
Rendra baru sampai dirumah, dia menggendong anaknya yang sudah tidur saat ini. sedangkan Jeremy langsung pergi setelah mengantar kakak dan keponakannya tersebut. Dia tidak mau mampir dengan alasan tidak mau melihat perang dunia.
“Sayang, aku pulang” seru Rendra berjalan masuk kedalam, dia sesekali melihat anaknya yang tengah dia gendong saat ini takut kebangn gara-gara seruannya barusan.
Tak lama kemudian Adiba keluar dari ruang tengah berjalan menghampiri suaminya itu.
“Sudah pulang mas” ucapnya berjalan mendekati sang suami. “rafka tidur?” tanyanya kemudian saat melihat sang anak yang digendong suaminya.
“Iya, ini pesanan kamu tadi” ucap Rendra sambil menyerahkan kresek putih berisi makanan pada Adiba.
“Jadi kamu beliin. Aku kira nggak kamu belikan” ucap Adiba sambil menerima pemberian sang suami.
“Jadilah, apa sih yang nggak buat kamu sama calon anak kita ini” ucap Rendra sambil mendekat dan mengusap perut istrinya.
“makasih mas,” ucap Adiba sambil berjinjit dan mencium pipi sebelah kanan suaminya.
“tumben kasih ciuman, janagn disitu dong sayang disini” ucap Rendra menggoda istrinya sambil memegang bibirnya memberi tanda Adiba kalau menciumnya disitu bukan di pipinya.
“Malu mas ada Rafka, kamu tidurkan dia di kamar dulu gih mas terus mandi habis itu makan” ucap Adiba.
“Ngapain malu sayang, anaknya lagi tidur juga. cium dulu, baru aku mandi” ucap Rendra.
Adiba cemberut tapi dia mendekat dan sesekali melihat anaknya yang masih tidur. Ia takut jika anaknya itu memergoki kemesraan mereka berdua. Bisa malu sendiir dia, tahulah Rafka walaupun masih enam tahun tapi bocah itu pandai menggodanya hingga ia malu.
Adiba langsung mencium Rendra buru-buru, tapi Rendra menahan pinggangnya dengan satu tangan pria itu. Rendra tak ingin ciuman itu hana singkat saja tetapi dia memebri ******* yang cukup lama pada ciumannay tersebut.
“Mas,” Adiba memaksa melepaskan ciuman itu ia takut anaknya bangun.
“Udah, aku kekamar buat nidurin rafka dulu ya” ucap Rendra sambil tersenyum puas karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Adiba hanya tersenyum kesal dengan ulah suaminya barusan, tetapi dia juga tersenyum senang pada akhirnya setelah sang suami berjalan kedalam dan menaiki tangga saat ini.
............................................
Adiba baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono mandi saja dengan handuk yang terlilit di rambutnya saat ini. bertepatan dengan itu Rendra masuk kedalam kamar saat, dia tampak menelan ludahnya saat melihat snag istri yang baru saja selesai mandi. istrinya itu terlihat cukup segar pagi, perlahan tapi pasti Rendra berjalan mendekati Adiba yang berjalan ke arah lemari pakaia tanpa tahu sang suami yang juga mengikutinya.
“Sayang,” panggil Rendra dengan serak-serak basahnya.
“Hemm, ada apa mas” Adiba langsung berbalik melihat sang suami yang sudah berdiri di belakangnya. “astaga,.” Ucapnya sedikit terkejut karena melihat Rendra yang sudah tepat dibelakangnya.
__ADS_1
“Kenapa terkejut, baisa aja kali sayang” ucap Rendra yang langsung memeluk manja sang istri.
“Ya kamu sih mas, ngagetin aja” kesuh Adiba sambil melihat suaminya yang memeluknya sambil sedikit mengendus tengkuk lehernya.
“Aww, apa sih mas” rintih Adiba saat suaminya itu menggigit lehernya, dan ia sedikit reflek mendorong suaminya tersebut.
“Nggak pa-pa, pengen makan kamu aja. Pagi ini seger banget kamu sayang” goda Rendra sambil tersenyum.
“Udah deh mas, pagi-pagi nggak usah ngumbar gombalan. Sana buruan mandi, Rafka sudah kamu gantikan baju kan. cepert mas” ucap Adiba sambil mendorong sang suami agar melepaskan dirinya.
“Boleh minta jatah pagi nggak” tukas Rendra menatap lamat mata Adiba.
“Nggak” tegas Adiba langsung melenggang pergi menjauh dari Rendra.
“Gitu banget, sih”
“Bukannya nggak mau, kamu nggak lihat aku hamil gede begini. udah deh mas, buruan mandi” pungkas Adiba
“Oke, oke.” Rendra dengan cemberut langsung melangkah pergi menuju kamar mandi. tapi langkahnya berhenti dan kembali berbalik melihat istrinya yang tegah membuka lemari pakaian.
“Sayang, nanti kamu jadi pergi sama Tama dan Kania?” tanya Rendra pada sang istri.
“Serius kamu mau pergi sama mereka. Katanya mau menghindar dari mereka. Kok diajak ketemu mau?” heran Rendra, padahal Adiba sendiri yang bilang padanya ingin menghindari dari kehidupan Tama dan juga Kania.
“mau gimana lagi mas, Bang Tama maksa buat ketemu. Seminggu ini aku sudah berusaha menghindar tapi bang Tama terus-terusan nelpon aku. bahkan kemarin dia jemput Rafka mas nganter Rafka kerumah dan ngancam aku” jelas Adiba pada suaminya.
“Ngancam kamu gimana, berani dia ngancam-nagancam istri orang” Rendra yang mendengar itu tersulut emosinya dan dia langsung mendekat pada Adiba.
“Bukan ngancam hal yang jahat, cuman bang Tama ngancam kalau nggak mau ngomog sama dia. dia bakal membenciku mas. Bakal nggak nganggap aku adiknya lagi, dna bakal menjauh untuk selamanya” tutur Adiba.
“Dia ngancam soal itu. dia ngomong begitu apa nggak tahu calon istrinya yang nggak suka sama kamu”
“Dia sudah tahu, makanya dia ngajak bertemu bertiga. Dia bilang Kania ingin minta maaf padaku,”
“Oh, kalau gitu perlu aku temani kamu ketemu mereka” ucap Rendra.
“Nggak usah, kamu juga nggak bisa kan. kamu ada rapat penting hari ini kan?” tukas Adiba.
“Iya sih”
__ADS_1
“Gitu aja mau neminin aku” sungut Adiba.
“Hehehe, ya buat mancing kamu aja” ucap Rendra sambil tersenyum.
“Sudah ah, aku mau mandi. tolong suruh bibi siapin makanan yang enak ya sayang” ucap Rendra.
“Sudah aku suruh dari tadi mas, makanya kau jangan lama-lama mandinya. Aku makan duluan nanti, terus aku langsung pergi baru mampus”
“Hemm, kamu kok makin cerewet sih pengen aku cubit rasanya” gemas Rendra seakan-akan ingin mencubit istrinya yang berdiri agak jauh darinya.
“Kamu ngatain aku cerewet mas” ekspresi wajah Adiba berubah serius.
Rendra langsung meneguk ludahnya cemas,
“Eng..nggak. kamu salah denga. Sudah ya mas suami kamu mau mandi dulu” ucap Rendra mengalihkan pembicaraan dan langsung berlari kecil ke kamar mandi.
Adiba yang tadi menunjukkan wajah seriusnya, langsung terkekeh melihat suaminya yang langsung pergi begitu saja karena dirinya tadi.
..........................................
Tama turun dari mobilnya yang terparkir di depan rumah Adiba saat ini. dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Kania yang juga ikut turun. Pria itu berdiri menatap rumah didepannya dan Kania yang sudah berdiri di sebelahnya saat ini.
“Ayo masuk,” ucap tama sambil mengulurkan tangan pada Kania mengajak perempuan itu masuk kedalam rumah milik Adiba dan Rendra.
“Aku takut kak” gusar Kania sambil memegang tangan Tama.
“Takut kenapa? Tidak usah takut”
“Aku takut kalau Adiba marah denganku,”
“Dia bukan tipe orang yang pemarah, tidak perlu takut” ucap tama meyakinkan kania.
Mereka berdua langsung melangkah menuju pintu rumah tersebut, baru bebeapa langkah pintu sudah terbuka dan keluar seorang pria dengan setelan jas lengkap sambil menggandeng seorang anak kecil.
Rendra yang baru saja keluar dari rumahnya dikejutkan dengan kedatangan dua tamu yang telah di tunggu sang istri.
“Kalian,.” Ucapnya saat melihat dua orang tersebut.
°°°
__ADS_1
T. B. C