini sepertinya nyaman kalau tidur dulu baru makan pikir Adiba.


Baru saja dia akan membaringkan tubuhnya di ranjang pintu kamar andi sudah terbuka dengan keras membuat Adiba berbalik melihat suaminya yang menatapnya tanpa ekspresi.


“Kok kamu belum mandi mas?” heran Adiba saat melihat Rendra yang menatapnya serius dan berjalan mendekati dirinya saat ini.


“Ini apa?” tanya Rendra sambil menunjukkan alat tes kehamilan yang baru dia temukan di kamar mandi tadi.


“I..itu, itu tadi a..”


“Maksud kamu apa nggak ngomong sama aku, kamu sengaja mau rahasiain ini” tegas Rendra pada istrinya,


“Maksud kamu apa sih mas,?” tanya Adiba tak mengerti dnegan apa yang dimaksud Rendra barusan.


“ Kamu hamil kenapa nggak blang sama aku,?” tukas Rendra.


“Hamil, siapa yang hamil. Aku? maksud kamu, aku nggak hamil mas. Alat itu memang punya aku tapi aku nggak hamil” jelas Adiba.


“Bohong ini buktinya. Aku nggak bodoh Adiba,” ucap Rendra dan menunjukkan alat tes kehamilan itu yang telah menunjukkan garis dua.


Melihat itu membuat Adiba melebarkan matanya tak percaya, mana mungkin itu garis dua jelas-jelas tadi pagi itu hanya satu garis.


“Kok bisa, tadi aku cek nggak garis dua deh makanya aku buang ke tempat sampah mas” heran Adiba saat melihat itu.

__ADS_1


“Berarti kamu hamil sekarang sayang, kamu gimana sih nggak sabaran banget aturan di tunggu. Coba kalau aku nggak nemuin ini kita bakal melakukan hubungan dan bisa membahayakan anak kita nanti”


“Ya aku nggak tahu mas kenapa jadi nyalahin aku”


‘Siapa yang nyalahin kamus ayang, aku cuman ngomong begitu.”


“be..berarti aku hamil sekarang mas, aku hamil” ucap Adiba menatap Rendra tak percaya.


“Iya kamu hamil sayang, kita sebentar lagi punya anak kedua. Rafka bentar lagi punya adik” binar bahagia begitu nampak di mata Rendra dia langsung berjalan mendekati istrinya dan menarik perempuannya itu kedalam pelukannya saat ini.


“Makasih ya akhirnya kamu hamil lagi,” ucap Rendra penuh syukur memeluk istrinya.


“beneran ini mas, serius” Adiba masih tampak tak percaya dengan apa yang terjadi.


“beneran sayang, kalau begitu besok kita cek ke dokter kandungan, dan nggak usah ke Bogor ya” ucap Rendra.


“Ke Bogor? Ngapain” Adiba kembali mengendurkan pelukannya dan menatap wajah suaminya.


“Kamu lupa, besok kan kakak kamu menikah. Kamu nggak mau ke sana”


“Mau,” jawab Adiba bak anak kecil.


“Pokoknya aku mau ke sana mas, gimana pun mbak Oki itu kakak aku” rengek Adiba tetap dnegan keinginannya.


“Ya udah besok habis cek kandungan kita ke Bogor”


“kenapa nggak ke Bogor dulu aja?”


“Nggak cek kandungan dulu, aku pengen lihat anak kita yang disini. akhirnya aku bakal punya anak lagi” tolak Rendra dan dia langsung memegang perut istrinya yang masih rata itu.


“Ya udah deh terserah kamu” Adiba hanya bisa pasrah saja atas apa yang dikatakan suaminya. Tapi dia senang saat ini karena akhirnya dia hamil lagi, dan bodohnya dia tadi kenapa tidak sabaran menunggu hasilnya malah membuang alat itu begitu saja ke tong sampah untung Rendra menemukannya coba kalau nggak.


............................................


Kania masuk keruangan Tama dengan berat hati, ia terpaksa masuk kedalam ruangan pria yang tadi pagi habis dia lempar dengan tas. Dia masuk karena di suruh ketua Tim Divisinya untuk mengantarkan berkas pada Tama sungguh hal yang ingin dia hindari tapi tidak bisa.


Perlahan dia mengetuk pintu besar ruangan itu, hingga terdengar suara yang menyuruhnya untuk masuk kedalam ruangan. Langkahnya semakin terasa berat saat dia mulai masuk kedalam. Apa tanggapan pria itu nanti padanya saat dia menyerahkan berkas dari divisinya.

__ADS_1


“kamu,” lirih Tama saat melihat kania yang sudah menampakkan batang hidungnya.


“Iya kak, eh maksudku pak” ucap Kania dan buru-buru merevisi ucapannya karena Tama menatapnya tajam.


“Ada apa?” tanya Tama dingin.


“Ini di suruh pak Leon untuk memberikan berkas pada bapak” ucap kania perlahan mendekatkan dirinya dan menaruh berkas tersebut didepan Tama.


“”Terimakasih, silakan keluar kalau tidak ada lagi yang kamu katakan” pinta Tama pada Kania.


“Aku akan keluar kalau kak Tama menjawab satu pertanyaan ku” tantan Kania menatap serius Tama yang mendongak menatapnya.


“Tidak usah aneh-aneh cepat keluar dari ruangan ku”


“Apa kak Tama pernah pernah mencintaiku selama ini?” tanya Kania menatap intens Tama yang tampak terkejut melihat kearah Kania.


“Tidak pernah, untuk apa aku mencintai bocah sepertimu, kau masih kecil dan bukan tipeku” ucap tama sedikit ketus, tapi didalam hatinya dia merutuki ucapannya tersebut yang berkata ketus seperti itu pada Adiba.


“kalau aku anak kecil bagi kak Tama, lalu kenapa kakak menciumku saat usia ku yang baru enam belas tahun. Jawab kak” tuntut Kania meminta jawaban dari Tama soal itu.


Tama terdiam mendengar hal itu, dia cukup terkejut dnegan pertanyaan Kania, dia pernah mencium Kania tapi kapan rasanya dia tidak ingat soal hal itu.


“Jangan asal kamu Kania, kapan aku pernah mencium mu”


“Kau memang jahat kak, kau yang mencium ku dulu tapi kau yang lupa dengan itu. asal kau tahu itu ciuman pertamaku mengerti, aku benci denganmu” kesal kania dan dia langsung melenggang pergi dari hadapan Tama. Tak terasa air matanya menetes karena itu, hatinya sakit dengan sikap Tama saat ini. itulah alasannya selama ini selalu mengejar Tama karena Tama yang mengambil ciuman pertamanya dulu. tapi apa pria itu malah hanya menganggapnya adik dan bahkan melupakan ciuman mereka.


Tama melihat Kania yang berlari keluar sambil menangis, membuat dirinya tertegun melihat itu.


“Apa dia menangis?” gumamnya


“Astaga kenapa aku membuat menangis anak orang” kesalnya dan sedikit memukul meja.


Ingatannya kembali terngiang saat Kania melemparnya tas tadi pagi dan juga saat kadek membicarakan tentang Kania yang sekarang menderita karena kedua orang tuanya bercerai dan kenapa kini dia malah membuat perempuan itu sakit hati.


“Astaga Tama, kenapa kau begini,” rutuk Tama pada dirinya sendiri, dia memijat keningnya yang tampak pusing


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2