
5 Bulan Kemudian
Rafka berada di dalam kamar adik-adiknya dia menemani ketiga bocah yang sudah berumur lima bulan itu bermain di atas tempat tidur. Tentu saja Rafka tak sendirian, ai ditemani kedua pengasuh sang adik yang menjaga adik-adiknya tersebut.
Sedangkan mamanya sedang mandi diatas dan dirinya diminta untuk menemani ketiga adiknya bermain.
“Raihan, Raihan kasih ke abang bolanya” ucap Rafka pada bocah yang tengkurap sambil memegang bola kecil berwarna kuning ditangannya.
“Bukan kasih ke Raiden han, ke abang” ucap Rafka saat adiknya yang bernama Raihan malah menggerakkan tangannya kearah bayi disebelahnya.
“Bang, masa Reva nggak diajak main” ucap salah satu pengasuh yang bernama sus Tari.
“Reva nangisan, jadi abang nggak mau ajak main” jawab Rafka polos. Bocah yang sebentar lagi menginjak usia tujuh tahun itu menatap adiknya yang perempuan.
“uek, uekk” entah mengapa Reva langsung menangis.
“Tuh kan sus, dia nangis” ucap rafka.
“Bang Rafka ini yang buat nangis adiknya. Dia amrah kan bang nggak di ajak main” sahut Sus Harni.
“Rafka nggak ngapa-ngapain. Kok Rafka yang buat nangis” ucap Rafka merasa dia tak melakukan apa-apa pada adiknya.
“bang Rafka mau gendong Reva nggak?” tanya sus Tari yang memegang Reva saat ini.
“Mau-mau,” Rafka langsung antusias ingin menggendong adik perempuannya tersebut.
“Sini abang kesini” ucap Sus Tari meminta Rafka untuk mendekat kearahnya. Rafka langsung mendekati pengasuh adiknya itu.
“Pelan-pelan ya bang” sus Tari segera menyerahkan Reva pada Rafka, dia juga ikut memegangi Reva karena takut bayi lima bulan itu jatuh nantinya.
“Abang bakal jagain kamu, kamu adik abang. Tapi Eva jangan tukang nangis ya” ucap Rafka berbicara pada adiknya itu.
“Kan Reva masih bayi sekarang bang, nanti kalau besar pasti nggak bakal nangis kayak sekarang” ucap Sus Harni.
“Tapi, Raihan sama Raiden jarang nangis. Raiden kan adik Reva, dia yang paling keil jarang nangis sus”
Suster Harni dan suster Tari tampak bingung menjelaskannya,
“Udah ah sus, aku mau main lagi” Rafka langsung menyerahkan kembali sang adik pada pengasuhnya.
.......................................
Teman-teman Rendra saat kuliah datang kerumah, sekitar lima orang yang datang saat ini. ada Davin, Aldi, Fajri, Fathur dan Mario datang kerumah membuat Adiba terkejut dengan kedatangan orang-orang itu. jelas dia terkejut secara tak langsung ia juga mengenal orang-orang tersebut. Bertahun-tahun dia tak pernah bertemu dengan mereka eh kelimanya datang kerumahnya dan Rendra saat ini.
__ADS_1
Ia hanya pernah bertemu dengan Fajri dan Davin saja sedangkan ketiganya ia tidak pernah bertemu sama sekali.
“Mas sini deh” Adiba langsung menarik suaminya kedalam, ia ingin berbicara pada suaminya itu.
“Kenapa sih sayang, kamu butuh bantuan” jawab Rendra sambil melihat apa yang dikerjakan Adiba dan asisten rumah tangganya.
“Nggak, cuman mau ngomong sama kamu. kamu nggak bilang sih kalau teman-teman kamu dulu main kesini, aku kan malu mas ketemu mereka apalagi ketemu Aldi, Fathur sama Mario”
“Ya aku minta maaf, tadi aku diajak ketemu sama Davin di Cafe eh nggak tahunya ada mereka bertiga disana. Terus niat aku kan memang mau ngajak Davin sama Fajri keisni karena ada mereka bertiga yaudah sekalian aku ajak” jelas Rendra.
“Kamu memang nyebelin ya, nggak bilang-bilang” kesal Adiba.
“Lah kok marah, apa salahnya aku ngajak mereka kesini” heran Rendra pada sang istri.
“Ya aku nggak suka sama mereka bertiga, mereka kan tukang bully aku dulu sama kamu juga. malah sadis banget mereka” tukas Adiba mengingat masa lalu mmebuatnya kesal sendiri.
“itu kan dulu sayang, mereka juga udah berubah. Masa para dokter nggak berubah, apalagi tuh sih Aldi psikolog masih dia masih kayak dulu. ya nggak mungkinlah sayang, udah nggak usah kesel begitu nanti kedepan ya temani aku ngobrol sama mereka” ucap rendra sambil merengkuh pinggang sang istri dan memberikan kecupan dikening istrinya itu.
“hemm”
“Jangan cemberut gitu dong, mau aku cium disini dilihatin bibi” goda Rendra saat melihat bibir istrinya yang dimonyongkan.
“Apaan sih, udah sana aku buatin jus buat kalian” usir Adiba karena suaminya sudah mulai menggombal.
“kenapa kok anak-anak suruh keluar?” tanya Adiba penasaran.
“Mereka mau lihat anak kita sayang, sekalian aku pamerkan pada mereka anak-anak kita yang mengagumkan” ucap Rendra sambil tersenyum dan melenggang pergi.
Adiba hanya bisa pasrah saja, tapi sejujurnya dia malas bertemu dengan teman-teman Rendra yang datang saat ini.
............................................
“Gila anak-anak lo Ren, cakep-cakep banget lucu-lucu juga” ucap Mario yang mengendong salah satu dari anak Rendra.
“Iyalah siapa dulu bokap nyokapnya” Rendra menyombongkan diri.
“Pengen ya lo mario, buruan nikah terus bikin” sahut Davin dan juga Fajri.
“Nah betul tuh yo, buruan nikah” timpal Fathur.
“Kenapa gue ya yang lo pojokin, tuh ada sih Aldi yang belum nikah” kesal Mario karena dia di pojokkan yang lainnya.
“Apaan sih nggak usah bahas-bahas itu deh” kesal Aldi saat ada orang yang memabhas soal pernikahan padanya.
__ADS_1
“Marah tuh temen loh” senggol Rendra pada Fajri.
“Eh ngomong-ngomong bini lo kemana dari tadi perasaan nggak keluar-keluar” ucap Davin pada Rendra.
“Iya, malah anaknya yang dikeluarin duluan” sahut Fathur.
“Dia ada lagi bantu buat makanan” jawab Rendra.
“jangan-jangan istri lo marah lagi karena ada kita-kita” ucap mario yang langsung menebak
“Nggaklah, ya kali dia amrah ngapain marah karena ada kalian. Kalian kan juga teman-temenanya” elak Rendra, dan sesekali dia tampak gugup sendiri saat tak melihat Adiba yang belum juga keluar.
“Yang ini namanya siapa sih?” tanya Fajri saat dia menggendong anak perempuan Rendra.
“Itu Reva, gemeskan gembul cewek sendiri lagi” sahut Rendra.
“Iya gemes banget. Bakal disayang kakak-kakanya ini pasti, oh iya anak lo yang paling gede mana” ucap Fajri.
“Rafka ada di kamarnya, mau ketemu juga sama anak gue yang paling besar. Dia tampan banget mirip gue” ucap Rendra yang membangggakan anaknya.
“Pedenya minta ampun lo ya” kekeh teman-teman Rendra yang lain, Rendra sendiri hanya tersenyum.
“Waah, ini alasan istri Rendra belum keluar karena ada lo sih Di. Lo sepupunya pak Dirgam sih” ucap mario yang tiba-tiba saja.
“Apaan deh, kok jadi gue. Dan apa masalahnya kalau gue sepupunya Dirgam” kesal Aldi yang lagi-lagi disalahakan. Dirgam adalah dosen muda saat Adiba dan Rendra kuliah dulu. dulu juga Adiba sempat di gosipkan dengan dosen itu karena kedekatan mereka ditambah Dirgam yang sering memberikan perhatian lebih pada Adiba.
“Kan pak Dirgam itu..”
“Arkhh sakit vin,” teriak Mario kesal menatap davin yang menginjak kakinya.
Davin memang sengaja melakukannya saat dia melihat ekspresi wajah Rendra yang sudah tidak mengenakkan saat Mario menyebut nama Dirgam.
“Maaf menunggu lama, ini jus dan cemilannya di makan ya” Adiba keluar bersama dengan asisten rumah tangganya sambil membawa minuman dan juga cemilan untuk mereka semua.
“baru aja diomongin Dib, makasih ya” ucap davin dan Fajri
“Apa kabar nih Dib,” seru Fathur dan juga Mario.
Rendra langsung memegang tangan Adiba menariknya untuk duduk disebelahnya yang kosong.
°°°
T.B.C
__ADS_1